NovelToon NovelToon
Mafia Kejam Jatuh Cinta

Mafia Kejam Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.

Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berperang

Langkah kaki Marvel berhenti tepat di depan katup pipa pembuangan. Di balik dinding beton ini, klan Valerius sedang bersantai, mengira serangan akan datang dari gerbang depan tempat umpan Marvel sedang beraksi.

Marvel memberi isyarat tangan. Dua anggotanya memasang peledak kecil yang senyap di engsel pintu besi.

Pshhh.

Pintu terbuka. Kegelapan gudang menyambut mereka, hanya diterangi lampu indikator merah dari ribuan kontainer. Di kejauhan, suara tembakan mulai terdengar dari arah gerbang—umpan itu berhasil.

"Sekarang," bisik Marvel melalui earpiece.

Berikut adalah jalannya pertempuran di pelabuhan:

Tim peretas mematikan sistem pendingin. Alarm internal berbunyi, menciptakan kepanikan massal di antara anak buah Valerius yang mencoba menyelamatkan barang dagangan senilai jutaan dolar.

Saat musuh berlarian dalam kebingungan, Marvel dan timnya bergerak seperti hantu di antara deretan kontainer. Tembakan suppressed (peredam) mereka menjatuhkan target satu per satu tanpa suara ledakan yang berarti.

Marvel sampai di ruang kaca atas. Di sana, Lorenzo Valerius berdiri terpaku menatap layar monitor yang mati. Marvel tidak langsung menembak. Ia berjalan perlahan, suara langkah sepatunya sengaja dibuat terdengar.

Lorenzo berbalik, menarik pistolnya, namun Marvel lebih cepat. Sebuah peluru menembus bahu Lorenzo, membuatnya jatuh berlutut. Marvel berdiri di hadapannya, mengisi ulang peluru dengan ketenangan yang mengerikan.

"Kau menghancurkan bisnisku, Moretti!" teriak Lorenzo sambil meringis kesakitan.

Marvel menatapnya datar, ujung pistolnya dingin menyentuh kening Lorenzo. "Aku tidak menghancurkan bisnismu, Lorenzo. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal."

Dor.

Satu tembakan presisi. Marvel berbalik tanpa melihat mayat lawannya. Di luar, fajar mulai menyingsing di pelabuhan yang kini sudah sunyi. Perang telah usai, dan Glacier Moretti tetap tak tersentuh.

Pelabuhan yang semula sunyi berubah menjadi neraka. Strategi Marvel yang semula bersih kini pecah menjadi perang terbuka karena ternyata Lorenzo telah menyiapkan pasukan cadangan di luar perhitungan radar.

"Kontak! Jam dua!" teriak salah satu letnan Marvel saat rentetan peluru kaliber 5.56 menghantam kontainer di samping mereka, memercikkan api ke udara.

Situasi berubah menjadi ajang saling serang yang brutal:

Anak buah Valerius yang tersisa menggunakan forklift sebagai barikade berjalan, merangsek maju sambil memuntahkan peluru. Marvel tidak mundur. Ia justru memerintahkan timnya untuk memanjat tumpukan kontainer, menciptakan posisi high ground untuk menembaki musuh dari atas.

Suara ledakan granat mengguncang tanah. Salah satu kontainer berisi bahan kimia bocor, menciptakan kabut putih yang menyelimuti medan perang. Di tengah kabut itu, Marvel bergerak seperti pemangsa. Ia tidak lagi bersembunyi. Pistol kustomnya menyalak setiap kali bayangan musuh muncul dari balik kabut.

Di tengah kekacauan, Marvel berhadapan dengan tangan kanan Lorenzo—seorang algojo raksasa yang membawa pisau taktis. Marvel membuang pistolnya yang kehabisan peluru, menghindari sabetan pisau dengan gerakan efisien, lalu membalas dengan pukulan presisi ke titik saraf lawan sebelum mengakhiri duel dengan serangan yang mematikan.

Kedua belah pihak saling mengunci. Suara besi beradu, teriakan komando, dan rintihan kesakitan memenuhi udara. Marvel berdiri di tengah-tengah hujan peluru, tetap tenang meski sebuah goresan peluru melukai pipinya. Darah merah segar mengalir di wajahnya yang pucat, membuatnya tampak seperti iblis dari kutub utara.

"Habiskan mereka semua. Jangan tinggalkan saksi," perintah Marvel melalui radio, suaranya tetap stabil meskipun ledakan terjadi tepat di belakangnya.

Setelah tiga puluh menit baku tembak yang intens, pelabuhan itu kembali sunyi. Hanya menyisakan aroma mesiu, bau logam, dan mayat-mayat yang bergelimpangan di bawah lampu merkuri yang berkedip.

Marvel menyeka darah di pipinya dengan sapu tangan sutra. Musuhnya hancur, namun ia tahu ini baru awal dari perang besar yang sebenarnya.

Langkah selanjutnya bagi Marvel dalah memastikan dominasinya di wilayah pelabuhan tersebut benar-benar tidak tergoyahkan. Dengan runtuhnya pertahanan Lorenzo, peta kekuatan di dunia bawah tanah kini mengalami pergeseran besar yang akan memaksa faksi-faksi lain untuk menentukan pilihan mereka.

1
Dysha♡💕
bagus
Dysha♡💕
ceritanya bagus,tapi terlalu singkat dan cepat,,jadi kurang menghayati gitu,,,
erin
jangan bosan untuk membaca
erin
jangan lupa mampir🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!