NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Aturan Main Sang Ratu

Pagi di Wisma Lavender tidak pernah dimulai dengan kicauan burung yang tenang. Pagi di sana dimulai dengan dentuman musik K-Pop dari kamar Chika, suara blender dari dapur Dira, dan derap langkah terburu-buru di koridor kayu. Namun bagi Arka, pagi itu dimulai dengan sebuah ketukan pintu yang ritmis dan dingin—ketukan yang terdengar seperti ketukan palu hakim di ruang sidang.

Saat Arka membuka pintu dengan mata yang masih setengah terpejam, ia tidak menemukan sinar matahari. Ia menemukan Sari.

Ketua kos itu berdiri tegak dengan kemeja putih yang disetrika sangat licin, binder tebal di pelukannya, dan sebuah gulungan kertas yang panjangnya hampir menyentuh lantai. Kacamata kotaknya berkilat tertimpa lampu lorong, memberikan aura intimidasi yang membuat kantuk Arka hilang seketika.

"Selamat pagi, Penghuni Baru," ucap Sari tanpa basa-basi. Suaranya datar, tanpa intonasi keramahan sedikit pun. "Mengingat hasil Sidang Pleno semalam, saya telah menyusun draf protokol operasional khusus untuk keberadaanmu di rumah ini. Sesuai kesepakatan, keberadaan laki-laki di Wisma Lavender adalah anomali yang harus dikelola dengan manajemen risiko yang ketat."

Arka mengerjap. "Manajemen risiko? Saya cuma mahasiswa yang mau ngerjain skripsi, Sar, bukan limbah nuklir."

Sari tidak menanggapi lelucon itu. Dengan satu gerakan tangan yang dramatis, ia membuka gulungan kertas itu. Kertas itu terjatuh ke lantai, bergulir melewati kaki Arka, dan terus memanjang hingga ke tengah koridor. Arka menatap tulisan tangan yang rapi dan rapat di atas kertas tersebut dengan rasa ngeri yang merayap.

"Dua meter?" bisik Arka tak percaya.

"Dua koma dua meter, tepatnya," ralat Sari dingin. "Silakan baca. Saya akan menunggu di sini sampai kamu menandatangani lembar kepatuhannya."

Arka berjongkok, mulai membaca baris demi baris aturan yang disusun oleh 'Sang Ratu' Wisma Lavender tersebut.

Pasal 1: Protokol Jam Malam. Penyewa laki-laki dilarang keras berada di area publik (ruang tengah, dapur, teras belakang) setelah pukul 21.00 WIB. Setelah jam tersebut, penyewa wajib melakukan isolasi mandiri di dalam kamar. Pelanggaran satu menit akan dikenakan sanksi piket menyikat lumut di kolam ikan selama satu minggu.

"Sembilan malam?" Arka mendongak. "Sar, kalau saya lapar jam sepuluh gimana? Mahasiswa IT itu hidupnya baru dimulai jam dua belas malam."

"Maka belajarlah untuk menimbun logistik sebelum jam sembilan," jawab Sari tanpa ekspresi. "Kami tidak ingin ada insiden 'berpapasan dengan hantu laki-laki' saat ada penghuni yang mau ambil minum di tengah malam. Itu mengganggu kesehatan mental."

Arka mendesah, lalu melanjutkan membaca.

Pasal 4: Estetika dan Visual. Penyewa laki-laki dilarang menjemur pakaian dalam dalam radius dua meter dari jemuran penghuni wanita. Pakaian gelap harus diletakkan di sudut paling tenggara balkon agar tidak merusak gradasi warna estetik Wisma Lavender.

Pasal 7: Kebisingan Perangkat. Suara kipas laptop penyewa yang menyerupai helikopter jatuh harus diredam. Penggunaan WiFi satu giga untuk mengunduh konten yang tidak relevan dengan akademik (seperti game atau film tanpa izin ketua kos) akan dikurangi limitnya secara sepihak.

Arka merasa kepalanya mulai berdenyut. Aturan-aturan ini tidak hanya membatasi ruang geraknya, tapi juga privasi digitalnya. Ia terus membaca, melewati pasal-pasal tentang tata cara bicara (tidak boleh lebih dari 60 desibel), durasi di kamar mandi (maksimal 15 menit), hingga larangan keras melakukan kontak mata lebih dari tiga detik dengan tamu perempuan yang berkunjung.

Namun, yang paling mematikan adalah aturan di bagian paling bawah.

Pasal tambahan: Penugasan Darurat. Arka (Penyewa Laki-laki) wajib siaga 24 jam untuk panggilan darurat teknis. Panggilan darurat meliputi: kecoa masuk kamar, bohlam putus, keran macet, hantu di pojok ruangan (koordinasi dengan Tia), dan pengusiran mantan pacar yang bersikap 'stalking'.

"Ini bukan aturan kos, Sar," keluh Arka sambil berdiri kembali. "Ini kontrak perbudakan gaya baru. Masa saya dilarang keluar kamar lewat jam sembilan? Kalau saya mau ke toilet gimana?"

Sari memperbaiki letak kacamatanya. "Kamar kamu ada kamar mandi dalam, kan? Oma Rosa sudah mengantisipasi itu. Alasan utama aturan jam sembilan adalah keamanan. Beberapa penghuni punya kebiasaan memakai baju tidur yang... katakanlah, 'kurang formal' saat malam hari. Kehadiranmu akan menciptakan situasi yang secara hukum sangat kompleks jika terjadi kontak visual yang tidak diinginkan."

Arka memijat pelipisnya. Ia membayangkan dirinya terkurung di kamar sempit itu seperti tahanan politik setiap kali jam menunjukkan pukul sembilan.

"Dan satu lagi," Sari menambahkan, suaranya sedikit melunak namun tetap tegas. "Daftar aturan ini sudah disetujui oleh Oma Rosa. Beliau bahkan yang menyarankan agar kamu juga bertugas membuang sampah sisa skincare setiap pagi sebelum jam tujuh. Katanya, itu baik untuk melatih otot lenganmu."

Arka menatap gulungan kertas di lantai itu seolah itu adalah ular piton yang siap melilitnya. Di ujung koridor, ia melihat beberapa pintu kamar terbuka sedikit. Ia tahu, gadis-gadis lain sedang mengintip, menunggu reaksi 'si tumbal' terhadap maklumat sang ratu. Fanya melambai kecil dengan wajah kasihan, sementara Lulu terlihat sedang menghitung sesuatu dengan kalkulator, mungkin sedang mengaudit berapa biaya kertas yang dihabiskan Sari untuk mencetak aturan itu.

"Gimana, Arka? Kamu tanda tangan, atau kamu mau cari kos lain dengan harga dua ratus ribu dan kecepatan satu giga di luar sana?" tantang Sari.

Arka terdiam. Ia teringat saldo ATM-nya. Ia teringat progres skripsinya yang melesat cepat berkat WiFi lavender. Ia teringat rasa nasi goreng Dira semalam yang meski pedas, terasa lebih manusiawi daripada mi instan yang ia makan selama tiga tahun terakhir.

"Pulpen," ucap Arka pasrah.

Sari tersenyum tipis—sebuah kemenangan kecil bagi supremasi hukum di Wisma Lavender. Ia menyodorkan pulpen emasnya. Arka membubuhkan tanda tangan di bagian paling bawah gulungan kertas panjang itu.

"Bagus. Salinan ini akan ditempel di balik pintu kamarmu agar kamu tidak punya alasan untuk lupa," kata Sari sambil menggulung kembali kertasnya dengan rapi. "Oma Rosa sedang menunggu di bawah. Ada galon yang harus diangkat ke lantai tiga kamar Lulu. Selamat bertugas, Penjaga Hati."

Sari berbalik dan berjalan pergi dengan langkah berirama yang angkuh. Arka hanya bisa bersandar di pintu kamarnya, menatap lorong yang kini terasa lebih sempit dari sebelumnya. Ia baru saja menandatangani kesepakatan yang membuatnya menjadi warga kelas dua di sebuah istana merah muda.

Baru saja ia hendak menutup pintu, Tia, si anak indigo, tiba-tiba muncul di sampingnya tanpa suara, membuat Arka nyaris melompat jantungnya.

"Kak Arka," bisik Tia dengan suara datar.

"Aduh, Tia! Jangan hobi muncul tiba-tiba dong!"

Tia menatap ke arah gulungan kertas yang dibawa Sari di kejauhan, lalu kembali menatap Arka dengan mata yang tampak kosong namun dalam. "Aturan itu cuma buat manusia, Kak. Tapi buat 'mereka' yang ada di sini, Kak Arka adalah tontonan paling menarik tahun ini. Jangan sering keluar malam bukan cuma karena Sari, tapi karena 'penghuni lama' di pojok kamar Kakak juga mau kenalan."

Setelah mengatakan itu, Tia pergi begitu saja, meninggalkan Arka yang kini membeku di ambang pintu.

Matahari pagi yang cerah di luar sana mendadak terasa dingin bagi Arka. Jam sembilan malam, aturan dua meter, jemuran merah muda, dan kini ancaman makhluk halus. Arka menarik napas panjang, mencoba menguatkan mentalnya.

"Dua ratus ribu sebulan," gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk ke sekian kalinya. "Internet satu giga. Arka, lu pasti bisa. Lu pasti bisa lulus tanpa jadi gila."

Ia menutup pintu kamarnya, mengambil kaos kusamnya, dan bersiap menuju lantai tiga untuk tugas pertamanya: mengangkat galon bagi Lulu yang pelitnya minta ampun. Kehidupan baru Arka sebagai penguasa bawah tanah di Wisma Lavender telah resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!