NovelToon NovelToon
Mustika Terkutuk

Mustika Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Abdul Rizqi

Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mbah Suro

Sugeng mengerjakan proyek ikannya sendiri selama 3 hari, dan akhirnya selesai. Dan sudah ia isi dengan air. Besok dia hanya perlu pergi ke penangkaran ikan untuk membeli bibit Nila.

Usaha Sugeng berjalan dengan lancar. Dia selama ini tidak pernah merasa terganggu oleh sesuatu. Namun apa yang tidak di ketahui Sugeng bahwa Linda kini sedang di teror oleh sosok wanita cantik dengan kedua tangan yang sangat panjang.

Siang hari itu Sugeng pergi menuju ke warung tenda itu, sekedar untuk makan siang dan memastikan apakah orang itu masih melanjutkan pesugihannya atau tidak..

Sesampainya di sana Sugeng melihat warung tenda itu sangat sepi, hanya ada beberapa pengunjung saja di sana dan hanya terdapat beberapa karyawan saja di sana hanya satu orang sebagai kasir dan satu orang yang mengantar dan mencatat pesanan dan satu orangnya lagi adalah pemlik warung itu sendiri.

"Hmmm... pasti pesugihan dia udah ngga di lanjutin lagi, secara pocongnya kan mati." Batin Sugeng kemudian melirik ke dalam ruko, tampak tidak ada satupun pekerja kuli di sana.

"Mungkin dia juga ngga sanggup bayar kuli, apa dia ngga simpen uang di rekening? Jangan jangan semua uang yang aku ambil di lemarinya dia semua uang tabungannya? Ahh bodo amat." Batin Sugeng.

Sugeng kemudian memesan makanan dan duduk di samping security yang ia temui tempo hari yang lalu.

"Pak apa kabar? Ketemu lagi kita pak."

"Weh... mas yang kemarin, baik mas. Emmm udah denger desas desus belum mas?"

"Desas desus apa pak?" Tanya Sugeng.

"Katanya pemilik warung ini pesugihan.." bisik security itu.

"Hah? Mosok pak?" Sugeng berpura pura terkejut.

"Iya mas, kemarin tetanggaku lihat pemilik warung itu dateng ke rumah dukun yang ada di desa Pener. Kata anakku yang jadi kasir itu alesan dia pecat banyak karyawan dan terpaksa berhentiin renov ruko itu karena semua tabungannya di curi sama orang, kemungkinan babi ngepet karena pemilik warung itu ngga sadar ada yang masuk ke dalam rumahnya... tapi ada yang aneh pintu rumah orang itu di kunci dari luar, kayaknya pelakunya manusia tapi punya ilmu begituan semacam halimun."

"Terus kenapa dia di curigai punya pesugihan pak?"

"Karena tengah malam 3 hari kemarin, semua orang yang pernah makan di warung ini muntah muntah kayak keracunan begituan termasuk saya, mas. Muntahan itu jijik banget, kayak lendir tapi warnanya butek. Entah siapa yang mulai tapi desas desus pemilik warung ini pesugihan udah mulai kesebar."

"Malam 3 hari yang lalu? Itu tepat ketika aku membunuh pocong itu.. jadi begitu ketika pocong itu lenyap efek pesugihan itu juga hilang?" Batin Sugeng.

"Terus kalau bapak udah tau pemilik warung ini kemungkinan pesugihan kenapa bapak masih makan di sini, pak?"

"Ya karena anak saya mas, kalau warung ini makin sepi dia mau ngga mau ya di pecat juga kasihan saya sama dia. Masnya sendiri malam 3 hari yang lalu muntah muntah nggak?"

"Nggak tuh pak, biasa aja."

"Ehh?? Mosok mas? Apa karena mas ngga makan sambelnya ya?"

"Emm mungkin aja pak."

Tidak lama kemudian pesanan Sugeng datang, ia langsung menyantapnya namun sambelnya tetap ia sisihkan untuk jaga jaga.

"Ngomong ngomong Desa Pener itu deket banget sama desa saya pak, kalau boleh tau siapa nama dukun itu? Mungkin saya kenal." Ucap Sugeng.

"Kalau ngga salah nama dukunnya itu Mbah Suro. Iya mbah Suro, anak saya kemarin malem cerita alesan pemilik warung itu ke tempat dukun mau minta tolong nangkep pelaku yang curi uangnya bukan karena pesugihan seperti yang ada terdengar di desas desus. Apa mas kenal sama dukun itu?"

"Emmm... ngga kenal, cuma tau orangnya aja Pak. Desa saya deket banget loh sama desa Pener, ngga heran kalau saya dikit tau orang orang di desa pener."

"Apa mas tau rumahnya?"

"Tau rumahnya itu sendirian di tengah kebun karet, katanya dia yang ngurusin kebun karet punya orang kota di sebrang sana."

"Masnya tau banyak ya..."

"Ya jelas pak, saya sama temen saya dulu pernah di marahi sama mbah dukun itu gara gara ngambilin biji karet buat mainan... hahaha..."

"Hahahaha..."

Mereka berdua tertawa terbahak bahak.

Dalam hatinya Sugeng berucap, "orang itu minta di carikan siapa yang ngambil uangnya sama Mbah Suro? Hmmm kemungkinan Mbah Suro juga yang kasih dia pesugihan... Mbah Suro dia berbahaya dulu motor Pak RT pernah hilang dan Pak RT minta bantuan Mbah Suro, dan Mbah Suro langsung tahu yang maling motornya Pak RT adalah Lek Supri tetangganya sendiri.. dia bahaya aku harus segera menyingkirkan dia.." Sugeng kemudian menatap sang pemilik warung yang sedang mengulek sambel dengan mata menyipit, "tapi apa yang membuat Mbah Suro dan orang itu ngga bisa menemukan diriku, selama 3 hari ini? Aku harus menyelidikinya!"

"Warung ini tutupnya jam berapa emangnya pak?"

"Sore jam 5 mungkin mas."

Malam hari setelah magrib Sugeng pamit kepada Neneknya dengan alasan main kerumah teman smpnya dulu.

Sugeng menuju kerumah sang pemilik warung itu dan mengawasinya dari kejauhan..

Orang itu tampak membawa kresek hitam kecil.

Ia masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya begitu saja.

Sugeng bergegas mengikutinya dari belakang.

Ia melihat arah mobil yang di tuju pemilik warung ini menuju ke desa pener.

"Hmmm orang itu pasti mau kerumahnya Mbah Suro." Batin Sugeng. Sugeng langsung menyalip mobil itu dan menuju desa pener terlebih dahulu untuk menghindari kecurigaan.

Sesampainya di desa pener, Sugeng memarkirkan motornya halaman mushola, mengambil sesuatu di jok motornya dan bergegas menuju ke toilet mushola untuknya memakai batu jingga itu.

Sugeng tahu mushola ini tidak ada CCTV oleh karena itu ia tidak tolah toleh mencari CCTV.

Sesampainya di toilet, ia langsung menutup pintu dan menggunakan kekuatan batu jingga itu kemudian keluar dan pergi begitu saja menuju rumah Mbah Suro.

Krriiitt!

Seorang anak kecil tampak memicingkan matanya dari kejauahan ketika melihat pintu toilet terbuka sendiri, namun ia tidak terlalu menghiraukannya dan melanjutkan perjalanannya pulang kerumah.

Sebuah rumah yang terbuat dari lembaran papan tepat di depan sebuah perkebunan karet. Tanpa ada tetangga.

"Kok jadi di depan rumah Mbah Suro? Bukannya waktu aku masih kecil rumahnya di tengah kebun ya?" Batin Sugeng.

Perlahan Sugeng mendekati rumah tersebut, ia mengintip dari sela sela antar papan. Tampak seorang kakek tua sedang menonton televisi seorang diri di temani secangkir kopi dan rokok.

Di depan rumah tersebut tepatnya di teras terdapat sebuah amben, sejenis bale yang terbuat dari kayu dan papan untuk sekedar duduk dan bersantai.

Sugeng lalu meletakan sesuatu di amben itu dan mengetuk pintu.

1
Tini Nurhenti
se7 geng,kek Q bgt
Tini Nurhenti
lanjut thor
Tini Nurhenti
s7 geng
Tini Nurhenti
hadir thor,nyimak dlu seru thor up nya byk jdi smgat bacanya.😄😄💪💪
bedul: siap, udah 56 bab terjadwal
total 1 replies
Afri
semoga ceritanya bagus .. aku suka yg misteri gini thor
bedul: siap, baca sampe selesai ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!