Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Mafia Tanah
Beberapa hari setelah pesanan katering melonjak, suasana rumah terasa lebih hidup, tetapi juga lebih tegang. Uang memang mulai masuk lebih stabil, namun Arga bisa merasakan ada sesuatu yang belum selesai. Seolah-olah mereka baru menyentuh permukaan masalah yang lebih dalam.
Suatu malam, ketika dapur sudah rapi dan dua adiknya tertidur, Arga hendak mengambil air minum. Langkahnya terhenti saat mendengar suara pelan dari ruang depan. Ayah dan ibunya sedang berbicara dengan nada serius.
“Dia datang lagi tadi siang,” suara ayahnya terdengar berat.
“Bilang apa?” tanya ibunya, suaranya hampir bergetar.
“Bilang bunga bulan ini harus dibayar penuh. Kalau tidak, ada konsekuensi.”
Arga berdiri diam di balik dinding tipis. Nafasnya tertahan.
“Bukannya kita sudah bayar sebagian minggu lalu?” suara ibunya terdengar semakin cemas.
“Itu cuma bunga, bukan pokok. Dan bunganya naik lagi.”
Arga merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Selama ini ia tahu ayahnya memiliki utang pada rentenir lokal karena proyek kerja yang gagal. Ia mengira jumlahnya masih bisa ditangani secara bertahap lewat usaha katering. Namun nada suara ayahnya malam itu menunjukkan sesuatu yang lebih serius.
“Berapa sebenarnya sisa utangnya, Yah?” tanya ibunya lirih.
Ayahnya terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Lebih dari yang kamu kira.”
Arga tidak tahan lagi. Ia masuk ke ruang depan dengan wajah serius.
“Ayah, sebenarnya berapa utangnya?”
Kedua orang tuanya terkejut.
“Kamu belum tidur?” tanya ibunya.
“Aku dengar semuanya,” jawab Arga pelan.
Ayahnya menghela napas panjang, lalu mengambil secarik kertas dari laci. Kertas itu terlihat kusut dan penuh angka.
Arga mendekat.
Jumlah yang tertulis membuatnya membeku.
Angka itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan untuk ukuran keluarga seperti mereka.
“Kenapa bisa sebesar ini?” tanya Arga, suaranya tertahan.
Ayahnya menunduk. “Waktu proyek gudang pertama gagal, aku butuh dana cepat untuk nutup kerugian. Dia bilang bunganya ringan. Tapi tiap bulan naik. Kalau telat sedikit, denda.”
Arga mengamati lebih saksama. Pola bunga yang diterapkan bukan sekadar tinggi. Itu mencekik. Dirancang agar debitur sulit keluar.
Ia kembali membuka panel sistem dalam pikirannya.
[Analisis Kontrak Utang.]
[Risiko gagal bayar dalam 60 hari: Tinggi.]
[Kemungkinan penyitaan aset: Sangat tinggi.]
Namun ada sesuatu yang membuatnya semakin waspada.
Nama pemberi pinjaman. Ia bukan sekadar rentenir kecil desa.
Data tambahan muncul.
[Terindikasi terhubung dengan jaringan pembebasan lahan proyek.]
Arga terdiam.
Beberapa potongan informasi mulai menyatu. Proyek gudang besar di ujung desa. Peningkatan aktivitas pembelian tanah. Tekanan pada warga yang memiliki lahan strategis.
Rumah mereka.
Lokasinya memang berada tidak jauh dari jalan yang akan dilebarkan jika proyek diperluas.
Keesokan harinya, Arga sengaja berjalan lebih jauh ke arah proyek. Ia melihat papan besar bertuliskan rencana pengembangan gudang logistik. Di bawahnya ada nama perusahaan pengembang dari kota.
Seorang pria paruh baya berdiri di dekat papan itu, berbicara dengan seseorang yang Arga kenali.
Pak Darsono.
Mereka berbicara cukup akrab.
Arga bersembunyi di balik pohon dan memperhatikan. Ekspresi mereka serius. Beberapa kali terdengar kata pembebasan lahan.
Pulang ke rumah, Arga duduk lama di kamarnya yang sempit.
Ini bukan kebetulan.
Utang ayahnya mungkin memang berawal dari kebutuhan mendesak, tetapi sistem bunga yang diterapkan terasa seperti jebakan. Jika gagal bayar, rumah mereka bisa disita dengan alasan sah. Setelah itu, tanah akan dijual murah ke pihak pengembang.
Skema sederhana, tetapi kejam. Tekan keluarga dengan bunga tinggi. Tunggu mereka gagal. Ambil rumah. Jual ke pengembang besar dengan harga berlipat.
Arga mengepalkan tangan. Sistem tiba-tiba berbunyi lebih keras dari biasanya.
[Misi Utama Diperbarui.]
[Lunasi 50 persen utang dalam 14 hari.]
[Gagal sama dengan Risiko Penyitaan Dini.]
[Tekanan waktu aktif.]
Angka waktu muncul di sudut pandangannya.
Empat belas hari.
Arga mulai merasakan tekanan yang mirip dengan kehidupannya dulu. Deadline. Risiko besar. Keputusan yang menentukan masa depan.
Namun kali ini berbeda.
Dulu, yang ia pertaruhkan adalah reputasi perusahaan dan nilai saham. Sekarang, yang dipertaruhkan adalah atap di atas kepala keluarganya.
Malam itu ia mengajak ayah dan ibunya berbicara terbuka.
“Kita tidak punya dua bulan,” kata Arga pelan.
Ayahnya menatapnya bingung. “Maksud kamu?”
“Kalau mereka memang ingin ambil rumah ini, mereka bisa cari alasan untuk percepat.”
Ibunya terlihat pucat. “Jangan bicara begitu.”
“Aku cuma ingin kasih tau ibu dan ayah,” lanjut Arga.
Ia lalu menjelaskan apa yang ia lihat di dekat proyek dan kemungkinan adanya jaringan yang lebih besar di balik utang tersebut. Tentu saja ia menyampaikannya dengan bahasa sederhana, seolah hanya dugaan anak yang terlalu banyak berpikir.
Ayahnya terdiam lama.
“Kamu pikir mereka memang sengaja?” tanyanya akhirnya.
“Aku tidak tahu pasti,” jawab Arga, “tapi lebih baik kita anggap begitu.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Ibunya menggenggam tangan ayahnya. “Apa yang harus kita lakukan?”
Arga menarik napas dalam. “Kita hitung berapa 50 persen dari total utang. Itu target kita dua minggu.”
Ayahnya menyebutkan angka itu.
Jumlahnya besar untuk usaha sekecil mereka. Arga memejamkan mata sesaat. Ia mulai menghitung kemungkinan.
Jika pesanan katering terus naik. Jika mereka menambah menu dengan margin lebih tinggi. Jika ia bisa menemukan peluang tambahan dalam radius desa. Sistem tidak akan memberi misi mustahil. Itu keyakinannya.
“Kita tingkatkan produksi,” katanya tegas. “Bukan cuma proyek satu. Cari proyek lain. Tawarkan ke bengkel, toko bangunan, atau acara desa.”
Ayahnya terlihat ragu. “Apa kita sanggup?”
“Kita tidak sendirian,” jawab Arga.
Ia menoleh ke ibunya. “Bu, kita bisa tambah satu menu sederhana yang murah tapi laku. Misalnya nasi goreng porsi besar untuk malam hari.”
Ibunya mulai berpikir. “Kalau malam, bisa juga jual lewat titip di warung tetangga.”
Ayahnya ikut menyela. “Aku bisa tanya ke teman proyek lain.”
Percakapan itu berubah dari ketakutan menjadi diskusi.
Arga menyadari sesuatu.
Di kehidupan lamanya, ia sering merasa harus memikul semuanya sendiri. Ia jarang berbagi beban. Jarang meminta bantuan.
Sekarang, ia duduk di ruangan kecil dengan dua orang yang siap berjuang bersamanya.
Tekanan waktu memang aktif.
Empat belas hari terasa singkat.
Namun kali ini, ia tidak berdiri sendirian di ruang rapat besar dengan wajah-wajah penuh kepentingan.
Ia duduk bersama keluarganya.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan yang ia miliki, Arga merasa bahwa tekanan sebesar apa pun bisa dihadapi, selama mereka menghadapi bersama.