"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Richard Jatuh dari Singgasana
Puisi untuk Alana:
Mawar yang Tak Lagi Layu
Dulu mereka melihatku sebagai kelopak yang gugur
Meremehkan duri yang mereka kira telah patah
Mereka menyiramku dengan air mata
Dan menjemurku di bawah terik pengkhianatan
Tapi mereka lupa
Mawar yang pernah hampir mati
Justru tumbuh akar lebih dalam
Mencengkeram tanah
Menyerap racun
Mengubahnya menjadi mahkota
Hari ini
Bukan aku yang mekar untuk mereka
Merekalah yang akan layu
Menyaksikan duri-duriku
Menjadi takhta
---
Ruang Rapat Utama Wijaya Group hari itu terasa berbeda. Bukan karena dekorasi atau tata lampu yang megah, tapi karena atmosfernya—tegang seperti kawat gitar yang hampir putus, panas seperti bara yang tertutup abu.
Dua puluh orang duduk mengelilingi meja marmer hitam panjang. Para pemegang saham, dewan komisaris, direksi, dan beberapa pengacara berjas mahal. Di ujung meja, Richard Hartanto duduk dengan setelan Armani abu-abu yang ia kenakan pagi ini dengan percaya diri. Ia bahkan sempat bercanda dengan sekretarisnya di lobi, tersenyum pada beberapa investor, dan mengecup pipi Alana sebelum masuk ruangan.
Suami dan istri yang harmonis. Pasangan penguasa kerajaan bisnis.
Itu yang ingin ia tunjukkan.
Alana membalas ciumannya dengan senyum lembut. Senyum yang sama yang selalu ia berikan selama tiga tahun terakhir. Senyum yang membuat Richard menganggapnya boneka porselen tanpa nyawa.
Ia tak tahu, di balik senyum itu, Alana sedang menghitung mundur.
---
Rapat dimulai pukul sepuluh tepat. Ketua dewan komisaris, Pak Tanjung—pria berusia enam puluhan dengan rambut putih tipis dan kacamata tebal—membuka agenda. Suaranya berat, penuh wibawa.
"Agenda pertama dan satu-satunya hari ini adalah evaluasi kepemimpinan serta dugaan pelanggaran etika dan hukum yang dilakukan oleh Direktur Utama, Saudara Richard Hartanto."
Richard tersentak. Kursinya berderit pelan. "Apa? Ini rapat dadakan, tidak ada pemberitahuan sebelumnya tentang agenda seperti ini."
"Ada," ucap Alana tenang dari sampingnya.
Richard menoleh. Alana membuka tas Chanel hitamnya, mengeluarkan dokumen bersampul biru, dan meletakkannya di atas meja.
"Surat panggilan RUPS luar biasa yang kau tanda tangani tiga minggu lalu, Sayang." Alana tersenyum manis. "Halaman tiga, paragraf kedua. Dengan jelas disebutkan: evaluasi kepemimpinan dan dugaan pelanggaran. Kau bahkan membubuhkan paraf di sana."
Richard mengambil dokumen itu, matanya menyapu cepat. Wajahnya berubah. "Ini... ini tidak mungkin. Aku membaca ulang dokumen ini. Tidak ada kalimat itu."
"Sungguh?" Alana mengangkat bahu dengan anggun. "Mungkin kau terlalu sibuk... mengurus hal lain."
Sorot matanya menusuk. Richard merasakan sesuatu yang asing: takut.
---
Pak Tanjung melanjutkan dengan suara datar. "Kami memiliki bukti bahwa selama tiga tahun terakhir, Saudara Richard telah melakukan penggelapan dana perusahaan sebesar dua ratus tujuh puluh tiga miliar rupiah melalui rekayasa laporan keuangan dan proyek fiktif."
Ruangan mendadak sunyi.
Richard berdiri setengah, tangannya mengepal. "Itu fitnah! Siapa yang punya bukti? Tunjukkan!"
Seorang pria berjas hitam di sudut ruangan bangkit. Lucas. Ia menghubungkan laptopnya ke layar utama. Dalam hitungan detik, deretan angka, grafik, dan dokumen scan muncul di hadapan semua orang.
"Ini laporan audit forensik independen," ucap Lucas tenang. "Terdapat dua belas proyek fiktif atas nama PT. Hartanto Sukses Makmur—perusahaan milik pribadi Saudara Richard—yang menerima dana dari Wijaya Group tanpa adanya realisasi proyek. Semua tanda tangan dan stempel... asli."
Richard membeku. Ia menatap layar, lalu menatap Alana. Istrinya itu duduk dengan tenang, kedua tangan dilipat di atas meja, wajahnya tanpa ekspresi.
Tidak. Tidak mungkin.
"Dan ada satu hal lagi," sambung Lucas, mengganti tampilan. Kali ini muncul foto-foto. Rumah mewah. Mobil baru. Tas branded. Semua atas nama Viola Santoso.
"Dalam kurun waktu yang sama, dana sebesar lima puluh tiga miliar mengalir ke rekening Viola Santoso—sahabat istri Saudara Richard. Menariknya, transfer terjadi setiap tanggal tertentu. Tanggal-tanggal yang... bertepatan dengan kunjungan malam Saudara Richard ke apartemen di kawasan Menteng."
Ruangan berbisik. Beberapa pemegang saham saling lirik. Yang lain menunduk, tak percaya.
Richard membanting meja. "Ini konspirasi! Alana, kau di balik ini? Kau tega melakukan ini padaku? Aku suamimu!"
Alana tidak menjawab. Ia hanya menatap Richard dengan sorot mata yang kosong. Bukan benci. Bukan marah. Kosong seperti lautan sunyi yang menyimpan jutaan mayat kapal karam.
Lalu, ia berdiri.
---
Semua mata tertuju padanya. Alana melangkah pelan ke layar utama. Gaun navy blue-nya mengilap di bawah cahaya kristal. Ia berhenti di samping foto Viola yang sedang tersenyum di depan butik mewah.
"Kau bertanya apakah aku tega?" Suaranya lembut, tapi setiap kata menusuk. "Tiga tahun, Richard. Tiga tahun aku tahu. Tiga tahun aku diam."
Richard mundur setengah langkah. "Apa?"
"Aku tahu kau menggelapkan uang ayahku. Aku tahu kau memindahkan aset ke perusahaanku sendiri tanpa sepengetahuanku. Aku tahu kau dan Viola..." Alana berhenti, mengambil napas. "Aku tahu kalian bercinta di kamar tidurku. Menggunakan seprai yang ibu mertuamu belikan untuk mahar pernikahan kita."
Seseorang di meja rapat menghela napas panjang. Seorang wanita paruh baya di sebelah kiri menutup mulutnya dengan tangan.
Richard mencoba tersenyum, meskipun getar di bibirnya tak terbendung. "Alana, ini gila. Kau kenapa? Apa kau depresi? Sudah kubilang, temui psikiater—"
"Diam."
Satu kata. Begitu tenang. Begitu tajam.
Richard membeku.
Alana menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan seluruh kemarahan, kesedihan, dan luka itu tampak di permukaan. Matanya berkaca-kaca, tapi tak setetes pun jatuh.
"Ayahku meninggal tiga tahun lalu. Dua minggu setelah pemakamannya, kau membawa Viola ke rumahku. Aku tahu karena aku lupa mengambil ponsel di ruang tamu. Aku kembali, dan kulihat sepatunya di lorong."
Ruangan sunyi. Sunyi yang sakit.
"Aku bisa masuk. Bisa menggerebek. Bisa membuat skandal." Alana tersenyum getir. "Tapi lalu apa? Kalian akan minta maaf, publik akan gempar, saham turun, dan perusahaan ayahku hancur. Dan kau... kau akan tetap hidup."
Ia menunjuk layar. "Jadi aku memilih diam. Bukan karena takut. Bukan karena bodoh. Tapi karena aku sedang mengumpulkan semuanya. Satu per satu. Bukti demi bukti. Angka demi angka."
Richard merasakan lututnya lemas. Ia meraih sandaran kursi untuk bertahan.
"Dan sekarang," lanjut Alana, "setelah tiga tahun, setelah aku punya semuanya, aku ingin bertanya padamu, Richard."
Ia mendekat. Berhenti tepat di depan Richard. Jarak mereka kurang dari setengah meter.
"Apakah kau menikmatinya?" bisiknya, hanya untuk Richard. "Apakah kau bangga bisa meniduri sahabat istri di atas ranjang yang sama tempat kau mengucapkan janji suci? Apakah kau puas menghancurkan keluargaku, menghancurkan ayahku yang sudah di alam kubur, dan menganggapku bodoh yang tak tahu apa-apa?"
Richard tak bisa menjawab. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar.
Alana tersenyum. Bukan senyum manis yang biasa ia berikan. Senyum yang menyeramkan. Senyum kemenangan.
"Terima kasih, Richard."
"Terima... kasih?"
"Kau membuatku kuat. Kau membuatku sadar bahwa tak ada yang bisa melindungi perempuan selain dirinya sendiri. Kau mengajariku bahwa cinta itu buta, tapi dendam punya mata yang sangat tajam." Alana mundur selangkah. "Jadi terima kasih. Tapi sekarang... permainannya selesai."
---
Pak Tanjung mengetukkan palu kecil ke meja. Bunyi tok keras memecah keheningan.
"Berdasarkan bukti yang ada, Dewan Komisaris mengusulkan pemberhentian dengan tidak hormat Saudara Richard Hartanto sebagai Direktur Utama Wijaya Group, efektif segera. Setuju?"
Semua tangan terangkat. Dua puluh tangan. Tanpa kecuali.
Richard terhuyung. Ia melihat sekeliling, mencari sekutu, mencari seseorang yang membelanya. Tapi semua mata menghindar. Bahkan sahabat bisnisnya yang biasa minum whiskey bersamanya setiap Jumat malam, kini menunduk mematung.
"Dan sebagai pengganti," sambung Pak Tanjung, "berdasarkan kepemilikan saham mayoritas serta rekam jejak yang tak terbantahkan, kami mengangkat Saudari Alana Wijaya sebagai Direktur Utama baru Wijaya Group."
Palu diketuk lagi. Tok.
"Setuju?"
Dua puluh tangan terangkat lagi. Kali ini lebih cepat. Lebih antusias.
Pak Tanjung tersenyum pada Alana. "Selamat, Ibu Alana. Kursi ini memang milik ayahmu. Dan sekarang, milikmu."
Alana berjalan menuju kursi direktur utama. Kursi kulit hitam besar di ujung meja, dengan sandaran tinggi menjulang. Richard biasa duduk di sana, bersandar dengan angkuh, memandang semua orang dari ketinggian.
Sekarang, Richard berdiri di sampingnya, tak bergerak.
Alana duduk.
Perlahan, ia menyesuaikan posisi, merasakan sandaran kursi itu menyentuh punggungnya. Hangat. Kokoh. Seperti pelukan terakhir ayahnya sebelum pergi.
Semua orang bertepuk tangan. Beberapa bersorak pelan. Wajah-wajah yang dulu mengabaikannya di pesta-pesta, kini menatapnya dengan hormat—bahkan takut.
Alana tidak tersenyum. Ia hanya menatap satu per satu orang di ruangan itu, menyimpan nama, menyimpan ekspresi, menyimpan segalanya.
Lalu matanya berhenti pada Richard.
Pria itu pucat pasi. Jas mahalnya tiba-tiba terlihat longgar di bahu. Rambut rapi yang tadi pagi ia semprot dengan hairspray mahal, kini tampak kusut dan lepek. Matanya kosong, tak percaya, tak menerima.
"Richard."
Suaranya tegas, terdengar di seluruh ruangan.
Richard menatapnya, penuh harapan. Mungkin ampunan. Mungkin pelukan. Mungkin kesempatan untuk menjelaskan.
Alana tersenyum. Senyum paling manis yang pernah ia berikan pada Richard.
"Sekarang, kau boleh pergi."
---
Richard keluar dari ruangan dengan langkah limbung. Dua petugas keamanan mengikutinya, bukan untuk menghormat, tapi untuk memastikan ia tak mengambil apa pun.
Di lorong, Viola menunggu. Ia sengaja datang, berpakaian elegan, membawa kopi untuk Richard—pura-pura peduli di depan orang-orang. Tapi saat melihat wajah Richard, kopi itu nyaris jatuh.
"Sayang, bagaimana rapatnya? Pasti lancar—"
"Kita hancur."
Viola membeku. "Apa?"
Richard menatapnya dengan mata kosong. "Dia tahu. Semuanya. Tiga tahun. Dia tahu semuanya."
Viola mencengkeram lengan Richard. "Maksudmu Alana—"
"Ya." Suara Richard pecah. "Istriku yang bodoh itu ternyata... dia mempermainkan kita. Dari awal."
Viola mundur. Wajah cantiknya berubah pucat. "Tidak... tidak mungkin..."
Dari ujung lorong, pintu ruang rapat terbuka lagi. Alana keluar, diikuti beberapa direktur yang berebut ingin bersalaman. Ia melirik ke arah Viola dan Richard sekilas—hanya sekilas—lalu melanjutkan langkah.
Tapi sebelum berbalik, Alana berhenti. Ia menoleh, menatap Viola tepat di mata. Dan tersenyum.
Senyum yang sama seperti saat mereka SMA dulu, saat Alana meminjamkan gaun pesta pada Viola karena Viola tak punya uang untuk membelinya.
Senyum yang sama seperti saat pernikahan Alana, saat Viola menjadi pengiring pengantin dan menangis haru di depan altar.
Senyum yang dulu berarti persahabatan.
Sekarang, artinya satu hal:
Permainan baru saja dimulai, dan kau sudah kalah sebelum bertanding.
---
Di dalam ruangan yang kini sunyi, Lucas membereskan peralatannya. Ia mendekati kursi direktur utama yang masih hangat, dan mengelus sandarannya pelan.
"Pak Hendra," bisiknya, "putri bapak sudah duduk di kursi ini. Tenanglah di sana."
Di luar, langit Jakarta mulai mendung. Tapi di dalam gedung Wijaya Group, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, matahari bersinar.
Di kursi tertinggi, seorang mawar mekar sempurna.
Dan duri-durinya... siap menusuk siapa pun yang berani mendekat tanpa izin.
---
"Mereka pikir aku mawar layu yang siap dipetik. Sekarang mereka tahu: akulah yang memetik mahkota, dan takhta ini takkan pernah kulepaskan lagi."
— Alana Wijaya
Bersambung....(ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄