NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peran Penting Di Balik Layar

Pagi itu, Langkah-langkah sepatu formal terdengar bergema di lorong utama. Satu per satu jajaran direksi berjalan melewati ruang administrasi menuju ruang rapat lantai atas.

Setiap kali itu terjadi, suasana selalu berubah.

Para staf administrasi spontan menegakkan punggung.

Beberapa berdiri. Sebagian lainnya menunduk sopan. Suara ketikan melambat. Percakapan kecil langsung terhenti.

Naya ikut berdiri seperti yang lain. Pandangannya menunduk hormat kepada para petinggi itu.

Langkah CEO itu melambat ketika melewati mejanya.

Tidak ada yang menyadari, kecuali Nadira.

Setelah mereka masuk ke lift eksekutif, suasana ruang administrasi mengendur.

Beberapa staf langsung berbisik pelan.

"Ada rapat besar, ya?"

"Sepertinya,"

Nadira menggeser kursinya ke arah Naya, "Nay, gimana lemburnya semalam?"

Naya menarik napas panjang, "lumayan melelahkan. Banyak revisi."

"Pak CEO marah-marah, nggak?" Nadira bertanya cepat.

Naya menggeleng, "Engga. Cuma harus detail banget."

Nadira menyipitkan mata, "detail gimana?"

Naya berpikir sejenak, "Data cabang ternyata beda sistem pencatatannya. Jadi grafiknya harus disesuaikan ulang."

Nadira berkedip. "Serius? Itu kan ribet."

"Iya. Tapi kalau nggak disesuaikan, kesimpulannya bisa salah."

Nadira mendengar nada suara itu datar. Penjelasan yang profesional. Namun ada sesuatu di pikiran Nadira.

Nadira Menatap Naya dengan tatapan serius.

"Kenapa, Dir?" tanya Naya melihat tatapan tak biasa itu.

"Semalam cuman lembur kerjaan aja?"

Naya heran mendengar pertanyaan itu, "maksud kamu?"

"Tadi waktu mereka lewat dari sini, dia sempat lihat ke arah kamu."

Naya langsung menoleh, "ihhh... apa sih, Dir. Mana ada, ya."

"Ada, " Nadira bersikeras pelan. "Cuman ya sebentar sih. Tapi aku lihat."

Naya tak menanggapi, dia kembali menatap layar komputernya, mencoba fokus pada pekerjaan pagi itu. Namun pikirannya tak benar-benar bisa fokus.

"Apa karna telepon semalam? Apa dia marah?" gumamnya.

Nadira tetap memperhatikan Naya, terlihat cemas.

"Apa ada sesuatu yang telah terjadi?" tanyanya dalam hati.

Pukul sembilan tepat, ruang rapat lantai atas sudah terisi. Seluruh jajaran direksi sudah duduk di tempat masing-masing. Di ujung ruangan, layar besar sudah menyala.

Lebih sunyi. Lebih dingin.

CEO berdiri dengan remote presentasi di tangannya. Wajahnya tenang.

"Baik," ucapnya membuka rapat. "Saya akan langsung ke evaluasi dua tahun terakhir dan proyeksi delapan bulan ke depan."

Slide pertama muncul, stabil.

Slide kedua, grafik penurunan margin pada salah satu lini bisnis.

Direktur keuangan langsung bersuara, seperti yang sudah diperkirakan.

"Penurunan ini konsisten sejak kuartal pertama. Kalau tren ini berlanjut, opsi rasionalnya adalah efisiensi. Bahkan mungkin penghentian sebagian operasional."

Beberapa kepala mengangguk. CEO tidak menjawab. Ia mengganti slide.

Muncul dua grafik berdampingan.Data laporan mentah dan data setelah penyesuaian sistem cabang.

"Sebelum kita menyimpulkan performa lini bisnis ini melemah," Ujar CEO tenang, "ada satu variabel yang perlu kita perhitungkan."

Ia menunjuk bagian bawah slide.

"Per Januari, cabang Surabaya mengganti sistem pencatatan. Biaya distribusi dicatat lebih rinci, pengakuan pendapatan berubah dari kuartal menjadi per transaksi. Dan kategori repeat direklasifikasi."

Direktur operasional menyela, "itu hanya teknis administrasi."

"Benar," jawab CEO. "Namun teknis yang mengubah data."

Slide berikutnya memperlihatkan grafik setelah distandarisasi. Garis yang tadinya tampak jatuh tajam kini berubah lebih jelas ke arah masalahnya.

"Setelah penyesuaian," lanjutnya, "penurunan tidak terjadi pada produk."

Ia mengganti slide lagi. Sorot pointer berhenti pada satu garis merah.

"Penurunan terjadi pada efisiensi distribusi."

Suasana ruang rapat berubah. Kini bukan lagi soal menghentikan lini bisnis. Melainkan mencari penyebab yang lebih dalam.

CEO melangkah sedikit mendekati meja.

"Biaya logistik naik delapan persen dalam dua kuartal terakhir. Jalur pengiriman di dua wilayah utama tidak lagi optimal. Tiga klien besar mengurangi volume akibat keterlambatan."

Ia berhenti, memberi ruang kepada rekan rapat memahaminya.

"Jika dibiarkan, margin akan terus tergerus dua belas persen dalam delapan bulan." jelasnya kembali.

Ruangan sunyi.

Direktur keuangan menutup mapnya perlahan, "jadi Anda menyarankan?"

"Restrukturisasi distribusi," jawab CEO tegas. "Bukan pemangkasan lini bisnis."

Slide terakhir muncul. Strategi perbaikan. Negoisasi ulang kontrak logistik. Evaluasi jalur distribusi. Penguatan kanal digital."

Ketua Dewan Komisaris yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

"Analisis ini berbeda dengan laporan awal yang kami terima minggu lalu."

CEO menatapnya layar, "karna laporan awal ini belum memperhitungkan sistem pencatatan cabang."

Hening beberapa detik. Lalu diikuti anggukan pelan.

"Baik," ujar Ketua Dewan. "Saya setuju dengan pendekatan restrukturisasi. Kita evaluasi ulang distribusi sebelum mengambil langkah ekstrem."

Keputusan pun bergeser. Bukan penghentian. Bukan pemangkasan. Melainkan perbaikan.

Rapat berlanjut dengan pembahasan teknis, namun arah kebijakan sudah berubah.

CEO duduk kembali dengan ekspresi yang tetap terkendali.

Tak seorangpun di ruangan itu tahu bahwa interpretasi kunci tadi berawal dari satu kalimat sederhana seorang staf administrasi tentang sistem pencatatan cabang.

Pertanyaan di benak Naya tenggelam oleh pekerjaannya. Waktu terus berlanjut hingga jam makan siang.

Naya sedang menunduk, memeriksa laporan harian, ketika suara di belakangnya memanggil.

"Naya,"

Ia mendongak cepat. Candra berdiri disana dengan tablet di tangannya.

"Iya, Pak."

"Pak CEO minta kamu ke ruangannya," katanya tenang.

Beberapa kepala langsung terangkat di ruang administrasi.

"Sekarang, Pak." tanya Naya pelan.

Candra melihat jam di pergelangan tangannya, "Ini kan sudah waktu makan siang. Jadi setelah makan siang saja."

Nadira yang duduk di sebelahnya langsung menatap tajam, dia mendengar semuanya.

"Makan... berdua, Pak?" tanyanya tanpa sadar, lalu pura-pura menunduk lagi.

Candra tersenyum tipis. "Iya. Kita sekalian mau bahas sedikit soal teknis evaluasi distribusi." jelasnya.

Penjelasan yang masuk akal. Terdengar profesional.

Naya ragu sebentar, lalu mengangguk.

Naya dan Candra berjalan berdampingan di lorong kantor.

Bisik-bisik pelan terdengar dari belakang.

"Serius diajak makan?"

"Wah naik level." sahut yang lain.

Nadira hanya menatap punggung sahabatnya itu dengan bangganya.

Naya berdiri di depan mesin air panas, menuangkan air ke dalam kelasnya, Candra berdiri tidak jauh darinya sambil membuka ponselnya.

"Pak... " Naya akhirnya bersuara pelan.

Candra mengangkat kepala. "Ya?"

"Boleh saya tanya sesuatu?"

"Tentu," Candra memasukkan ponselnya ke kantong celananya.

Naya menatap gelasnya beberapa detik sebelum berkata, "sebenarnya.... tujuan saya dipanggil itu apa?"

Candra terdiam sejenak.

"Saya takut ada salah," lanjut Naya cepat. "Mungkin ada data yang kurang, atau asumsi yang keliru. Kalau sampai interpretasinya salah dan direksi salah ambil keputusan.... "

Suaranya makin pelan. Ia bukan lebih takut dimarahi. Ia takut keliru.

Candra memperhatikan wajahnya yang jelas menyimpan kekhawatiran tulus.

"Kamu pikir pak CEO akan memanggilmu setelah rapat kalau ada kesalahan fatal?" tanyanya ringan.

Naya tidak menjawab, ia menggigit bibir bawahnya pelan.

"Saya hanya staf administrasi, Pak. Kalau memang ada yang kurang tepat, mungkin saya terlalu jauh ikut menginterpretasi."

Candra tersenyum tipis. "Itu justru yang membuatnya memanggilmu."

Naya mengernyit.

Candra langsung meyakinkan supaya Naya tidak khawatir berlebihan, "intinya Pak CEO memanggilmu itu bukan karna kesalahan. Tenang aja, Nay."

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!