Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Pramuka itu Capek.
Capek fisik, capek kepala, capek hati. Tapi entah kenapa, aku masih suka. Hari itu aku datang jam setengah enam pagi. Langit masih abu-abu, gerbang sekolah belum dibuka penuh. Satpam cuma ngangguk waktu aku lewat. Aku balas senyum, walau mata masih perih karena tidur tiga jam.
Tas carrier aku taruh di pojok ruang pramuka. Bau debu, kayu tua, sama keringat lama bercampur jadi satu. Ruangan ini selalu kayak gitu. Nggak pernah benar-benar bersih, tapi juga nggak pernah bikin aku pengin pergi.
Aku buka buku agenda. Coretan jadwal penuh. Ada rapat, latihan baris, pembagian regu, koordinasi diklat. Semua ada di situ. Tulisan tanganku kecil-kecil, padat. Kalau orang lain lihat, mungkin pusing. Buatku, itu kayak peta. Aku tahu harus ke mana.
Jam enam lewat sedikit, Faris datang. Seragamnya rapi, wajahnya kelihatan seger. Dia tipe orang yang bisa tidur nyenyak walau besok ribet.
“Pagi,” katanya singkat.
“Pagi,” jawabku.
Kami nggak banyak ngobrol. Dari dulu memang begitu. Faris bukan orang yang suka basa-basi. Dia datang, duduk, buka HP, lalu nanya hal penting. Sisanya nggak perlu. Beberapa menit kemudian Rara muncul. Rambutnya diikat rapi, muka bersih, seragam licin. Dia selalu kelihatan siap, bahkan di pagi yang males.
“Nay,” katanya sambil naruh tas. “Nanti habis latihan kita rapat bentar, ya.”
“Iya,” jawabku. “Aku udah siapin poinnya.”
“Bagus,” katanya. Senyum.
Aku terbiasa sama kalimat itu. Bukan terima kasih, bukan pujian. Cuma “bagus”.
Dan entah kenapa, aku selalu ngerasa itu cukup. Latihan pagi berjalan kayak biasa. Anak-anak baris. Ada yang telat, ada yang salah sikap, ada yang ketawa sendiri. Aku muter, negur pelan-pelan. Kadang pakai bercanda, kadang cuma tatapan.
“Dada jangan turun, napas yang diatur,” kataku ke salah satu adik kelas.
“Iya, Kak,” jawabnya gugup.
Aku suka momen kayak gini. Ngerasa berguna. Ngerasa ada di tempat yang pas. Capek, iya. Tapi capeknya jelas. Selesai latihan, kami duduk melingkar di bawah pohon ketapang. Rapat kecil. Nggak resmi. Cuma bahas teknis diklat.
Rara buka pembicaraan. Suaranya lancar. Dia pintar ngomong, itu fakta. Penjelasannya runtut, gampang dimengerti. Anak-anak dengerin. Aku nyimak. Sesekali nyelipin tambahan.
“Bagian konsumsi nanti dibagi dua shift,” kataku. “Biar nggak numpuk di satu hari.”
Rara ngangguk. “Iya, itu bisa.” Aku ngerasa klop. Kayak biasa. Dia ngomong, aku ngebantu nutup celah. Dari dulu memang gitu. Rapat selesai. Anak-anak bubar. Ada yang ke kelas, ada yang ke kantin. Aku beresin kertas-kertas, masukin ke map. “Nay,” Rara manggil lagi. “Proposal udah kamu pegang, kan?”
“Iya,” jawabku. “Aku lanjut malam ini.”
“Oke. Jangan lupa bagian anggaran diperjelas.”
“Iya.” Percakapan kami singkat, efisien. Nggak ada yang aneh. Setidaknya, aku ngerasa gitu. Siangnya, aku ketemu Tara di kantin. Dia duduk sendiri, ngerokok diam-diam di pojok, nutup rokoknya pakai tangan. “Kamu capek banget kelihatannya,” katanya.
Aku duduk di depannya. “Biasa.”
“Kamu selalu jawab gitu.”
Aku ketawa kecil. “Ya emang biasa.” Tara itu tipe orang yang nggak banyak tanya, tapi selalu lihat. Kadang bikin nggak nyaman, tapi juga bikin aman. “Kamu suka pramuka, padahal ribet ?” tanyanya tiba-tiba. Aku diem. Jujur aja, aku nggak pernah mikirin alasannya. “Mungkin karena… jelas,” kataku akhirnya. “Kalau capek, tahu sebabnya.”
Tara ngangguk. “Masuk akal.”
Sore itu aku pulang agak telat. Sampai rumah, aku langsung buka laptop. Proposal nunggu. Aku bikin teh manis, duduk di meja kecil dekat jendela. Ngerjain proposal itu kayak ngerjain teka-teki panjang. Anggaran harus masuk akal. Jadwal harus sinkron. Nama-nama harus pas. Aku teliti satu-satu. Jam delapan malam, HP-ku bunyi. Pesan dari Rara.
Rara: Nay, bagian konsumsi jangan lupa disesuaikan sama jumlah peserta ya.
Aku: Iya, lagi aku cocokin.
Nggak ada basa-basi. Aku lanjut kerja. Jam sepuluh, mataku mulai berat. Tapi aku masih lanjut. Aku pengin beres. Kalau belum beres, kepalaku nggak tenang. Selesai jam sebelas lewat. Aku kirim file ke Rara.
Aku: Ini draft awal. Besok aku print.
Rara: Oke. Makasih.
Cuma itu. Makasih. Aku senyum sendiri. Nggak tahu kenapa, tapi aku senang.
Hari-hari berikutnya hampir sama. Datang pagi, pulang sore. Rapat kecil, latihan, koordinasi. Capek, tapi stabil. Aku ngerasa semua masih di jalurnya. Kadang aku ngerasa lelah banget sampai pengin tidur aja seharian. Tapi setiap kali kepikiran buat mundur, aku inget anak-anak yang manggil namaku. Inget jadwal yang rapi di buku agendaku. Inget perasaan pas semua berjalan. Suatu siang, Devi nyeletuk, “Naya tuh kalau nggak ada, pasti ribet ya pramuka.”
Aku ketawa. “Lebay.”
“Ih, serius,” katanya. “Kamu tuh kayak… lemnya.”
Aku mau jawab apa, tapi Rara keburu ngomong, “Ya semua juga kerja kok.” Nada suaranya biasa. Nggak nyolok. Tapi kalimat itu bikin percakapan berhenti. Aku cuma senyum. Nggak ada yang salah. Semua juga kerja. Aku tahu itu.
Malamnya, aku mikir sambil rebahan. Kata-kata Devi muter di kepala, tapi pelan. Nggak ganggu. Aku terlalu capek buat mikir jauh. Besoknya, latihan lagi. Rapat lagi. Aku ketawa lagi. Bercanda lagi. Aku ngerasa masih punya tempat. Kalau dipikir sekarang, mungkin itu tenang yang palsu. Tapi waktu itu, aku beneran ngerasa baik-baik aja. Pramuka itu capek. Tapi waktu itu, aku masih suka.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭