NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Itu Cincin Saya

Hari ketujuh, jam 3:55 sore.

Dewa berdiri di depan ruang dosen dengan keringat dingin bercucuran di kening, pelipis dan hidung. Kemeja putih pinjaman dari Roby—bau deterjen murahan—terasa seperti kemeja pengantin, kaku, sempit dan menyesakkan.

"Ini konsultasi tugas," Ia bertanya dalam hati untuk kesepuluh kalinya. "Cuma konsultasi, Ibu Dian gak bakal tahu, dia gak boleh tahu."

Tapi kenapa—kenapa—gue yang dipanggil sendirian?

Dewa mengetuk pintu pelan, seperti ketukan hantu dan tidak lama terdengar suara lembut dari baliknya

"Silahkan masuk."

Suara itu—datar, dingin—tapi terdengar seperti keraguan, kegugupan?

Dewa masuk dengan jantung berdebar melihat ruang ibu dosen steril dari makhluk tak kasat mata, meja kayu gelap tanpa debu. Rak buku tersusun secara alfabetis. Satu buah frame foto wisuda bersama kedua orangtuanya, tidak ada tanaman, atau kehidupan feminim menandakan ia seorang perempuan.

Ia duduk di belakang meja, tangan kirinya—selalu—di bawah tidak terlihat."Duduk," katanya tanpa memandang

Raka duduk kaku seperti boneka habis baterai, tangan dilipat diatas meja menunggu resiko terburuk.

Dian menatapnya tidak berkedip sepuluh detik, dua puluh detik, tiga puluh detik, seperti melihat artefak langka di museum.

"Anda sering bolos," akhirnya dia memecah keheningan seperti pertanyaan dan pernyataan beriringan.

"Maaf, Bu. Saya... banyak pekerjaan."

"Kerja?"

"Saya... jualan cari uang disela waktu senggang kuliah."

Ia mengangguk ragu. "Jualan ? Cari uang? untuk apa? Tugas anda kuliah bukan mencari nafkah."

Dewa tercekat, "untuk apa? Ya untuk cincin yang sekarang di tangan ibu." tapi kalimat itu tidak mungkin ia katakan."Untuk... makan, Bu, biaya kuliah."

Perempuan bermata coklat itu menatapnya bingung. "Apakah anda tidak punya keluarga ?"

"Punya Bu." Ia menunduk menghindar tatapan elangnya , "Saya... mau mandiri."

Hening, hanya dengusan napas dewa dan detak jantungnya bermain ditelinga.

"Mohon maaf, apakah keluarga anda tidak mampu sampai anda harus bekerja keras mencari uang untuk kuliah?"

Dewa terdiam dan untuk kesekian kalinya ia menunduk, " Kampus ini mungkin bisa dibeli oleh Papa," bisiknya sedikit sombong, tapi tetap kalimat sopan yang terucap," Saya berasal dari keluarga sederhana, Bu, saya harus membantu biaya adik adik sekolah."

" Memang berapa jumlah adik adikmu?"

" Enam bu," Dewa menggigit bibirnya menahan senyum.

" Haa? Enam ?"

" Saya anak paling tua dari enam bersaudara."

Perempuan itu menggelengkan kepalanya seperti tidak percaya masih ada di jaman sekarang orang orang tidak ber KB," Oh...tidak, pa - pa, banyak anak banyak rezeki, tho?"

"Ya mungkin begitu, tapi ....sekali lagi saya minta maaf jika sering terlambat dalam mata kuliah ibu."

Ia hanya diam tidak merespon lalu berjalan ke sudut ruangan ke sebuah mesin kopi metalik, tidak cocok dengan suasana hati Raka yang amburadul.

"Kamu suka kopi?" tanyanya punggung menghadap.

Dewa seperti melihat peluang emas, sebuah kesempatan kalau dia bisa bikin kopi yang enak—kopi sempurna—mungkin ibu Dian akan terkesan, melupakan masa silam nya tukang bolos, bisa jadi nilainya naik, mungkin... mungkin dia bisa melihat tangan kirinya lebih dekat, segala kemungkinan bisa terjadi bahkan buruk sekali pun, didepak dari Universitas.

"Boleh... saya bisa bantu, Bu?" katanya sambil berdiri. "Saya jualan kopi dulu, bubur ayam juga tapi... kopi lebih sering."

Dian menoleh, terkejut badan, tidak pernah mahasiswa sebelumnya menawarkan bantuan, tapi kali ini beda, laki laki ini terlalu berani "Anda tahu cara menggunakan mesin ini?"

"Saya... coba, ya, Bu."

Ia mengangguk bergeser memberi jalan.

Glug, air ludah Raka turun pahit di kerongkongan, ketika melihat mesin kopi dengan tombol-tombol aneh, menu latin dan amerika punya, Espresso, Americano. Cappuccino, tidak ada Kopi Kapal Api, atau cap Gadjah. Dia tahu nama, tapi tidak tahu caranya karena di rumah ada bibik yang selalu membuatkan.

Santai, pikirnya menguatkan, Gue pernah jualan kopi dari sachet sama... sama aja, kan?

Tentu tidak sama sekali, mesin berbunyi kasar tidak seperti yang dia bayangkan ketika tombol nya di tekan

"Kopinya, Bu... Ibu mau apa?"

"Americano. Gula setengah."

Dewa mengangguk mencari kopi bubuk, tapi malah menemukan biji kopi utuh. Biji utuh? Dia butuh gilingan

"Anda... tidak tahu?"

"Saya... cari dulu, Bu."

Sebuah gilingan manual kayu antik terletak tidak beberapa jauh dari mesin kopi.

Raka lalu masukkan biji kopi menggiling terlalu cepat, terlalu kasar sehingga pecahan bijinya terbang ke mana-mana, jatuh ke lantai, keatas meja.

"Duh Tuhan, " wajahnya pucat, " Maaf, Bu! Maaf!"

Dian mengernyit terus memperhatikan.

Ia membersihkannya meja lalu kembali menggiling pelan, tangannya berkeringat dingin. Tiba tiba gilingan macet, putar kiri kanan,

Tak !

Pegangan kayu lepas, jatuh ke lantai menggema di ruangan indah Bu dosen

Patah, mesin kopi mahal, dosen Killer. Dan dia—mahasiswa miskin—baru saja mematahkannya.

"Bu... saya..."

Dian terperangah berjalan mendekat tidak melihat gilingan patah, biji kopi berantakan, tapi wajah Dewa yang pucat, panik dan seperti orang mau menangis.

"Anda... tidak pernah menggunakan mesin ini,"

"Eh ...maaf Bu," ia menatap lantai rasa bersalah

" Katanya tadi bisa," Dian menahan senyum.

"Saya... saya hanya jualan kopi sachet dari termos. Bukan... bukan seperti ini."

Hening

Lalu

Perempuan itu tertawa tertahan dari mulutnya yang terkatup. "Anda... Anda bohong."

"Saya... saya mau bantu, Bu, tapi saya... gagal."

Dian mengambil gilingan patah dari lantai dengan wajah datar tanpa ekspresi marah. Hanya... terhibur?

"Saya punya kopi sachet," katanya, berjalan ke laci lain tanpa hirau masalah tadi. "Di sini untuk... darurat."

Dewa menatapnya bingung, Dosen Killer punya kopi sachet untuk darurat, seperti apa kata darurat untuk seorang dosen bernama Dian ?

Lalu ia membuat kopi dua cangkir sachet. Air panas dari dispenser, duduk kembali di belakang meja. Tangan kirinya—masih di bawah meja—tidak keluar.

"Silahkan minum,"

Dewa tercekat, bagaimana caranya minum kopi buatan seorang dosen ? "Terimakasih Bu, ibu saja yang minum."

" Lho ? Kamu meragukan keahlian saya membuat kopi ?"

" Bb- bukan, Bu," Dewa tergagap, " saya sungkan."

" Minum saja, tidak ada masalah, saya tidak akan melapor ke pada Dekan, kamu minum kopi diruangan saya."

Dewa akhirnya memberanikan diri mencicip, " wajah nya tiba tiba memerah, lidah nya menjerit, Pahit.

Perempuan itu kembali tertawa, tapi masih dapat ia tahankan," Kenapa? Apakah kopinya tidak enak ?"

" Enak kok, Bu, kopi buatan ibu mengalah kan Barista."

Dian meneguk kopi buatannya sendiri, wajah nya berubah menjadi jeruk purut, berlipat lipat, lidah nya tanpa sadar menjulur, " Hueeek."

\=\=\=

"Jadi," kata Dian, kembali ke modus profesional. "Tugas Anda."

"Maaf, Bu. Saya akan perbaiki."

"Bagaimana?"

Dewa bingung. "Saya...akan belajar lebih giat?"

Ia menggeleng pelan. "Tidak cukup, anda mesti butuh... bimbingan intensif."

"Intensif?"

"Asisten pribadi." Dian mengucapkan kata itu dengan datar, tapi tangan kanannya—memegang cangkir—bergetar sedikit. "Antar berkas bantu penelitian, menemani jika ada keperluan kantor dan perkuliahan."

Dewa membeku, wajah nya pucat, Asisten pribadi Dosen Killer?

"Tidak ada bayaran," lanjutnya. "Tapi nilai Anda akan saya perhitungan."

Dewa ingin menolak wajib di tolak karena semakin dekat dia dengan Ibu Dian, semakin besar kemungkinan ketahuan. Tapi.. membayangkan nilai 60, 58, 62, Papa yang menunggu kegagalannya, Sasha yang sudah melupakan ia akhirnya menjawab pelan

"Baik, Bu, Saya terima."

Dian mengangguk cepat terlalu cepat seolah takut ia akan berubah pikiran.

"Mulai besok. Jam 6 pagi antar saya ke kampus."

"Haa?"

"Saya datang lebih awal sekarang," Ia kemudian berdiri, tangan kirinya—masih di bawah meja—tidak keluar. "Anda boleh pergi."

" Terimakasih Bu, " Dewa berdiri tanpa sengaja tangannya menyenggol cangkir kopi diatas meja..

Byuur

Kopi panas rasa nano nano tumpah mengenai meja kayu gelap, mengalir ke arah tangan kiri ibu dosen.

Ia dengan refleks menyelamatkan berkas penting dengan tangan kirinya dan seketika itu juga dewa melihat Cincin perak safir biru di jari manis. Kilauan yang tidak bisa salah—tidak mungkin salah, Rp 1.013.000 yang dia beli dengan darah, keringat, dan ayam burik setan .

Dunia berhenti.

Dian membeku, tangan kirinya—terbuka, terlihat, tertangkap basah—di udara. Cincin mengkilap di bawah lampu ruangan.

Mata mereka bertemu, penyamar dan pemakai, pengirim dan penerima keduanya membeku salah tingkah

Lalu—siapa yang lebih cepat, Dewa tidak tahu—Dian meletakkan berkas ke tempat aman. Tangan kirinya kembali ke bawah meja, kilauan hilang seolah tidak pernah ada.

"Anda... Anda menumpahkan kopi, anda boleh pergi sekarang."

Dewa tidak bergerak harus bilang sesuatu, harus "Tangan kiri Ibu," .

Wajahnya merah padam dari leher ke pipi sampai telinga."Anda... Anda lihat apa?"

"cincin saya" kalimat itu menggantung di udara, tersimpan di mulut setelah melihat wajahnya memerah gugup."Saya lihat... Ibu pakai cincin, bagus. Cocok."

"Anda... Anda tidak..."

"Maaf Bu, saya lancang, telah membuat sedikit kekacauan mematahkan penggiling , menumpahkan cangkir kopi."

Ia hanya diam menatapnya cemas," Cukup untuk hari ini."

Dewa pergi cepat. Sebelum otaknya berubah mengatakan lebih berbahaya, " Maaf Bu, boleh saya lihat cincin itu ?"

.

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!