NovelToon NovelToon
Bukan Sistem Biasa

Bukan Sistem Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:175.9k
Nilai: 4.6
Nama Author: Sarif Hidayat

Beberapa bulan setelah ditinggalkan kedua orang tuanya, Rama harus menopang hidup di atas gubuk reot warisan, sambil terus dihantui utang yang ditinggalkan. Ia seorang yatim piatu yang bekerja keras, tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi dunia yang kejam.
​Puncaknya datang saat Kohar, rentenir paling bengis di kampung, menagih utang dengan bunga mencekik. Dalam satu malam yang brutal, Rama kehilangan segalanya: rumahnya dibakar, tanah peninggalan orang tuanya direbut, dan pengkhianatan dingin Pamannya sendiri menjadi pukulan terakhir.
​Rama bukan hanya dipukuli hingga berdarah. Ia dihancurkan hingga ke titik terendah. Kehampaan dan dendam membakar jiwanya. Ia memutuskan untuk menyerah pada hidup.
​Namun, tepat di ambang keputusasaan, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
​[PEMBERITAHUAN BUKAN SISTEM BIASA AKTIF UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA TUAN YANG SEDANG PUTUS ASA!
APAKAH ANDA INGIN MENERIMANYA? YA, ATAU TIDAK.
​Suara mekanis itu menawarkan kesepakatan mutlak: kekuatan, uang,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Rencana untuk makan pil kultivator

Bu Maya kembali dari kamar dengan wajah yang lebih segar. Di belakangnya, Bela berjalan sambil menguap lebar, matanya masih setengah tertutup. Dia sudah mencabut earphone yang terpasang di telinga.

​"Bu, kenapa tiba-tiba aku disuruh ba—" Ucapan Bela terpotong begitu indra penciumannya diserbu gelombang aroma yang kaya. Dia mendadak berhenti di tengah ruang makan.

​"Astaga, ini wangi apa?" gumam Bela, matanya langsung terbuka lebar. Dia melihat tiga hidangan yang tersaji di meja, masing-masing memancarkan daya tarik visual yang kuat.

​Tak lama kemudian, pintu depan terbuka, dan Pak Suhardi masuk. Ia baru saja pulang dari rumah tetangganya,

​"Wih, hari ini kamu masak besar?" sapa Pak Suhardi, langsung menuju wastafel untuk mencuci tangan.

​Bu Maya tersenyum misterius. "Bukan Ibu, Pak. Rama yang masak semuanya. Coba Bapak lihat sendiri hasil masakan anak itu."

​Pak Suhardi yang sudah selesai mencuci tangan, mendekati meja dan mengamati hidangan itu. Kerutan di keningnya tak hilang. "Oh, benarkah itu ram? Ini terlihat seperti masakan restoran. Apa ini sama enaknya dengan nasi goreng tadi pagi?"

​Rama hanya menyengir canggung. "Baru belajar sedikit, Pak. Semoga Bapak dan Ibu suka."

​Mereka berempat akhirnya duduk mengelilingi meja. Keheningan sesaat melingkupi, bukan karena suasana canggung, melainkan karena semua mata terpaku pada hidangan di depan mereka.

​"Baiklah, mari kita coba," ujar Pak Suhardi, mengambil potongan Ayam Mentega.

​Kriuk!

​Suara renyah melapisi daging ayam yang lembut di gigitan pertama. Saus mentega yang smoky dan gurih menyelimuti lidahnya dengan sempurna. Mata Pak Suhardi langsung membesar.

​"Rama! Ini... ini bahkan lebih dari nasi goreng tadi pagi!" Pak Suhardi menggeleng tak percaya. "Rasa gurihnya pas, manisnya lembut. Tingkat masakan ini sudah setara dengan masakan mahal dari kota! Maya, kamu harus coba ini, lebih hebat dari yang Bapak bayangkan."

​Bela sudah tidak tahan. Tanpa bicara, dia langsung menyerbu Ikan Bumbu Kuning. Kuah kuning kental yang hangat itu segera menyebar di mulutnya, kaya akan rempah kunyit, jahe, dan sedikit pedas.

​"Astaga, Ini enak banget kak!" seru Bela, matanya berbinar. "Gila! Ikan seenak ini! Dagingnya lembut, tidak ada bau amis sama sekali. Kenapa tadi pagi kak Rama bilang baru pertama kali masak? Ini namanya bukan baru pertama kali, ini namanya sudah jadi profesional!"

​Bu Maya mengangguk setuju. "Rama, Ibu sudah bilang tadi, kamu punya bakat. Ini bukan hanya masalah rasa, Pak. Tapi perhatikan potongan, penataan, dan kontrol panasnya. Sempurna."

Rama tersenyum dan berkata, "Syukurlah kalau Pak suka dan bu may, juga bela menyukainya,"

​Setelah kehebohan masakan mereda, dan perut semua orang mulai terisi, suasana menjadi lebih santai. Rama memutuskan inilah saatnya ia menyampaikan penundaan rencana.

​"Pak, Bu, dan Bela. Ada hal yang ingin aku sampaikan," kata Rama, nadanya serius.

​Pak Suhardi meletakkan garpu. "Ya, Ram? Ada apa?"

​"Rencana keberangkatanku ke kota, sepertinya akan aku undur sebentar. Mungkin sekitar sepuluh hari atau mungkin lebih," jelas Rama.

​Reaksi pertama datang dari Pak Suhardi. "Oh, diundur? Tidak apa-apa, Nak. Kalau ada urusan yang harus diselesaikan di desa, selesaikan saja dulu. Keputusanmu yang terbaik."

​Pak Suhardi mengangguk penuh pengertian, merasa Rama pasti punya pertimbangan yang baik.

​Namun, reaksi Bu Maya dan Bela sangat berbeda.

​"Diundur? Memangnya kamu mau ke kota, Ram?" tanya Bu Maya, dahinya berkerut. "Kamu tidak pernah cerita pada Ibu."

​Bela langsung meletakkan sumpitnya, terkejut. "Tunggu! kakak mau pergi ke kota? Mau ngapain? Bukannya kakak masih sekolah,?" Beberapa murid di sekolah bahkan sesekali membicarakan kakak,"

​Rama tahu ini akan menjadi topik panjang. "Aku mau pindah ke kota, Bela. Ada hal penting yang harus aku lakukan di sana. Tapi tenang saja, aku sudah mengurus surat kepindahanku."

​"Pindah? Kenapa mendadak sekali?" tanya Bela, nada suaranya sedikit kecewa.

​Rama tersenyum meyakinkan, menjaga rahasia Pil Kultivator itu. "Aku cuma ingin mengubah nasibku di sana, mungkin saja dengan merantau ke kota, aku bisa lebih mandiri lagi"

​Bu Maya memandangi Rama dengan pandangan khawatir. "Apa kamu yakin, Nak? Ibu khawatir kalau di sana kamu tidak punya siapa-siapa."

​"Aku yakin, Bu. Aku akan baik-baik saja," jawab Rama mantap.

​Pak Suhardi menenangkan istrinya. "Sudahlah, Maya. Kalau Rama sudah memutuskan, kita doakan saja. Lagipula, dia memang harus mencari jalannya sendiri,"

​Bela masih menatap Rama dengan curiga, tetapi tidak melanjutkan pertanyaannya. Tatapan Bela seolah berkata, "Kak menyembunyikan sesuatu dariku." entah kenapa nafsu makannya tiba-tiba menghilang.

******

[DING! Selamat pagi tuan]

"Selamat pagi sistem"

[DING! Selamat tuan mendapatkan hadiah login harian berupa 100 poin tukar yang akan di tambahkan ke dalam profil tuan,"

Pagi itu, mentari masih samar-samar di ufuk timur ketika Rama sudah rapi. Ia mengenakan pakaian yang baru dibeli dan membawa tas ransel sederhana. Di dapur, Bu Maya dan Pak Suhardi sedang menyiapkan sarapan. Aroma nasi goreng (meski bukan buatan Rama) sudah menyeruak.

​"Pak, Bu," sapa Rama, berdiri di ambang pintu dapur.

​Bu Maya menoleh, melihat tas ransel di punggung Rama. "Mau ke mana sepagi ini, Ram?"

​Rama mengambil napas dalam-dalam. "Aku mau izin. Aku akan pergi selama sepuluh hari, Bu. Untuk urusan yang tadi malam aku bilang."

​Pak Suhardi yang sedang menyesap kopi panasnya, meletakkan cangkir. "Sepuluh hari? Secepat ini? Kamu bahkan belum sarapan."

​"Aku harus segera berangkat, Pak," jawab Rama, tersenyum tipis. "Aku akan mengunjungi kerabat jauh di desa sebelah. Ada hal yang harus aku bicarakan dengan mereka."

​Bu Maya dan Pak Suhardi saling pandang, kerutan keraguan muncul di wajah mereka.

​"Kerabat jauh?" tanya Bu Maya perlahan. "Nak, setahu Ibu, kerabatmu di sini hanya tinggal Paman Mamat. Siapa kerabatmu yang lain? Kenapa mendadak sekali?"

​Rama sudah siap dengan pertanyaan ini. "Mereka kerabat dari garis ibu, Bu. Aku baru ingat. Mereka tinggal di desa yang cukup terpencil. Jadi, butuh waktu sepuluh hari untuk urusan ini, sekaligus perjalanan."

​Pak Suhardi menatap Rama lurus-lurus. Ia memang merasa ada yang janggal, namun tatapan pemuda itu tampak begitu meyakinkan, entah kenapa ia merasa pemuda itu berbeda dari Rama yang ia kenal selama ini.

​"Baiklah, Nak," kata Pak Suhardi, menghela napas. "Kalau memang penting, kami izinkan. Tapi kamu harus hati-hati. Di desa tetangga sana banyak jalan setapak yang masih hutan belantara."

​Bu Maya berjalan mendekat dan merapikan kerah baju Rama. "Jaga dirimu baik-baik ya, Ram. Jangan lupa makan teratur. dan cepatlah kembali ke sini jika urusanmu sudah beres,"

​"Tentu, Bu. Aku akan baik-baik saja," jawab Rama, merasa sedikit bersalah karena harus berbohong pada pasangan baik hati ini.

​Setelah pamit singkat, Rama segera berbalik dan melangkah keluar rumah. bela yang baru saja keluar dari kamarnya segera mengejar Rama ke depan, dengan wajah cemberut.

​"Kak.. kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?" tanya Bela.

​Rama sedikit tersentak menghentikan langkahnya, menatap wajah gadis itu lekat lalu berkata setelah tersenyum sekilas,"Setalah kaka kembali, kakak akan mengajakmu berjalan-jalan ke pasar dan membelikan apapun yang kamu mau."

​Tanpa menunggu jawaban Bela, Rama melangkah cepat meninggalkan rumah itu,

Bela diam tanpa kata menatap kepergian pemuda itu, Kata-kata yang di ucapkan pemuda itu barusan membuat dirinya terpaku, "Berjalan-jalan ke pasar, membeli apapun yang dia mau,"?

"Kak tunggu.. aku belum selesai bicara,"Teriak bela berharap pemuda itu menhentikan langkahnya, ia tidak menganggap serius ucapan Rama sebelumnya, karena ia tahu pemuda itu tidak memiliki cukup uang dan itu hanyalah kata-kata untuk menghibur dirinya,

"Tunggulah dengan baik, aku akan kembali 10 hari lagi," Ucap Rama tanpa menoleh dan menghentikan langkahnya, membuat bela seketika memantulkan bibirnya kesal namun ada rasa kehilangan di hatinya,

​Rama berjalan menyusuri jalan setapak yang perlahan berubah menjadi jalur berlumpur, lalu memasuki area yang ditumbuhi pohon-pohon tinggi dan rimbun. Ini adalah kawasan hutan yang membentang luas di luar desa.

​Memasuki pedalaman hutan ini, napas Rama terasa lebih lega. Ini adalah tempat di mana ia tumbuh, tempat yang ia jelajahi bersama ayahnya. Udara di sini terasa lebih murni, dan ia yakin, ini adalah lokasi paling aman dan nyaman untuk mengkonsumsi pil kultivator terlepas dari apapun resikonya,

​Setelah berjalan hampir dua jam, Rama akhirnya menemukan jalur yang samar-samar menuju ke sisi bukit kecil. Ia ingat betul jalur ini. Ia memangkas beberapa sulur tanaman liar yang menghalangi jalan masuk, dan beberapa saat kemudian, sebuah bangunan kecil muncul di hadapannya.

​Itu adalah Gubuk Tua.

​Gubuk itu terbuat dari kayu yang sudah lapuk, atapnya ditutup rumbia yang sebagian sudah berlubang, dan pintu kayunya miring seolah enggan menempel pada kusennya. Ini adalah tempat istirahat sederhana yang dibangun oleh kakek dan ayahnya. Tempat ini sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun, tetapi struktur utamanya masih berdiri kokoh.

​Rama meletakkan ranselnya dan segera membersihkan bagian dalam gubuk. Ia menyapu debu tebal di lantai dan menyingkirkan sarang laba-laba. Cahaya matahari masuk dari celah-celah dinding, menerangi ruangan kecil itu.

​Di tengah gubuk, Rama duduk bersila di atas tumpukan daun kering yang ia rapikan menjadi alas.

​"Sistem," bisiknya, suaranya dipenuhi antisipasi.

​"Ambil Pil Kultivator Bakat Tertinggi," perintah Rama. "Saatnya aku melihat seberapa besar 'lompatan bakat tertinggi' yang dijanjikan pil ini."

​[DING! Pil Kultivator Bakat Tertinggi telah dikeluarkan dari Inventaris. Apakah Tuan yakin ingin mengonsumsinya sekarang? Proses kultivasi membutuhkan waktu 10 hari penuh.]

​Rama mengangguk, matanya menatap pil tersebut yang tiba-tiba muncul di telapak tangannya. Pil itu memancarkan kilauan halus, dan aroma rempah-rempah yang kuat, meskipun menenangkan, langsung memenuhi gubuk.

​"Baiklah.. aku tidak boleh membuang waktu lagi, semakin cepat akan semakin baik," Gumam Rama setelah melihat ke sekeliling sebentar, tanpa ragu dirinya pun langsung memasukan pil itu ke dalam mulutnya,

1
Maz Shell
lanjutkan Thor 2 minimal
Dirman Ha
gc ckp
Dirman Ha
ig go
Zulterry Apsupi
yang ini masuk polisi pasti lewat koneksi atau melalui sogokan
Zulterry Apsupi
terlalu naif si mc
Dirman Ha
g book
Dirman Ha
I g nk
Zulterry Apsupi
MC idiot
Memyr 67
𝗋𝖺𝗇𝖽𝗒 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖺𝗌𝗎𝗁𝖺𝗇 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗁𝖺𝗁? 𝗐𝗂𝖽𝗒𝖺? 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗄𝖺𝗂 𝗉𝗋𝖾𝗆𝗉𝗎𝖺𝗇, 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄?
Memyr 67
𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇? 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍. 𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝗌𝗎𝗉𝖾𝗋𝗂𝗈𝗋 𝗆𝖺𝗎 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂, 𝗒𝗀 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 "𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇" 𝗋𝖺𝗆𝖺. 𝗋𝖺𝗆𝖺? 𝖽𝗂𝗌𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗎𝗋𝖽 𝗌𝗂𝗁 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗍𝗎
Memyr 67
𝗌𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝗁𝗎𝖻𝗎𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗍𝖺𝗌 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁. 𝗄𝖺𝗌𝗂𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗌𝖾𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎.
Manusia Biasa
lucu gw suka interaksi bela x rama😁
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗉𝖾𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖽𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗍𝗈𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗅𝗂𝗆𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝖺𝗇. 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝗆𝖾𝗆𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗅𝖺 𝗂𝗇𝖿𝗈𝗋𝗆𝖺𝗌𝗂 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗌𝗁𝖾𝗋𝗅𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗉𝖺𝗋𝗈. 𝗉𝖾𝗇𝗀𝖺𝗐𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗋𝗂𝖼𝗈 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋.
Dirman Ha
hv gi
Dirman Ha
yd dg
Dirman Ha
hv no
Dirman Ha
ig gi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!