"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: V yang Berkhianat?
Malam di Seoul terasa semakin dingin, seolah langit ikut membeku oleh ketegangan yang menyelimuti distrik Gangnam. Suga menarik kerah jaketnya lebih tinggi, menyelinap di balik bayangan deretan tong sampah di sebuah gang sempit yang hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip-kedip dari kedai ramyeon yang sudah tutup.
Di depannya, sekitar sepuluh meter jauhnya, sosok jangkung yang sangat ia kenal berdiri dengan gelisah. V—Kim Taehyung—rekan kerja Sheril yang paling pendiam dan cekatan di laboratorium forensik. V biasanya adalah orang yang paling teliti dalam menyusun laporan, orang yang selalu membawakan kopi untuk Sheril saat autopsi berlangsung hingga dini hari. Namun malam ini, V tampak seperti orang asing.
Sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor berhenti di ujung gang. Mesinnya tetap menyala, mengeluarkan asap tipis ke udara malam. Seseorang bermasker hitam turun dari kursi penumpang, melangkah mendekati V tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Suga menahan napas, tangannya yang gemetar mengangkat kamera lensa jarak jauhnya. Klik.
Dalam bingkai bidikannya, ia melihat V menyerahkan sebuah tas dokumen berwarna kuning yang cukup tebal. Tas itu memiliki segel resmi Departemen Forensik Nasional—segel yang seharusnya tidak boleh keluar dari gedung tanpa izin atasan. Pria bermasker itu menerima tas tersebut, menyerahkan sebuah amplop kecil (yang Suga duga berisi uang atau instruksi lebih lanjut), lalu kembali ke mobil.
Mobil itu melesat pergi, meninggalkan V yang berdiri mematung di tengah kegelapan gang, menatap tangannya yang kini kosong.
"Brengsek," bisik Suga di balik tumpukan kardus. Hatinya terasa remuk. Selama ini, mereka fokus mencurigai Jungkook, namun ternyata pengkhianat yang sebenarnya berada tepat di bawah hidung mereka. "V... kau juga? Apakah semua orang di sekitar Sheril adalah monster?"
Suga segera menyimpan kameranya dan bergegas pergi sebelum V menyadari keberadaannya. Ia harus memberitahu Jin dan RM, namun ada keraguan yang menghambat langkahnya. Jika V berkhianat, maka data autopsi korban ke-4 yang sedang mereka proses bisa saja telah dimanipulasi. Dan jika data itu dimanipulasi, maka semua bukti yang mengarah pada Jungkook selama ini bisa saja merupakan sebuah settingan.
Sementara itu, di apartemen Sheril, suasana terasa sangat sunyi setelah kepergian Jungkook yang terburu-buru. Sheril duduk di lantai lobi, memeluk lututnya. Pikirannya kalut. Ia teringat luka sayatan di lengan Jungkook dan tatapan pria itu yang penuh penderitaan.
“Aku melakukannya untukmu, Sheril. Segalanya.”
Kata-kata itu terus terngiang. Sebagai dokter forensik, Sheril dididik untuk percaya pada bukti fisik, bukan kata-kata manis. Namun, bukti fisik malam ini terasa begitu kontradiktif. Jika Jungkook adalah pembunuhnya, kenapa dia justru menyelamatkannya dari mobil sedan misterius itu? Dan jika antingnya ada di dalam perut mayat, apakah itu benar-benar dilakukan oleh Jungkook, atau ada orang lain yang memiliki akses ke apartemen mereka?
Suara langkah kaki mendekat. Sheril mendongak dan melihat V berdiri di sana, masih mengenakan jaket yang sama dengan yang dilihat Suga di gang. Wajah V tampak sangat lelah, bahkan lebih pucat dari biasanya.
"Sheril? Kenapa kau duduk di sini?" tanya V lembut, suaranya terdengar cemas. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Sheril berdiri.
Sheril ragu sejenak, namun ia menerima uluran tangan itu. "V... dari mana saja kau? Aku mencoba meneleponmu tadi di lab."
V terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jalanan. "Ada urusan keluarga yang mendesak, Sheril. Maafkan aku karena meninggalkanmu sendirian dengan berkas korban ke-4."
"V," Sheril menatap mata rekannya itu dengan tajam, "tadi ada orang-orang yang mencoba membawaku. Jungkook datang dan menyelamatkanku. Dia terluka."
Mata V sedikit melebar, namun ekspresinya tetap sulit dibaca. "Jungkook? Dia ada di sini? Sheril, kau harus berhati-hati. RM baru saja menemukan fakta baru bahwa truk logistik restoran Le Lapin memiliki jadwal yang identik dengan waktu kematian para korban. Jungkook tetaplah tersangka utama dalam radar kepolisian."
"Tapi tidak ada bukti sah, kan?" potong Sheril cepat. "Semua hanya kecurigaan. Dan malam ini, dia mempertaruhkan nyawanya untukku."
V menghela napas panjang. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil—sebuah botol obat penenang yang biasa digunakan di laboratorium. "Pulanglah, Sheril. Istirahatlah. Aku akan kembali ke lab untuk memeriksa ulang sampel DNA yang ditemukan di bawah kuku korban. Mungkin ada sesuatu yang kita lewatkan."
Sheril mengangguk pelan, meskipun hatinya tetap merasa ada yang janggal. Ia melihat ke arah tangan V, dan untuk sekilas, ia melihat noda kuning di ujung jemari pria itu—bekas dari segel lilin yang digunakan untuk mengunci tas dokumen rahasia.
Di markas, Suga sedang duduk bersama RM. Ia menunjukkan foto-foto pertemuan V di gang tadi. RM terdiam, rahangnya mengeras.
"Jadi, V menyerahkan dokumen forensik kepada pihak luar," ujar RM dengan suara rendah yang berbahaya. "Itu menjelaskan kenapa setiap kali kita akan bergerak, pelaku selalu selangkah di depan."
"Tapi Hyung," sela Suga, "jika V adalah orang dalam yang membantu Jimin, maka semua bukti yang selama ini 'ditemukan' oleh V yang menyudutkan Jungkook... bisa saja palsu. Maksudku, anting Sheril di dalam perut mayat itu? V yang pertama kali menemukannya saat autopsi. Jungkook mungkin memang terobsesi, tapi bagaimana jika dia sedang dijebak?"
RM mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. "Kita belum bisa menyimpulkan itu. Jungkook tetaplah pria yang membangun ruang rahasia penuh peralatan bedah di bawah restorannya. Dan luka sayatan di lengannya yang kau ceritakan tadi? Itu bisa saja bagian dari sandiwara untuk mendapatkan simpati Sheril."
"Tapi dia tidak membunuh polisi muda itu, Hyung! Dia hanya membuatnya pingsan dan menggunakan darahnya sendiri," bantah Suga.
"Itu tetaplah sebuah manipulasi, Suga," sahut RM tegas. "Hukum tidak peduli pada niat, hukum peduli pada fakta. Dan faktanya saat ini, kita punya dua masalah: Jungkook yang misterius dan V yang terbukti berkhianat. Kita tidak boleh gegabah menjadikannya tersangka sebelum kita tahu siapa pria bermasker di dalam sedan hitam itu."
Malam itu, misteri tidak terpecahkan, justru semakin bercabang. Jungkook masih berada di luar sana, menjadi buronan dalam diam yang belum bisa dijerat hukum karena kurangnya bukti sah. Sementara itu, di dalam tim mereka sendiri, retakan kepercayaan mulai menganga lebar.
V kembali ke laboratorium yang gelap. Ia duduk di depan komputer, menatap layar yang menampilkan hasil DNA terbaru. Tangannya gemetar. Ia membuka amplop kecil yang diberikan pria bermasker tadi. Di dalamnya bukan uang, melainkan sebuah foto lama: V yang sedang melakukan kesalahan prosedur medis bertahun-tahun lalu yang mengakibatkan kematian seorang pasien—sebuah rahasia yang Jimin gunakan untuk memerasnya.
V meneteskan air mata. "Maafkan aku, Sheril," bisiknya pada ruangan yang kosong.
Ia kemudian menekan tombol delete pada sebuah file penting. File yang berisi bukti bahwa DNA yang ditemukan di kuku korban bukanlah milik Jeon Jungkook, melainkan milik seseorang dari masa lalu Jimin.
Dengan satu klik, bukti yang bisa membersihkan nama Jungkook dari kecurigaan itu hilang selamanya. Jungkook tetap menjadi tersangka di mata logika, sementara V menjadi monster di balik bayang-bayang demi melindungi dirinya sendiri.