"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BANJIR BANDANG SETELAH ES MENCAIR
Ghava tidak bisa lagi menunggu. Setiap detik rintihan Nana terasa seperti pisau yang mengiris telinganya. "Ish, si Reka lama banget!" gerutunya penuh emosi. Tanpa pikir panjang, ia menyelipkan lengannya di bawah leher dan lutut Nana, lalu mengangkat tubuh mungil itu dalam satu gerakan sigap.
Ghava menggendong Nana dengan sangat protektif, seolah-olah jika ia sedikit saja lengah, gadis itu akan hancur. Langkah kakinya yang lebar dan cepat langsung menuju pintu keluar.
Tepat di ambang pintu, Reka muncul dengan napas terengah-engah membawa kotak obat dan air. Ia mematung melihat bosnya sudah membawa Nana dalam dekapan.
"Ambil kunci mobil gue di meja, lo yang nyetir! Cepet!" perintah Ghava dengan nada yang tidak bisa dibantah. Suaranya bergetar antara marah pada diri sendiri dan panik yang luar biasa.
Reka yang sadar situasi sedang darurat langsung menyambar kunci dan berlari mendahului mereka untuk membukakan pintu mobil.
Ghava duduk di kursi belakang, memangku kepala Nana di paha dan lengannya. Ia tidak peduli lagi dengan jasnya yang mungkin kusut atau wibawanya di depan pegawai baru. Fokusnya hanya pada wajah pucat di depannya.
Tangan Ghava yang biasanya kaku, kini bergerak lembut mengelus pipi Nana yang terasa dingin. Ia sesekali menyeka keringat di dahi gadis itu dengan ibu jarinya.
"Na, dengerin saya... jangan tutup mata kamu, ya? Tetap bicara sama saya," bisik Ghava, suaranya kini melunak, jauh dari sosok "Kulkas Antartika" yang tadi pagi.
"Sakit... Mas..." rintih Nana pelan, matanya terpejam rapat.
"Iya, saya tahu. Tahan sebentar lagi, kita hampir sampai," Ghava menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke telinga Nana. "Maafin saya, Na. Harusnya saya nggak se-kanak-kanak itu tadi. Maafin saya sudah bikin kamu sakit begini hanya karena ego saya..."
Reka yang melihat dari kaca spion tengah hanya bisa terdiam. Ia melihat sisi lain dari Ghava yang sangat rapuh. Seorang produser bertangan dingin yang kini hancur hanya karena melihat asistennya kesakitan.
"Jangan sakit, Nadin. Nanti siapa yang beliin saya es teh plastik? Siapa yang berisik di studio? Saya janji nggak akan galak lagi, asal kamu bangun..." lanjut Ghava lagi, tangannya terus mengusap pipi Nana seolah ingin menyalurkan seluruh nyawanya agar gadis itu merasa lebih baik.
Mobil belum benar-benar berhenti sempurna, tapi Ghava sudah membuka pintu dengan satu tangan sementara tangan lainnya mendekap Nana erat. Begitu kakinya menginjak aspal lobi UGD, Ghava langsung berlari masuk.
"Suster! Dokter! Tolong!" teriak Ghava. Suaranya menggelegar di selasar rumah sakit, membuat beberapa perawat dan keluarga pasien tersentak. Wajahnya yang biasanya tenang dan terkendali kini tampak berantakan, penuh gurat kecemasan yang mendalam.
Dua orang perawat segera berlari membawa brankar (tempat tidur dorong).
"Taruh di sini, Pak," perintah salah satu perawat.
Ghava meletakkan tubuh Nana dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakiti lambungnya yang sedang meradang. Begitu brankar didorong cepat menuju ruang tindakan, Ghava tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Nana yang dingin.
"Dok, tolong dia. Dia pucat banget, keringat dingin dari tadi," ucap Ghava dengan napas memburu, suaranya parau karena panik.
Dokter jaga segera mendekat untuk melakukan pemeriksaan awal. "Bapak tunggu di luar sebentar ya, kami perlu melakukan observasi."
"Saya suaminya—eh, saya bosnya! Saya harus di sini!" seru Ghava refleks, hampir salah sebut karena pikirannya sudah tidak karuan.
Reka yang baru saja menyusul setelah memarkir mobil, langsung memegang pundak Ghava, mencoba menenangkan bosnya itu. "Mas, biarin dokter kerja dulu. Kita tunggu di sini, Mas."
Ghava terpaksa berhenti di batas tirai ruang tindakan. Ia berdiri kaku, matanya tidak lepas dari sosok Nana yang kini dikelilingi tenaga medis. Ia meremas tangannya sendiri, masih bisa merasakan sisa dingin dari kulit Nana di telapak tangannya.
"Gue bodoh banget, Rek," gumam Ghava tiba-tiba, suaranya sangat lirih, hampir tenggelam di tengah hiruk-pikuk rumah sakit. "Hanya karena cemburu nggak jelas, gue malah bikin dia kayak gini."
Reka terdiam, ia melihat tangan Ghava yang gemetar. Untuk pertama kalinya, ia melihat sang "Kulkas Antartika" benar-benar mencair, bukan karena tawa, melainkan karena rasa takut kehilangan yang luar biasa.
Reka menatap Ghava dengan tatapan yang sulit diartikan—setengah tidak percaya, setengah ingin tertawa, tapi juga merasa tidak enak melihat kondisi bosnya yang kacau.
"Jadi... Mas beneran cemburu sama saya?" tanya Reka hati-hati, memancing pengakuan jujur dari pria di sampingnya itu.
Ghava tersentak. Ia baru sadar kalau kalimatnya tadi sudah terlalu jauh "tergelincir". Ia berdehem keras, berusaha memperbaiki posisi berdiri dan raut wajahnya agar kembali terlihat berwibawa, meski keringat dingin masih menempel di dahinya.
"Maksud gue..." Ghava menjeda, mencari alasan paling logis yang bisa ia temukan dalam keadaan otak yang sedang hang. "Gue cemburu... dalam artian profesional. Biasanya cuma gue yang diajak ngobrol sama dia kalau di studio. Fokus dia itu harusnya ke pekerjaan saya, bukan malah sibuk bikin silsilah keluarga orang."
Reka manggut-manggut dengan senyum tipis yang sengaja ia sembunyikan. "Oh, jadi masalah 'fokus kerja' ya, Mas? Kirain masalah 'fokus hati'."
"Jangan ngaco kamu," potong Ghava cepat. "Mending kamu urus administrasi di depan, biar saya yang tunggu di sini."
Tepat saat itu, tirai ruang tindakan terbuka sedikit. Dokter keluar sambil melepas stetoskopnya. Ghava langsung menyambar dokter itu sebelum sempat bicara. "Dok, asisten saya gimana? Dia nggak apa-apa kan?"
"Kondisinya sudah mulai stabil, Pak. Sepertinya ini gastritis akut karena konsumsi makanan yang terlalu pedas dalam kondisi perut yang mungkin belum terisi dengan benar. Kami sudah berikan obat pereda nyeri dan cairan lewat infus. Sekarang dia sedang istirahat," jelas dokter.
Ghava mengembuskan napas panjang, pundaknya yang tadi tegang langsung merosot lega. Ia merasa separuh nyawanya baru saja kembali.
"Boleh saya masuk?" tanya Ghava tak sabar.
"Silakan, tapi jangan terlalu berisik ya."
Ghava melangkah masuk dengan sangat pelan. Di dalam, ia melihat Nana terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Wajahnya mulai sedikit berwarna, tidak sepucat tadi. Begitu Ghava mendekat, Nana membuka matanya sedikit, tampak sayu dan masih dalam pengaruh obat yang membuatnya mengantuk.
"Mas... Kulkas?" gumam Nana sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.
Ghava duduk di kursi samping tempat tidur, ia kembali meraih tangan Nana dan menggenggamnya erat. "Iya, ini saya. Masih sakit perutnya?"
Nana menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis sekali. "Mas... jangan galak-galak lagi sama Reka ya. Kasihan, dia kan orang Sukabumi, bukan orang kutub kayak Mas..."
Ghava mendengus pelan, antara gemas dan ingin marah, tapi akhirnya ia malah mengusap puncak kepala Nana. "Iya, Nadin. Terserah kamu. Yang penting kamu sembuh dulu. Mau panggil Reka masuk?"
Suasana hening di ruang tindakan itu mendadak pecah berkeping-keping. Ghava yang sedang mengusap kepala Nana dan Reka yang baru saja mengintip di balik tirai, keduanya mematung dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Perawat tersebut datang membawa map rekam medis dan botol infus tambahan tanpa menyadari "gempa bumi" yang baru saja ia ciptakan lewat kata-katanya.
"Pak, ini administrasinya tolong diurus ya, istrinya harus diopname dulu minimal satu malam untuk observasi lambungnya," ucap perawat itu dengan santai sambil mengecek aliran infus Nana.
Hening.
Ghava melongo, tangannya yang tadi mengusap kepala Nana mendadak kaku di udara. Sementara Reka yang berdiri di belakang Ghava langsung menutup mulutnya, berusaha sekuat tenaga agar tawanya tidak meledak di saat yang tidak tepat.
"Hah? I-istri?" Nana yang masih lemas tiba-tiba mendadak punya tenaga buat protes. Suaranya serak tapi nadanya penuh keterkejutan. "Sus... saya belum nikah sama Kulkas ini, Sus!"
Wajah Ghava yang tadi sudah mulai tenang, kini kembali memerah—bukan karena cemburu, tapi karena malu yang luar biasa sampai ke telinga. Ia berdehem sangat keras, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawanya yang sudah tercecer di lantai rumah sakit.
"Sus, maaf, ini asisten saya. Bukan istri," koreksi Ghava dengan suara yang diusahakan sedatar mungkin, meski tangannya gemetar hebat saat menerima map dari perawat.
Perawat itu mengerjap, menatap Ghava dan Nana bergantian dengan tatapan bingung. "Oh, maaf Pak, habisnya tadi Bapak panik banget sampai teriak-teriak, terus pas diperiksa Bapak genggam tangannya kencang sekali. Saya kira suaminya yang sangat perhatian."
Reka akhirnya tidak tahan. Ia memalingkan wajah ke tembok sambil pundaknya naik-turun menahan tawa. "Mampus lo, Ghav," bisiknya sangat pelan.
"Sudah, Suster, nggak apa-apa. Tolong siapkan kamar terbaik saja buat dia," potong Ghava cepat, ingin segera mengakhiri percakapan yang sangat canggung ini.
Begitu perawat pergi, Nana menatap Ghava dengan tatapan usil di balik wajah pucatnya. "Ciee... Mas Bos... tadi ngaku-ngaku jadi suami ya biar bisa masuk? Hayo ngaku..."
"Nadin, diam atau saya minta susternya ganti infus kamu pakai air sambal tadi," ancam Ghava ketus, tapi ia tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Nana.
Mbak Yane muncul di pintu UGD dengan napas terengah-engah, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa. Di tangannya, ia mendekap boneka "Imoet" milik Nana yang tertinggal di studio.
"Nadin! Ya ampun, Ghav! Gimana keadaannya?" seru Mbak Yane begitu melihat mereka. Langkahnya terhenti saat melihat tangan Ghava masih menggenggam erat tangan Nana yang tertancap infus.
Nana yang masih lemas mencoba tersenyum kecil. "Mbak Yane... aku gapapa, cuma lambungnya lagi diajak party sama sambal Mas Ghava."
Mbak Yane mendekat, lalu memberikan boneka itu ke pelukan Nana. "Nih, 'Imoet' nyariin kamu. Lagian kamu, Ghav! Anak orang dikasih makan cabe segunung, kamu mau bikin studio kita sepi apa gimana?"
Ghava hanya bisa terdiam, menerima omelan Mbak Yane dengan pasrah. Namun, bukannya berhenti, Mbak Yane justru menyadari suasana canggung yang menyelimuti ruangan itu—terutama setelah melihat wajah Ghava yang masih sisa-sisa merah padam.
"Tadi perawat di depan nanya ke gue, 'Mbak, keluarganya istrinya Mas yang di dalam ya?'," ucap Mbak Yane dengan nada menggoda yang sangat kental. "Gue bingung, istri siapa? Pas gue liat nomor kamarnya, lah... ternyata istrinya Pak Produser kita ini?"
"Mbak, cukup," potong Ghava cepat, suaranya naik satu nada.
Nana malah tertawa pelan meski perutnya masih agak perih. "Mbak, Mas Ghava tadi panik banget katanya. Sampai dikira mau kehilangan belahan jiwa sama susternya."
Mbak Yane tertawa renyah, ia menoleh ke arah Reka yang masih berdiri di sudut sambil senyum-senyum. "Tuh kan, Rek. Makanya kalau cari Bos jangan yang modelan Kulkas, sekali cair langsung banjir bandang begini."
"Gue dapet pelajaran berharga hari ini, Mbak," sahut Reka santai.
Ghava akhirnya berdiri, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Mbak, tolong urus Nadin bentar. Saya mau ke administrasi lagi buat urus kamar inapnya. Reka, lo balik ke studio sama Mbak Yane. Biar gue yang jaga di sini malem ini."
Mbak Yane menaikkan alisnya. "Loh? Nggak mau gantian? Lo kan besok ada meeting sama klien jam 9 pagi, Ghav."
"Bisa diatur ulang. Pokoknya malem ini gue yang di sini," tegas Ghava dengan nada otoriter yang tidak bisa diganggu gugat.
Nana menatap punggung Ghava yang mulai berjalan menjauh. "Mas Bos! Jangan lupa beliin es teh plastik ya kalau mau begadang!"
Ghava berhenti sejenak tanpa berbalik. "Nggak ada es teh. Kamu cuma boleh minum air putih sama bubur rumah sakit, Nadin."
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰