NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#4

Langkah kaki Leonor Kaia beradu cepat dengan aspal lantai parkir universitas yang mulai mendingin. Jas milik Edgar yang tersampir di bahunya terasa seperti bara api berat, menyesakkan, dan membawa aroma maskulin yang seolah-olah menandai dirinya sebagai milik pria itu.

Sesampainya di sudut taman yang sepi, di belakang gedung fakultas desain yang tua, pertahanan Leonor runtuh. Ia melepas jas mahal itu dengan kasar, melemparkannya ke atas bangku taman seolah benda itu adalah virus yang mematikan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya yang memerah karena amarah dan rasa malu.

"Aku membencinya... aku sangat membencinya!" isaknya, suaranya teredam oleh semilir angin sore.

Leonor mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan wajah Edgar yang tersenyum menang, cara pria itu menyentuh rambutnya seolah ia adalah mainan baru, dan tawa meremehkan dari meja elit itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Suatu hari nanti..." Leonor berbisik di antara isakannya, matanya menatap tajam ke arah gedung bisnis yang berdiri megah di kejauhan. "Suatu hari nanti, aku akan membuatmu bertekuk lutut, Edgar Martinez. Aku akan membuatmu memohon ampun atas setiap inci kesombonganmu. Aku akan menghancurkan tembok uangmu itu dengan tanganku sendiri!"

Ia membayangkan saat-saat Edgar kehilangan segalanya. Saat pria itu tidak lagi memiliki nama Martinez untuk melindunginya, dan saat pria itu harus menatap Leonor dari bawah. Imajinasi itu memberinya sedikit kekuatan, sebuah bahan bakar untuk jiwanya yang hampir padam.

Namun, beberapa detik kemudian, sebuah tawa getir keluar dari bibirnya yang bergetar. Leonor menyeka air matanya dengan punggung tangan, menatap pantulan dirinya di genangan air kecil di bawah bangku.

"Bertekuk lutut? Konyol kau, Leonor," gumamnya pada diri sendiri dengan nada penuh penghinaan diri. "Siapa kau? Kau hanyalah wanita tanpa marga. Kau hanyalah putri dari seorang 'gadis miskin yang dipungut'. Kau bahkan tidak punya mobil untuk pulang, dan kau bermimpi menghancurkan raja dari segala raja di kota ini?"

Kepahitan itu terasa lebih tajam daripada air mata tadi. Leonor menyadari posisi realitasnya. Di dunia yang ia tinggali, keadilan adalah barang mewah yang hanya bisa dibeli oleh orang-orang seperti David Gonzales atau keluarga Martinez. Bagi Leonor, kemenangan hanyalah sebuah fiksi yang ia gambar di atas kertas sketsa.

Sore itu adalah jam pulang kampus. Dari tempatnya bersembunyi di balik bayang-bayang pohon besar dekat gerbang keluar, Leonor menyaksikan sebuah pemandangan yang rutin namun selalu menyakitkan.

Itu adalah parade kekuasaan. Satu per satu, mobil-mobil mewah keluar dari gerbang universitas dengan deru mesin yang angkuh.

Ia melihat mobil Porsche putih milik Aurora melaju pelan. Kakaknya itu tampak anggun di balik kemudi, namun Leonor tahu Aurora juga sedang menuju penjara yang sama dengan dirinya—sebuah rumah mewah yang tidak pernah terasa seperti rumah.

Kemudian, sebuah Ferrari merah terang melesat kencang. Itu Ethan. Adiknya itu dengan sengaja membunyikan klakson panjang, tertawa bersama teman-temannya yang berada di mobil lain. Ethan tidak perlu memikirkan masa depan, masa depannya sudah diatur dalam kontrak-kontrak berlapis emas.

Lalu, puncaknya tiba.

Lamborghini hitam milik Edgar Castiel Martinez muncul. Mobil itu bergerak dengan keanggunan seorang predator. Di balik kaca film yang gelap, Leonor bisa merasakan keberadaan Edgar. Pria itu tidak perlu melihat ke kiri atau ke kanan, dia tahu dunia akan menyingkir untuk memberinya jalan. Mobil itu berharga jutaan dolar, jumlah yang bisa menghidupi Leonor selama bertahun-tahun, atau bahkan membiayainya membangun butik impiannya tanpa perlu restu dari siapapun.

Leonor menyaksikan lampu belakang mobil itu menjauh hingga menghilang di antara kemacetan Los Angeles. Di sana, para pewaris pulang ke istana mereka, siap untuk makan malam mewah dan membahas bagaimana cara menambah pundi-pundi kekayaan mereka besok pagi. Itu Realitas yang Menggigit

Setelah keramaian itu surut, suasana menjadi sangat sepi. Leonor berdiri sendirian di trotoar. Ia memandang ke arah jas Edgar yang tertinggal di bangku taman. Dengan berat hati, ia mengambilnya kembali. Ia tidak punya pilihan, jas itu adalah bukti hutang budi yang dipaksakan. Ia harus mengembalikannya, yang berarti ia harus bertemu pria itu lagi.

Leonor berjalan menuju halte bus yang letaknya beberapa blok dari sana. Ia harus naik dua kali angkutan umum untuk sampai ke dekat kediaman Gonzales, dan itu pun ia harus berjalan kaki cukup jauh dari gerbang utama kompleks agar tidak terlihat oleh ayahnya.

Di dalam bus yang sesak, Leonor duduk di dekat jendela. Ia memeluk tas sketsanya erat-erat. Di dalamnya terdapat mimpi-mimpinya, desain-desain yang ia harap bisa membawanya keluar dari kegelapan ini.

"Kau tidak butuh marga mereka, Leonor," bisiknya pada diri sendiri, mencoba membangun kembali puing-puing harga dirinya yang hancur di kantin tadi. "Kau hanya butuh satu kesempatan. Satu saja."

Namun, di dalam hatinya, sebuah pertanyaan besar menghantui, Bagaimana cara mendapatkan kesempatan di dunia yang pintunya hanya terbuka untuk mereka yang memiliki nama besar?

Leonor menatap langit yang mulai gelap. Dia adalah wanita feminin yang hanya mengerti kain dan warna, terjepit di antara obsesi ayahnya akan anak laki-laki dan kesombongan pria seperti Edgar Martinez. Tapi di balik kelembutan itu, ada sesuatu yang David Gonzales dan Edgar tidak sadari, sebuah ketekunan yang lahir dari rasa sakit selama bertahun-tahun.

Malam itu, Leonor tidak tidur. Ia menghabiskan waktu di kamarnya yang kecil, memperbaiki sketsa yang terkena tumpahan air, dan setiap goresan pensilnya adalah sebuah janji. Jika ia harus bekerja sama dengan Edgar Martinez untuk lulus, maka ia akan melakukannya. Ia akan menyerap setiap ilmu bisnis yang pria itu miliki, ia akan membedah cara berpikir Edgar, dan ia akan menggunakan senjata pria itu untuk menghancurkannya.

"Bertekuk lutut mungkin konyol untuk sekarang, Edgar," ucap Leonor sambil menatap bulan dari balik jendela. "Tapi mari kita lihat siapa yang akan tetap berdiri saat benang-benang takdir ini selesai kujahit."

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Nasi Goreng
Luar biasa
Endang Sulistia
mampir
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!