Setelah kepergian sang ayah untuk selama nya, Clarisa mendapati satu kenyataan pahit bahwa suami nya telah mendua kan diri nya. Hal yang lebih menyakitkan adalah wanita yang menjadi selingkuhan nya adalah adik tiri nya.
Sang suami lebih memilih sang adik dan hal itu di dukung oleh ibu tiri nya, Clarisa kembali ke kampung halaman ibu nya dan tinggal bersama sang nenek setelah dia memilih berpisah dari pada di madu.
Tapi ternyata takdir berkata lain, Clarisa bertemu dengan seorang pria yang ternyata adalah bos dari sang mantan suami. Pria itu jatuh cinta pada Clarisa kemudian menikahi nya.
Suami baru Clarisa membawa nya kembali ke kota tempat di mana sang mantan suami dan keluarga nya berada, kedatangan Clarisa kali ini membuat dia mengetahui rahasia di balik kecelakaan yang merenggut nyawa ibu nya puluhan tahun yang lalu.
Ikutan kisah Clarisa yang membalas perbuatan orang yang menjadi dalang di balik kecelakaan yang di alami oleh ibu hingga membuat sang ibu meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
"Ayah, maaf kan Risa, Risa tidak tahu jika penyebab kepergian ayah adalah mas Arvin dan juga Wulan!" Risa mengusap nisan sang ayah dengan berlinang air mata.
Setelah puas menangis di pusara sang ayah, Risa beralih ke makam yang berada tidak jauh dari makan sang ayah. Makam milik ibu nya yang sudah berpulang lebih dahulu ketika Risa masih berumur 7 tahun.
"Ibu, Risa kangen ibu. Kenapa kalian pergi secepat ini, kalian meninggal kan aku sendiri!" Bayangan kecelakaan yang merenggut nyawa sang ibu kembali terlintas di kepala nya.
"Ayah, ibu. Aku akan pergi dari kota ini, kota yang hanya memberikan luka pada ku!" Risa berbisik pada kedua orang tua nya lewat hembusan angin.
Setelah mengunjungi makam orang tua nya, Risa segera pergi menuju ke sebuah terminal. Risa berencana untuk pulang ke kampung di mana nenek nya berada, perempuan yang melahirkan sang ibu tinggal di kampung.
Dengan menggunakan bis, perjalanan ke kampung sang nenek memakan waktu kurang lebih 10 jam perjalanan. Tepat pada jam 21.00 Risa tiba di terminal yang berada tidak jauh dari rumah sang nenek.
Untuk bisa sampai di rumah nenek nya, Risa menggunakan sebuah angkutan umum yabg ada di sekitar tempat itu. Jam 21:30 Risa tiba di rumah nenek nya, tidak ada yang menyambut nya karena memang Risa tidak memberi kabar bahwa dia akan pulang.
"Nenek, Risa datang nek, tapi maaf nek Risa datang ke sini tidak membawa berita bahagia untuk nenek!" Bisik Risa lirih sambil memandangi sebuah rumah mungil yang ada di hadapan nya.
Tok, tok, tok.
"Assalam mu'alaikum!" Risa mengucap kan salam setelah mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam!" Terdengar suara orang yang menjawab salam dari dalam rumah.
Pintu kayu tua itu berderit dan muncul lah sosok perempuan tua dengan rambut yang sudah memutih di depan pintu.
"Risa, Ya Allah nduk, kamu datang malam - malam seperti ini?" Nenek Asih sangat terkejut dan tidak menyangka akan kedatangan cucu nya malam - malam seperti ini.
"Iya nek, Risa datang!" Risa memeluk tubuh tua nenek nya.
"Suami mu mana nduk?" Tanya Nenek Asih pada Risa.
Tenggorokan Risa tercekat dan dia tidak mampu menjawab pertanyaan dari sang nenek, air mata menetes begitu saja tanpa bisa tahan. Melihat keadaan cucu nya, Nenek Asih setidak nya mengerti apa yang terjadi pada sang cucu.
"Masuk lah nak, kau pasti lelah karena sudah menempuh perjalanan jauh!" Nenek Asih membimbing cucu nya untuk masuk ke dalam rumah.
Risa duduk di kursi tua yang ada di ruang tamu rumah nenek nya, sementara nenek Asih segera pergi ke dapur untuk membuat kan teh hangat untuk cucu nya.
"Minum dulu nak, biar tubuh mu lebih hangat!" Nenek Asih menyodorkan segelas teh hangat pada sang cucu.
Risa menerima gelas berisi teh itu dab menyeruput nya sedikit, dia merasakan tenggorokan nya sedikit lebih hangat.
"Istirahat lah nak, kamu pasti lelah!" Nenek Asih berkata pada Risa.
"Nek, apakah nenek tidak keberatan jika Risa tinggal di sini?" Risa bertanya pada nenek nya.
"Nenek sangat senang jika kau mau tinggal bersama nenek, nenek sudah tua. Nenek ingin menghabis kan sisa umur nenek bersama orang yang nenek sayangi!" Nek Asih menggenggam tangan Risa erat.
"Terima kasih nek!" Jawab Risa sambil tersenyum.
Risa segera masuk ke dalam kamar nya yang biasa dia tempati saat dia datang ke sini, setelah menikah dengan Arvin hanya satu kali Risa datang ke sini bersama suami nya. Arvin selalu menolak dengan berbagai alasan jika Risa meminta nya datang ke sini.
Risa termenung sambil duduk si sisi tempat tidur nya, dia tidak menyangka bahwa rumah tangga nya harus berakhir dengan secepat ini. Laki - laki yang sangat dia cintai telah mengkhianati nya dengan sang adik tiri.
Tidak hanya itu, semua harta peninggalan sang ayah juga di kuasai oleh ibu tiri dan juga adik tiri nya. Sekarang ini semua harta yang dia dapat kan bersama sang suami juga dikuasai oleh ibu tiri nya dan juga adik tiri nya.
*****
Suara lantunan ayat suci dari masjid yang ada di seberang rumah Nek Asih sayup - sayup terdengar, menandakan bahwa sebentar lagi akan memasuki waktu subuh. Risa segera bangun dan dia melihat nenek nya sudah berkutat di dapur.
"Nenek, nenek sedang memasak apa?" Tanya Risa pada sang nenek.
Harum bau masakan nenek nya membuat Risa merasa lapar, Risa baru ingat bahwa dia belum makan sejak keluar dari rumah nya kemarin pagi.
"Nenek cuma bikin bakwan sayur nak, ibu mu dulu sangat menyukai bawang sayur!" Nenek Asih berkata dan dia tersenyum mengingat kembali sang putri yang sudah tiada.
"Nenek sudah sholat?" Tanya Risa pada nenek nya.
"Belum nak, nenek mau menyelesaikan menggoreng bakwan dulu. Sebentar lagi nenek sholat!" Jawab Nenek Asih sambil membolak - balik kan gorengan nya yang ada di wajan.
"Sholat lah dulu nek, biar Risa yang gantiin!" Risa segera meraih sutil dan menggantikan sang nenek.
"Baik lah, nenek sholat subuh dulu!" Nenek Asih segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Tidak lama kemudian, Risa juga telah menyelesaikan pekerjaan nya menggoreng bahwan sayur nenek nya. Dia juga langsung melaksanakan kewajiban 2 rakaat nya.
Tinggal di rumah sang nenek membuat Risa melupakan sejenak kesedihan nya karena di khianati oleh Arvin. Risa kembali ke dapur setelah selesai sholat subuh dan dia melihat nenek nya sedang membuat 2 gelas teh hangat.
"Risa, ayo kita sarapan dulu nak!" Ajak nenek pada sang cucu.
Risa menikmati sarapan berdua dengan nenek nya, sudah lama sekali dia tidak menikmati suasana pedesaan yang tenang seperti ini. Dulu, Arvin selalu menolak jika Risa mengajak nya mengunjungi sang nenek, hanya sekali Arvin datang kemari bersama nya. Itu pun sudah satu tahun yang lalu, ketiak sang kakek meninggal dunia.
"Nak, katakan pada nenek apa yang sebenarnya terjadi?" Nek Asih bertanya pada cucu nya.
Bukan nya nek Asih tidak tahu, tapi dia hanya ingin mendengar semua nya langsung dari mulut Risa. Kedatangan Risa sendirian di malam yang sudah larut tanpa di temani oleh sang suami, sudah bisa membuat nenek berusia 70 tahun menebak apa yang menimpa sang cucu.
"Mas Arvin selingkuh nek, dan selingkuhan nya itu adalah,,,,, Wulan!" Setelah terdiam cukup lama akhir nya Risa menceritakan yang sebenar nya pada sang nenek.
Nek Asih menghembus kan nafas berat, apa yang dia takut kan akhir nya terjadi juga. Dulu, saat mengetahui sang menantu menikahi Lia, setelah anak nya meninggal. Nek Asih sudah bisa melihat seperti apa jahat nya Lia dan anak nya tersebut.
Tapi nek Asih tidak bisa mencegah nya, Darmawan beralasan bahwa Risa butuh sosok seorang ibu. Tapi bukan nya peran ibu yang dia dapat kan, tapi hanya penderitaan yang bahkan tidak di sadari oleh Darmawan sendiri.