Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEROBAK MASA LALU
Hujan di luar rumah sakit bukan lagi sekadar air yang turun dari langit, tapi cambuk dingin yang menghajar harga diri Rangga hingga lumat. Diseret paksa oleh dua satpam berbadan tegap, Rangga hanya bisa menatap nanar pintu kamar 304 yang perlahan tertutup, memutuskan kontak matanya dengan Syakira. Kakinya terseret di atas lantai marmer yang licin, meninggalkan jejak air dan lumpur dari sepatu kusamnya.
Begitu sampai di pelataran parkir, tubuhnya didorong kasar hingga tersungkur ke aspal yang basah.
"Jangan balik lagi ke sini kalau nggak mau kami panggil polisi!" bentak salah satu satpam sambil membenahi seragamnya yang kusut.
Rangga bergeming di atas aspal. Air hujan mengguyur kepalanya, menyapu darah kering di pipinya, dan masuk ke celah-celah luka sayatan kaca yang mulai berdenyut ngilu. Di kejauhan, di bawah kanopi lobi yang mewah, Anwar berdiri menyandarkan tubuh di mobil sedannya yang mengkilap. Pria itu menyalakan rokok, menghembuskan asapnya ke udara yang lembap, lalu melambaikan tangan dengan senyum miring yang menghina. Sebuah lambaian "selamat tinggal" untuk pernikahan Rangga.
Rangga mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. Sabar, Rangga... sabar. Jangan sampai kamu masuk sel sekarang. Kalau kamu dipenjara, Rinjani sama siapa? monolognya di tengah deru hujan.
Ia bangkit dengan susah payah, masuk ke dalam mobilnya yang kacanya sudah pecah berantakan. Angin malam masuk tanpa permisi, menusuk tulang rusuknya yang terasa nyeri. Selama perjalanan pulang ke Rumah umah Lembang Bandung. Hanya ada satu bayangan yang menghantui: wajah Syakira yang memalingkan muka.
Rumah Lembang, 21.00 WIB.
Suasana rumah terasa sangat mencekam. Tidak ada wangi masakan Syakira, tidak ada suara tawa Rinjani yang mengejar kucing di ruang tengah. Yang ada hanyalah sunyi yang berdebu.
Rangga menyeret langkahnya ke halaman belakang. Di sana, di bawah lampu bohlam 5 watt yang temaram, berdiri sebuah gerobak kayu yang sudah mulai kusam. Gerobak warisan Almarhum Bapaknya. Saksi bisu perjuangannya dari nol saat pertama kali jualan angkringan di Bandung.
Rangga mengambil kain lap. Dengan gerakan mekanis, ia mulai mengelap permukaan kayu gerobak itu. Gosokannya kasar, penuh amarah yang terpendam. Ia mulai menata arang ke dalam anglo. Korek api ia nyalakan, apinya menari-nari memantul di matanya yang merah dan lelah.
Bau asap arang mulai memenuhi udara, bercampur dengan aroma jahe yang ia geprek dengan tenaga berlebih. Praakk! Jahe itu hancur berantakan di atas talenan.
Kenapa jadi begini lagi? batin Rangga perih.
Ia mulai membayangkan masa depannya. Jika Syakira benar-benar menyerah. Ia membayangkan bila terjadi perceraian yang kedua kali dalam hidupnya. Saat ia kehilangan Laras, ia kehilangan rumah, martabat, dan hampir gila di jalanan Jakarta. Ia tidak mau itu terjadi kembali. Kali ini ada cinta yang jauh lebih dalam.
"Ayah...?"
Suara kecil yang serak itu memecah lamunan Rangga. Di ambang pintu belakang, Rinjani berdiri dengan daster kecilnya yang kucel. Matanya sembab, hidungnya memerah karena terlalu banyak menangis sejak sore tadi saat dibawa pulang oleh salah satu asisten Galih.
Rangga buru-buru menyeka air matanya dengan lengan baju yang kotor. "Eh, Nak... kok bangun? Sini sama Ayah."
Rinjani mendekat, tapi ia tidak langsung memeluk Rangga. Ia menatap gerobak itu, lalu menatap kursi kosong di samping gerobak kursi yang biasanya diduduki Syakira saat menemaninya berjualan di hari-hari awal mereka.
"Mama... mana?" suara Rinjani bergetar.
Rangga membisu. Ia berpura-pura sibuk meniup bara api di anglo. "Mama masih di rumah sakit, Nak. Kan Mama lagi sakit, biar sembuh dulu."
"Mama nggak mau pulang ya, Yah? Gara-gara Ayah marah-marah terus?" Rinjani mulai sesenggukan lagi. Air mata baru mengalir deras di pipinya yang bulat. "Rinjani takut... Rinjani mau Mama Syakira. Rinjani nggak mau Mama pergi kayak Mama Laras..."
Tangisan Rinjani pecah. Anak kecil itu terus-menerus menangis menanyakan "Mama" Syakira. Ia memegangi ujung baju Rangga, menarik-nariknya dengan putus asa.
Rangga langsung berlutut, mendekap putrinya erat-erat. Bau asap arang dan keringat Rangga menyatu dengan wangi rambut Rinjani. Hati Rangga rasanya seperti diremas oleh tangan raksasa. Rangga merasa dunianya runtuh meski tabungannya banyak. Apa gunanya saldo miliaran di bank? Apa gunanya punya belasan cabang angkringan kalau ia tidak bisa memberikan senyum ibunya kembali pada anaknya?
"Ayah janji... Ayah janji bawa Mama pulang, Nak. Ayah janji," bisik Rangga parau, meski ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya menembus tembok kebencian Pak Mansyur dan ketidak percayaan Syakira terhadapnya.
Esok Harinya, 19.00 WIB.
Rangga membawa gerobak itu keluar. Bukan ke tempat mangkalnya yang biasa, tapi ke pinggir jalan raya yang sepi. Ia hanya butuh melakukan sesuatu agar tidak gila.
Ia melayani satu dua pelanggan dengan wajah kaku. Tangannya yang lecet bergerak lincah membungkus nasi kucing, tapi pikirannya terbang ke kamar 304.
Syakira sudah makan belum? Apa dia masih pendarahan? Apa Pak Haji masih di sana meracuni pikirannya?
Tiba-tiba, sebuah mobil operasional "Angkringan" berhenti di depan lapaknya. Galih turun dengan wajah panik. Ia memegang sebuah tablet yang menampilkan data penjualan real-time dari aplikasi mereka.
"Mas, gawat! Kita kena serangan secara masif!" seru Galih tanpa basa-basi.
Rangga meletakkan centong nasinya. "Apalagi, Lih?"
"Ada akun-akun anonim di media sosial yang menyebarkan video Mas lagi diseret satpam rumah sakit semalam. Narasi mereka jahat banget, Mas. Mereka bilang 'Owner Angkringan Siksa Istri sampe keguguran'. Sekarang, orang-orang mulai memboikot cabang kita di Bandung. Bahkan ada dua cabang yang didatangi massa, mereka minta kita tutup karena dianggap nggak bermoral!"
Rangga menarik napas panjang, mencoba menahan emosi agar tidak meledak di depan pelanggan yang tersisa. "Anwar... dia benar-benar mau membunuh karakterku."
"Mas, tabungan kita memang banyak, tapi kalau begini terus, brand kita mati, Mas. Kita bisa bangkrut karena sentimen publik," Galih tampak sangat cemas.
Rangga menatap arang yang mulai memerah di anglonya. Ia teringat jepit rambut bunga Syakira yang ada di tangan Anwar. Ia teringat tatapan Pak Mansyur yang penuh jijik.
"Biarkan saja mereka boikot, Lih. Fokus ke keamanan pegawai kita. Kalau harus tutup sementara, tutup semua. Saya nggak peduli sama uangnya sekarang," jawab Rangga datar.
Galih tertegun. "Tapi Mas..."
"Lakukan saja!" bentak Rangga pelan namun penuh penekanan.
Saat Galih pergi, gerimis kembali turun. Lapak Rangga kini benar-benar sepi. Hanya ada bunyi rintik hujan yang menghantam atap terpal gerobaknya. Rangga duduk di bangku panjang, menunduk dalam.
Darah Rangga terasa mendidih sampai ke ubun-ubun. Dunianya benar-benar runtuh dari segala arah. Istrinya sekarat, mertua membencinya, dan musuh bebuyutannya tertawa di atas penderitaannya.
Tiba-tiba, ia meraih botol minyak tanah dan menyiramkannya ke tumpukan kayu di bawah gerobak. Ia memegang korek api, tangannya bergetar hebat.
Apakah Rangga akan membakar satu-satunya saksi sejarah perjuangannya karena rasa putus asa yang sudah di puncak?
Di dalam Rumah Lembang, suara tangisan Rinjani kembali terdengar memanggil nama Mamanya, membelah sunyi malam yang semakin mencekam.
Rangga mendekatkan api korek ke arah kayu yang sudah basah oleh minyak tanah. Tapi, saat api hampir menyambar, ponselnya bergetar di atas meja gerobak. Sebuah panggilan masuk. Bukan dari Galih, bukan dari rumah sakit, tapi dari nomor yang baru ia lihat....?"