Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak-anak
Kupejamkan mataku rapat-rapat. Aku berusaha untuk menenangkan diriku. Lalu aku kembali mengetik balasan untuk Ronal.
[Pasti laki-laki itu teman Liliana. Kemarin Liliana sudah izin, dia ada acara dengan temannya,] balasku. Aku memang cemburu dan marah, tapi aku harus tetap berpikiran positif.
Drrrrrt....
Kali ini Ronal meneleponku.
Mau tak mau aku pun menerimanya.
"Kamu itu bodoh ya!!!" Dia langsung mengumpatiku.
"Kalau laki-laki itu cuma teman Istri kamu, mereka nggak mungkin hanya berdua saja, Juna. Pasti mereka ada hubungan khusus. Pasti hubungan mereka spesial."
Aku sebetulnya juga berpikiran yang sama. Tapi aku tetap tak ingin mempercayai pikiranku tersebut.
"Ayolah, Juna, buka matamu. Liliana bukan Istri yang baik. Tinggalkan saja dia.
Masih banyak perempuan di luaran sana yang mau menerima kamu selain dia. Kamu tampan, kaya, karirmu juga mapan, kau pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dari dia." Ronal begitu menggebu-gebu menasehatiku. Tapi aku tak mudah goyah. Kuakui, rasa cintaku membuatku benar-benar menjadi laki-laki yang bodoh.
"Aku masih mau menunggu dia," ujarku.
"Mau sampai kapan?" sahut Ronal.
"Mau sampai kamu mati kesepian? hah!"
Aku terdiam.
"Sebagai sahabatmu, aku tuh merasa kasihan sama kamu, Juna. Mana ada laki-laki lain selain kamu, yang udah nikah, tapi sekalipun nggak pernah diizinin untuk nyentuh Istri sendiri. Kamu itu go_blok tau nggak!!!" Dia kembali mengumpatiku.
"Pokoknya, aku akan nyariin wanita buat kamu."
"Buat apa, Nal?" sahutku.
"Buat berkencan sama kamu. Biar kamu bisa lupain Istri kamu itu."
"Nggak perlu." Aku langsung menolak.
"Ayolah. Seenggaknya untuk hubungan satu malam saja.
Kamu bisa bersenang-senang dengan wanita itu. Kamu bisa menidurinya sepuas hatimu."
"Enggak ... Enggak! Aku nggak mau!" Aku tetap menolak.
"Aku tetap akan mencarikanmu wanita."
"Ronal, aku tuh__"
Tut... Tut ... Tut ....
Sambungan telepon kami terputus begitu saja. Ucapanku pun jadi terhenti. Sepertinya Ronal sengaja mematikan teleponnya. Ia tak ingin mendengarkan penolakanku lebih jauh lagi.
"Hufff ....." Aku menghela nafas berat, sambil kupijit-pijit kepalaku yang terasa pening.
***
Aku duduk di kursi ruangan praktikku. Ruangan dengan dinding yang didominasi dengan warna biru muda, warna kesukaanku.
Seorang pasien masuk. Dia pasien anak-anak dengan didampingi oleh Ibunya.
Aku beranjak, langsung mempersilahkan pasien anak tersebut untuk duduk di kursi periksa. Dia bocah laki-laki kurang lebih berusia enam tahun. Wajahnya tampak gelisah. Sedang si Ibu berdiri di sampingnya, sambil memegang tangan si anak, berusaha menenangkan.
"Halo! Nama kamu siapa?"
sapaku sambil tersenyum ramah. Aku tak ingin membuatnya semakin ketakutan.
"Parto, Dok." Si anak menjawab dengan suara sedikit cedal.
"Halo, Parto. Kamu suka robot nggak? Tuh, di dinding ada gambar robot, lho." Aku menuding gambar robot yang ada di sisi kiri ruangan ini.
Memang kupersiapkan untuk menghadapi pasienku yang masih dibawah umur.
Parto melirik gambar tersebut, tapi wajahnya tetap tegang, tetap takut.
"Mama aku nggak mau periksa gigi." Parto merengek ke si Ibu.
"Gigi Parto harus diperiksa, biar nanti giginya nggak sakit lagi."
"Tenang ya, Parto. Dokter di sini nggak akan bikin kamu sakit, kok. Dokter cuma mau cek saja. Giginya Parto kan keren-keren, Dokter penasaran mau lihat," ucapku dengan nada lembut dan tetap tenang. Karena menghadapi pasien anak-anak, memang harus ekstra sabar.
Parto mulai sedikit tersenyum, meski masih ragu untuk membuka mulutnya.
Aku mengambil cermin kecil dan alat pemeriksa.
"Coba buka mulutnya pelan-pelan, kayak singa kecil yang mau mengaum... Auuumm."
Sambil bercanda, aku memperlihatkan contoh mulut terbuka. Parto pun tertawa kecil dan akhirnya menurut. Sang ibu tersenyum lega.
Aku memeriksa perlahan dengan gerakan halus.
"Bagus. Pinter banget. Nah, giginya ada yang bolong sedikit, tuh. Nanti kita bersihkan biar nggak ada monster kecil di situ lagi ya," tuturku.
Parto tampak lebih rileks, apalagi ketika aku menunjukkan sikat mini seperti alat super. Aku tetap bicara dengan nada lembut, penuh kesabaran, menjelaskan langkah-langkah kecil sambil sesekali bercanda ringan.
Sang ibu sesekali mengusap kepala Parto, merasa tenang sang anakkk sudah tak ketakutan lagi.
"Nah, selesai! Pinter. Nanti pulangnya Parto boleh pilih stiker robot. Dokter punya banyak," ucapku setelah aku selesai menangani gigi Parto.
Parto pun tersenyum lebar, lalu melihat ke arah ibunya dengan bangga. Sang ibu mengangguk sambil mengusap puncak kepala Parto.
"Mari silahkan duduk!" ucapku. Parto dan sang Ibu duduk di meja praktekku.
"Terima kasih banyak ya, Dok. Parto biasanya takut periksa gigi. Tapi sama Dokter, dia jadi berani."
"Iya, Bu. Sama-sama." Aku tersenyum hangat.
"Oh ya, ngomong-ngomong, Dokter masih muda ya. Ganteng."
"Makasih, Bu." Aku hanya berkata seperti itu menanggapi pujiannya.
"Dokter mau nggak, saya jodohkan dengan anakkk saya yang paling besar. Dia cantik, cocok sama Dokter."