NovelToon NovelToon
Hening Yang Membeku

Hening Yang Membeku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Duniahiburan / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: ORKESTRA LOGAM DAN DEBU

Udara di puncak gunung mendadak terasa berat dan berbau logam terbakar. Dari arah lereng belakang, selusin sosok muncul dengan gerakan yang terlalu presisi untuk disebut manusia. Mereka adalah unit "Void-Runners" milik sisa-sisa Konsorsium—manusia yang telah mematikan pusat emosi di otak mereka dan menggantinya dengan prosesor kuarsa. Bagi mereka, Spektrum Putih hanyalah gangguan visual pada sensor optik.

"Elara, jangan berhenti!" teriak Profesor Aris. Ia menghantamkan tongkat elektroniknya ke tanah, menciptakan perisai elektromagnetik sementara di sekitar podium. "Apapun yang kau dengar, tetaplah pada nadamu!"

Aris, pria yang selama ini tampak seperti sarjana tua yang lemah, kini bergerak dengan ketangkasan yang mengejutkan. Ia adalah arsitek asli sistem keamanan Lumina, dan ia tahu kelemahan mesin-mesin itu. Namun, jumlah mereka terlalu banyak.

Di podium, Elara menutup matanya rapat-rapat. Jemarinya yang berlumuran pigmen Spektrum Hitam menari di atas kristal. Ia mulai menyanyi—bukan lagi senandung damai, melainkan sebuah ratapan.

*“Kembalilah ke malam yang dingin... Kembalilah ke warna yang hilang...”*

Setiap nada yang keluar dari mulut Elara terasa seperti tarikan gravitasi pada cahaya putih di langit. Di dalam dimensi cahaya, kesadaran Kai meronta. Ia bisa melihat segalanya—setiap atom di dunia ini—namun ia mulai melupakan rasa sakit dari luka bakar di tangannya. Ia mulai melupakan rasa pahit kopi Oakhaven. Ia mulai melupakan... dirinya sendiri.

*Sret!*

Sebuah garis hitam membelah penglihatan putih Kai. Itu adalah suara Elara. Hitam itu terasa nyata. Hitam itu terasa manusiawi.

Di dunia nyata, salah satu unit Void-Runner berhasil menembus perisai Aris. Lengan mekanisnya yang tajam terayun, menghancurkan salah satu pipa organ di Menara Kuil. Suara musik alami gunung itu berubah menjadi jeritan logam yang memekakkan telinga.

"Argh!" Aris terlempar menghantam dinding kristal. Tulang rusuknya retak, namun ia tetap mencoba berdiri. "Sedikit lagi, Elara! Dia mulai merespons!"

"Matikan target suara," perintah suara mekanis dari pemimpin unit Void-Runner. Mata merah sensor mereka terkunci pada leher Elara.

Saat unit itu melompat ke arah Elara, sebuah fenomena aneh terjadi. Partikel cahaya putih di sekitar Elara mendadak memadat, membentuk siluet tangan raksasa yang transparan. Tangan itu menangkap unit logam tersebut di udara dan meremasnya hingga hancur seperti kaleng minuman bekas.

Itu bukan sihir. Itu adalah manipulasi massa oleh kesadaran Kai yang mulai turun kembali ke dimensi fisik.

"Kai?" Elara membuka matanya.

Di depannya, udara mulai beriak. Siluet Kai muncul, namun ia tampak seperti sketsa arang yang belum selesai di atas kanvas cahaya. Setengah tubuhnya masih berupa partikel putih, setengahnya lagi mulai memiliki tekstur kulit dan pakaian yang kotor oleh salju.

"Elara... suaramu... sangat berat," suara Kai terdengar seperti gema dari bawah air.

"Pegang tanganku, Kai! Terima kegelapan ini!" Elara mengulurkan tangannya yang hitam karena pigmen Spektrum Hitam.

Kai ragu. Jika ia menyentuh pigmen itu, ia akan kehilangan kemahatahuannya. Ia akan kembali menjadi manusia yang cacat, yang buta warna, dan yang bisa merasakan sakit. Ia melihat ke arah unit-unit mesin yang terus berdatangan, lalu melihat ke arah Aris yang bersimbah darah.

Dan akhirnya, ia menatap Elara. Mata Elara adalah satu-satunya hal yang tidak berubah dalam penglihatannya—tetap menjadi pusat dari segalanya.

Kai menjulurkan tangannya. Saat jemari cahaya Kai bersentuhan dengan pigmen hitam di tangan Elara, sebuah ledakan sonik terjadi.

*BOOOM!*

Gelombang kejut itu menyapu seluruh puncak gunung. Unit-unit Void-Runner terlempar jatuh ke jurang, sistem elektronik mereka hangus seketika oleh penyatuan ekstrem antara cahaya (Putih) dan ketiadaan (Hitam).

Asap putih menyelimuti podium. Saat asap itu perlahan menipis, Elara melihat Kai tergeletak di lantai kristal. Ia bernapas. Napasnya berat dan nyata.

Elara memeluknya dengan isak tangis yang tak terbendung. Kai perlahan membuka matanya. Ia tidak lagi memancarkan cahaya. Ia kembali menjadi pria biasa dengan seragam yang robek-robek.

Ia melihat ke sekeliling. Dunia kembali menjadi abu-abu. Hitam, putih, dan jutaan gradasi abu-abu yang membosankan namun jujur.

"Aku... aku kembali," bisik Kai. Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di tangan dan bahunya. Ia tersenyum. "Rasanya sakit sekali. Aku merindukan rasa sakit ini."

Profesor Aris mendekat sambil terbatuk darah, namun ia tersenyum lega. "Kau telah melakukan apa yang tidak bisa dilakukan ayahmu, Kai. Kau melepaskan keabadian demi satu warna yang paling penting."

"Warna apa, Profesor?" tanya Elara.

"Warna kemanusiaan," jawab Aris lemah.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sejenak. Menara Kuil Suara mulai retak. Karena energi Spektrum Putih sudah tidak lagi memiliki "wadah" (Kai), menara itu mulai runtuh karena bebannya sendiri. Gunung itu bergetar hebat.

"Tempat ini akan runtuh!" teriak Aris. "Kalian harus pergi ke hanggar bawah tanah! Ada pesawat evakuasi yang disiapkan Malik dulu!"

"Bagaimana denganmu, Profesor?" Kai mencoba memapah Aris.

"Aku sudah terlalu tua untuk dunia yang baru ini, Kai. Tugasku selesai. Pergilah! Bawa rahasia Spektrum bersamamu. Jangan biarkan siapapun membangun menara seperti ini lagi. Biarkan kedamaian tumbuh secara alami, bukan karena mesin."

Dengan berat hati, Kai dan Elara berlari menuju terowongan evakuasi saat puncak gunung itu mulai runtuh ke dalam dirinya sendiri. Suara dentingan pipa organ yang terakhir terdengar seperti ucapan selamat tinggal yang megah.

Saat mereka keluar dari kaki gunung menggunakan pesawat kecil otomatis, mereka melihat Puncak Menara lenyap ditelan salju dan debu. Cahaya putih di langit perlahan menghilang, kembali menjadi langit malam Oakhaven yang berbintang.

Dunia telah berubah. Efek Spektrum Putih memang hilang secara fisik, namun "ingatan" akan kedamaian itu tertanam di jiwa setiap manusia yang merasakannya. Dan bagi Kai, ia kini memulai hidup baru sebagai pria yang benar-benar bebas dari bayang-bayang ayahnya.

Namun, di dalam pesawat, Kai menyadari satu hal. Di telapak tangannya yang terkena pigmen Spektrum Hitam, muncul sebuah simbol kecil yang bercahaya keemasan. Sebuah tanda bahwa meskipun ia kembali menjadi manusia, ia membawa sesuatu yang lain dari "sana".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!