desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1: Hujan yang Mempertemukan
Jakarta tak pernah belajar dari kesalahan. Begitu juga dengan hujan.
Aira mematikan mesin jahitnya. Gedung apartemen murah di daerah Tanah Abang itu bergetar pelan—bukan karena gempa, tapi karena suara petir yang menyambar dekat. Matanya beralih ke jendela kecil di kamar kostnya. Tirai polkadot biru yang ia jahit sendiri tertiup angin. Di luar, langih Jakarta berubah jadi abu-abu pekat. Gelap. Tapi bukan gelap malam. Ini gelap sore hari yang marah.
"Ah, sebentar lagi."
Aira beranjak dari lantai. Tangannya terampil merapikan sisa-sisa kain yang berserakan. Dua gaun pesanan belum selesai. Tapi ia sudah hafal. Begitu hujan turun, listrik di daerah ini akan mati. Bergantian. Seperti antrean panjang warga Jakarta yang tak pernah habis.
Kringgg...
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
"Mba Aira, pattern baju bridesmaidnya udah jadi? Client nanyaaaa terusss."
Aira tersenyum tipis. Pesan dari asistennya, Maya. Ia membalas cepat.
"Jadi. Besok pagi Maya ambil ya. Aku lembur."
Ia tak menyebut bahwa lembur itu akan dilakukan dengan cahaya lilin. Tak perlu.
Tepat pukul lima sore, lampu di kamar kost itu mati. Bersamaan dengan itu, hujan turun. Bukan turun, tapi jatuh dengan marah. Air mengguyur Jakarta seperti Tuhan sedang menumpahkannya. Genangan naik cepat di jalan. Kemacetan dimulai. Dan di suatu tempat di Jakarta Selatan, di sebuah apartemen mewah yang sunyi, seorang anak laki-laki berusia lima tahun sedang memeluk gulingnya sendiri.
---
RAKA sedang dalam perjalanan pulang. Mobil hitamnya terperangkap di jalur selatan. Macet total. Air hujan mengalir di kaca mobil seperti air mata yang tak berhenti. Jari-jarinya mengetuk setir. Gelisah.
"Pak, macet parah. Mungkin sampai magrib," kata sopirnya.
Raka mengangguk. Ponselnya ia genggam erat. Layar menampilkan video call dengan kamar anaknya. Kamera di rumah menampilkan Arka yang sedang duduk di karpet. Sendiri. Mainan tentara-tentaraan berserak di sekelilingnya, tapi Arka hanya diam. Memeluk guling. Menatap ke luar jendela ke arah hujan.
Kringgg...
Raka mengangkat panggilan dari pengasuh.
"Pak, Arka nangis. Katanya kangen Bapak. Saya sudah coba bujuk, tapi... apa Bapak bisa bicara sebentar?"
"Ya. Tunda."
Raka menekan tombol video call ke kamar anaknya. Layar di mobil terhubung dengan kamar Arka. Wajah bulat Arka muncul. Matanya sembab. Pipinya basah.
"Pak..." suara Arka kecil sekali. Tertelan derasnya hujan di luar.
"Nak, Bapak di jalan. Macet. Sabar ya?"
"Arka takut."
Raka diam. Ia ingin memeluk anaknya. Tapi jarak 20 kilometer dan kemacetan Jakarta menghalangi. Ia ingin marah pada Lita, mantan istrinya yang kini entah di mana. Pada wanita yang memilih karier dan pria lain, meninggalkan Arka saat usianya baru tiga tahun. Tapi marah tak ada gunanya sekarang.
"Arka, lihat Bapak."
Arka menatap layar.
"Bapak sayang Arka. Bapak akan segera sampai. Hitung ya. Dari satu sampai seratus. Nanti Bapak sudah di depan pintu."
"Janji?"
"Janji."
Matikan sambungan. Raka memejamkan mata. Di luar, hujan semakin deras. Jakarta lupa caranya mengering. Dan Raka, CEO perusahaan teknologi yang disegani ribuan karyawan, merasa sangat tidak berdaya.
---
Di Tanah Abang, Aira membuka jendela kamarnya. Hujan mulai reda. Berganti gerimis. Udara lembab masuk membawa bau aspal basah dan asap knalpot. Lampu belum menyala juga.
Tok tok tok.
"Ibu kos?"
Aira membuka pintu. Ibu Kos—seorang janda paruh baya dengan daster lusuh—berdiri membawa dua lilin dan sepiring pisang goreng.
"Neng, ini lilin. Listrik mati sampai jam sembilan katanya. Ibu bikinin pisang goreng. Neng makan dulu."
Aira menerima dengan senyum. "Makasih, Bu."
"Neng Aira, kerja terus. Istirahat dong. Cantik gitu, masa enggak punya pacar?"
Aira tertawa kecil. "Sibuk, Bu."
"Jangan sibuk melulu. Nanti kesiangan."
Ibu Kos itu pergi. Aira duduk di ambang jendela. Memakan pisang goreng hangat. Menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu. Ponselnya bergetar. Pesan dari klien lain. Revisi. Ia membalas, "Baik."
Hidup Aira sederhana. Pagi ke butik tempat ia bekerja sebagai desainer. Malam mengerjakan orderan sampingan. Tak ada drama. Tak ada percintaan. Hanya jahitan demi jahitan. Hanya rupiah demi rupiah untuk mengirim uang ke kampung, untuk ibu dan adik-adiknya.
Ia tak pernah menduga bahwa besok, hidupnya akan bertabrakan dengan seorang anak kecil yang ketakutan oleh hujan, dan seorang ayah yang kehilangan arah.