Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Di Ratukan Suami
Sesampainya di rumah Zaki tak lupa mengucap syukur atas kehamilan istrinya itu, sedari tadi pria itu tak henti-henti mengelus perut Anisa dan membacakan doa serta mengajak calon anaknya itu berbicara.
"Assalamualaikum anak Papa ... baik-baik ya di perut Mama," ujarnya penuh dengan kelembutan.
Sementara Anisa terus saja menatap wajah suaminya, ia bisa merasakan sendiri bagaimana wajah bahagia Zaki yang tak bisa disembunyikan.
"Mas, si dedek pastinya bahagia punya Papa lembut dan penyayang kaya kamu," ungkap Anisa.
"Dia juga pasti akan bangga punya ibu sekuat kamu," sahut Zaki sambil menatap ke arah Anisa.
Zaki tersenyum, lalu kembali menempelkan telapak tangannya di atas perut Anisa, seolah tak pernah merasa cukup hanya dengan satu kali sentuhan.
“Dengar ya, Nak,” ucapnya pelan, wajahnya mendekat. “Papa bakal jaga Mama. Papa bakal kerja lebih keras lagi. Kamu tenang aja di dalam sana.”
Anisa terkekeh kecil. “Mas ini dari tadi ngomong terus, nanti dedeknya kaget.”
“Biar dia kenal suara Papa dulu,” jawab Zaki ringan. “Supaya nanti pas lahir, dia tahu siapa yang pertama kali pengen gendong dia.”
Kalimat itu membuat dada Anisa menghangat. Ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Malam itu terasa begitu tenang, begitu utuh.
“Mas…” panggil Anisa lirih.
“Hm?”
“Janji ya… apapun yang terjadi, Mas tetap di samping aku.”
Zaki menoleh, sedikit heran dengan nada suara istrinya.
“Kenapa ngomong gitu?”
“Enggak tahu… cuma pengen dengar aja.”
Zaki mengangkat tangan Anisa, menciumnya dengan lembut.
“Mas janji. Selama Allah masih kasih napas, Mas gak akan ninggalin kamu sendirian.”
Anisa tersenyum, meski entah kenapa ada getar halus di hatinya. Ia tak tahu, malam yang dipenuhi doa dan harapan itu kelak akan menjadi kenangan yang paling sering ia ulang dalam kepalanya.
Zaki kembali berbicara pada perut istrinya.
“Nak, tumbuh yang kuat ya. Jangan bikin Mama capek. Papa tunggu kamu lahir… kita shalat bareng, kita jalan-jalan bareng.”
Ia tertawa kecil, membayangkan masa depan yang terasa begitu dekat. Di luar, angin malam berembus pelan. Di dalam rumah kecil itu, cinta terasa begitu penuh.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya, semua masakan sudah terhidang di kamar kost-nya, tapi pagi ini ada yang berbeda, makanan tersaji begitu saja, bukan Anisa yang menyiapkan, tapi semuanya itu Zaki yang melakukannya sendiri.
Entah kenapa melihat istrinya yang sedang hamil, pria itu tidak tega menyuruh Anisa melakukan pekerjaan dapur dan lain-lain, bagi Zaki selama ia masih mampu apapun akan ia lakukan
"Akhirnya selesai juga," gumam Zaki sambil tersenyum menghadap ke hidangan itu.
Zaki merapikan letak piring, memastikan semuanya terlihat rapi meski sederhana. Nasi hangat mengepul, telur dadar sedikit kecokelatan di pinggirnya, dan semangkuk sayur bening yang ia masak dengan penuh perjuangan.
Ia melirik ke arah kasur spon. Anisa masih duduk bersandar, memperhatikannya sejak tadi tanpa suara. Tatapannya lembut, bercampur haru.
“Mas…” panggilnya pelan.
Zaki menoleh cepat. “Loh, kok sudah bangun? Harusnya istirahat aja dulu.”
Anisa tersenyum tipis. “Aku bangun dari tadi. Lihatin Papa-nya dedek sibuk di dapur.”
Zaki terkekeh malu. “Mas cuma gak mau kamu capek. Sekarang tugas kamu cuma satu.”
“Apa?”
“Jadi sehat. Sama jadi bahagia.”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat mata Anisa langsung menghangat.
Zaki menghampirinya, lalu duduk di tepi kasur. Tangannya kembali otomatis mengusap perut istrinya.
“Selamat pagi, dedek,” ucapnya ceria. “Hari ini Papa masakin Mama. Nanti kalau sudah besar, kamu jangan kalah ya sama Papa.”
Anisa tertawa kecil. “Mas ini ya…”
Zaki lalu berdiri dan mengulurkan tangan.
“Yuk, sarapan dulu. Mas suapin.”
“Mas…” pipi Anisa memerah. “Aku bisa sendiri.”
“Bisa sih, tapi Mas pengen.”
Ia duduk di samping Anisa, menyuapkan sesendok nasi dengan hati-hati. Sesekali meniupnya lebih dulu.
“Panas gak?”
Anisa menggeleng. Tapi yang terasa panas justru hatinya, karena perlakuan lelaki di sampingnya itu.
“Mas terlalu baik sama aku,” bisiknya pelan.
Zaki berhenti sejenak. Ia menatap wajah istrinya dalam-dalam. “Mas cuma lagi berusaha jadi suami yang pantas buat kamu.”
Anisa spontan memeluknya. Pelukan singkat, tapi penuh rasa. Beberapa menit kemudian, Zaki berdiri mengambil tas kerjanya. Sebelum benar-benar pergi, ia kembali menghampiri Anisa.
Ia berlutut sedikit agar sejajar dengan perut istrinya. “Papa berangkat kerja dulu ya. Doain Papa sehat, supaya bisa pulang cepat.”
Lalu ia menoleh pada Anisa. “Kamu jangan kemana-mana sendirian. Kalau mau apa-apa, telepon Mas. Jangan ditahan-tahan.”
Anisa mengangguk.
Zaki mengecup keningnya lama. Bukan sekadar kecupan biasa, seperti ingin memastikan kehangatan itu tertinggal.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam… hati-hati, Mas.”
Zaki melangkah keluar, tapi sebelum pintu benar-benar tertutup, ia kembali menoleh.
Senyumnya hangat. Tatapannya penuh. Seolah kamar kos kecil itu adalah satu-satunya alasan ia ingin selalu pulang.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Busa mulai menempel ditangannya, semenjak baru sampai, tangan itu tidak terlepas dari lapisan busa yang menempel di tangannya, keringat deras mulai bercucuran, meskipun ujung kaosnya sudah basah terkena percikan air kran.
Zaki masih tetap semangat, kerja kerasnya seolah tiada henti, demi menghidupi sang istri apalagi sebentar lagi akan hadir sosok yang selama 8 bulan pernikahan ini ia nantikan.
"Ya Allah kuatkan kedua punggungku, dan lancarkan terus rezeki ku, rezeki istriku dan rezeki calon anak kami," gumam Zaki di sela-sela tumpukan piring itu.
Tangannya masih sibuk menggosok piring satu demi satu. Di sela kesibukan itu, bayangan wajah Anisa muncul begitu saja. Senyumnya. Cara ia memegang perutnya dengan hati-hati. Suara lembutnya saat memanggil, Mas…
Zaki tersenyum sendiri.
Rasa lelah yang menekan pundaknya mendadak terasa ringan. Ia membayangkan beberapa bulan lagi akan ada tangisan kecil di rumah kontrakan sederhana mereka. Ada kaki mungil yang berlari-lari. Ada suara memanggilnya, Papa…
“Mas harus kuat,” bisiknya pelan.
Tumpukan piring akhirnya mulai berkurang. Air yang tadinya berbusa pekat kini mengalir jernih. Zaki menata piring-piring bersih itu dengan rapi, lalu menarik napas panjang.
Punggungnya terasa pegal, telapak tangannya memerah, tapi hatinya penuh.
Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah. Ini adalah cara mencintai. Cara ia menjaga. Dan cara memastikan bahwa istri dan anaknya kelak tidak pernah merasa kekurangan.
Zaki menengadah sebentar.
“Terima kasih ya Allah… sudah titipkan mereka padaku.”
Lalu ia kembali tersenyum, siap melanjutkan hari, dengan harapan sederhana: bisa pulang nanti sore dan melihat Anisa menyambutnya di depan pintu, seperti biasa.
Bersambung