Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kembali ke gang sempit
Bagas akan melepaskan seluruh jabatan formalnya, kembali ke gang sempit, dan melihat bagaimana dunia berubah setelah "revolusi cahaya" yang ia mulai. Sebuah penutup yang akan menjawab semua arti dari kejujuran, ijazah SMK, dan kasih sayang orang tua.
Tiga bulan setelah peristiwa di Alpen, dunia benar-benar telah berubah. Tidak ada lagi krisis energi yang mencekik. Di desa-desa terpencil di Afrika hingga perkampungan nelayan di Maluku, cahaya lampu tak lagi menjadi kemewahan yang mahal. Perekonomian dunia mulai stabil dengan tatanan baru yang lebih adil. Nama Bagas Pratama diusulkan sebagai penerima Nobel Perdamaian, dan ribuan universitas ternama ingin memberinya gelar Doktor Kehormatan.
Namun, di sebuah pagi yang berkabut di Jakarta, seorang pria muda turun dari ojek pangkalan di depan sebuah gang sempit .
Ia mengenakan kemeja flanel sederhana dan memanggul tas ransel yang tampak berat. Tidak ada pengawalan ketat, tidak ada sorot kamera.
Bagas Pratama telah pulang.
Ia berjalan menyusuri gang yang dulu sering ia lalui dengan perasaan rendah diri karena hanya seorang lulusan SMK. Kini, setiap langkahnya disambut dengan senyum tulus dari para tetangga. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai "si kaya dari Dubai", tapi sebagai "Bagas anak Pak Suryo yang baik hati".
Sesampainya di depan rumahnya, ia melihat pagar rumah yang dulu berkarat kini sudah dicat rapi dengan warna hijau kesukaan Ibunya. Di teras, Bapak sedang asyik mengikir sesuatu di meja bengkelnya, sementara Ibu sedang menyiram tanaman cabai di pot-pot plastik bekas.
"Assalamualaikum," suara Bagas bergetar.
Ibu menoleh, menjatuhkan selang airnya, dan langsung berlari memeluk anak tunggalnya itu. "Gas... anakku. Kamu benar-benar pulang untuk tinggal?"
Bagas mencium tangan Ibunya lama. "Iya, Bu. Tugas Bagas di luar sudah selesai. Bagas kangen masakan Ibu."
Bapak berdiri, menyeka tangannya yang hitam terkena oli ke kain majun, lalu menepuk pundak Bagas dengan bangga. "Pekerjaanmu di luar sana hebat, Gas. Tapi lihat itu..." Bapak menunjuk ke arah lampu jalan di depan rumah mereka yang menyala terang menggunakan generator magnetik rakitan warga sendiri. "Itu lebih hebat dari semua medali yang mungkin mereka kasih buat kamu."
Sore harinya, Bagas mengumpulkan semua dokumen pentingnya sertifikat saham, surat penunjukan direktur, hingga kontrak-kontrak internasional. Di depan sebuah api kecil di halaman belakang, ia membakar semuanya satu per satu. Ia ingin membebaskan dirinya dari beban kekuasaan.
"Bagas, kamu tidak sayang sama semua itu?" tanya Tiara yang datang berkunjung bersama Pak Baron.
Bagas menatap api yang melahap kertas-kertas bernilai miliaran itu. "Tiara, aku sudah melihat puncak dunia, dan ternyata di sana sangat dingin. Kehangatan yang sebenarnya ada di sini, di saat kita tidak punya apa-apa tapi bisa memberi segalanya."
Pak Baron, yang kini sudah pensiun sepenuhnya dari dunia hitam logistik, tersenyum sambil menyerahkan sebuah kotak kecil. "Ini dari rekan-rekanmu di Dubai dan para alumni SMK-mu, Gas. Mereka tidak mau kamu benar-benar pengangguran."
Bagas membuka kotak itu. Isinya bukan uang, melainkan sebuah kunci bengkel baru yang dibangun tepat di samping rumahnya. Bengkel itu diberi nama "Akademi Pratama: Sekolah Mekanik Rakyat."
Bagas menyadari inilah warisan aslinya. Ia tidak ingin menjadi penguasa energi; ia ingin menjadi guru bagi ribuan anak SMK lainnya agar mereka memiliki martabat dan keahlian yang sama.
Beberapa tahun kemudian, Bagas menjalani hidupnya sebagai instruktur di bengkelnya. Ia sering terlihat mengajari anak-anak muda cara mengelas yang benar atau cara menghitung presisi magnetik 15 derajat. Sesekali, Mr. Khan datang dari Dubai hanya untuk sekadar minum kopi di teras rumah Bagas dan bernostalgia.
Pada suatu malam yang sunyi, Bagas duduk di amben bersama Bapak, menatap bintang-bintang.
"Pak," ujar Bagas. "Bapak dulu pernah menyesal tidak jadi insinyur besar di Perancis?"
Bapak menggeleng pelan, lalu menunjuk ke arah Bagas. "Insinyur besar bisa membangun gedung, Gas. Tapi seorang ayah yang jujur bisa membangun seorang manusia yang mampu menerangi dunia. Bapak tidak pernah menyesal, karena hasil riset terbaik Bapak adalah kamu."
Bagas tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Bapak. Ia teringat masa-masa sulit saat mereka harus makan nasi garam, saat dihina karena ijazah SMK, dan saat dikejar-kejar mafia global. Semua itu kini terasa seperti bumbu yang membuat hidupnya terasa sangat lezat.
Dunia mungkin akan selalu mengenang Bagas Pratama sebagai revolusioner energi. Namun bagi orang-orang di gang itu, dan bagi dirinya sendiri, Bagas hanyalah seorang mekanik yang tahu cara memperbaiki apa yang rusak baik itu mesin, sistem, maupun harapan manusia.
Cahaya lampu di gang itu terus bersinar terang, stabil, dan gratis. Sebuah bukti abadi bahwa kejujuran dan ilmu pengetahuan, jika digabungkan dengan kasih sayang, adalah energi yang tidak akan pernah habis.
Tamat....