NovelToon NovelToon
PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."

Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.

Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.

Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NADA YANG TAK PERNAH DITEMUKAN

Studio itu selalu menjadi titik paling sunyi bagi Ghava.

Bukan karena ketiadaan suara—justru sebaliknya. Di dalam ruang kedap berlapis peredam itu, setiap gesekan kain, tarikan napas, bahkan detak jarum jam terdengar layaknya dentuman. Namun bagi Ghava, kebisingan benda mati jauh lebih jujur daripada basa-basi manusia.

Headphone hitam melingkar di lehernya, kontras dengan kulitnya yang pucat. Di hadapannya, layar monitor menampilkan barisan track digital yang membeku. Tiga tahun terakhir, Ghava mahir menghidupkan karya orang lain, namun gagal menyembuhkan dirinya sendiri.

Ia hanya menyusun nada. Tanpa kata. Sebab baginya, lirik adalah pengkhianatan yang dibungkus rima.

Cklek.

Pintu studio terbuka tanpa permisi.

"Astaga, dinginnya kayak kulkas dua pintu!"

Sebuah suara melengking membelah hening. Ghava menoleh lambat, matanya sedingin suhu ruangan. Di ambang pintu, seorang gadis berdiri dengan rambut diikat asal-asalan. Seragam kantornya tampak sedikit kebesaran, dan ID card yang tergantung miring itu seolah menegaskan kekacauan pemiliknya. Wajahnya terlalu "hidup" untuk ruangan yang selama ini mati.

"Eh, Kak Ghava, ya? Aku Nadin Anara. Panggil aja Nana!"

Ia mengulurkan tangan dengan cengiran lebar, seolah mereka adalah kawan lama yang baru bertemu kembali. Ghava hanya menatap jemari itu sekilas, lalu mengangguk tipis. Sangat tipis.

"Ghava."

Singkat. Datar. Seperti nada tuts piano yang dipencet tanpa perasaan.

Namun, Nana tampaknya memiliki kekebalan terhadap sikap dingin. Ia melangkah masuk, memutari konsol mixer dengan mata berbinar seperti anak kecil di toko mainan. "Wah, ini tempat rekaman yang hits itu? Keren banget! Tinggal pencet-pencet ini, terus suara kita langsung jadi bagus kayak diva, ya?"

"Ini studio musik, bukan tempat sulap," gumam Ghava, kembali menghadap layar.

Nana terkikik, tak tersinggung sama sekali. "Yah, sayang banget. Berarti nggak bisa dong memperbaiki suara aku yang pas-pasan ini?"

Ghava tidak menyahut. Ia berharap kebisuan itu akan membuat Nana bosan dan segera pergi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Di belakangnya, sebuah senandung mulai terdengar.

"Akuuuu tahu kau sukaaa padakuuu—eh, nadanya lari ke mana sih? Ke pasar ya?"

Ghava memejamkan mata. Jemarinya yang sedang memegang mouse membeku. Itu bukan sekadar sumbang. Itu adalah bencana akustik.

Ia menoleh perlahan, mendapati Nana berdiri di dekat rak mikrofon, menyanyi dengan nada yang tidak pernah ditemukan dalam tangga nada mana pun. Liriknya? Lebih parah lagi.

"Cintaaa datang seperti... hmm... mi instan! Cepat saji, tapi nggak sehat di hati! Eh, ini lirik lagu siapa, ya? Kok aku ngasal banget?"

Gadis itu tertawa sendiri, menertawakan ketidakmampuannya dalam bermusik.

Untuk pertama kalinya dalam sekian lama, pertahanan Ghava retak. Sudut bibirnya terangkat—hanya satu milimeter, tapi itu nyata.

"Suara kamu... berantakan," ucap Ghava datar, meski matanya tak lagi setajam tadi.

Nana menoleh, matanya berbinar jenaka. "Tapi lucu, kan? Daripada sepi banget kayak di kuburan begini."

Ghava tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan punggung Nana yang akhirnya menghilang di balik pintu, masih bergumam tak jelas sambil memeluk tumpukan berkas.

Anehnya, saat pintu tertutup, studio itu tak lagi terasa sunyi yang menyesakkan. Justru terasa kosong.

Tanpa sadar, jemari Ghava menyentuh tuts piano elektrik di depannya. Sebuah nada sederhana tercipta. Ringan. Terang. Jenis nada yang selama ini ia benci karena terasa terlalu "bahagia".

Ia memasang headphone-nya kembali. Kali ini, ia tidak sedang ingin menghapus kebisingan. Ia justru sedang berusaha mengingat sisa-sisa melodi sumbang yang baru saja lewat.

Mungkin, gadis dengan suara terburuk itu adalah satu-satunya orang yang bisa memaksa Ghava menulis lirik lagi. Bukan tentang luka, tapi tentang mi instan dan tawa yang sumbang.

Ghava mencoba membangun kembali bentengnya yang sempat retak. Baginya, satu senyum tipis tadi adalah kesalahan. Ia tidak boleh membiarkan "kebisingan" masuk lebih jauh. Baginya, Nana hanyalah angin yang lewat di tengah badai masa lalunya—dingin, tidak terduga, dan seharusnya tidak menetap. Ghava kembali memasang wajah batu. Matanya terpaku pada layar monitor, berpura-pura sibuk mengatur equalizer yang sebenarnya sudah sempurna. Ia harus menekan kembali rasa penasaran yang sempat muncul. Hatinya masih beku, dan ia tidak punya niat untuk mencairkannya sekarang.

"Senengnya... alat-alatnya keren-keren banget!" Nana berbisik, tapi suaranya tetap terdengar antusias, seolah dia baru saja masuk ke istana kado. Ia menyentuh pinggiran meja mixer dengan ujung jari, matanya berbinar kagum.

Ghava menghela napas panjang, jarinya berhenti di atas fader. "Diem ya, Na. Aku nggak bisa kerja kalau berisik."

Suaranya rendah, tanpa intonasi, jenis suara yang biasanya membuat orang lain merasa terintimidasi dan segera keluar ruangan.

"Oh, oke! Siap, Bos!" jawab Nana cepat. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, lalu mengangguk mantap.

Satu menit berlalu. Sunyi kembali meraja. Ghava mulai bisa fokus.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan sebentar.

Sreeek... sreeek...

Bunyi gesekan roda kursi di atas lantai studio yang halus mulai terdengar. Ghava melirik dari sudut mata. Nana memang diam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tapi tubuhnya tidak bisa diam. Ia duduk di atas kursi putar cadangan di sudut ruangan, lalu mendorong kakinya ke tembok, membuat kursi itu meluncur dari ujung ke ujung ruangan.

Sreeek... Jedug!

Kursinya menabrak rak kabel. Nana meringis, memberi isyarat "maaf" dengan tangan terlipat, lalu mendorong kakinya lagi ke arah berlawanan.

Sreeek... Sreeek...

Ia meluncur bolak-balik seperti anak kecil yang sedang bermain kursi roda di taman bermain. Rambutnya yang diikat asal itu bergoyang-goyang setiap kali ia meluncur. Sesekali ia bergumam tanpa suara, bibirnya bergerak-gerak mengikuti lirik imajiner di kepalanya, sambil sesekali melirik Ghava dengan tatapan jenaka.

Ghava memijat pangkal hidungnya. Gadis ini tidak mengerti bahasa isyarat "pergi".

"Nadin," panggil Ghava, suaranya lebih tajam.

Nana mengerem kursinya dengan tumit, berhenti tepat di samping meja Ghava. "Iya, Kak? Aku nggak berisik, kan? Tadi kan Kak Ghava bilang jangan bicara, aku nggak bicara, lho!"

Ia mengerjipkan mata dengan polos. Logikanya benar-benar membuat kepala Ghava berdenyut.

"Kursi itu bukan mainan," ucap Ghava datar.

"Habisnya seru, kursinya empuk banget, kayak melayang!" Nana terkekeh, lalu tanpa rasa takut, ia menyandarkan dagunya di pinggir meja kerja Ghava. "Kak, serius amat sih? Musik itu kan harusnya bikin seneng, bukan bikin kerut kening makin dalem. Coba deh dengerin lirik ngasal aku tadi, pasti mood-nya naik."

Ghava menoleh, menatap mata Nana yang jernih. Untuk sesaat, ia melihat pantulan dirinya yang terlihat sangat kaku dan suram.

"Musik saya nggak butuh lirik ngasal," jawab Ghava dingin, meski kali ini ada sesuatu yang goyah dalam suaranya.

"Mungkin bukan musiknya yang butuh, tapi Kakaknya yang butuh," sahut Nana enteng, lalu ia kembali mendorong kursinya menjauh sambil mulai bersenandung lagi—kali ini lebih pelan, tapi tetap saja fals.

Ghava memutar kursinya sedikit, menunjuk tumpukan map biru di ujung meja dengan dagunya. "Mending kamu cek itu dokumen. Baca baik-baik rider-nya. Ada artis namanya Elvario, dia mau rekaman di sini minggu depan."

Mata Nana membulat sempurna. Ia mengerem kursi rodanya dengan mendadak sampai bunyi sreeek nyaring terdengar lagi.

"HAH?! Elvario? Kak, serius?!" Nana melompat dari kursi, menyambar dokumen itu seolah-olah itu adalah harta karun. "Wah, Elvario ganteng banget itu, Kak! Istrinya juga cantik banget, mereka kan couple goals se-Indonesia! Dia beneran mau ke sini? Berdua sama istrinya?"

Ghava menghela napas, menyesal telah memberi tahu Nana. "Dia ke sini buat kerja, Na. Bukan buat pamer kemesraan. Dan istrinya nggak ikut masuk ke ruang take, jadi jangan berharap bisa minta foto bareng di dalam."

Nana tidak mendengarkan peringatan itu. Ia sudah sibuk membolak-balik kertas, membaca daftar permintaan Elvario dengan mulut komat-kamit.

"Waduh, dia minta air mineral merek ini? Harus suhu ruangan? Terus buahnya harus dipotong dadu?" Nana geleng-geleng kepala. "Ribet ya jadi orang ganteng. Kalau aku mah, dikasih gorengan pinggir jalan juga suaranya langsung keluar... walau fals."

Ghava mendengus kecil. "Itu bedanya profesional sama amatir yang hobi nyanyi 'Pop-Ngawur'."

"Ih, Kak Ghava meremehkan!" Nana mengerucutkan bibirnya, lalu tiba-tiba ia berdiri tegak dan berdehem formal, mencoba meniru gaya asisten profesional. "Tenang aja, Kak. Aku bakal siapin semuanya. Studio ini bakal jadi tempat paling nyaman buat Kak Elvario. Nanti aku sambut pake lagu selamat datang karangan aku sendiri!"

"Jangan," potong Ghava cepat, matanya menatap Nana tajam. "Satu kali saja kamu nyanyi di depan dia, saya pastikan kontrak kamu selesai hari itu juga."

Nana tertawa renyah, sama sekali tidak takut dengan ancaman Ghava yang sedingin es. "Galak banget sih, Kak. Takut ya kalau suara aku ternyata lebih laku daripada lagu-lagu instrumen Kakak yang sedih-sedih itu?"

Ia kemudian kembali duduk di kursi rodanya, memutar-mutar dokumen Elvario sambil mulai bersenandung lagi—kali ini dengan lirik yang lebih absurd.

"Elvariooo datang membawa gitar... istrinya datang membawa... emm... martabak telooor! Nyam nyam nyam!"

Ghava memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Ia menatap layar komputernya, mencoba fokus pada frekuensi bass, tapi telinganya justru menangkap tawa kecil Nana yang menyelinap di antara lirik martabak itu.

Untuk pertama kalinya, Ghava merasa bahwa kedatangan Elvario—artis yang sangat ia benci karena tuntutannya yang rumit—tidak akan seburuk biasanya. Setidaknya, ada "gangguan" lain yang jauh lebih berisik untuk ia urusi.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
lnjut banyakk
Pa Muhsid
jangan jangan mantan nana nih kalo iya sikat ghav na jangan kasih kendor
falea sezi
di kubur gmn gav kenyataan lu dlu. pcrn ma. nadin sering tidur bareng kan hmmmmm km. itu g cocok buat Nadine pantes surya ngotot gk. kasih restu wong qm bukan cowok baik dih/Puke/
falea sezi
g rela deh klo dpet gava laki. bekas dih
falea sezi
berarti gava ma selya uda sering nganu dih g sepolos yg q bayangin
falea sezi
cwek ga tau malu si selya
falea sezi
baru nyimak
yoke oktaviansyah
💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!