Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama magang
Drap…
Drap….
Drap….
Telapak beralas heels itu secepat mungkin berlari memasuki gerbang perusahaan.
"Hah, hampir aja telat!" seru Ana berusaha mengatur nafas,
Melangkah masuk ke dalam perusahaan, memeluk erat map berisi beberapa dokumen yang telah disiapkan temannya.
"Terima kasih, Alfio..." gumam Ana terharu,
Tersenyum riang atas anugerah yang tuhan berikan padanya. Di kehidupan ini, meski dilanda kemiskinan, setidaknya Ana memiliki keluarga harmonis dan teman baik.
"Wah..."
Ana menganga takjub, menatap langit gedung yang begitu jauh dari jangkauan mata.
"Yakin ini perusahaan baru? Ini bahkan lebih mewah dari perusahaan keluarga Sidney."
Perlahan menoleh demi melihat ke sekeliling ruangan, tengah sibuk mencari tempat yang harus ia datangi. Hingga terhenti pada meja resepsionis, mendapati karyawan wanita yang tak lelah menerbitkan senyum.
Segera melangkah semakin mendekat, "Mm---selamat pagi," sapa Ana merendahkan suara
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau menyerahkan formulir magang." ucap Ana dengan nada ramah,
Menyodorkan map di tangannya. Dengan khidmat menunggu, memandangi karyawan yang mulai membolak balikkan lembar, sekilas melihat informasi tentangnya.
"Mahasiswi semester 6 ya?"
"Iya…" sahut Ana mengangguk pelan,
"Silahkan masuk ke dalam lift karyawan, ada di sebelah sana. Naik lantai 40 ke ruangan direktur,"
"Direktur?" Ana tercengang,
"Iya, hari ini kamu jadi asisten magang Pak direktur."
Kalimat itu seketika membuatnya gugup sebab langsung berhadapan dengan bos tertinggi.
Ana takut, karena posisi itu hanyalah pemberian orang lain, apakah dia pantas?
"Oh, baik. Terima kasih..."
Ana mengangguk singkat, tak lupa menyematkan senyum ramah sembari melangkah pergi sesuai arahan.
"Sebenarnya apa saja yang Alfio masukkan ke dalam map tadi? Jangan bilang dia memalsukan nilaiku?!"
Kakinya berbalik menuju lift, ragu untuk berjalan masuk.
"GLEK..." Ana terdiam menelan saliva,
Menekan salah satu tombol angka yang akan membawanya ke lantai lain.
TRING...
Pintu terbuka, menghadirkan para karyawan yang tengah berlalu lalang di sana, bergantian masuk ke dalam lift.
Gadis itu mempertahankan senyumnya, berusaha bersikap ramah meski tak ada satu pun yang menghiraukan,
Seluruh karyawan acuh tak acuh, sibuk dengan urusan masing-masing.
Wajah datar mereka membuat Ana tertekan. "Seberat itu kah beban kerja perusahaan ini?"
Setelah beberapa saat Ana sampai ke lantai teratas. Pemandangan disana lebih tenang dan cukup sepi,
"Dimana ruangannya?" batin Ana sibuk mencari,
Langkah demi langkah menoleh dan membaca setiap papan yang tergantung di atas ruangan.
"Nah, itu dia!"
Ana mempercepat jalannya, menggenggam handle pintu hendak mendorong masuk. "Sepertinya ada orang..."
Selang beberapa detik, Ana masih berdiam mengatur nafas serta jantungnya yang berdegup kencang.
Di kehidupan dulu dia tidak pernah bekerja, yang dilakukan hanya menikmati warisan dan membiarkan orang lain mengurus perusahaan keluarganya.
"Selamat siang---"
"Hh?!" terbelalak,
Tubuhnya membeku mendapati pria berkacamata yang tengah duduk.
Wajah garang, alis tebal, dan hidung mancung. Tak salah lagi, direktur perusahaan ini adalah Neil Maxime.
Dia tampak sibuk membolak balikan lembar dokumen di atas meja.
"Mampus! Kenapa dia ada di sini?"
"...?" Sorot mata itu melirik singkat ke arah Ana,
"Siapa yang menyuruhmu masuk?" bernada datar,
Bertanya sambil terus melanjutkan kerja.
"Mm...s-saya asisten magang." Ana menjawab kikuk,
Tak tahu kesialan apa yang terus menimpa, kenapa dia selalu saja terlibat dengan pria itu. "Sejak kapan, Om Niel punya perusahaan di sini?"
Tubuhnya masih mematung, beberapa ingatan membuatnya takut.
Ana menggigit bibir bawah, ketiaknya dibanjiri keringat karena panik.
"Ya sudah, apa lagi yang kamu tunggu? Cepat bereskan ruangan ini." tegas Max dengan ketus,
"Eh? Apa dia tidak mengenaliku..."
Ana baru sadar jika wajahnya tak dibaluri riasan tebal, dan penampilannya cukup polos. Tapi bukankah mereka pernah berkenalan di toko es krim?
Tak mau berpikir keras, Ana langsung menjalankan perintah.
Pertama meletakkan tas tentengnya ke atas sofa, lalu merapikan buku-buku di rak juga kertas yang jatuh berserakan di beberapa tempat.
Ana juga mendekat merapikan meja kerja milik Max, yang dipenuhi butiran klip, pulpen, juga perintilan lain.
"Jangan lemot. Masih banyak tugas yang harus dikerjakan,"
"B-baik, Pak." Ana menggangguk,
Mempercepat gerakan, sepertinya pria itu benar-benar tidak mengenali.
"Syukurlah...aku bisa magang dengan tenang," batin Ana tersenyum lega.
"Kalau sudah selesai, langsung buatkan kopi."
"Ng, a-anu..." Ana menoleh tampak ragu bertanya,
"Kalau mau bikin kopi, harus kemana ya?" menyengir,
"...!" Max terdiam, memberikan tatapan sinis.
"B-biar saya cari sendiri." pamit Ana langsung berlari keluar,
Tubuhnya seakan berhenti menafas, nyaris terkena serangan jantung. "Menakutkan..."
Bersandar pada pintu kaca sebelum berdiri tegak, mengatur kakinya yang sempat gemetaran.
Ana menoleh ke sisi lain, mencari di lantai yang sama. "Seharusnya pantry ada di sebelah sini, kan?"
Mendapati ruang tertutup yang berisi alat-alat elektronik, serta rak berisi stok minuman seduh, mesin kopi, microwave dan kulkas.
Di sana tampak pria berjas hitam yang telah selesai menyeduh secangkir kopi. Pria itu berbalik, terkejut dengan kehadiran Ana.
"Salam kenal, saya Ana. Asisten magang Pak Direktur..." sapa Ana menunduk singkat,
Menyadari raut penuh tanda tanya di wajah pria tadi.
"Salam kenal," Fero tersenyum ramah.
"Kamu mau bikin kopi, buat Pak Direktur?"
Pertanyaan itu mendapat anggukan. Membuatnya tak ragu menyodorkan secangkir kopi hitam yang telah dibuat,
"Kebetulan, sudah aku buatkan. Tolong antarkan ya..."
"Eh?" Ana terpaksa menerima, meski masih diam tak bergerak.
Dari penampilannya, sudah pasti dia karyawan penting terlebih lagi takkan ada sembarang orang yang boleh bekeliaran di lantai teratas.
"Tunggu apa lagi? Ayo, antarkan. Pak Direktur tidak suka menunggu...kamu bisa kena marah kalau kelamaan di sini," imbuh Fero merendahkan suara.
"Aaa, baik. Terima kasih,"
Ana menurut begitu saja, berbalik pergi membawa kopi buatan orang lain.
Dari jauh Fero diam sambil berpangku tangan, menyeringai menatap punggung yang baru saja masuk ke dalam ruang.
"Akhirnya kesempatan ini datang juga,"
Tanpa tahu rencana licik yang mengintai, Ana datang menyajikan pada Max.
Tak sengaja dia melihat salah satu berkas milik Perusahaan Sidney dengan nama direkturnya.
"Ryan Bimantara! Bagaimana bisa? aku belum menandatangani surat alih kuasa, tapi kenapa dia bisa---seharusnya, Om Neil yang mengambil alih perusahaanku." Ana sibuk menggerutu dalam hati,
Termenung, pikirannya kacau mendapati keberhasilan pria yang berhasil merampas hidupnya.
"BURR!!" Max mengernyit, menyemburkan sisa kopi.
Cipratan itu menodai jas putihnya, bahkan membasahi kemeja Ana.
Ana terjingkat bagun dari lamunan,
"Ini kopi apa air gula?! Manis banget!"
"Ha...ng?" Ana tersentak langsung menyesap seteguk dari gelas yang sama.
"Wlek..." reflek melepehnya,
Manis dan terasa dingin, seakan sengaja menabur seember gula dalam sejumput kopi yang tak dilarutkan dengan air panas.
"Ma-maaf, Pak. Tadi, ini saya--"
"Cukup." sontak Max menyela pembelaan,
"Sekarang ambilkan baju ganti, terus bereskan semua ini."
"Siap, Pak!" Ana mengangguk patuh,
Hendak berbalik namun terhenti. "Anu...baju gantinya ada dimana ya?"
"His...ada di rest room." jawab Max, geram.
"Rest room. Ruang istirahat pribadi, berarti ruangannya ada di---" Ana menganga, maksud hati ingin mengajukan pertanyaan lain.
Sedangkan Max sudah memasang tatapan tajam, wajahnya tampak muak.
"Hehe...biar saya cari sendiri," imbuh Ana menyengir.
Melangkah cepat mengambil pakaian lain yang tersimpan rapi di samping ruang direktur.
"Ini, Pak bajunya. Saya juga minta maaf soal kopinya..." seru Ana menunjukkan penyesalan,
"Tadi ada pria pakai jas hitam yang nyuruh saya, nganterin kopi itu buat Bapak."
"Hng? Fero sialan." batin Max menghela nafas,
"HAHAHAHA...!!" Fero tertawa girang,
Dibuat puas oleh rencana yang tak sengaja berjalan lancar.
Sebenarnya Fero tak sengaja memasukkan terlalu bayak gula pada kopi instannya, lalu lupa menghidupkan pemanas air.
Alhasil dia pun terpikirkan ide liar saat melihat karyawan magang yang berdiri di sana.
"Sudah lama aku mengharapkan ini. HAHAHA!!"
"Akhirnya, kesampaian juga. HAHAHA!!"