"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Alana Bangkit Lagi
Puisi untuk Malam Sebelum Fajar
Ada saatnya diam adalah emas
Ada waktunya suara adalah pedang
Kudiam selama tiga tahun
Menyulam luka menjadi mahkota
Menyimpan duri di balik senyum
Kini tiba masaku
Bukan untuk meminta maaf
Tapi untuk menyatakan
Bahwa mawar yang kau anggap layu
Hanya sedang menunggu waktu
Untuk mekar dan menusuk
Dengan keindahan yang membunuh
---
Studio RCTI malam itu berbeda.
Biasanya, program Prime Talk dipenuhi gelak tawa dan gosip selebritas. Tapi malam ini, kursi penonton kosong. Hanya ada dua kursi hitam berhadapan, lampu sorot yang jatuh tepat di tengah, dan layar lebar di belakang yang menampilkan logo program.
Dan satu wanita.
Alana Wijaya duduk dengan gaun merah marun yang membalut tubuhnya sempurna. Bukan merah mencolok—tapi merah seperti darah kering, seperti mawar tua yang sudah melewati badai. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang tenang. Lipstik merah membentuk senyum tipis yang tidak benar-benar sampai ke mata.
Mata itu.
Mata Alana malam itu berbeda. Tidak ada air mata. Tidak ada getir. Yang ada adalah keyakinan dingin yang membuat siapapun yang menatapnya—bahkan melalui layar kaca—merasa kecil.
Gina Paramitha, pembawa acara legendaris yang dikenal tajam dan tanpa ampun, duduk berhadapan dengannya. Biasanya Gina yang membuat narasumber gelisah. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam kariernya, Gina merasa dialah yang di-interogasi.
"Ibu Alana," Gina membuka dengan suara berat, "tiga hari yang lalu, media sosial dihebohkan dengan rekaman yang memperlihatkan Ibu... dalam kondisi tidak baik. Rekaman itu disebarkan oleh Viola Santoso, yang mengaku sebagai sahabat Ibu. Publik bertanya-tanya: benarkah Ibu pernah mengalami gangguan mental? Dan benarkah Ibu tidak layak memimpin perusahaan sebesar Wijaya Group?"
Kamera zoom perlahan ke wajah Alana.
Di rumah kontrakan sempit di pinggiran Jakarta, Viola menempelkan wajahnya ke layar televisi 24 inci yang berdebu. Botol bir setengah kosong di tangannya. Senyum puas mengembang.
"Hayu, loe, Alana. Nangis. Ngaku. Hancurin diri loe sendiri," desisnya.
Di ruang tamu mewah Nathan Pramana, pria itu duduk dengan dagu bertumpu pada tangan. Lucas ada di sampingnya, jari-jari menari di atas laptop, memonitor pergerakan media sosial.
"Kita bisa intervensi," kata Lucas cepat. "Tinggal telpon satu orang di ruang kontrol, mereka bisa ubah angle kamera, potong bagian-bagian—"
"Tidak."
Lucas menoleh. "Nathan?"
Nathan tidak mengalihkan pandangan dari layar. "Dia tidak mau diselamatkan. Dia mau didengar. Biar dia bicara."
Di layar, Alana menarik napas panjang. Bukan napas gugup. Tapi napas seperti seorang pendekar yang akan memulai pertarungan terakhir.
"Gina," suara Alana keluar, rendah dan dalam. "Boleh aku cerita? Bukan sebagai direktur utama, bukan sebagai pewaris Wijaya Group. Tapi sebagai perempuan yang sudah tiga tahun hidup dalam neraka, dan diam-diam menyusun surga untuk dirinya sendiri."
Gina terpaku. Ini bukan kalimat yang biasa ia dengar dari narasumber yang ketakutan. "Silakan, Ibu Alana."
Alana menatap lurus ke kamera. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia membuka mulut tanpa topeng.
---
"Aku menikahi Richard Hartanto karena ayahku menyuruhku. Bukan karena cinta. Tapi aku belajar mencintainya. Aku korbankan mimpiku, pendidikanku, hidupku, untuk mendampinginya. Saat ayahku meninggal, Richard bilang akan menjagaku. Tiga bulan kemudian, sahabatku pindah ke rumahku. Katanya, 'Biar aku temani kamu, Al, kamu kan sering sendirian.'"
Alana tersenyum getir.
"Dan benar. Aku sering sendirian. Karena mereka selalu bersama. Di kamarku. Di ranjang pernikahanku. Dengan seprai yang aku pilih sendiri untuk bulan madu yang tidak pernah terjadi."
Gina membuka mulut, tapi Alana belum selesai.
"Tiga tahun. Seribu lebih malam. Aku dengar tawa mereka dari kamar sebelah. Aku dengar bisikan Viola, 'Kapan kita bebas dari perempuan bodoh itu?' Dan aku dengar jawaban Richard, 'Sabar, sayang. Begitu semua aset pindah nama, kita singkirkan dia.'"
Di layar, mata Alana mulai basah. Tapi ia tidak menangis. Air mata itu menggenang, tapi tidak jatuh. Seperti lautan yang menahan ombaknya sendiri.
"Dan mereka pikir aku tidak tahu. Mereka pikir aku buta. Mereka pikir aku bertahan karena aku tidak punya pilihan."
Sekarang Alana tersenyum. Dan senyum itu—Tuhan, senyum itu membuat Gina merinding.
"Mereka salah."
---
Di kamar kontrakannya, botol bir Viola jatuh. Isinya tumpah membasahi lantai semen, tapi ia tidak peduli. Wajahnya pucat. Jari-jarinya gemetar.
"Tidak... tidak, jangan... diam, dasar jalang, diam!"
Tapi Alana tidak diam.
"Aku punya pilihan. Setiap hari aku punya pilihan. Aku bisa lapor polisi, aku bisa minta cerai, aku bisa kabur ke luar negeri. Tapi aku pilih diam. Bukan karena takut. Tapi karena aku sedang membangun kerajaanku sendiri."
Gina menyela, "Maksud Ibu?"
Alana menatap Gina, lalu kembali ke kamera.
"Setiap malam, saat mereka tidur puas setelah bercinta, aku bekerja. Aku hubungi investor lama ayahku. Aku bangun relasi dengan mitra asing. Aku pelajari setiap celah hukum, setiap dokumen perusahaan, setiap transaksi gelap Richard. Dan diam-diam, aku beli saham perusahaan sendiri—lewat nama-nama palsu, lewat perusahaan boneka, lewat orang-orang yang kupercaya."
Ia berhenti. Tersenyum. Lalu berkata pelan:
"Tiga tahun aku menjadi bodoh di depan mereka. Tiga tahun aku menjadi jenius di belakang layar. Dan sekarang? Seluruh perusahaan yang mereka kira sudah mereka kuasai... sebenarnya sudah ada di genggamanku sejak satu tahun lalu."
Gina nyaris jatuh dari kursinya.
---
Di seluruh Indonesia, media sosial meledak.
#AlanaBangkit menjadi trending nomor satu hanya dalam lima menit. Tweet, status, komentar, mengalir deras.
"GILA! Ini plot twist level dewa!"
"Aku nangis, sumpah. Perempuan ini kuat banget."
"Viola dan Richard harus masuk penjara seumur hidup!"
"Alana Wijaya, ratu sejati."
Di kantor pusat Wijaya Group, para karyawan yang lembur berkerumun di depan layar besar. Beberapa menangis. Beberapa bertepuk tangan. Yang lain hanya terpaku dengan mulut terbuka.
Di rumah sakit, seorang ibu yang anaknya dirawat karena depresi menulis di ponselnya: "Kamu lihat, Nak? Perempuan itu juga jatuh. Tapi dia bangkit. Kamu juga bisa."
Di sebuah kontrakan sempit, seorang perempuan korban KDRT menggenggam erat ponselnya. Air mata jatuh membasahi layar. Ia berbisik, "Kalau dia bisa... aku juga harus bisa."
---
Di layar, Gina akhirnya menemukan suaranya.
"Tapi Ibu Alana... rekaman itu... di mana Ibu tampak... maaf, hampir bunuh diri. Itu nyata?"
Untuk pertama kalinya, mata Alana benar-benar berkaca-kaca. Tapi tetap, air mata itu tidak jatuh.
"Nyata. Itu dua tahun lalu. Malam di mana Viola sengaja meninggalkan pintu kamar mereka terbuka. Aku lewat. Aku lihat mereka. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar mati. Bukan marah. Bukan cemburu. Tapi mati. Seperti jiwaku meninggalkan tubuh."
Suaranya bergetar, tapi tetap tegas.
"Aku pulang ke kamarku. Aku ambil pisau dari dapur. Aku duduk di lantai kamar mandi. Dan aku... aku hampir..."
Ia berhenti. Menarik napas. Dan untuk pertama kalinya dalam wawancara itu, ia menunduk.
Satu menit keheningan.
Gina tidak berani bicara. Seluruh Indonesia tidak berani bicara.
Lalu Alana mengangkat wajahnya. Dan air mata itu akhirnya jatuh. Satu. Dua. Tiga.
Tapi ia tersenyum.
"Tapi aku ingat kata ayahku. 'Nak, mawar yang paling indah adalah yang tumbuh di tanah terkutuk, karena dia belajar bertahan dari segala hal yang mencoba membunuhnya.'"
Ia menyeka air mata dengan punggung tangannya—gerakan sederhana yang membuat jutaan perempuan di negeri ini merasa terwakili.
"Jadi aku tidak mati malam itu. Aku memilih hidup. Bukan untuk mereka. Tapi untuk diriku sendiri. Dan untuk semua perempuan yang pernah merasa sendirian di saat tergelap mereka."
---
Di ruang tamu Nathan, Lucas sudah lama berhenti mengetik. Tangannya terkulai. Matanya basah.
Nathan diam. Tapi rahangnya mengeras. Bukan marah. Tapi kagum. Dan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang selama ini ia coba sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
"Lucas," suaranya serak. "Matikan semua monitoring. Jangan ada yang intervensi. Biar dunia lihat apa itu ratu sejati."
---
Gina mencondongkan badan. "Satu hal yang masih mengganggu publik, Ibu Alana. Rekaman itu disebar Viola. Apa yang akan Ibu lakukan? Tuntut dia?"
Alana tertawa. Tawa kecil yang dingin.
"Tuntut? Oh, tidak. Viola adalah orang yang paling pantas dikasihani. Dia pikir dengan menyebar lukaku, dia akan menghancurkanku. Dia tidak sadar, yang dia sebarkan sebenarnya adalah bukti kekuatanku."
"Lihat. Aku masih di sini. Aku masih bicara. Aku masih bernapas. Lukaku tidak memalukan. Lukaku adalah mahkotaku. Dan kalau dia pikir rekaman itu akan membuatku jatuh..."
Alana menatap kamera. Lurus. Dalam. Dan senyumnya berubah—dari hangat menjadi tajam.
"Katakan padanya, tolong sampaikan, Viola sayang... Terima kasih sudah membuatkan iklan gratis untuk kebangkitanku."
---
Sembilan menit kemudian, wawancara usai.
Gina berdiri, menjabat tangan Alana dengan kedua tangannya. Matanya merah. "Ibu Alana... saya... saya tidak tahu harus berkata apa. Ini wawancara paling luar biasa dalam karier saya."
Alana tersenyum hangat. "Terima kasih sudah mendengar, Gina. Bukan mewawancarai. Tapi mendengar."
Saat Alana melangkah keluar studio, ponselnya bergetar. Ratusan pesan. Tapi satu nama membuatnya berhenti.
Nathan: "Kamu luar biasa. Aku tahu dari awal. Tapi malam ini, kamu membuatku jatuh cinta untuk kedua kalinya. Dan kali ini lebih dalam."
Alana membaca pesan itu tiga kali. Lalu menyimpan ponsel. Belum saatnya.
---
Dua jam kemudian, Alana tiba di rumah.
Rumah besar yang dulu penuh luka. Tapi malam ini, lampu-lampu menyala. Para asisten rumah tangga—yang selama ini diam-diam membantunya—berdiri berjajar dengan mata merah.
"Ibu..." Mbok Darmi, pengasuh yang sudah 20 tahun mengabdi, memeluknya. "Akhirnya Ibu bicara. Akhirnya dunia tahu."
Alana memeluk balik. "Maaf, Mbok, harus menunggu lama."
"Tidak apa-apa, Bu. Mawar yang baik memang mekar lambat."
Alana tersenyum. Lalu melangkah masuk.
Di ruang tamu, Lucas sudah menunggu dengan laptop terbuka. Begitu melihat Alana, ia berdiri dan memberi hormat—setengah bercanda, setengah serius.
"Yang Mulia. Dunia sudah tahu siapa ratu mereka. Media sosial kita kuasai. Saham naik 20 persen dalam dua jam. Dan Viola?"
Ia menyodorkan laptop. Di layar, Viola terlihat di kamar kontrakannya—kamera pengintai yang dipasang Lucas. Wanita itu duduk di lantai, memeluk lutut, bergoyang-goyang. Botol-botol bir berserakan.
"Katanya, dia mulai menerima ancaman pembunuhan dari warganet. Teman-temannya kabar. Keluarganya malu. Bosnya—mantan bosnya—memecatnya. Dan tadi dia telepon Richard."
Alana mengangkat alis. "Richard?"
"Richard bilim, jangan hubungi aku lagi. Dan menutup telepon." Lucas tersenyum puas. "Manis, bukan?"
Alana menatap layar. Viola. Sahabat yang menjadi ular. Wanita yang tidur di ranjangnya, memakai bajunya, dan menusuknya dari belakang selama tiga tahun.
Sekarang? Hanya perempuan hancur di lantai kotor.
"Viola..." bisik Alana.
Dan untuk sesaat, ada rasa iba. Sesaat saja.
Tapi rasa itu hilang saat ponsel Alana berdering. Nomor tidak dikenal. Ia mengangkat.
"Halo?"
Suara di seberang berat, serak, dan penuh dendam.
"Kamu pikir menang, Alana? Kamu pikir ini selesai?"
Richard.
Alana diam. Mendengar napas berat mantan suaminya.
"Aku kehilangan segalanya. Perusahaan. Reputasi. Masa depanku. Tapi aku masih punya satu hal. Aku masih punya—"
"Richard," potong Alana, suaranya dingin. "Aku sedang tidak berminat main tebak-tebakan. Apa yang masih kau punya?"
Keheningan.
Lalu suara Richard berubah. Bukan marah lagi. Tapi... aneh. Seperti tertawa dan menangis bersamaan.
"Kita punya anak, Alana."
Tangan Alana mengeras. Ponsel hampir jatuh.
"Apa?"
"Viola hamil. Anakku. Dan kalau aku jatuh, anak itu akan jatuh bersamaku. Tapi sebelum itu... aku pastikan dulu kamu tahu: darah anak ini, setengahnya dari kamu. Karena Viola pakai sel telurmu."
Dunia Alana berhenti berputar.
"Sel telur yang kamu simpan di bank sel telur, ingat? Sebelum ayahmu meninggal. Untuk jaga-jaga kalau nanti kamu susah punya anak. Viola ambil tiga tahun lalu. Aku yang bayar dokter untuk menanamkannya ke dia. Anak yang dikandung Viola... secara genetis, adalah anakmu."
Lucas melihat perubahan wajah Alana. Ia segera berdiri, menghampiri.
"Ala? Ala, ada apa?"
Tapi Alana tidak bisa menjawab.
Suara Richard di telepon terdengar seperti iblis yang berbisik:
"Jadi, Alana sayang... Mau perang habis-habisan? Atau mau dengar tawaran damai dariku? Aku tunggu jawabanmu."
Klik.
Telepon mati.
Alana terdiam. Tangannya gemetar. Ponsel jatuh ke karpet.
Di layar laptop, Viola masih duduk di lantai, memegang perutnya. Gerakannya lembut. Seperti sedang membelai sesuatu.
Sesuatu yang—menurut Richard—adalah anak Alana.
---
Bersambung...(*❛‿❛)→
Apakah Alana akan percaya? Apakah ini jebakan Richard? Benarkah Viola mengandung anak dengan sel telur Alana? Dan apa yang akan dilakukan Alana—menghancurkan mereka berdua, atau justru menyelamatkan anak yang tidak pernah ia rencanakan?