"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Richard Minta Maaf?
🌹Puisi untuk Malam di Musim Gugur
Ada jenis luka yang tak butuh obat
Karena ia sendiri yang menjadi obat
Ada jenis air mata yang tak perlu dihapus
Karena ia menuliskan namamu di batu
Malam ini, di antara kilau lampu kota
Seorang pria berlutut pada masa lalunya
Dan seorang wanita berdiri tegak
Menyaksikan runtuhnya kerajaan yang pernah ia cinta
Karena mawar tak pernah memaafkan duri
Ia hanya tumbuh lebih tinggi
Dan saat pemetiknya terjatuh
Ia tak menoleh—ia hanya terus berbunga di atas sunyi
---
Hujan mengguyur Jakarta tanpa ampun malam itu. Alana baru saja menyelesaikan rapat maraton selama lima jam ketika asistennya, Maya, mengetuk pintu kaca ruang kerjanya dengan ragu.
"Ibu Alana, ada tamu. Dia... sudah menunggu sejak jam tujuh."
Alana melirik jam di dinding. Pukul 22.47. "Siapa?"
Maya menggigit bibir bawahnya. "Pak Richard."
Jemari Alana berhenti di atas keyboard. Satu detik. Dua detik. Lalu ia melanjutkan mengetik tanpa mengubah ekspresi.
"Bilang saya sibuk."
"Dia bilang akan terus menunggu sampai ibu mau menemuinya. Security sudah dua kali mengingatkan, tapi dia... duduk di lobby sambil memegang bunga."
Alana akhirnya mengangkat wajah. Sorot matanya dingin seperti es di kutub. "Bunga apa?"
"Mawar merah, Bu."
Hening. Lalu Alana tersenyum—senyum yang tidak pernah Maya lihat sebelumnya. Bukan senyum bahagia. Bukan senyum sinis. Ini senyum yang membuat bulu kuduk Maya meremang.
"Suruh dia naik."
---
Richard Hartanto, pria yang tiga tahun lalu mengucapkan sumpah di depannya dengan mata berbinar, kini duduk di sofa tamu seperti gelandangan yang tersesat di istana. Jasnya kusut, kemejanya lembab karena hujan, dan dasinya terpasang asal-asalan. Di tangannya, setangkai mawar merah mulai layu, kelopaknya menggantung lelah.
Tapi yang paling mencolok adalah matanya. Mata yang dulu penuh ambisi dan kesombongan, kini kosong seperti rumah yang ditinggalkan pemiliknya.
Alana masuk tanpa mengetuk. Ia duduk di kursi direkturnya yang empuk, menyilangkan kaki, dan menatap Richard dari balik meja lebar yang memisahkan mereka.
"Jam sebelas malam, hujan badai, bekas suami datang bawa bunga. Ini sinetron atau memang hidupmu sudah sekacau itu?"
Richard menegakkan punggung. Ia mencoba tersenyum, tapi hasilnya lebih mirip seringai kejang. "Alana... kamu cantik sekali malam ini."
Alana menunduk, melihat blazer navy dan blus sutra yang ia kenakan. Lalu kembali menatap Richard. "Aku cantik setiap malam. Kau baru sadar sekarang setelah dompetmu kosong?"
Richard menelan ludah. Ia bangkit, lalu perlahan—sangat perlahan—berlutut di lantai marmer dingin. Ia meletakkan mawar itu di lantai di depannya, seperti persembahan.
"Aku tahu aku sudah menghancurkan segalanya. Aku tahu aku brengsek, aku tahu aku... memanfaatkanmu, mengkhianatimu, menyakiti hatimu setiap hari selama tiga tahun dengan wanita itu di rumah yang sama..."
"Viola," potong Alana datar. "Namanya Viola. Atau kau sudah lupa? Aku bisa ingatkan detailnya—bau parfumnya, warna pakaian dalam yang sering kau belikan, suara tawanya di kamar kita. Mau aku ulang?"
Richard memucat. Ia menunduk dalam-dalam. "Aku minta maaf, Lan. Aku minta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku salah. Aku buta. Aku... aku masih mencintaimu."
Sunyi.
Lalu Alana tertawa.
Bukan tawa sinis pendek, tapi tawa panjang yang menggema di ruangan luas itu. Tawa yang membuat Richard mengangkat wajah dengan harapan—apakah ini pertanda baik?
Tawa itu berhenti tiba-tiba.
Alana mencondongkan tubuh ke depan, siku di atas meja, dagu bertumpu pada punggung tangan. Cahaya lampu meja menyoroti wajahnya dari samping, membuatnya terlihat seperti lukisan klasik—anggun, abadi, dan dingin.
"Cintamu?" ulangnya pelan. "Kau bilang kau mencintaiku?"
"Iya, Lan. Aku sadar sekarang. Viola hanya—"
Alana mengangkat satu jari. Richard membungkam.
"Cintamu," Alana mulai lagi, suaranya halus seperti beludru tapi tajam seperti silet, "adalah cinta yang sama yang kau bawa ke ranjangku sementara Viola mengunci pintu kamar tamu dari dalam. Cintamu adalah cinta yang kau ucapkan sambil menandatangani pengalihan aset perusahaan ayahku. Cintamu adalah cinta yang membuatku menangis di kamar mandi setiap malam selama tiga tahun, sementara kau tertawa menonton TV dengan selingkuhanmu di ruang tengah."
Richard membuka mulut, tapi Alana melanjutkan.
"Cintamu adalah ketika ayahku terbaring di ICU dan kau bilang kau sibuk rapat—padahal kau sedang berbulan madu diam-diam ke Singapura dengan sahabatku. Cintamu adalah ketika aku keguguran anak pertama kita dan kau bilang 'sudah jalannya, kita coba lagi'—padahal malam itu juga kau memeluk Viola di halaman belakang."
Air mata mulai mengalir di pipi Richard. Tapi Alana tak peduli.
"Jadi, Richard... tolong jelaskan padaku. Cinta macam apa yang kau maksud? Karena kalau itu cinta, aku lebih baik dipeluk ular kobra. Setidaknya ular jujur dengan bisanya."
Richard gemetar. Ia merangkak maju satu langkah, tangannya hampir menyentuh ujung sepatu hak Alana. "Aku akan berubah. Aku akan melakukan apa saja. Aku... aku bisa buktikan padamu. Beri aku satu kesempatan—"
"Satu kesempatan?"
Alana berdiri. Ia berjalan mengelilingi meja, langkahnya mantap di atas marmer. Rok pensil navy-nya membatasi gerak, tapi itu tak mengurangi keanggunannya. Ia berhenti tepat di depan Richard yang masih berlutut.
Dari atas, ia menatap pria itu.
"Kau tahu apa yang kau lakukan padaku selama tiga tahun, Richard? Kau mengubahku dari seorang wanita yang percaya pada cinta, menjadi wanita yang percaya hanya pada bukti transfer dan laporan audit."
Ia menunduk, mengambil mawar yang tergeletak di lantai. Memutarnya pelan di antara jari.
"Mawar ini cantik. Tapi lihat—" ia memegang durinya, "—ini yang selalu kau lupakan. Mawar selalu punya duri. Dan kau begitu sibuk memetik kelopaknya, kau lupa duri itu bisa menusuk balik."
Ia melemparkan mawar itu ke pangkuan Richard.
"Simpan mawarmu. Simpan cintamu. Simpan air matamu. Dan simpan maafmu untuk seseorang yang masih peduli."
Alana berbalik, berjalan kembali ke kursinya. Ia duduk, merapikan rok, lalu menatap layar komputer seolah Richard sudah tidak ada.
"Satpam akan mengantarmu keluar. Oh, dan satu lagi—"
Ia menekan interkom. "Maya, tolong kirimkan dokumen gugatan cerai yang sudah ditandatangani hakim ke pengacara Pak Richard besok pagi. Jangan lupa lampirkan bukti perselingkuhan, bukti penggelapan, dan rekaman CCTV tiga tahun terakhir."
Richard tersentak. "Kau merekam kita?"
"Aku merekam rumahku sendiri," balas Alana tanpa menoleh. "Kau pikir aku buta? Kau pikir aku tuli? Kau pikir aku diam karena aku tak tahu? Aku diam karena aku sedang mengumpulkan duri-durimu satu per satu."
Ia akhirnya menoleh, tersenyum manis. "Sekarang, permainan sudah selesai. Kembalikan semua milikku—perusahaan, rumah, tanah, dan sisa harga dirimu kalau masih ada—beserta bunganya."
Richard terduduk lemas di lantai. Satpam masuk, membantunya berdiri. Saat ia digiring keluar, ia masih sempat menoleh.
"Alana... apa kau pernah benar-benar mencintaiku?"
Alana mengetik tanpa menatapnya.
"Pertanyaan yang lebih tepat: apa kau pernah benar-benar layak dicintai?"
---
Pintu tertutup.
Keheningan kembali menguasai ruangan. Alana berhenti mengetik. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan.
Di luar, hujan masih deras. Gemuruh guntur terdengar samar.
Ia membuka laci meja, mengeluarkan sebuah foto usang. Foto dirinya dan ayahnya, saat ia masih kecil, duduk di pangkuan sang ayah di taman penuh mawar.
"Ayah... aku berhasil. Aku dapat semuanya kembali."
Ia tersenyum—tapi senyum itu tak sampai ke mata.
Di sudut ruangan, layar ponselnya berkedip. Sebuah pesan dari Nathan.
Nathan: "Kau baik-baik saja?"
Alana mengetik balasan.
Alana: "Dia datang. Minta maaf. Ngaku masih cinta."
Nathan: "Dan?"
Alana: "Kubuang seperti sampah basah."
Nathan: "Bangga padamu. Tapi kenapa suaramu terdengar kosong?"
Alana membaca pesan itu berulang kali. Jemarinya terhenti di atas keyboard. Ia tak tahu harus menjawab apa. Karena Nathan benar—ia merasa kosong. Setelah tiga tahun merencanakan, mengumpulkan bukti, membangun strategi, setelah malam ini ia akhirnya menang...
Lalu kenapa ia merasa seperti kalah?
Ponselnya bergetar lagi. Bukan dari Nathan.
Nomor asing.
Pesan pendek tanpa nama pengirim.
(Unknown): "Selamat atas kemenanganmu, Nona Wijaya. Tapi apakah kau yakin hanya Richard dan Viola yang mengkhianatimu? Coba buka amplop di laci ketiga meja kerjamu. Dari kiri. Rahasia ayahmu tidak semanis yang kau kira."
Jantung Alana berhenti berdetak.
Ia menoleh ke laci ketiga—laci yang selalu terkunci. Laci yang ayahnya beri pesan sebelum meninggal: "Ini untukmu saat kau benar-benar siap. Bukan sebelum waktunya."
Sepanjang tiga tahun ini, ia tak pernah membukanya. Ia lupa. Ia terlalu sibuk bertahan, lalu menyerang, lalu membangun kembali.
Sekarang, di malam setelah ia menghancurkan Richard, di malam yang seharusnya jadi kemenangan...
Pesan itu datang.
Tangan Alana gemetar saat meraih kunci kecil di lehernya—kalung pemberian ayah yang tak pernah ia lepas. Ia memasukkan kunci, memutarnya.
Klik.
Laci terbuka.
Di dalamnya, sebuah amplop coklat tebal. Tanpa tulisan apa pun.
Alana mengambilnya, jemarinya terasa dingin. Ia membuka segel—
Dan matanya membelalak.
---
Bersambung (*❛‿❛)→
---
Cliffhanger:
Apa yang ada di dalam amplop itu?
Siapa pengirim pesan misterius yang tahu soal laci rahasia itu?
Mengapa ayah Alana menyembunyikan sesuatu yang bisa menghancurkan kepercayaannya pada satu-satunya orang yang selama ini ia kagumi?
Dan yang paling penting: jika ayahnya pun punya rahasia gelap...
Lalu siapa sebenarnya musuh Alana yang sesungguhnya?
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄