NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — Dendam Lama

BAB 15 — Dendam Lama

Pagi di rumah sakit terasa sunyi. Aktivitas belum ramai. Beberapa perawat berjalan pelan di lorong sambil membawa berkas pasien.

Alvaro duduk di kursi dekat tempat tidur Alisha. Gadis itu masih tertidur. Wajahnya pucat. Bekas merah di pergelangan tangan masih terlihat jelas.

Dokter sudah memeriksa kondisinya. Tidak ada luka serius. Tubuhnya hanya lemah setelah kejadian semalam.

Trauma masih terlihat.

Alvaro memperhatikan wajahnya cukup lama. Ia masih sulit menerima semua yang terjadi.

Bram menculik Alisha. Ia membawa gadis itu ke gudang kosong. Ia berbicara tentang dendam lama yang diwariskan keluarganya.

Cerita tentang ayahnya.

Cerita tentang keluarga Mahendra.

Semua terdengar penuh kebencian.

Alvaro menghela napas pelan.

Alisha bergerak sedikit di atas tempat tidur. Matanya masih tertutup. Ia terlihat kelelahan.

Alvaro berdiri dari kursinya.

“Aku keluar sebentar,” gumamnya pelan.

Alisha tidak menjawab.

Alvaro berjalan keluar kamar rawat. Ia menutup pintu dengan hati-hati.

Lorong rumah sakit masih sepi. Ia berjalan menuju lift sambil memikirkan sesuatu.

Bram melarikan diri dengan mudah semalam.

Itu membuat Alvaro merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Ia keluar dari rumah sakit lalu langsung menuju rumah utama keluarga Mahendra.

Rumah utama terlihat tenang ketika Alvaro tiba. Beberapa pelayan sedang membersihkan ruang tamu.

Alvaro berjalan langsung menuju ruang kerja.

Pintu terbuka pelan.

Papah berdiri di dekat jendela besar. Ia memandang halaman depan yang masih basah oleh sisa hujan malam.

Papah menoleh ketika melihat Alvaro masuk.

“Alisha gimana?” tanyanya.

“Masih lemah. Dokter bilang kondisinya stabil.”

Papah mengangguk pelan.

“Kamu sudah bicara dengan polisi?”

“Sudah.”

“Bram masih belum ditemukan.”

“Iya.”

Alvaro berdiri di tengah ruangan.

“Aku ingin bicara soal semalam.”

Papah menatapnya sebentar.

“Duduk dulu.”

Alvaro duduk di kursi depan meja kerja.

Ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Papah berjalan mendekat lalu duduk di kursinya.

“Kamu pasti dengar semua omongan Bram.”

“Iya.”

“Dia memang menyimpan dendam sejak lama.”

Alvaro menyilangkan tangan.

“Dendam itu dari ayahnya.”

Papah mengangguk.

“Ayah Bram bernama Arya.”

Alvaro menunggu Papah melanjutkan cerita.

“Dulu dia sangat dekat dengan keluarga ini. Hubungan kami tidak selalu seperti sekarang.”

“Apa yang membuat semuanya berubah?”

Papah terdiam beberapa saat sebelum menjawab.

“Banyak hal terjadi di masa lalu. Beberapa keputusan membuat hubungan kami retak.”

Alvaro memperhatikan wajah Papah.

“Bram bilang keluarga kita menghancurkan hidup ayahnya.”

Papah menatap meja sebentar.

“Cerita bisa berubah tergantung siapa yang menceritakannya.”

Alvaro menghela napas.

“Yang jelas dia benar-benar membenci kita.”

“Iya.”

Papah bersandar di kursinya.

“Bram tumbuh dengan cerita itu sejak kecil.”

Alvaro teringat ekspresi Bram semalam. Tatapannya penuh kebencian.

“Dia tidak terlihat seperti orang yang akan berhenti.”

Papah menatapnya serius.

“Papah juga berpikir begitu.”

Ruangan kembali sunyi beberapa detik.

Alvaro menatap Papah.

“Ada hal lain yang mengganggu pikiranku.”

Papah mengangkat alis.

“Apa itu?”

“Bram tahu lokasi gudang tempat dia membawa Alisha.”

Papah mengerutkan dahi.

“Itu bukan tempat yang mudah ditemukan.”

“Benar.”

Alvaro menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Aku merasa ada orang yang memberinya informasi.”

Papah langsung mengerti maksudnya.

“Kamu curiga ada orang dalam.”

“Itu kemungkinan paling masuk akal.”

Papah mengangguk pelan.

“Papah juga memikirkan hal yang sama sejak semalam.”

Alvaro sedikit terkejut.

“Papah sudah menyelidikinya?”

“Papah sudah meminta tim keamanan memeriksa beberapa hal.”

“Ada hasil?”

“Belum.”

Alvaro berdiri dari kursinya.

“Kalau benar ada orang dalam, berarti Bram tidak bekerja sendirian.”

Papah menatapnya dengan wajah serius.

“Karena itu kita harus lebih berhati-hati.”

Alvaro berjalan menuju pintu.

Ia berhenti sejenak.

“Bram mengatakan banyak hal semalam.”

Papah menatapnya.

“Apa saja?”

“Beberapa terdengar seperti provokasi.”

Papah tidak langsung menjawab.

“Orang seperti Bram sering menggunakan kata-kata untuk memancing emosi.”

Alvaro mengangguk pelan.

“Aku hanya tidak suka cara dia bicara tentang keluarga ini.”

Papah menatapnya beberapa detik.

“Yang penting sekarang keselamatan Alisha.”

“Iya.”

Alvaro membuka pintu.

“Aku kembali ke rumah sakit.”

Papah mengangguk.

“Hati-hati di jalan.”

Beberapa jam kemudian Alvaro kembali ke rumah sakit.

Lorong sudah lebih ramai. Beberapa keluarga pasien terlihat duduk di kursi tunggu.

Alvaro membuka pintu kamar rawat.

Alisha sudah bangun. Ia duduk bersandar di tempat tidur sambil memegang gelas air.

“Kamu lama,” katanya pelan.

“Aku ke rumah.”

Alisha menatapnya.

“Bicara dengan Papahmu?”

“Iya.”

“Apa katanya?”

Alvaro duduk di kursi dekat tempat tidur.

“Dia juga berpikir Bram tidak akan berhenti.”

Alisha menunduk sebentar.

“Aku tidak mengerti kenapa dia memilihku.”

“Mungkin karena kamu dekat denganku.”

Alisha menarik napas pelan.

“Semalam dia terlihat sangat marah.”

“Iya.”

Alvaro memperhatikan wajahnya.

“Kamu ingat apa saja yang dia katakan?”

Alisha berpikir sejenak.

“Dia banyak bicara tentang keluargamu.”

“Apa lagi?”

“Katanya keluargamu mengambil sesuatu dari keluarganya.”

Alvaro tidak terkejut mendengar itu.

“Dia memang percaya cerita itu.”

Alisha menatapnya.

“Masalah ini sudah lama terjadi ya?”

“Iya.”

Alisha memandang jendela kamar.

“Kalau begitu dia mungkin tidak akan berhenti sampai puas.”

Alvaro tidak langsung menjawab.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Alvaro mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

Suara pria terdengar dari seberang.

“Kamu Alvaro Mahendra?”

“Siapa ini?”

“Orang yang ingin memberi saran.”

Alvaro menegang.

“Saran apa?”

“Jangan terlalu percaya semua cerita yang kamu dengar.”

Alvaro mengerutkan dahi.

“Apa maksudmu?”

“Beberapa rahasia keluarga lebih berbahaya dari yang kamu bayangkan.”

Alvaro berdiri dari kursinya.

“Kamu siapa?”

Sambungan tiba-tiba terputus.

Alvaro menatap layar ponselnya.

“Siapa?” tanya Alisha.

“Nomor tidak dikenal.”

“Apa katanya?”

“Omongan aneh.”

Alvaro berjalan mendekati pintu kamar.

Ia membuka pintu sedikit lalu melihat ke lorong.

Di ujung lorong terlihat seorang pria bertopi hitam berjalan cepat menuju tangga darurat.

Alvaro langsung keluar kamar.

“Hei!”

Pria itu sudah menghilang.

Alvaro berlari menuju tangga darurat. Ia membuka pintunya.

Tangga kosong.

Tidak ada siapa pun.

Alvaro berdiri beberapa detik sambil mencoba mendengar suara langkah kaki.

Sunyi.

Ia kembali ke kamar rawat.

Alisha terlihat cemas.

“Ada apa?”

“Aku merasa orang yang menelepon tadi ada di rumah sakit.”

“Bram?”

“Aku belum tahu.”

Pertanyaannya hanya satu.

Siapa orang itu sebenarnya.

#bersambung 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!