NovelToon NovelToon
DxD : Phenex Rebirth

DxD : Phenex Rebirth

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langit Kuoh

Kota Kuoh di sore hari seharusnya menjadi tempat yang tenang bagi para siswa yang pulang sekolah atau para pekerja yang mencari kopi hangat. Namun, bagi mereka yang memiliki kepekaan sensorik di atas manusia rata-rata, atmosfer kota ini terasa seolah-olah sedang diremas oleh tangan raksasa yang tak terlihat. Udara terasa statis, dan frekuensi sihir yang biasanya stabil kini bergetar dengan irama yang kacau.

Riser Phenex berdiri di atap gedung tertinggi di pusat kota. Jubah hitamnya berkibar pelan tertiup angin yang membawa aroma tajam seperti logam terbakar. Di sampingnya, Esdeath berdiri dengan tenang, namun tangan kanannya terus mengelus gagang rapierya. Di belakang mereka, Saeko, Yubelluna, dan Shizuka tetap waspada, masing-masing merasakan ketegangan yang merambat di udara.

"Yui, berikan visualisasi jangkauan retakan ini. Seberapa buruk kerusakannya?" tanya Riser dalam hati.

[ Memindai Struktur Ruang. ]

[ Status: Retakan Dimensi terdeteksi pada koordinat 35.7° Utara. ]

[ Integritas Ruang: Menurun drastis hingga 40%. ]

[ Catatan: Ini bukan pintu gerbang yang dibuka secara sengaja, melainkan 'lubang' paksa yang disebabkan oleh benturan energi dari dunia luar. ]

"Sesuatu sedang mencoba masuk, atau mungkin... terlempar ke sini," gumam Riser.

Tiba-tiba, langit di atas area taman kota terbelah. Bukannya awan yang terlihat, melainkan sebuah kekosongan hitam pekat yang memancarkan kilatan petir berwarna merah gelap. Suara robekan ruang itu terdengar seperti jeritan logam yang dipatahkan, memekakkan telinga bagi siapa pun yang mendengarnya.

"Di sana!" Saeko menunjuk ke arah taman.

Sebuah bola cahaya jatuh dari retakan tersebut dengan kecepatan meteor, menghantam pusat taman kota dengan dentuman yang menggetarkan fondasi gedung-gedung di sekitarnya. Debu dan uap panas membumbung tinggi ke angkasa.

"Esdeath, Saeko, Shizuka, ikut aku. Yubelluna, tetap di sini dan pasang penghalang optik. Aku tidak ingin ada manusia atau pihak gereja yang melihat apa yang akan kita hadapi," perintah Riser.

"Dimengerti, Tuanku," jawab Yubelluna, segera merentangkan tangannya untuk memanggil sihir kamuflase skala besar.

Riser melompat dari gedung, diikuti oleh yang lain. Mereka mendarat di pinggiran kawah yang masih berasap di tengah taman. Di dasar kawah itu, terlihat sesosok wanita yang terkapar lemas. Pakaiannya yang bergaya kuno namun elegan tampak sobek di beberapa tempat, dan di sampingnya tergeletak sebuah kipas lipat yang memancarkan sisa-sisa energi roh yang sangat murni.

Wanita itu memiliki rambut hitam legam yang dihias dengan indah, namun yang paling menarik perhatian adalah aura kedinginan yang berbeda dari milik Esdeath. Jika es milik Esdeath adalah kekejaman dan dominasi, energi dari wanita ini terasa seperti kesunyian malam di musim dingin yang abadi.

[ Subjek Terdeteksi: Kamizato Ayaka (Anomali Dimensi). ]

* Status: Pingsan (Kelelahan Energi Serius).

* Klasifikasi: Pengguna Visi (Cryo).

* Kecocokan Sistem: 85%.

"Ayaka?" Riser mengernyit. Namanya tidak asing baginya dari memori dunia lamanya. Bagaimana bisa seorang bangsawan dari Inazuma terlempar ke dunia penuh iblis ini?

Esdeath berjalan menuruni kawah, menatap wanita yang pingsan itu dengan pandangan tajam. "Lagi-lagi pengguna es? Dunia ini sepertinya sangat menyukai warna biru." Dia membungkuk, mencoba menyentuh pipi Ayaka, namun jarinya segera ditarik kembali karena adanya lapisan pelindung es tipis yang bangkit secara naluriah.

"Jangan sentuh dia sembarangan, Esdeath. Dia sedang dalam mode perlindungan otomatis," ucap Riser sambil berjalan turun.

Riser berjongkok di samping Ayaka. Dia bisa merasakan bahwa jalur energi (jalur sirkulasi energi roh) wanita ini sedang kacau balau akibat perpindahan dimensi yang kasar. Jika tidak segera distabilkan, dia bisa meledak menjadi serpihan es dan menghancurkan setengah dari kota Kuoh.

"Shizuka, lakukan tugasmu. Stabilkan sirkulasi energinya, tapi jangan sampai menyentuh inti energinya secara langsung," instruksi Riser.

Shizuka segera mendekat, wajahnya yang biasanya santai kini terlihat serius. "Ehh... energinya sangat cantik, tapi sangat berantakan. Ini seperti mencoba menyusun kembali kaca yang pecah di tengah badai salju. Baiklah, aku akan mencoba!"

Shizuka meletakkan tangannya beberapa sentimeter di atas dada Ayaka. Cahaya hijau lembut mulai mengalir, menyelimuti tubuh wanita asing itu. Secara perlahan, napas Ayaka yang tadinya tersengal-sengal mulai menjadi lebih teratur.

[ Sinkronisasi Jiwa: 68%. ]

[ Kemajuan Stabilisasi: 45%... 60%... ]

[ Peringatan: Kehadiran kuat terdeteksi sedang menuju lokasi. ]

"Tuanku!" Saeko tiba-tiba berdiri tegak, katananya sudah terhunus setengah. "Seseorang mendekat. Auranya... familiar. Sona Sitri dan Peerage-nya."

Riser berdiri, menatap ke arah gerbang taman. Benar saja, Sona Sitri bersama Tsubaki Shinra dan anggota OSIS lainnya muncul dengan wajah yang penuh kecemasan dan kewaspadaan. Sona berhenti mendadak saat melihat Riser berdiri di depan sebuah kawah raksasa bersama para wanita yang memiliki aura luar biasa.

"Riser Phenex? Apa yang terjadi di sini? Dan siapa mereka?" Sona bertanya, matanya tertuju pada Esdeath yang memberikan tatapan meremehkan, lalu pada sosok Ayaka yang sedang dirawat oleh Shizuka.

Riser menyilangkan tangannya di dada, memberikan senyum tenang yang membuat Sona merasa tidak nyaman. "Hanya masalah dimensi yang tersesat, Sona. Dan seperti biasa, aku hanya sedang membersihkan kekacauan yang bahkan tidak bisa dideteksi oleh sistem keamananmu."

Sona mengerutkan kening. "Kekacauan ini adalah tanggung jawabku sebagai pengawas wilayah ini. Serahkan wanita itu kepada kami untuk diinterogasi."

Riser tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Menyerahkannya padamu? Sona, kau bahkan tidak bisa menahan hawa dingin yang dipancarkannya saat dia pingsan. Bagaimana kau berencana menanganinya saat dia terbangun dan menganggap kalian semua adalah musuh?"

Suasana di taman kota itu mendadak menjadi sangat dingin, bukan hanya karena sisa energi Ayaka, tapi karena konfrontasi antara dua iblis kelas tinggi ini. Di dasar kawah, mata Ayaka mulai bergetar, menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan segera terbangun di dunia yang sama sekali asing baginya.

Suasana di taman kota semakin mencekam. Sona Sitri tetap pada posisinya, tangannya terkepal di samping tubuh, sementara Tsubaki Shinra sudah bersiap dengan senjata rahasianya. Namun, fokus semua orang segera teralihkan oleh suara retakan es yang halus dari dasar kawah.

Shizuka Marikawa menarik tangannya dengan cepat saat lapisan es di sekitar Ayaka tiba-tiba meledak menjadi ribuan kelopak bunga es yang tajam. Ayaka tersentak bangun. Matanya yang berwarna abu-abu biru terbuka lebar, memancarkan kebingungan dan ketakutan yang mendalam. Hal terakhir yang dia ingat adalah badai di Inazuma, dan sekarang dia berada di tempat dengan bangunan-bangunan tinggi aneh dan orang-orang dengan aura yang sangat asing.

"Di mana... ini? Siapa kalian?!" suara Ayaka gemetar, namun nadanya tetap membawa wibawa seorang bangsawan Kamizato.

Ayaka meraih kipas lipatnya yang tergeletak di sampingnya. Dengan satu gerakan elegan namun penuh kepanikan, dia melakukan Senho—menghilang ke dalam aliran es dan muncul kembali di tepi kawah, tepat di hadapan barisan OSIS Akademi Kuoh.

"Tunggu! Kami tidak berniat menyakitimu!" seru Sona, mencoba menenangkan.

Namun, bagi Ayaka, lingkaran sihir yang baru saja dipasang Sona terlihat seperti jebakan musuh. "Jangan mendekat! Kamisato Art: Hyohka!"

BRAKK!

Sebuah ledakan es berbentuk bunga teratai raksasa mekar seketika di bawah kaki Sona dan timnya. Sona berhasil melompat mundur, namun dua anggota OSIS lainnya terhempas oleh tekanan udara dingin yang sangat padat. Suhu di taman itu turun drastis hingga mencapai titik beku dalam hitungan detik.

"Sial, dia sangat kuat!" gumam Tsubaki sambil menahan napas yang mulai beruap.

"Minggir, kalian hanya menghalangi jalan," suara dingin Esdeath memecah kekacauan. Dia melangkah maju dengan niat bertarung yang mulai membara. "Biar aku yang mengajarinya bagaimana cara bersikap di depan tuanku."

"Esdeath, diam di tempat," perintah Riser dengan nada yang tak terbantahkan.

Riser melangkah maju melewati Sona yang tampak frustrasi. Dia berjalan dengan santai menuju Ayaka yang kini sudah berada dalam kuda-kuda bertarung, napasnya tersengal namun matanya menunjukkan tekad untuk mati demi kehormatannya.

"Kamizato Ayaka, hentikan ini sebelum kau menghancurkan tubuhmu sendiri," ucap Riser. Suaranya tidak keras, namun entah bagaimana, suara itu menembus kebisingan badai es yang diciptakan Ayaka.

Ayaka menatap Riser. Dia melihat tanda kegelapan di dahi pria itu dan merasakan aura Phoenix yang sangat dominan. "Bagaimana... kau tahu namaku? Apakah kau utusan dari Raiden Shogun?"

"Aku bukan utusan siapa pun. Aku adalah orang yang akan memastikan kau tetap hidup di dunia yang bukan milikmu ini," jawab Riser.

Ayaka menggeleng, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena rasa sakit dari jalur energinya yang masih kacau. "Aku harus kembali... klan Kamizato... saudaraku..."

Dia kembali mengangkat kipasnya, bersiap melepaskan Sougetsu, namun tubuhnya bergetar hebat. Jalur energinya menjerit.

[ Peringatan: Kerusakan Sirkuit Energi Subjek mencapai ambang batas kritis. ]

[ Status: Subjek akan mengalami Mana Burst jika tidak dihentikan secara fisik. ]

Sebelum Ayaka sempat mengayunkan kipasnya, Riser sudah berada di depannya. Kecepatan itu bukan lagi sekadar kecepatan iblis; itu adalah pergerakan murni yang melampaui persepsi manusia. Riser menangkap pergelangan tangan Ayaka yang memegang kipas, sementara tangan lainnya merangkul pinggang wanita itu agar tidak jatuh.

"Lepaskan...!" Ayaka mencoba melepaskan diri, namun kekuatannya sudah terkuras habis.

"Tenanglah," bisik Riser tepat di telinganya. Dia mengalirkan energi Phoenix yang hangat secara perlahan, membungkus jalur energi Ayaka yang membeku dengan kelembutan yang tidak terduga. "Kau aman sekarang. Tidak ada Shogun, tidak ada perang. Hanya ada aku."

Sentuhan hangat Riser bekerja seperti penawar bagi rasa dingin yang menyiksa tubuh Ayaka. Perlahan, es yang menyelimuti taman mulai mencair. Ayaka menatap mata Riser, mencari kebohongan di sana, namun yang dia temukan hanyalah dominasi yang menenangkan. Tubuhnya melemas, dan dia akhirnya jatuh pingsan di pelukan Riser.

Sona Sitri mendekat dengan wajah serius. "Riser, kau tidak bisa membawanya begitu saja. Dia adalah entitas dimensi yang berbahaya. Dia harus masuk ke dalam pengawasan Dewan."

Riser menggendong Ayaka dengan gaya bridal style, menatap Sona dengan pandangan yang membuat sang ketua OSIS itu membeku di tempat.

"Sona, biarkan aku memperjelas satu hal. Dia bukan entitas, dia adalah tamu pribadiku. Jika Dewan ingin menanyakan sesuatu, katakan pada mereka untuk datang ke kastel Phenex dan mencoba melewati Esdeath terlebih dahulu," ucap Riser dingin.

Esdeath menyeringai lebar, seolah-olah dia sangat menantikan kunjungan dari Dewan. Saeko dan Shizuka segera merapat di samping Riser, membentuk formasi perlindungan yang tak tertembus.

"Kita pulang," perintah Riser.

Tanpa menunggu jawaban Sona, Riser mengaktifkan lingkaran sihir transportasinya. Dalam sekejap, taman kota itu kembali sunyi, menyisakan Sona dan timnya yang terpaku menatap kawah kosong yang mulai tertutup genangan air sisa es yang mencair.

[ Sinkronisasi Jiwa: 70%. ]

[ Status Rekrutmen: Kamizato Ayaka (Dalam Tahap Pemulihan). ]

[ Catatan Yui: Kamu baru saja menculik seorang putri bangsawan dari dunia lain di depan mata otoritas lokal. Sangat berani, Pemalas. Aku mulai berpikir kamu benar-benar menikmati peran sebagai 'Villain' yang disukai semua orang ini. ]

Dia bukan sekadar pajangan, Yui. Teknik pedangnya dan kontrol esnya akan menjadi pelengkap sempurna untuk Saeko dan Esdeath, batin Riser saat mereka kembali ke kehangatan kastelnya.

1
SR07
plot nya kok kaya mundur ya?
SR07
bukannya udh gabung sama rias ya? atau di episode awal gue salah baca?
SR07
esdeath kemana dah?
SR07
cemburu Ama bocah🤣
SR07
intinya cemburu
SR07
awokawokawok 🤣
SR07
ada yang cemburu nih🤣
SR07
Yui cemburu 🤣
SR07
up lagi bro
mutia
sistemnya agak serem ya😂
SR07
jir galaknya 🤣
SR07
ngobrol Ama bantal guling gak tuh wkwkwk 🤣
SR07
system nya galak amat dah🤣
Muhd Zulfitri
thor buat anime cheined Soldier /Pray/
RavMoon: saya akan mempertimbangkan nya setelah proyek ini berjalan setengahnya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!