NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:26.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#26

Pagi di mansion Martinez seharusnya menjadi simfoni kedamaian, namun bagi Edgar dan Leonor, hari Minggu ini berubah menjadi panggung sandiwara paling menegangkan dalam hidup mereka.

Leonor terbangun dengan perasaan berat di perut bawahnya. Hari ketiga menstruasi bagi Leonor selalu menjadi puncak badai; deras, menyakitkan, dan menguras tenaga. Karena kelelahan yang luar biasa semalam dan kenyamanan pelukan Edgar, Leonor lupa mengganti pembalutnya sebelum terlelap. Hasilnya fatal. Saat ia bergerak sedikit saja, ia bisa merasakan cairan hangat merembes keluar melewati pertahanannya.

Ia menoleh ke samping dan jantungnya hampir copot. Di atas sprei sutra putih murni milik keluarga Martinez, noda merah pekat berceceran di mana-mana. Ukurannya cukup besar untuk membuat siapa pun yang melihatnya berpikir telah terjadi pembantaian kecil di atas ranjang itu.

Edgar masih tertidur lelap di sampingnya, bertelanjang dada dengan napas yang teratur. Namun, ketenangan itu hancur saat suara ketukan ritmis terdengar dari pintu besar kamar mereka.

Tok! Tok! Tok!

"Edgar? Leonor sayang? Mommy membawakan susu almond hangat dengan madu untuk menantu Mommy," suara ceria Isabella terdengar dari balik pintu.

Edgar mengerjap, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Dengan malas dan tanpa mengenakan atasan, ia berjalan menuju pintu. "Iya, Mom... sebentar," gumamnya serak.

Edgar membuka pintu sedikit, menampakkan wajah bangun tidurnya. Isabella berdiri di sana dengan nampan perak yang cantik dan senyum merekah. "Selamat pagi, jagoan Mommy. Mana istrimu? Apa si kecil di dalam perutnya sudah lapar?"

Isabella tidak menunggu jawaban. Dengan kelincahan khasnya, ia menyelinap masuk ke dalam kamar. "Leonor, ayo minum—"

Kalimat Isabella terputus di udara. Matanya tertuju pada pemandangan di atas ranjang. Leonor duduk mematung dengan wajah pucat pasi, sementara di belakangnya, sprei putih itu tampak seperti kanvas yang disiram cat merah darah yang masih segar.

Prang!

Nampan perak di tangan Isabella jatuh menghantam lantai marmer. Susu hangat tumpah ke mana-mana, tapi Isabella tidak peduli. Wajahnya berubah seputih kertas, tubuhnya bergetar hebat.

"DARAH! YA TUHAN, DARAH!" Isabella menjerit histeris, suaranya melengking hingga ke lorong mansion. "JULIAN! PELAYAN! SIAPA PUN, KEMARI! LEONOR... BAYINYA! DARAHNYA BANYAK SEKALI!"

Edgar tersentak. Ia baru menoleh ke arah ranjang dan matanya membelalak. Ia memang tahu Leonor sedang menstruasi, tapi melihat jumlah darah di sprei putih itu, instingnya sempat berpikir bahwa Leonor benar-benar terluka. Leonor sendiri hanya bisa membeku, ia ingin bicara tapi lidahnya terasa kelu karena malu sekaligus ngeri melihat reaksi Isabella.

Dalam hitungan detik, Julian Martinez masuk ke kamar dengan wajah sangar, diikuti oleh kepala pelayan tua yang tampak panik.

"Ada apa, Bella?!" Julian berteriak, namun suaranya langsung tercekat saat melihat bercak merah yang mendominasi ranjang itu.

Edgar menyadari bahwa ini adalah momen "hidup atau mati". Jika ia bilang itu hanya darah menstruasi, ia harus menjelaskan kenapa kemarin ia mengaku Leonor hamil. Satu-satunya jalan keluar adalah memperparah kebohongan ini agar skenario hamil palsu berakhir hari ini juga.

Edgar tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di samping ranjang, memegang tangan Leonor dengan ekspresi penuh penyesalan yang sangat meyakinkan.

"Maafkan aku, Dad... Mom... Ini semua salahku!" Edgar mulai berakting, suaranya bergetar hebat.

Julian menatap putranya dengan kilat kemarahan di matanya. "Apa maksudmu, Edgar?"

"Aku... aku tidak bisa menahan diriku semalam," Edgar menunduk, pura-pura terisak. "Aku tahu Ayah sudah memperingati ku untuk pelan dan hati-hati karena kandungan Leonor masih sangat muda. Tapi hasratku... aku terlalu bernafsu karena sangat mencintainya. Aku tidak bisa mengontrol diriku dan sekarang... lihat apa yang kulakukan! Aku telah membunuh anakku sendiri!"

Leonor yang mendengar itu ingin sekali mengubur dirinya hidup-hidup. Bernafsu? Terlalu menggebu? Edgar benar-benar menjual harga dirinya demi drama ini. Namun, ia harus ikut. Leonor menundukkan kepalanya, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang pucat, dan mulai mengeluarkan isakan kecil yang sebenarnya adalah tangis menahan malu.

"EDGAR CASTIEL MARTINEZ!"

Bugh!

Satu pukulan mentah dari Julian mendarat di rahang Edgar, membuat pria itu terjerembab. Julian tampak seperti singa yang murka. "Dasar kau binatang! Bisa-bisanya kau begitu egois pada istrimu yang sedang mengandung! Kau benar-benar memalukan nama Martinez!"

Isabella sudah merangkul Leonor, menangis sesenggukan. "Kasihan menantuku... Sayang, maafkan Edgar yang bodoh ini. Mommy tidak menyangka dia akan sekasar itu padamu."

"Panggil dokter sekarang!" perintah Isabella sambil menangis.

"Jangan!" seru Julian dengan tegas. Ia menghentikan kepala pelayan yang hendak menelpon. Julian adalah pria yang sangat menjaga reputasi. "Jika berita ini tersebar bahwa pewaris Martinez menyebabkan menantunya keguguran karena tidak bisa menahan nafsu di malam pertama... kita akan jadi bahan tertawaan seluruh negeri. Tidak boleh ada dokter luar yang tahu."

Julian menoleh pada kepala pelayan. "Kau, apa yang biasanya diberikan untuk membersihkan sisa-sisa keguguran seperti ini?"

Kepala pelayan tua itu berbisik, "Biasanya ada obat peluruh kandungan herbal atau pembersih rahim, Tuan. Itu cukup untuk kondisi kehamilan yang masih sangat muda seperti ini."

"Bagus. Siapkan itu sekarang. Biarkan Leonor beristirahat di kamar ini. Dan kau, Edgar!" Julian menunjuk hidung anaknya dengan jarinya yang gemetar karena marah. "Kau tidak boleh menyentuhnya selama sebulan penuh! Kau akan tidur di sofa kamar ini sebagai hukuman!"

Drama itu berakhir sempurna. Julian dan Isabella keluar dari kamar dengan hati yang hancur karena kehilangan calon cucu, namun mereka sangat yakin bahwa itu murni kesalahan Edgar yang terlalu bersemangat.

Begitu pintu tertutup dan suasana menjadi sunyi, Edgar perlahan bangkit dari lantai, mengusap Rahang nya yang sakit akibat pukulan ayahnya. Ia menoleh pada Leonor yang masih menutupi wajahnya dengan bantal.

"Leo... mereka sudah pergi," bisik Edgar.

Leonor melempar bantal itu ke arah Edgar. "Kau gila! Terlalu bernafsu? Tidak bisa menahan diri? Kau ingin membuatku mati malu di depan orang tuamu, hah?!"

Edgar justru terkekeh, meski wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang dibuat-buat namun manis. Ia duduk di tepi ranjang, tidak peduli dengan noda darah itu, dan menarik Leonor ke pelukannya.

"Tapi berhasil, kan? Sekarang kita tidak perlu pura-pura hamil lagi," Edgar mencium puncak kepala Leonor. "Maafkan aku ya, Istriku. Biar suamimu yang berdosa ini yang menanggung semua amarah Ayah. Sekarang, ayo kita ganti spreinya, dan aku akan merawatmu sepanjang hari sebagai tanda penyesalan."

Edgar benar-benar memulai drama rasa bersalahnya. Ia membantu Leonor ke kamar mandi dengan sangat protektif, menyuapinya bubur seolah Leonor benar-benar habis kehilangan banyak darah, dan berkali-kali meminta maaf di depan ibunya yang terus memelototinya setiap kali masuk ke kamar.

Leonor hanya bisa menghela napas. Di satu sisi, ia merasa lega drama kehamilan ini berakhir, namun di sisi lain, ia menyadari bahwa hidup bersama Edgar Martinez berarti ia harus siap dengan drama-drama gila lainnya yang mungkin akan jauh lebih heboh dari ini.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍

1
Endang Sulistia
mampir
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!