NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak lagi berharap

Kepergian Arka bukanlah perpisahan yang gaduh.

Tidak ada tangisan histeris.

Tidak ada teriakan memanggil namanya.

Yang ada hanyalah keheningan panjang yang tumbuh diam-diam, hari demi hari, hingga akhirnya menjadi kebiasaan.

Hari pertama setelah Arka pergi, Lara masih menunggu.

Ia duduk di depan rumah setiap sore, memandangi ujung jalan, berharap suara motor itu kembali terdengar. Setiap kali ada kendaraan melintas, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat—lalu kembali tenang ketika yang datang bukan Arka.

Hari kedua, ketiga, hingga minggu pertama, Lara masih percaya.

“Paman pasti sibuk,” katanya pada dirinya sendiri.

Namun hari-hari terus berlalu tanpa kabar.Arka tidak pernah sekalipun mengirim surat.tidak pernah mengabari lewat telepon walaupun hanya sekedar berkata "Halo"

Jangankan telepon bahkan untuk mengirim pesan singkat saja tidak pernah.

Arka menghilang begitu saja, seolah tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Saat Lara masuk sekolah dasar, ia masih sering menoleh setiap kali bel pulang berbunyi. Ia berharap, mungkin suatu hari Arka akan berdiri di luar gerbang sekolah, tersenyum kikuk seperti dulu.

Tapi itu tidak pernah terjadi.

Di ulang tahunnya yang ketujuh, Lara meniup lilin sambil memejamkan mata. Ia tidak meminta hadiah. Ia hanya berharap satu hal—mendengar suara Arka lagi.

Lilin pun padam,kue sudah dipotong,meski terasa mustahil namun lara masih menyematkan nama Arka dalam doanya.

Hingga akhirnya harapan itu pun ikut menghilang.

Tahun demi tahun berlalu.

Lara tumbuh lebih tinggi, lebih tenang, lebih dewasa dan lebih pandai menyembunyikan rasa kecewa. Ia berhenti bertanya pada ayahnya tentang keberadaan pamannya, Berhenti menunggu di depan pintu kalau saja orang itu akan datang tiba-tiba, Berhenti memeluk boneka kelincinya setiap malam.

Nama dan keberadaan orang itu perlahan menjadi kenangan yang samar.

Saat Lara lulus SD, ia tidak lagi menoleh ke kerumunan mencari satu wajah tertentu. Ia tersenyum, menerima ijazah, dan pulang tanpa rasa kehilangan.

Memasuki SMP, Lara mulai memahami satu hal yang menyakitkan:

tidak semua orang yang berjanji akan kembali, benar-benar menepatinya.

Ia tidak marah.

Ia hanya belajar melepaskan.

Di masa SMA, kehidupan Lara dipenuhi hal-hal baru—teman, pelajaran, mimpi kecil tentang masa depan. Hari-harinya sibuk, dan hatinya perlahan membangun sebuah dinding pelindung.

Kadang, tanpa alasan jelas, bayangan Arka muncul sesaat.

Namun Lara sudah tahu caranya.

Ia akan menarik napas, lalu berkata pelan dalam hati,

“Sudahlah lupakan saja.”

Hari kelulusan SMA tiba dengan langit cerah.

Lara berdiri di halaman sekolah, mengenakan seragam terakhirnya. Ayahnya berdiri di sampingnya, tersenyum bangga.Mereka pun berfoto bersama untuk mengabadikan moment krusial itu.

“Kamu sudah hebat sejauh ini sayang.” kata Wijaya.

Lara mengangguk. “Terima kasih, Yah.”

Lara sudah memutuskan untuk menjalani kehidupannya dengan baik,fokus pada pendidikannya dan kelak akan menata karirnya/

Dia tidak lagi ingin mengharapkan suatu hari akan bertemu dengan seseorang yang pernah dia rindukan karna baginya saat ini Arka bukanlah luka,juga bukan kerinduan.

Arka hanya bagian kecil dari masa lalu—kenangan lama yang sudah Lara biasakan untuk tidak diingat.

Karena Lara telah belajar bertahun-tahun untuk satu hal:

Orang yang pergi tanpa kabar…

tidak perlu ditunggu kepulangannya.

Dan tepat ketika Lara benar-benar yakin bahwa namanya tidak lagi menyakitkan—

takdir, dengan senyum tipisnya yang kejam, mulai menyiapkan pertemuan ulang yang tak pernah ia minta.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!