Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara prahara
Suasana di dalam mansion Ardiansyah pagi itu tidak lagi dipenuhi oleh tawa kecil atau aroma kopi yang menenangkan. Sebaliknya, udara terasa berat, dipenuhi oleh ketegangan yang merambat dari layar televisi dan ponsel yang terus menyala. Berita tentang asal-usul Gia telah menyebar seperti api di atas rumput kering, menghanguskan privasi yang selama ini mereka jaga dengan sangat rapat.
Nyonya Besar Ardiansyah duduk di kursi kebesarannya di ruang keluarga. Wajahnya tidak menunjukkan amarah yang meledak-ledak, melainkan sebuah keletihan yang mendalam. Di tangannya terdapat sebuah tablet yang menampilkan tajuk berita utama pagi ini. Ia bukan tipe wanita yang mudah terhasut emosi, namun ia adalah wanita yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga.
"Ares" Panggil Nyonya Besar saat melihat putranya turun dengan wajah yang sangat tegang, menggandeng tangan Gia dengan sangat erat seolah takut istrinya akan hanyut terbawa arus.
Ares berhenti di depan ibunya.
"Ma, sebelum Mama bicara, aku ingin Mama tahu bahwa aku akan menyelesaikan ini. Semua ini adalah serangan terencana dari Siska"
Nyonya Besar menghela napas panjang, matanya beralih ke arah Gia. Gia berdiri dengan kepala tertunduk, bahunya gemetar, dan matanya sembab. Melihat kondisi Gia, Nyonya Besar tidak merasakan kebencian yang murni. Selama beberapa bulan terakhir, ia telah melihat bagaimana Gia memperlakukan Ares dengan ketulusan yang tidak pernah ditunjukkan Siska. Ia melihat Gia yang pendiam, namun penuh perhatian.
"Duduklah, kalian berdua!" Ucap Nyonya Besar dengan nada datar namun berwibawa.
Mereka duduk bersisian. Ares tidak melepaskan genggaman tangannya pada Gia sedetik pun.
"Gia" Panggil Nyonya Besar lembut.
"Mama tidak membencimu karena siapa ibumu atau bagaimana masa lalumu. Mama tahu kamu anak yang baik. Tapi, kamu harus paham posisi keluarga Ardiansyah. Reputasi kita dibangun selama puluhan tahun di atas kepercayaan publik. Sekarang, publik melihat kita sebagai keluarga yang penuh rahasia dan skandal"
Gia mengangkat wajahnya, air mata kembali menggenang.
"Ma, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak pernah ingin semua ini menjadi konsumsi publik. Saya, saya hanya ingin hidup tenang"
"Mama tahu" Jawab Nyonya Besar.
"Tapi keraguan Mama kini kembali. Bukan soal pribadimu, tapi soal apakah kau mampu berdiri di samping Ares saat badai seperti ini menerjang. Jika baru di awal saja kau sudah hancur seperti ini, bagaimana kau akan menghadapi dunia yang jauh lebih kejam di luar sana sebagai istri seorang CEO?"
Ares hendak menyela, namun Nyonya Besar mengangkat tangannya.
"Biarkan Mama bicara, Ares. Mama memilih jalan tengah. Mama tidak akan memintamu bercerai, tidak sekarang. Tapi Mama ingin Gia membuktikan bahwa dia bukan beban. Mama ingin Gia sendiri yang berdiri di depan media, menjelaskan posisinya dengan kepala tegak. Jika kau tidak mampu melakukannya, maka Mama terpaksa harus memikirkan ulang statusmu di rumah ini demi keamanan perusahaan"
Situasi di luar mansion semakin ramai. Meskipun Ares tidak mengerahkan helikopter atau tim militer, ia sudah meminta tim keamanan terbaik untuk membentuk barikade manusia di depan gerbang. Wartawan hanya diperbolehkan berdiri di area terbatas. Tidak ada molotov, tidak ada kerusuhan, hanya kebisingan suara mikrofon dan kilatan lampu kamera yang haus akan klarifikasi.
Ares membawa Gia ke ruang kerjanya.
"Gia, kamu tidak perlu melakukan apa yang Mama minta jika kamu tidak siap. Mas bisa menangani ini dengan tim hukum"
Gia menatap Ares, lalu melihat ke arah luar jendela di mana massa wartawan menunggu. Ia teringat kata-kata Nyonya Besar tentang menjadi beban. Ia tidak ingin menjadi titik lemah bagi Ares. Ia mencintai pria ini, dan cinta itu memberinya keberanian yang tidak ia duga sebelumnya.
"Tidak, Mas. Mama benar. Ini adalah saatnya Gia berhenti bersembunyi di balik punggung Mas" Ucap Gia dengan suara yang mulai stabil.
"Siska ingin saya malu dan lari. Saya tidak akan memberinya kepuasan itu."
Ares menatap istrinya dengan takjub. Ia melihat transformasi di mata Gia, dari ketakutan menjadi ketegasan.
"Baiklah. Mas akan mendampingimu. Setiap langkah"
Ares segera menghubungi Bayu untuk menyiapkan konferensi pers singkat di lobi bawah mansion. Ia tidak ingin Gia keluar menemui kerumunan yang liar, ia ingin Gia bicara dalam lingkungan yang terkendali.
Satu jam kemudian, pintu lobi mansion terbuka. Puluhan kamera langsung menyala, menangkap gambar Ares dan Gia yang berjalan berdampingan. Ares mengenakan jas formalnya, sementara Gia mengenakan gaun sederhana berwarna putih tulang yang melambangkan kejujuran.
"Selamat siang. Saya hanya akan memberikan satu pernyataan singkat. Mengenai berita yang beredar tentang istri saya, Giana Ardiansyah, saya ingin menegaskan bahwa setiap manusia memiliki masa lalu yang tidak bisa mereka pilih. Namun, masa depan adalah pilihan kita. Dan saya memilih untuk berdiri di samping istri saya, apa pun latar belakangnya"
Gia melangkah maju, memegang mikrofon dengan tangan yang sedikit gemetar namun suaranya terdengar jernih melalui pengeras suara.
"Saya adalah Gia" Ia memulai.
"Saya tidak pernah memilih untuk dilahirkan dari siapa atau dalam kondisi apa. Masa lalu ibu saya adalah luka yang saya simpan sendiri, bukan untuk menipu siapa pun. Saya di sini hari ini bukan sebagai anak dari masa lalu, tapi sebagai istri yang ingin membela kehormatan suaminya. Jika kalian mencari skandal, silakan cari pada mereka yang menyebarkan kebencian. Tapi jika kalian mencari kebenaran, kebenaran itu ada di sini, di depan kalian"
Penjelasan Gia yang tenang dan tulus membuat suasana yang tadinya tegang menjadi sedikit lebih reda. Beberapa wartawan mulai melontarkan pertanyaan yang lebih lunak. Namun, di tengah sesi tanya jawab tersebut, sebuah notifikasi massal masuk ke ponsel hampir seluruh orang di ruangan itu.
Sebuah video baru dikirimkan oleh anonim. Bukan video kegilaan Gia, melainkan sebuah rekaman suara percakapan antara Siska dan seorang pria asing.
"Pastikan kalian mengunggah dokumen medis itu tepat saat pameran berakhir. Aku ingin Ares melihat wanita pujaannya hancur" suara Siska terdengar jelas dan licik.
Massa wartawan mendadak riuh. Fokus serangan kini berbalik arah menuju Siska. Ares sedikit tersenyum, tim IT-nya rupanya bekerja lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Ia berhasil melakukan serangan balik dengan mengungkap niat jahat di balik penyebaran data pribadi tersebut.
Gia menghela napas lega, ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Namun, saat ia menoleh ke arah kerumunan, matanya menangkap sosok wanita di barisan belakang wartawan. Wanita itu mengenakan kacamata hitam dan masker, namun tatapannya sangat tajam dan penuh kebencian.
Wanita itu perlahan membuka maskernya sedikit, hanya agar Gia bisa melihat senyumannya. Itu Siska.
Siska tidak tampak takut atau kalah. Ia justru mengangkat sebuah remote kecil ke udara, lalu menunjuk ke arah layar televisi besar yang ada di lobi mansion. Layar itu tiba-tiba berubah, menampilkan sebuah siaran langsung dari dalam kamar pribadi Nyonya Besar.
Di layar itu terlihat Nyonya Besar sedang berbicara dengan seorang pria misterius yang membelakangi kamera. Suara pria itu terdengar sangat familiar bagi Ares.
"Rencana kita hampir berhasil, Nyonya. Gia sudah keluar untuk bicara. Sekarang, saatnya Anda melakukan bagian akhir dari kesepakatan kita untuk menjatuhkan Ares dari kursinya"
Ares membeku. Ia menoleh ke arah ibunya yang berdiri di lantai atas, namun Nyonya Besar tampak terkejut melihat dirinya sendiri ada di layar televisi. Ia tidak tahu siapa yang merekam pembicaraan itu, atau apakah itu adalah rekaman asli yang dimanipulasi.
"Mas, itu Mama?"
Tiba-tiba, suara alarm kebakaran di mansion berbunyi nyaring. Bukan karena ada api, melainkan sebagai tanda bahwa sistem keamanan mansion telah diretas sepenuhnya dari dalam. Pintu lobi terkunci secara otomatis, mengurung para wartawan, Ares, dan Gia di dalam ruangan yang mulai dipenuhi asap putih buatan.
"Mas, aku tidak bisa melihat!" Teriak Gia dalam kepanikan.
Ares mencoba menarik Gia, namun dalam kabut asap yang tebal itu, ia merasakan seseorang dengan kekuatan besar menarik Gia menjauh darinya.
"GIA!" Teriak Ares, namun suaranya tertelan oleh hiruk pikuk kepanikan di lobi.
Saat asap perlahan menipis beberapa menit kemudian, lobi itu sudah kosong dari wartawan yang dievakuasi keluar melalui pintu darurat oleh tim keamanan gadungan. Dan yang lebih mengerikan, Gia sudah tidak ada di sana. Di lantai marmer tempat Gia berdiri tadi, hanya tersisa kalung berlian yang putus dan sebuah pesan tertulis dengan lipstik merah.
"Permainan sebenarnya baru saja dimulai, Ares. Selamat mencari istrimu di tempat ibunya dulu dibuang."
semoga ada bonchap nya.
selamat Gia dan Ares