Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Wakil yang Selalu Ada Tapi Nggak Dianggap.
Aku biasanya datang lebih pagi dari yang lain. Bukan karena rajin. Lebih ke kebiasaan. Kalau datang pagi, aku bisa ngelakuin banyak hal tanpa ditanya-tanya.
Pagi itu gerbang sekolah belum sepenuhnya ramai. Satpam masih duduk sambil ngopi, sapu masih disandarkan di tembok, dan udara masih dingin dengan sisa bau hujan semalam. Aku parkir motor di tempat biasa, nyelip di antara motor guru dan beberapa motor siswa yang kelihatannya juga datang kepagian. Aku bawa tas ransel yang isinya lebih berat dari seharusnya. Bukan karena buku, tapi karena map-map. Ada catatan kegiatan pramuka, daftar hadir, coretan jadwal, dan beberapa kertas yang entah kenapa selalu berakhir di tasku. Kadang aku mikir, tasku ini kayak gudang. Semua yang nggak jelas arahnya, dititipin ke aku.
Aku jalan ke aula kecil di samping lapangan. Tempat kami biasa kumpul sebelum kegiatan. Kursi masih disusun rapi, belum ada yang dipindah. Aku taruh tas, lalu langsung nyalain lampu. Ruangan jadi terang, tapi tetap terasa kosong.
Aku buka buku catatan. Hari ini nggak ada kegiatan besar, cuma rapat kecil sore nanti. Tapi tetap aja ada yang harus disiapin. Aku cek ulang jadwal, aku cocokkan sama catatan lama. Tanganku otomatis jalan sendiri. Kadang aku nggak sadar aku lagi ngapain, tahu-tahu semuanya sudah rapi. Sekitar lima belas menit kemudian, beberapa anak mulai datang. Ada yang masuk sambil ngantuk, ada yang sambil ketawa keras, ada juga yang cuma angguk ke aku lalu duduk.
“Pagi, Nay,” kata salah satu dari mereka.
Aku balas senyum. “Pagi.”
Itu aja. Nggak ada yang nanya aku lagi ngapain. Nggak ada yang peduli. Aku juga nggak berharap ditanya. Beberapa menit kemudian Rara datang. Rambutnya rapi, tasnya bersih, langkahnya cepat. Dia duduk di bangku sebelahku, seperti biasa. Kami satu meja di kelas, dan entah sejak kapan juga selalu berdekatan di pramuka.
“Udah dicek belum jadwalnya?” tanyanya.
“Udah,” jawabku.
Dia angguk. “Oke.”
Selesai. Nggak ada terima kasih. Nggak ada basa-basi. Tapi aku sudah terbiasa. Rara itu pintar. Semua orang tahu itu. Nilainya bagus, jawabannya cepat, dan kalau ngomong selalu terdengar yakin. Kalau ada diskusi, suaranya yang paling sering didengar. Aku? Aku lebih sering jadi yang nyiapin bahan diskusinya.
Jam pelajaran pertama mulai. Aku masuk kelas 12 IPA 2, duduk di bangku yang sama seperti biasanya. Satu meja dengan Rara. Di depan kami papan tulis masih penuh bekas kapur kemarin. Pelajaran berjalan seperti biasa. Guru menjelaskan, murid mencatat, beberapa melamun. Rara aktif angkat tangan. Aku sesekali ikut, tapi lebih sering nunduk, nulis, dan dengerin.
Ada satu momen, guru nanya soal yang agak susah. Rara angkat tangan, jawabannya lancar. Guru senyum dan bilang, “Nah, ini contoh jawaban bagus.” Beberapa anak nengok ke arah Rara. Aku ikut nengok. Aku tahu jawaban itu. Bahkan aku yang semalam ngebahasnya sama Rara lewat chat. Tapi ya sudah. Nggak masalah. Aku senyum kecil. Aku selalu begitu. Kalau orang lain kelihatan bersinar, aku ikut senang. Atau setidaknya aku berusaha begitu.
Waktu istirahat, kelas jadi ribut. Ada yang keluar, ada yang jajan, ada yang tetap duduk sambil main HP. Aku masih di tempatku, ngerapihin catatan.
“Nay,” panggil Rara pelan.
“Hm?”
“Nanti sore rapat, kan?”
“Iya.”
“Temanya apa aja?” Aku sebutin satu-satu.
Dia dengerin, sesekali ngangguk. Habis itu dia ambil HP, buka chat grup. “Oke, nanti aku sampaikan,” katanya. Aku cuma jawab, “Iya.” Dalam hati aku mikir, padahal aku juga bisa nyampein sendiri. Tapi ya sudah. Aku nggak keberatan. Atau mungkin aku keberatan, tapi aku nggak mau ribut sama perasaan sendiri.
Siang hari aku pulang lebih telat. Ada guru yang minta tolong fotokopi, ada kertas yang harus diambil, ada urusan kecil-kecil yang entah kenapa selalu jatuh ke aku. Saat aku keluar sekolah, matahari sudah tinggi. Keringat nempel di leher. Aku naik motor, helm kugeser sedikit biar anginnya masuk. Di jalan, aku ketawa sendiri. Aku capek, tapi entah kenapa aku nggak benci. Sore hari aku balik lagi ke sekolah buat rapat pramuka. Aula sudah agak ramai. Beberapa duduk melingkar, beberapa berdiri sambil ngobrol. Aku taruh tas, langsung nyiapin kertas dan pulpen di tengah.
Rapat mulai. Ketua ngomong, pembina kasih arahan, yang lain nyaut seperlunya. Aku nyatet. Aku jelasin bagian yang aku tahu. Sesekali aku ditanya, aku jawab. Rara duduk di seberangku. Setiap aku selesai jelasin sesuatu, dia sering nambahin. Kadang jawabannya sama persis. Kadang sedikit diubah.
Orang-orang lebih sering nengok ke dia. Aku sadar itu. Tapi aku tetap lanjut. Rapat selesai menjelang magrib. Orang-orang bubar satu-satu. Ada yang pamit, ada yang langsung pergi tanpa ngomong. Aku masih di aula, beresin kursi sama dua orang lain. “Naya,” kata salah satu pembina, “besok tolong ingetin anak-anak ya.”
“Iya, Bu,” jawabku. Namaku disebut. Tapi cuma sebentar. Habis itu hilang lagi. Aku keluar aula terakhir. Langit sudah mulai gelap. Aku berdiri sebentar di depan gedung, ngelihat lapangan yang mulai sepi. Angin sore lewat, bawa bau rumput basah. Aku ngerasa kosong, tapi nggak sedih. Lebih ke capek yang aneh. Capek yang nggak bikin nangis, tapi bikin diam. Di parkiran, Rara sudah siap naik motor.
Dia lihat aku, lalu bilang, “Nay, besok jangan lupa ya.”
“Iya.” Dia senyum tipis, lalu pergi.
Aku pakai helm, nyalain motor, dan ikut pulang. Di jalan, lampu-lampu mulai nyala. Aku mikir, mungkin beginilah hidupku di sini. Selalu ada, tapi nggak pernah benar-benar dilihat. Dan aku pikir, nggak apa-apa. Aku masih bisa ketawa. Aku masih merasa punya tempat. Setidaknya, saat itu aku masih percaya begitu.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭