"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Autopsi yang Gagal
Lampu neon di atas meja bedah berkedip sekali, menciptakan bayangan yang menari-nari di atas permukaan baja antikarat. Suhu ruangan diatur pada 18 derajat Celsius, namun bagi Sheril, dinginnya pagi ini terasa sampai ke sumsum tulang. Ia menarik napas panjang di balik masker bedahnya, mencoba menstabilkan tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks.
Di atas meja itu terbaring sebuah kantong jenazah berwarna hitam.
"Korban ditemukan di area pelabuhan tua, dekat pembuangan limbah Gudang 12," suara V terdengar datar, namun ada nada urgensi yang tertahan. Ia berdiri di seberang Sheril, sudah memegang papan klip dan siap mencatat. "Luka sayatan pada leher sangat bersih. Terlalu bersih untuk sebuah perkelahian jalanan. Ini adalah eksekusi."
Sheril mengangguk pelan. Ia menarik ritsleting kantong jenazah itu. Sreeet.
Udara seketika dipenuhi bau anyir yang pekat bercampur dengan aroma air laut yang payau. Namun, saat wajah korban terlihat sepenuhnya di bawah lampu operasi yang terang, jantung Sheril seolah berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berdegup kencang di telinga.
"Tuan... Tuan Kang?" bisik Sheril, suaranya tercekat di tenggorokan.
V mendongak. "Kamu mengenalnya?"
Sheril tidak menjawab. Matanya terpaku pada wajah pria paruh baya itu. Tuan Kang bukan sekadar angka atau subjek anonim. Dia adalah pelanggan tetap di restoran Le Lapin. Pria tua yang ramah, yang setiap Selasa malam selalu duduk di meja sudut dekat jendela, memesan Bouillabaisse buatan Jungkook, dan selalu memberikan tip besar sambil memuji betapa serasinya Sheril dan Jungkook.
"Dia... dia pelanggan di restoran Jungkook," ujar Sheril dengan suara gemetar. "Dia baru saja makan di sana minggu lalu. Dia bercerita tentang cucunya yang baru lahir."
"Sheril, fokus," tegur V, meskipun tatapannya melembut sejenak. "Jika Kamu tidak sanggup, aku bisa mengambil alih."
"Tidak," Sheril menguatkan diri. Ia meraih skalpel—bukan skalpel nomor 11 yang hilang itu, melainkan penggantinya yang terasa lebih berat dan asing. "Aku bisa melakukannya."
Namun, saat ia mulai memeriksa area leher, tangannya kembali goyah. Sayatan itu. Sudut masuknya pisau. Tekanan yang konsisten sehingga tidak ada jaringan yang robek berantakan. Ini adalah tanda tangan yang sama. Teknik yang sama dengan cara Jungkook memotong daging wagyu di depan matanya dua malam lalu.
"Ada yang aneh, V," suara Sheril pecah. "Lihat pola jahat di sekitar arteri karotis ini. Pelaku sengaja menunggu jantung korban berhenti berdetak sebelum melakukan sayatan terakhir. Ini bukan sekadar membunuh. Ini... ini adalah seni bagi si pelaku."
Sheril merasa perutnya mual. Ia teringat bagaimana Jungkook memeluknya tadi malam, bagaimana tangan yang sama yang mungkin memegang pisau ini, membelai rambutnya dengan penuh kasih.
"Lanjutkan ke bagian dada," perintah V.
Sheril memposisikan mata pisaunya di pangkal leher, siap melakukan sayatan Y yang standar. Namun, saat ujung skalpel menyentuh kulit dingin Tuan Kang, memori tentang senyum ramah pria tua itu di restoran muncul kembali. Ia melihat bayangan Jungkook yang berdiri di belakang Tuan Kang, menuangkan wine dengan senyum kelincinya yang manis.
Krak.
Sheril menjatuhkan skalpelnya ke lantai besi. Suaranya bergema nyaring di ruangan yang sunyi itu. Ia mundur dua langkah, napasnya memburu, air mata mulai menggenang di balik kacamata pelindungnya.
"Aku tidak bisa, V! Aku tidak bisa!" seru Sheril histeris. Ia merobek maskernya, mencari oksigen yang seolah hilang dari ruangan itu. "Ini salah! Semuanya salah!"
V segera melangkah memutari meja dan memegang bahu Sheril dengan kuat. "Sheril! Kendalikan dirimu! Kau seorang profesional!"
"Bagaimana aku bisa profesional jika setiap mayat yang datang ke sini memiliki hubungan dengan pria yang tidur di sampingku setiap malam?!" teriak Sheril. Suaranya parau karena rasa sakit yang luar biasa.
V terdiam. Ia menatap Sheril dengan tatapan yang dalam dan penuh simpati yang jarang ia tunjukkan. "Maka dari itu, Kamu harus menyelesaikannya. Cari buktinya di sini. Jika itu bukan dia, bersihkan namanya. Tapi jika itu dia... Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa memberikan keadilan bagi Tuan Kang."
Sheril terisak, bahunya berguncang. Di tengah kehancurannya, pintu lab terbuka dengan keras. Suga masuk dengan wajah yang lebih gelap dari biasanya. Ia melihat skalpel yang tergeletak di lantai dan Sheril yang menangis di pelukan V.
"Berhenti," ucap Suga pendek. "Autopsi ini selesai sekarang juga."
"Apa maksudmu, Suga?" tanya V dengan nada menantang.
Suga berjalan mendekat, matanya hanya tertuju pada Sheril. "Aku baru saja mendapatkan rekaman satelit terbaru. Tuan Kang tidak dibunuh di pelabuhan. Dia dibawa ke sana setelah meninggal. Dan orang yang terakhir terlihat bersamanya di depan restoran..." Suga menjeda, seolah kata-kata itu berat untuk diucapkan. "...adalah asisten koki Jungkook."
Sheril mendongak dengan wajah basah. "Asistennya? Bukan Jungkook?"
"Jungkook terlihat mencoba menghalangi mereka di kamera pengawas, tapi dia terlambat," bohong Suga. Ia tahu yang sebenarnya, tapi ia tidak bisa membiarkan Sheril mati karena syok saat ini juga. "Sekarang, Sheril, ikut aku. Kau tidak aman di sini."
Suga membawa Sheril ke sebuah taman kecil yang tersembunyi di belakang rumah sakit. Udara segar sedikit membantu Sheril untuk kembali bernapas. Suga duduk di sampingnya, memberikan botol air mineral yang dingin.
"Minumlah," ujar Suga pelan.
"Oppa... apa kau yakin itu bukan Jungkook?" tanya Sheril, suaranya sangat kecil.
Suga menatap langit yang mendung. Ia tahu bahwa asisten koki itu hanyalah kambing hitam yang disiapkan Jimin, dan Jungkook terpaksa bungkam. "Fokuslah pada fakta yang ada, Sheril. Untuk saat ini, jangan pulang ke apartemen. Menginaplah di rumah Jin Hyung."
"Tidak," Sheril menggeleng tegas. "Aku harus bertemu Jungkook. Aku harus menatap matanya."
"Itu berbahaya, Sheril!"
"Aku lebih takut hidup dalam kebohongan ini daripada mati di tangannya, Oppa," balas Sheril dengan keberanian yang muncul dari rasa putus asa.
Sore harinya, Sheril pulang. Ia mendapati apartemen dalam keadaan remang-remang. Aroma masakan yang harum menyambutnya—kali ini Jungkook membuat Steak Au Poivre.
Jungkook sedang berdiri di dapur, membelakangi Sheril. Ia tidak menoleh saat pintu terbuka.
"Kamu pulang terlambat lagi, Sayang," ujar Jungkook. Suaranya terdengar sangat lelah, sangat hancur. "Aku mendengar berita tentang Tuan Kang. Aku... aku sangat sedih. Dia orang yang baik."
Sheril berjalan perlahan mendekat. Ia berhenti tepat di belakang Jungkook. "Kook, aku membedahnya hari ini. Aku melihat apa yang terjadi padanya."
Jungkook terdiam. Bahunya tampak kaku. "Lalu? Apa yang Kamu temukan?"
Sheril melingkarkan lengannya di pinggang Jungkook, memeluknya dari belakang, menyandarkan wajahnya di punggung pria itu yang luas. Ia bisa merasakan otot-otot Jungkook yang tegang.
"Aku menemukan sebuah teknik yang sangat indah, Kook. Sebuah teknik yang hanya dimiliki oleh koki terbaik yang pernah kukenal," bisik Sheril. Air matanya jatuh menembus kemeja Jungkook. "Katakan padaku itu bukan Kamu. Katakan padaku Kamu tidak melakukannya."
Jungkook berbalik dalam pelukan itu. Ia memegang wajah Sheril, matanya berkaca-kaca. "Aku mencintaimu, Sheril. Melebihi apapun. Aku bersumpah, aku tidak pernah ingin Tuan Kang mati."
Jungkook mencium Sheril dengan sangat dalam—sebuah ciuman yang terasa seperti perpisahan. Ada rasa asin dari air mata mereka yang bercampur. Di saat itu, di tengah aroma daging panggang dan rahasia yang berdarah, Jungkook memeluk Sheril seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam ke dasar neraka.
"Tetaplah bersamaku malam ini," bisik Jungkook di bibir Sheril. "Hanya malam ini. Jangan pikirkan meja autopsi itu. Pikirkan saja aku."
Dan di dalam pelukan hangat pria yang mungkin adalah seorang pembunuh, Sheril memilih untuk menyerah pada cintanya yang tragis, membiarkan autopsi hatinya sendiri gagal demi satu malam lagi yang manis.