NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati, Pewaris Rahasia Mencintaiku

Setelah Dikhianati, Pewaris Rahasia Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Balas Dendam
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: dewisusanti

Pertemuan Emily Ainsley dan Alexander bermula dari sebuah insiden di atap, ketika Alexander menyelamatkannya yang hampir terjatuh dari atas gedung.

Namun alasan Emily berada di atap saat itu adalah pengkhianatan besar. Tunangannya, Liam, berselingkuh dengan saudara perempuannya sendiri. Dengan hati hancur, ia meninggalkan apartemen dan berjalan tanpa arah hingga menemukan Big Star Cafe.

Di sana, Tessa memberinya kesempatan bekerja sebagai barista berkat sertifikat yang ia miliki. Harapan baru mulai muncul, tetapi segera terguncang ketika kabar tentang kecelakaan neneknya datang.

Biaya operasi yang sangat mahal membuatnya terdesak. Ayahnya, Frank Ainsley, menolak membantu dan membiarkannya menghadapi kesulitan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolongku

Emily tidak tahu sudah berapa lama ia melampiaskan amarahnya untuk membuat dirinya merasa sedikit lebih baik. Namun, ketika ia pikir dirinya sudah selesai memaki pasangan yang berselingkuh itu, ia tersandung kakinya sendiri saat mencoba melangkah turun.

"AAAAAAAAA…!"

Ia mencoba berpegangan pada sesuatu, tetapi tidak meraih apa pun.

Sesaat, Emily mengira dirinya mungkin sudah mati, tetapi kemudian sebuah tangan menggenggam tangannya, menariknya dengan keras dan membuat tubuhnya terjatuh ke belakang. Keseimbangannya benar-benar hilang, tetapi ia tidak peduli akan jatuh keras selama dirinya masih hidup.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Ketika Emily membuka matanya, ia mendapati dirinya berada dalam pelukan seseorang, kepalanya bersandar pada dada bidang seorang pria.

Jantungnya berdebar kencang, dan napasnya pendek. Pikiran tentang hampir terjatuh dari gedung lima belas lantai membuatnya merasa seolah seluruh jiwanya telah meninggalkan tubuhnya.

'Ya tuhan, terima kasih telah mengirim pria ini untuk menolongku. Aku berhutang nyawa padanya,' pikir Emily dalam hati saat ia mencoba mendongak untuk melihat penyelamatnya.

Namun, suara pria itu yang dalam dan lembut sudah terdengar sebelum ia sempat mengangkat kepalanya untuk melihat ke atas.

"Nona muda, jika kau ingin bunuh diri, lakukanlah saat tidak ada siapapun di sekitar."

Emily tertegun ketika mendengar kata-katanya.

"Siapa yang mau bunuh diri? Aku hanya tersandung kakiku sendiri, ya!" ingin sekali ia mengatakan itu, tetapi ia segera mengurungkan niatnya. Ia harus bersikap lembut padanya.

Siapa pun pria ini, ia adalah penyelamatnya. Jika ia tidak menggenggam tangannya dan menariknya, mungkin dirinya sudah menjadi mayat dan langsung pergi ke alam baka.

"Terima kasih banyak, Tuan," kata Emily pelan saat akhirnya ia mendongak untuk melihatnya.

Emily terkejut saat melihat matanya menatap balik kepadanya. Ketika ia melihat bibir pria itu melengkung membentuk senyum tipis, ia segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain, merasa gugup.

"Tapi aku tidak berniat bunuh diri. Aku tersandung kakiku sendiri," lanjutnya, menghindari kontak mata. Ia menatap dadanya—pandangan matanya hanya sampai pada dada kokohnya.

"Kedengarannya lebih baik begitu, Nona. Karena aku tidak ingin pergi ke kantor polisi untuk menjadi seorang saksi, atau mereka bisa saja salah menuduhku sebagai tersangka," katanya dengan nada sarkastis yang membuat Emily menahan tawa.

"Tuan, aku sangat berterima kasih karena kau telah menolongku. Kau adalah penyelamatku. Aku berhutang nyawa padamu—" Emily terdiam, terkejut oleh kata-katanya sendiri.

Bagaimana mungkin ia membuat janji sedalam itu kepada pria ini!? Pria ini bisa saja memanfaatkannya jika ia orang jahat. Bukan begitu?

"Baiklah, Nona muda, seharusnya kau melepaskan pelukan eratmu dariku. Kau sudah aman sekarang."

Emily benar-benar terkejut mendengar ucapannya. Ia baru menyadari bahwa dirinya masih berada dalam pelukannya, kedua tangannya melingkar erat di pinggang pria itu, dan seluruh tubuhnya menempel padanya. Mereka begitu dekat—cukup dekat untuk mendengar detak jantungnya yang keras. Ia segera melangkah mundur beberapa langkah.

Barulah Emily bisa melihat betapa tingginya pria itu, kepalanya hanya sampai di bahunya.

Matanya yang jernih, seperti air yang dalam dengan pantulan berkilau. Tulang pipinya tinggi, membuat wajahnya terlihat tegas dan bersih.

Ia mengepalkan tangannya erat saat melihat bibir pria itu terkatup seolah enggan berbicara. Secara keseluruhan, pria itu terlihat sangat tampan, seperti dewa. Dibandingkan dengan mantan tunangannya yang berselingkuh, mereka seperti tanah dan langit. Pria ini adalah langitnya.

'Sial! Apa yang kupikirkan? Mengapa aku menganalisis pria ini? Fokus, Emi! Fokus!!' Ia menggelengkan kepalanya, mencoba menyingkirkannya dari pikirannya.

"Apakah kau mau bir dingin?"

Suara pria itu seakan membawanya kembali ke kenyataan. Ia menelan ludah pelan ketika mendengar pertanyaannya.

"Minum bir?" tanyanya dengan curiga.

"Ya. Aku punya banyak bir dingin di sana. Kurasa kau membutuhkannya sekarang agar merasa lebih baik," katanya sambil berjalan menuju payung teras tanpa menunggu jawabannya.

Emily menoleh ke sudut. Seketika, senyum samar menghiasi bibirnya ketika ia melihat taman kecil tempat ia biasanya duduk saat berada di tempat ini.

Tanpa disadari, kakinya telah mengikuti langkah pria itu, bergabung dengannya.

"Terima kasih," kata Emily saat menerima botol bir darinya dan duduk di kursi di sampingnya, dengan meja taman di antara mereka.

Ia meneguk beberapa kali, merasakan bir dingin itu meluncur turun melalui tenggorokannya yang kering dan panas, menyegarkannya.

Pria ini benar, ia memang membutuhkan bir dingin untuk mengurangi rasa kesalnya atas apa yang telah terjadi padanya.

Setelah beberapa saat dalam keheningan, mereka menikmati bir mereka. Emily akhirnya menoleh untuk melihatnya.

Ia melihat pria itu memegang botol birnya, tatapannya lurus ke depan menuju pegunungan di kejauhan. Ia tampak seperti tidak ingin berbicara dengannya—atau mungkin bahkan tidak ingin tahu bahwa ia ada di sana.

Kini, Emily merasa bersalah karena telah mengganggu ketenangannya. Ia tahu betul bahwa pria itu sudah berada di sana sebelum dirinya datang.

"Tuan..." panggil Emily. Ketika ia melihat pria itu akhirnya menoleh padanya dengan sedikit kerutan di dahinya, ia melanjutkan, "Maaf jika aku mengganggumu, dan terima kasih atas birnya. Aku akan mengambil—"

Kata-kata Emily terhenti ketika ponsel di sakunya berdering dan mengalihkan perhatiannya.

Melihat bahwa Liam yang menelepon, darahnya langsung mendidih. Ia menarik napas dalam dan menoleh kearah pria itu, "Tuan, maaf, aku harus menerima panggilan ini."

"Tentu—" jawabnya.

Emily tersenyum lembut padanya dan menjawab telepon itu.

"Apa yang kau inginkan?" sapanya pada Liam dengan dingin.

"Emily, aku tahu pertunangan kita sudah berakhir, tapi aku masih membutuhkanmu untuk bekerja untukku—"

"Liam Carter, jika kau ingin membicarakan soal itu, aku akan menutup teleponnya!" potong Emily. Ia tidak percaya pria tak tahu malu itu masih ingin dirinya bekerja untuknya. Apakah orang itu sudah gila?

"Tolong dengarkan aku, Emily," Liam segera menghentikannya. "Dengarkan, aku akan membiarkanmu tetap tinggal di apartemenku jika kau kembali bekerja untukku. Aku tahu kau tidak punya uang untuk mencari tempat baru."

Emily terdiam tanpa kata.

Liam melanjutkan, "Jangan khawatir. Aku tidak akan tinggal di sana. Aku akan pindah hari ini supaya kau bisa memiliki apartemen itu sendiri."

Emily tidak bisa menahan diri untuk tidak memaki Liam dalam hatinya.

1
Uba Muhammad Al-varo
tunggu dulu Emily sebelum kamu ngasih ke Liam, selidiki dulu siapa orangnya yang membayar biaya rumah sakit neneknya
Yuli Yulianti
aduh emely kamu tu ya coba langsung krmh sakit siapa yg membayar ini malah langsung ngira Liam yg byr
lyani
atuhh tanya dl k RS em..
vaukah
up tor
july
good
Afifah Ghaliyati
kenapa kok pikirannya ke lima sihh, aduhhh
Muft Smoker
next kak ,,
Muft Smoker: ok kaak
total 2 replies
Uba Muhammad Al-varo
Emily jangan gegabah menerkanya, sekarang selidiki dulu siapa orangnya yang membayar biaya nenek di rumah sakit, jangan sampai kau terjebak oleh Julian
Uba Muhammad Al-varo: maksudnya bukan Julian tetapi Liam si pecundang
total 1 replies
Yuli Yulianti
semoga rmh sakit memberitahu siapa membayar yg penting bkn nm penghianat
mery harwati
Padahal yang bayar tagihan RS adalah Alexander melalui Ryan sang asisten 😀
Enak banget Liam yang makan nangkanya, sedangkan Alexander yang kena getahnya
Emily harus tau bukan Liam yang bayar tagihan RS neneknya
lyani
nah bener
Dwi Winarni Wina
Liam mengancam Emily menyakiti neneknya tidak mau menolongnya, Emily sudah sakit hati dan kecewa sama Liam...
amida
hadir torr
kakdew12: bab terbarunya sudah di up yaa
semangat terus bacanya
total 1 replies
Stevanus1278
lanjut terus ya kak, jangan lupa up yang rajin
kakdew12: bab terbarunya sudah di up yaa
semangat terus bacanya
total 1 replies
Rahmawati
Alexander terdiam tak berkata-kata pas liat rumah Emily, dia kaget Emily tinggal di rumahnya
kakdew12: bab terbarunya sudah di up yaa
semangat terus bacanya
total 1 replies
Muft Smoker
astagaaa Emily tinggal di kandang macan 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker: ok kak
total 2 replies
Muft Smoker
Alexander si dewa penolong ny emi ,,
dy seperti tau kpn emi dlm suasana hati yg buruk
Afifah Ghaliyati
semua kejutan dari awal sampe akhir ternyata karena Alexander yang merencanakan semuanya buat Emily, padahal Emily berpikir cuma kebetulan
kakdew12: bab terbarunya sudah di up yaa
semangat terus bacanya
total 1 replies
Afifah Ghaliyati
Emily mulai merasa nyaman sama Alexander tapi takut jatuh cinta lagi setelah sakit hati sama Liam, semoga dia bisa terbuka lagi nanti!
Afifah Ghaliyati
Alexander selalu muncul tepat waktu buat bantu Emily, semoga kali ini mereka bisa lebih dekat dan saling mengenal satu sama lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!