Pertemuan Emily Ainsley dan Alexander bermula dari sebuah insiden di atap, ketika Alexander menyelamatkannya yang hampir terjatuh dari atas gedung.
Namun alasan Emily berada di atap saat itu adalah pengkhianatan besar. Tunangannya, Liam, berselingkuh dengan saudara perempuannya sendiri. Dengan hati hancur, ia meninggalkan apartemen dan berjalan tanpa arah hingga menemukan Big Star Cafe.
Di sana, Tessa memberinya kesempatan bekerja sebagai barista berkat sertifikat yang ia miliki. Harapan baru mulai muncul, tetapi segera terguncang ketika kabar tentang kecelakaan neneknya datang.
Biaya operasi yang sangat mahal membuatnya terdesak. Ayahnya, Frank Ainsley, menolak membantu dan membiarkannya menghadapi kesulitan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolongku
Emily tidak tahu sudah berapa lama ia melampiaskan amarahnya untuk membuat dirinya merasa sedikit lebih baik. Namun, ketika ia pikir dirinya sudah selesai memaki pasangan yang berselingkuh itu, ia tersandung kakinya sendiri saat mencoba melangkah turun.
"AAAAAAAAA…!"
Ia mencoba berpegangan pada sesuatu, tetapi tidak meraih apa pun.
Sesaat, Emily mengira dirinya mungkin sudah mati, tetapi kemudian sebuah tangan menggenggam tangannya, menariknya dengan keras dan membuat tubuhnya terjatuh ke belakang. Keseimbangannya benar-benar hilang, tetapi ia tidak peduli akan jatuh keras selama dirinya masih hidup.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Ketika Emily membuka matanya, ia mendapati dirinya berada dalam pelukan seseorang, kepalanya bersandar pada dada bidang seorang pria.
Jantungnya berdebar kencang, dan napasnya pendek. Pikiran tentang hampir terjatuh dari gedung lima belas lantai membuatnya merasa seolah seluruh jiwanya telah meninggalkan tubuhnya.
'Ya tuhan, terima kasih telah mengirim pria ini untuk menolongku. Aku berhutang nyawa padanya,' pikir Emily dalam hati saat ia mencoba mendongak untuk melihat penyelamatnya.
Namun, suara pria itu yang dalam dan lembut sudah terdengar sebelum ia sempat mengangkat kepalanya untuk melihat ke atas.
"Nona muda, jika kau ingin bunuh diri, lakukanlah saat tidak ada siapapun di sekitar."
Emily tertegun ketika mendengar kata-katanya.
"Siapa yang mau bunuh diri? Aku hanya tersandung kakiku sendiri, ya!" ingin sekali ia mengatakan itu, tetapi ia segera mengurungkan niatnya. Ia harus bersikap lembut padanya.
Siapa pun pria ini, ia adalah penyelamatnya. Jika ia tidak menggenggam tangannya dan menariknya, mungkin dirinya sudah menjadi mayat dan langsung pergi ke alam baka.
"Terima kasih banyak, Tuan," kata Emily pelan saat akhirnya ia mendongak untuk melihatnya.
Emily terkejut saat melihat matanya menatap balik kepadanya. Ketika ia melihat bibir pria itu melengkung membentuk senyum tipis, ia segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain, merasa gugup.
"Tapi aku tidak berniat bunuh diri. Aku tersandung kakiku sendiri," lanjutnya, menghindari kontak mata. Ia menatap dadanya—pandangan matanya hanya sampai pada dada kokohnya.
"Kedengarannya lebih baik begitu, Nona. Karena aku tidak ingin pergi ke kantor polisi untuk menjadi seorang saksi, atau mereka bisa saja salah menuduhku sebagai tersangka," katanya dengan nada sarkastis yang membuat Emily menahan tawa.
"Tuan, aku sangat berterima kasih karena kau telah menolongku. Kau adalah penyelamatku. Aku berhutang nyawa padamu—" Emily terdiam, terkejut oleh kata-katanya sendiri.
Bagaimana mungkin ia membuat janji sedalam itu kepada pria ini!? Pria ini bisa saja memanfaatkannya jika ia orang jahat. Bukan begitu?
"Baiklah, Nona muda, seharusnya kau melepaskan pelukan eratmu dariku. Kau sudah aman sekarang."
Emily benar-benar terkejut mendengar ucapannya. Ia baru menyadari bahwa dirinya masih berada dalam pelukannya, kedua tangannya melingkar erat di pinggang pria itu, dan seluruh tubuhnya menempel padanya. Mereka begitu dekat—cukup dekat untuk mendengar detak jantungnya yang keras. Ia segera melangkah mundur beberapa langkah.
Barulah Emily bisa melihat betapa tingginya pria itu, kepalanya hanya sampai di bahunya.
Matanya yang jernih, seperti air yang dalam dengan pantulan berkilau. Tulang pipinya tinggi, membuat wajahnya terlihat tegas dan bersih.
Ia mengepalkan tangannya erat saat melihat bibir pria itu terkatup seolah enggan berbicara. Secara keseluruhan, pria itu terlihat sangat tampan, seperti dewa. Dibandingkan dengan mantan tunangannya yang berselingkuh, mereka seperti tanah dan langit. Pria ini adalah langitnya.
'Sial! Apa yang kupikirkan? Mengapa aku menganalisis pria ini? Fokus, Emi! Fokus!!' Ia menggelengkan kepalanya, mencoba menyingkirkannya dari pikirannya.
"Apakah kau mau bir dingin?"
Suara pria itu seakan membawanya kembali ke kenyataan. Ia menelan ludah pelan ketika mendengar pertanyaannya.
"Minum bir?" tanyanya dengan curiga.
"Ya. Aku punya banyak bir dingin di sana. Kurasa kau membutuhkannya sekarang agar merasa lebih baik," katanya sambil berjalan menuju payung teras tanpa menunggu jawabannya.
Emily menoleh ke sudut. Seketika, senyum samar menghiasi bibirnya ketika ia melihat taman kecil tempat ia biasanya duduk saat berada di tempat ini.
Tanpa disadari, kakinya telah mengikuti langkah pria itu, bergabung dengannya.
"Terima kasih," kata Emily saat menerima botol bir darinya dan duduk di kursi di sampingnya, dengan meja taman di antara mereka.
Ia meneguk beberapa kali, merasakan bir dingin itu meluncur turun melalui tenggorokannya yang kering dan panas, menyegarkannya.
Pria ini benar, ia memang membutuhkan bir dingin untuk mengurangi rasa kesalnya atas apa yang telah terjadi padanya.
Setelah beberapa saat dalam keheningan, mereka menikmati bir mereka. Emily akhirnya menoleh untuk melihatnya.
Ia melihat pria itu memegang botol birnya, tatapannya lurus ke depan menuju pegunungan di kejauhan. Ia tampak seperti tidak ingin berbicara dengannya—atau mungkin bahkan tidak ingin tahu bahwa ia ada di sana.
Kini, Emily merasa bersalah karena telah mengganggu ketenangannya. Ia tahu betul bahwa pria itu sudah berada di sana sebelum dirinya datang.
"Tuan..." panggil Emily. Ketika ia melihat pria itu akhirnya menoleh padanya dengan sedikit kerutan di dahinya, ia melanjutkan, "Maaf jika aku mengganggumu, dan terima kasih atas birnya. Aku akan mengambil—"
Kata-kata Emily terhenti ketika ponsel di sakunya berdering dan mengalihkan perhatiannya.
Melihat bahwa Liam yang menelepon, darahnya langsung mendidih. Ia menarik napas dalam dan menoleh kearah pria itu, "Tuan, maaf, aku harus menerima panggilan ini."
"Tentu—" jawabnya.
Emily tersenyum lembut padanya dan menjawab telepon itu.
"Apa yang kau inginkan?" sapanya pada Liam dengan dingin.
"Emily, aku tahu pertunangan kita sudah berakhir, tapi aku masih membutuhkanmu untuk bekerja untukku—"
"Liam Carter, jika kau ingin membicarakan soal itu, aku akan menutup teleponnya!" potong Emily. Ia tidak percaya pria tak tahu malu itu masih ingin dirinya bekerja untuknya. Apakah orang itu sudah gila?
"Tolong dengarkan aku, Emily," Liam segera menghentikannya. "Dengarkan, aku akan membiarkanmu tetap tinggal di apartemenku jika kau kembali bekerja untukku. Aku tahu kau tidak punya uang untuk mencari tempat baru."
Emily terdiam tanpa kata.
Liam melanjutkan, "Jangan khawatir. Aku tidak akan tinggal di sana. Aku akan pindah hari ini supaya kau bisa memiliki apartemen itu sendiri."
Emily tidak bisa menahan diri untuk tidak memaki Liam dalam hatinya.
Enak banget Liam yang makan nangkanya, sedangkan Alexander yang kena getahnya
Emily harus tau bukan Liam yang bayar tagihan RS neneknya
dy seperti tau kpn emi dlm suasana hati yg buruk