NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zaanse Schans

Gedung fakultas desain pagi itu seperti sarang lebah; bising dan penuh energi yang terburu-buru. Takara berjalan menyusuri koridor dengan tumpukan kertas kalkir dan portofolio di pelukannya. Di kampus ini, ia sering merasa seperti alien yang tersesat. Wajah orientalnya yang mungil tampak mencolok di antara mahasiswa Eropa yang bertubuh tinggi besar.

Takara tidak keberatan dengan kesendiriannya. Ia lebih memilih duduk di tepi kanal mengamati detail facade bangunan Barok daripada berdesakan di klub malam yang bising dan penuh aroma alkohol—hal yang sering dilakukan teman-teman seangkatannya. Baginya, desain rumah Belanda yang romantis sudah cukup menjadi teman bicara.

Namun, kedamaian itu hancur dalam satu detik.

Bruk!

"Oh!"

Kertas-kertas Takara melayang seperti salju yang jatuh sebelum akhirnya mendarat berantakan di atas lantai marmer yang dingin. Sketsa fasad bangunan yang ia kerjakan semalaman kini terinjak-injak oleh langkah kaki mahasiswa lain yang tidak peduli.

"Oh! Sorry! Takara," ucap sebuah suara bariton yang terdengar tulus.

Takara terpaku. Ia mendongak, menemukan seorang pria jangkung dengan rambut pirang gelap dan mata yang menatapnya penuh rasa bersalah. Pria itu segera berlutut, membantunya memunguti kertas-kertas yang berserakan.

"Lo tahu nama gue?" tanya Takara dalam bahasa Inggris, sedikit terkejut. Pasalnya, ia merasa selama ini dirinya hanyalah "mahasiswa bayangan" yang tidak punya banyak teman.

Pria itu terkekeh sambil menyodorkan selembar sketsa yang baru saja ia ambil. "Tentu saja! You're Mr. Smith's favorite student, right? Karya-karya lo sering dipajang di papan pengumuman sebagai referensi. Sulit untuk nggak tahu siapa pemilik tangan jenius itu."

Takara merasakan pipinya sedikit memanas. Pujian itu datang begitu tiba-tiba.

"Halo! I'm William," ucapnya sambil berdiri dan mengulurkan tangan dengan senyum ramah yang sangat hangat.

William ternyata adalah mahasiswa tingkat atas di jurusan yang sama. Berbeda dengan Jake yang selalu terasa "jauh" dan penuh batasan, William ada di sana. Nyata.

"Sebagai permintaan maaf karena udah bikin gambar lo kotor, gimana kalau gue traktir kopi di kafetaria?" tawar William.

Takara sempat ragu. Biasanya, jam-jam seperti ini adalah waktu di mana ia akan membalas pesan-pesan panjang dari Jake atau sekadar mengirimkan foto makan siangnya. Namun, melihat binar ramah di mata William, Takara merasa tidak ada salahnya untuk sekali saja tidak menghabiskan waktunya hanya menatap layar ponsel.

"Oke, just coffee," jawab Takara pelan.

Di saku jaket Takara, ponselnya bergetar berkali-kali.

Jake: Ra? Lo udah di kampus?

Jake: Gue baru aja dikasih waktu istirahat 15 menit. Tadi koreografinya susah banget, pengen nangis rasanya haha.

Jake: P

Jake: Takara? Taka-raaaaa? Kok nggak dibalas?

Untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, pesan Jake dibiarkan menggantung tak terbaca. Di seberang meja kafetaria, Takara justru sedang tertawa kecil mendengar cerita William tentang proyek restorasi bangunan tua di pusat kota.

Tanpa Takara sadari, di Seoul, Jake terus-menerus mengecek status online sahabatnya itu dengan perasaan gelisah yang tidak bisa ia jelaskan. Ada firasat aneh yang merayapi hatinya, sesuatu yang lebih menakutkan daripada jadwal konser dunia sekalipun.

"Senang kenalan sama lo secara langsung, karena jujur... gue selalu takut buat kenalan sama orang Asia," kata William jujur. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak sedikit canggung. "Gue selalu mikir kalian punya dunia sendiri yang tertutup, atau mungkin gue takut salah bicara."

Takara tersenyum tipis, mengerti betul stigma itu. Ia meletakkan cangkirnya, merasa sedikit lebih rileks. "Gak usah takut, gue welcome aja. Gue cuma... seringnya bingung mau memulai pertemanan darimana. Di sini semua orang kelihatan sangat sibuk dengan dunianya masing-masing."

"Well, sekarang lo nggak perlu bingung lagi," William mencondongkan tubuhnya ke depan, memberikan kesan protektif sekaligus mengundang. "Gue tahu tempat-tempat tersembunyi di kota ini yang nggak ada di buku panduan turis. Dari perpustakaan tua dengan arsitektur gotik sampai kedai kopi yang pemandangannya langsung ke kincir angin asli."

Ia kemudian mengeluarkan ponselnya, menyodorkannya ke arah Takara.

"Kalau lo butuh teman buat keliling Amsterdam dan sekitarnya, text me aja," ucap William sambil mengedipkan sebelah mata.

Takara menerima ponsel itu, jemarinya mengetikkan nomor teleponnya dengan ragu yang mulai memudar. Untuk sesaat, ia lupa pada tumpukan pesan dari Seoul yang belum sempat ia buka. Ia lupa bahwa dunianya biasanya hanya berputar pada layar 6 inci yang menampilkan wajah seorang idol bernama Jake.

Malamnya, di atas houseboat yang bergoyang pelan mengikuti arus sungai, Takara akhirnya membuka ponselnya. Ada 12 panggilan tak terjawab dari Jake dan puluhan pesan yang nada bicaranya semakin lama semakin terdengar cemas.

Jake: Ra, lo ke mana sih?

Jake: Gue baru aja selesai syuting konten. Capek banget. Gue butuh denger suara lo.

Jake: Lo marah sama gue? Soal apa? Gue ada salah ngomong ya?

Takara menggigit bibir bawahnya. Ia merasa bersalah, tapi di sisi lain, ada perasaan aneh yang mekar di dadanya, sebuah perasaan merdeka. Untuk pertama kalinya, harinya tidak hanya berisi tentang Jake. Harinya punya cerita sendiri, tentang seorang pria bernama William yang memujinya jenius.

Takara mulai mengetik:

Takara: Sorry baru balas. Tadi ada kejadian di kampus, gambar gue berantakan karena ditabrak orang. Namanya William, dia anak arsitektur juga. Tadi kita sempat ngopi sebentar. Lo istirahat ya, jangan begadang terus.

Takara menekan tombol send dan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu ia beralih ke jendela, menatap lampu-lampu kota Amsterdam yang berpendar di atas air.

Di Seoul, Jake yang baru saja hendak merebahkan diri di tempat tidur, langsung terduduk tegak saat membaca pesan itu. Matanya terpaku pada satu nama: William.

"Ditabrak? Ngopi? Siapa si William ini?" gumam Jake pelan. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia harus melakukan high note di atas panggung. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyerang, lebih dingin daripada musim dingin di Seoul.

Jake menyadari satu hal yang menakutkan: Jarak Amsterdam dan Seoul ternyata jauh lebih lebar daripada yang ia bayangkan selama ini. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa Takara tidak lagi berada dalam genggamannya.

Satu pesan masuk dari William, berisi ajakan untuk pergi ke desa Zaanse Schans.

Ia segera membalas pesan William:

Takara: "Gue mau banget! Gue udah lama pengen ke sana tapi nggak ada teman yang paham arsitektur buat diajak diskusi. See you on Saturday!"

Persetujuan itu terasa seperti sebuah pernyataan kemerdekaan kecil bagi Takara.

Namun, tepat setelah ia menaruh ponselnya, layar itu kembali menyala. Sebuah panggilan video dari Seoul. Jake.

Takara ragu sejenak. Biasanya, ia akan langsung mengangkatnya dengan riang, tapi kali ini ada beban rahasia di pundaknya. Ia pun menggeser tombol hijau.

"Ra! Kok lama banget diangkat?" Wajah Jake muncul di layar. Ia tampak sudah berada di dalam mobil, sepertinya sedang dalam perjalanan pulang dari jadwal malam.

Wajahnya terlihat letih, tapi matanya mencari-cari sosok Takara dengan intens.

"Eh, baru selesai beresin sketsa buat besok, Jake," jawab Takara, sedikit berbohong.

"Lo kelihatan... seneng banget? Ada apa?" selidik Jake. Insting seorang sahabat, atau mungkin insting seorang laki-laki yang merasa posisinya terancam, memang tidak pernah salah.

"Oh, itu... sabtu besok gue mau ke Zaanse Schans. William, cowok yang gue ceritain tadi, ngajak ke sana. Katanya arsitektur kincir angin di sana luar biasa," jelas Takara dengan nada riang yang jujur.

Senyum di wajah Jake mendadak membeku. Ia terdiam selama beberapa detik, hanya suara deru mesin mobil yang terdengar di latar belakang.

"Zaanse Schans? Sama... cowok itu lagi?" suara Jake merendah. "Bukannya lo bilang lo mau ke sana sama gue nanti kalau gue ada waktu libur?"

Takara tertegun. "Jake, jadwal lo itu nggak pasti. Gue nggak tahu kapan lo bisa ke sini. Mungkin tahun depan, atau dua tahun lagi. Gue nggak bisa terus-menerus nunggu, kan?"

"Tapi, Ra…" Jake memutus kalimatnya sendiri. Ia ingin melarang. Ia ingin mengatakan 'Jangan pergi sama dia'. Tapi hak apa yang ia punya? Ia adalah sahabat yang berada ribuan kilometer jauhnya, terikat kontrak, dan hanya bisa menyapa lewat sinyal digital.

"Hati-hati di sana," ucap Jake akhirnya, suaranya terdengar hambar dan terluka.

"Jangan lupa kirim foto kincir anginnya... tapi jangan ada foto dia di dalamnya."

Jake mematikan sambungan secara sepihak. Di dalam mobil yang gelap, ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap lampu-lampu Seoul yang mendadak terasa sangat menyilaukan dan kesepian. Sementara di Amsterdam, Takara menatap ponselnya dengan perasaan bersalah yang mulai menggerogoti antusiasmenya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!