NovelToon NovelToon
Pedang Penakluk Langit

Pedang Penakluk Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Lorong Niat Pedang dan Boneka Perunggu

Suara gerbang batu raksasa yang menutup di belakang punggung Ye Yuan terdengar seperti dentuman palu hakim yang memvonis nasibnya.

BUM!

Kegelapan total menyelimuti. Namun, bagi seorang kultivator di Tingkat Sembilan, kegelapan bukanlah halangan berarti. Ye Yuan mengalirkan sedikit Qi ke matanya, dan pandangannya menembus pekatnya ruangan itu.

Dia berada di sebuah aula panjang yang terbuat dari batu hitam dingin. Dinding-dindingnya dipenuhi lumut yang memancarkan cahaya biru redup (phosphorescent moss), memberikan kesan angker namun agung.

Udara di sini kering dan mati. Tidak ada angin, tapi Ye Yuan merasakan kulitnya perih.

"Aura ini..." Ye Yuan meraba pipinya. Ada goresan halus di sana, seolah baru saja disayat silet tak kasat mata.

Itu adalah Niat Pedang (Sword Intent).

Sisa-sisa keinginan bertarung yang ditinggalkan oleh pemilik makam ini ribuan tahun lalu masih tertinggal di udara, begitu padat hingga memadat menjadi bilah-bilah angin mikroskopis.

Jika orang biasa masuk ke sini, mereka akan dicincang menjadi daging giling dalam hitungan detik. Bahkan kultivator tingkat rendah pun akan kesulitan bernapas.

Tapi Ye Yuan?

Sudut bibirnya terangkat. Pedang patah di tangannya bergetar, memancarkan dengungan rendah yang menyerap Niat Pedang liar itu. Bagi Sutra Asura, tempat ini seperti kolam air panas yang menyegarkan.

"Raja Pedang Langit... siapa pun kau, sambutanmu cukup hangat," gumam Ye Yuan.

Dia melangkah maju.

Setiap langkah yang diambilnya meningkatkan tekanan di udara.

sepuluh langkah... Tekanannya seperti membawa ransel batu.

Lima puluh langkah... Tekanannya seperti ditusuk jarum di sekujur tubuh.

Seratus langkah... Tekanannya seperti berjalan melawan badai pisau.

Pakaian Ye Yuan mulai robek-robek lagi. Kulitnya yang sekeras baja mulai mengeluarkan darah dari pori-pori. Namun, Ye Yuan tidak berhenti. Dia justru memejamkan mata, membiarkan rasa sakit itu menempanya.

Dia menggunakan tekanan Niat Pedang eksternal ini untuk memadatkan Qi di dalam tubuhnya. Qi Tingkat Sembilan miliknya yang tadinya masih agak liar karena lonjakan level yang cepat, kini dipaksa memadat, menjadi lebih murni dan berat.

"Terus... tekan aku lebih keras!" batin Ye Yuan.

Setelah berjalan hampir satu jam melawan badai tak kasat mata itu, Ye Yuan tiba di ujung aula.

Di sana, sebuah ruangan bundar yang luas menanti. Di tengah ruangan, terdapat sebuah panggung batu. Dan di atas panggung itu, berdiri sesosok "orang".

Bukan manusia.

Itu adalah Boneka Perunggu (Bronze Puppet) setinggi dua meter. Tubuhnya terbuat dari logam kuno yang penuh goresan, memegang pedang besar berkarat di tangan kanannya. Matanya hanyalah dua lubang kosong yang gelap.

Namun, begitu kaki Ye Yuan menyentuh lantai ruangan bundar itu, api biru menyala di dalam rongga mata boneka itu.

Kreeek...

Suara engsel logam berkarat yang dipaksa bergerak terdengar ngilu. Boneka itu memutar kepalanya ke arah Ye Yuan.

"Penantang..." suara mekanis yang parau bergema dari dalam tubuh boneka itu, seolah berasal dari rekaman ribuan tahun lalu. "Tunjukkan... kelayakanmu."

WUSH!

Tanpa aba-aba, boneka itu menerjang.

Cepat! Sangat cepat!

Ye Yuan terbelalak. Boneka logam seberat itu bergerak seringan kapas. Pedang besarnya menebas horizontal, mengincar leher Ye Yuan.

Ye Yuan mengangkat pedang patahnya untuk menangkis.

TRAAANG!

Ye Yuan terdorong mundur lima langkah, kakinya menyeret di lantai batu. Tangannya mati rasa. Kekuatan fisik boneka ini setara dengannya—mungkin lebih kuat! Ini adalah kekuatan Puncak Tingkat Sembilan, selangkah lagi menuju Pembentukan Fondasi.

"Benda mati ini punya tenaga badak!" umpat Ye Yuan.

Boneka Perunggu tidak kenal lelah, tidak kenal sakit, dan tidak kenal ampun. Ia memutar pedangnya dan melancarkan serangan bertubi-tubi.

Clang! Clang! Clang!

Setiap benturan menciptakan percikan api yang menerangi ruangan gelap itu.

Ye Yuan terus didesak mundur. Dia menyadari satu hal yang fatal: Teknik boneka ini jauh lebih baik darinya.

Ye Yuan selama ini bertarung mengandalkan insting binatang, kecepatan, dan kekuatan kasar Sutra Asura. Tapi boneka ini? Ia menggunakan Teknik Pedang yang sesungguhnya. Gerakannya efisien, mengalir, tanpa celah, dan mematikan. Setiap tebasan boneka itu mengandung pemahaman pedang yang dalam.

"Dia tidak hanya kuat... dia ahli pedang!"

Sreeet!

Pedang boneka itu berhasil menembus pertahanan Ye Yuan, menggores bahu kirinya cukup dalam. Darah segar menetes ke lantai.

"Sial!" Ye Yuan melompat mundur, menggunakan Langkah Hantu Asura untuk menciptakan jarak.

Tapi boneka itu tidak tertipu. Ia menghentakkan kakinya, lantai batu pecah, dan ia meluncur mengejar Ye Yuan seperti peluru meriam.

"Mati!" Boneka itu menusuk lurus ke jantung Ye Yuan.

Di saat kritis itu, Ye Yuan membuang semua kepanikan. Dia memejamkan mata sesaat. Dia ingat kata-kata yang terukir di Sutra Asura.

Pedang bukanlah alat. Pedang adalah perpanjangan tangan. Jangan melawan arus, jadilah arus itu sendiri.

Pedang patah di tangan Ye Yuan mendadak terasa ringan. Ye Yuan tidak mencoba menangkis tusukan boneka itu dengan kekuatan kasar lagi.

Dia memiringkan tubuhnya sedikit, membiarkan pedang besar boneka itu lewat hanya satu inchi dari dadanya.

Lalu, Ye Yuan memutar pergelangan tangannya.

Pedang patahnya "menempel" pada sisi pedang boneka itu, lalu dengan sentakan lembut namun bertenaga, dia menggeser arah serangan boneka itu ke samping.

[Parry / Tangkisan Mengalir]

Keseimbangan boneka itu terganggu karena serangannya meleset.

"Sekarang!"

Mata Ye Yuan terbuka lebar, ungu menyala.

Dia mengalirkan seluruh Qi ke kaki kanannya, lalu meledakkannya untuk berputar di udara.

[Tebasan Pembelah Gunung - Variasi Horizontal]

Ye Yuan menebas leher boneka itu dengan kekuatan penuh, ditambah momentum putaran tubuhnya.

KRAAAK!

Suara logam sobek terdengar mengerikan.

Kepala perunggu boneka itu terlempar ke udara, berputar-putar sebelum jatuh menggelinding di lantai.

Tubuh boneka itu membeku. Pedang besarnya jatuh berdenting. Api biru di matanya padam.

Ye Yuan mendarat dengan napas tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi punggungnya. Itu pertarungan yang sangat berbahaya. Jika dia terlambat setengah detik saja, jantungnya yang akan tertusuk.

"Aku menang..."

Tiba-tiba, dari potongan leher boneka itu, tidak keluar darah atau oli. Yang keluar adalah seberkas cahaya putih.

Cahaya itu melayang di udara, lalu melesat masuk ke dahi Ye Yuan sebelum dia sempat menghindar.

"Argh!" Ye Yuan memegangi kepalanya.

Informasi membanjiri otaknya. Bukan teknik kultivasi, melainkan sebuah Seni Pedang.

[Tiga Langkah Pedang Kilat]

Tingkat: Misteri Tinggi (Bisa berevolusi)

Deskripsi: Teknik pedang yang mengutamakan kecepatan ledakan dalam jarak dekat. Tiga langkah, tiga tebasan, satu nyawa.

Ye Yuan tertegun. Seni Pedang Tingkat Misteri Tinggi?!

Di Sekte Pedang Surgawi, teknik tingkat ini hanya boleh dipelajari oleh Murid Inti Peringkat Atas atau para Tetua! Teknik yang dia gunakan selama ini hanyalah gerakan kasar tanpa nama. Dengan teknik ini, kemampuan tempurnya akan melonjak drastis.

"Hadiah yang bagus," Ye Yuan tersenyum puas.

Dia memeriksa sisa tubuh boneka itu. Bahannya terbuat dari Perunggu Roh Kuno. Keras dan tahan lama.

Ye Yuan menyentuhkan pedang patahnya ke tubuh boneka itu. "Makanlah. Ini camilan enak."

Pedang Asura dengan senang hati menyerap esensi logam dari boneka itu hingga boneka tersebut berubah menjadi rongsokan rapuh. Pedang Ye Yuan kini terasa semakin padat, karatnya berkurang lagi sekitar sepuluh persen.

"Ayo lanjut," kata Ye Yuan.

Dia berjalan menuju pintu batu di seberang ruangan. Pintu itu terbuka otomatis setelah boneka penjaganya hancur.

Namun, sebelum Ye Yuan melangkah masuk, telinganya yang tajam menangkap suara dari arah pintu masuk utama—tempat dia datang tadi.

Suara langkah kaki. Banyak. Dan cepat.

"Cepat! Pintunya terbuka!" teriak seseorang di kejauhan.

"Aura pedang di sini sangat kuat! Pasti ada warisan Raja Pedang!"

"Hati-hati, ada jejak pertempuran. Seseorang sudah masuk lebih dulu!"

Ye Yuan mengerutkan kening. Wajahnya menjadi dingin.

Rupanya, saat dia membuka gerbang utama dengan pedangnya, fenomena alam itu menarik perhatian orang-orang yang sedang berburu di sekitar Pegunungan Binatang Buas.

"Tamu tak diundang," desis Ye Yuan. "Dan dari auranya... ada beberapa Tingkat Sembilan."

Ye Yuan tidak punya waktu untuk meladeni mereka. Dia harus mencapai inti makam sebelum orang lain.

Dia melesat masuk ke pintu berikutnya, menghilang ke dalam kedalaman makam yang semakin gelap.

Di Luar Gerbang Makam.

Sekelompok kultivator berjubah hijau mendarat di depan pintu gerbang batu. Di dada mereka terbordir lambang ular melingkar.

Sekte Ular Hijau. Sekte saingan dari wilayah tetangga.

Pemimpin mereka adalah seorang pemuda tampan namun berwajah licik, memegang kipas lipat dari tulang. Matanya menyipit melihat sisa-sisa boneka perunggu yang hancur di aula depan.

"Lihat ini," kata pemuda itu, menunjuk potongan kepala boneka. "Potongannya kasar tapi kuat. Siapapun yang ada di depan kita, dia menggunakan senjata berat dan memiliki kekuatan fisik monster."

"Tuan Muda Ular, apa kita kejar?" tanya anak buahnya.

"Tentu saja," pemuda itu tersenyum tipis. "Biarkan dia membersihkan semua perangkap untuk kita. Saat dia lelah melawan penjaga terakhir... kita akan membunuhnya dan mengambil warisannya."

Dia menutup kipasnya dengan bunyi plak.

"Ayo. Jangan biarkan tikus itu lari membawa keju kita."

Mereka bergerak masuk, tidak menyadari bahwa tikus yang mereka kejar... adalah seekor naga muda yang sedang lapar.

[Bersambung ke Bab 14]

1
Nanik S
pergi ke Benua Timur
Nanik S
Ronde dua pembantaian
Nanik S
Sial benar mereka berdua
Nanik S
apakah Ye Yuan dan Mu Bingyun bisa lolos dari mereka
Nanik S
Mu Bingyun peka sekali
Nanik S
Ye Yusn licin seperti belut
Nanik S
Bisakah Yuan selamat
Nanik S
Mu Bingyun... apakah Ye Chen akan pulang bersama Mu Bingyun
Nanik S
Kenapa tidak diambil cincin Komandan Zhu
Nanik S
Ye Chen.... jangan biarkan mereka membunuh Kakek Gu dan Jin Jinoi
Nanik S
Akirnya pedangnya yang patah kini telah utuh
Nanik S
Maaantap
Nanik S
Yuan ada saja.. ngakak main petak umpet di Neraka 🤣🤣🤣
Nanik S
Ternyata kota itu adalah Kuburan para Dewa dan Iblis
Nanik S
Perjalan baru di reruntuhan kuno
Nanik S
Harusnya menemui Tetua Mu
Nanik S
Mantap Tor... 👍👍👍
Nanik S
Semua masuk jebakan Yuan
Nanik S
Makin seru Tor
Nanik S
Shiiiip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!