NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Badai di Galuh Pakuan dan Jatuhnya Para Dewa

Kapal Jati Langit membelah samudra dengan kecepatan yang melampaui logika manusia, meninggalkan sisa-sisa Lautan Kematian yang kini mulai diterangi oleh cahaya matahari yang murni.

Di atas geladak, suasana tidak lagi mencekam seperti sebelumnya, namun ketegangan baru mulai merayap di hati setiap orang.

Ranu Wara duduk bersila di haluan kapal, matanya yang berwarna perak keemasan menatap jauh ke ufuk utara, ke arah daratan utama yang dikenal sebagai Kerajaan Galuh Pakuan, pusat peradaban manusia sekaligus titik temu antara energi bumi dan langit.

Dengan bangkitnya Bintang Kedelapan, persepsi Ranu terhadap dunia telah berubah sepenuhnya. Ia tidak lagi hanya melihat bentuk fisik, melainkan jalinan benang takdir yang menghubungkan setiap makhluk hidup.

Di matanya, langit di atas Galuh Pakuan tampak seperti kain yang sobek besar, di mana ribuan meteor cahaya jatuh menghujam bumi. Namun, meteor-meteor itu bukanlah batu angkasa, melainkan para dewa dari Sembilan Langit yang kehilangan kemuliaannya, jatuh dalam keadaan terinfeksi oleh virus kehampaan yang disebarkan oleh Amangkrat.

"Ranu, kau sejak tadi terdiam. Apakah beban Bintang Kedelapan itu terlalu berat untuk wadah manusiamu?" tanya Nara yang kini berdiri di sampingnya dengan busur baru yang ia bentuk dari kepadatan energi roh.

Ranu menoleh, memberikan senyuman tipis yang menyembunyikan kekhawatiran yang mendalam.

"Bintang ini tidak berat, Nara. Ia justru memberikan kehangatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Namun, yang kulihat di depan sana adalah sebuah tragedi. Amangkrat telah mengubah Alam Dewa menjadi sarang wabah. Rekan-rekanku, para jenderal langit yang dulu bersamaku menjaga keteraturan, kini jatuh ke bumi sebagai monster yang haus akan energi kehidupan."

Pangeran Lingga mendekat, tangannya menggenggam hulu pedang Candra Kirana yang kini telah bermutasi menjadi pedang dengan pola bintang di bilahnya.

"Jika mereka adalah dewa, apakah pedang manusia sepertiku sanggup melukai mereka? Aku tidak ingin menjadi beban saat kita sampai di Galuh Pakuan."

Ranu berdiri, menepuk bahu Lingga dengan akrab.

"Dewa yang jatuh tidak lagi memiliki perlindungan langit. Mereka kini memiliki raga fana yang bisa terluka. Justru pedangmu, yang memiliki niat tulus untuk melindungi manusia, adalah racun bagi mereka. Kita tidak akan melawan dewa, Lingga. Kita akan membebaskan mereka dari penderitaan yang ditanamkan Amangkrat."

Saat kapal mendekati daratan Galuh Pakuan, pemandangan yang menyambut mereka sangat mengerikan. Ibu kota kerajaan yang dikenal sebagai Kota Sejuta Bunga itu kini diselimuti oleh kabut ungu yang beracun.

Jeritan rakyat terdengar dari kejauhan, bersahutan dengan dentuman keras setiap kali sesosok dewa jatuh menghantam tanah. Kota itu kini menjadi medan pertempuran antara prajurit kerajaan yang putus asa dan entitas surgawi yang telah gila.

Ranu melompat dari kapal sebelum menyentuh dermaga, diikuti oleh Nara dan Lingga.

Begitu kaki mereka menyentuh tanah, gelombang energi gelap mencoba menyerang kesadaran mereka, namun aura dari Bintang Kedelapan milik Ranu menciptakan lingkaran perlindungan emas yang tak tertembus.

"Kita harus menuju istana utama," ucap Ranu dengan nada tegas. "Amangkrat sedang mencoba menggunakan Pilar Jagat di bawah istana Galuh Pakuan untuk menarik seluruh energi bumi ke Langit Kesepuluh. Jika itu terjadi, dunia fana ini akan menjadi sekam yang kering."

Di tengah jalan menuju istana, mereka dihadang oleh sesosok raksasa dengan zirah emas yang sudah retak dan berkarat.

Mata raksasa itu memancarkan cahaya ungu yang liar, dan di tangannya ia memegang gada petir yang mengeluarkan percikan api hitam.

"Itu... Jenderal Guntur?" bisik Ranu dengan nada sedih. "Dia adalah salah satu penjaga gerbang langit yang paling setia."

Jenderal Guntur meraung, suaranya menggetarkan bangunan di sekitarnya. Ia mengayunkan gadanya, menciptakan badai petir hitam yang menyambar ke arah mereka. Lingga bergerak maju, menggunakan teknik gerak cepat yang diajarkan Ranu untuk membelah sambaran petir tersebut.

"Lingga, jangan bunuh dia! Serang titik di tengah dahinya, di sana tempat parasit itu bersembunyi!" teriak Ranu.

Lingga melesat ke udara, tubuhnya berputar seperti gasing perak. Dengan satu tusukan presisi, ujung pedang Candra Kirana menghantam dahi Jenderal Guntur.

Sebuah ledakan energi hitam keluar dari luka tersebut, dan sesosok makhluk menyerupai kelabang transparan terlempar keluar, yang segera dibakar habis oleh panah cahaya milik Nara.

Raksasa itu jatuh berlutut, cahaya ungu di matanya memudar, digantikan oleh warna putih yang tenang. "Wira... Candra... terima kasih..." bisiknya sebelum tubuhnya menguap menjadi butiran cahaya dan kembali ke alam semesta.

"Kita harus bergerak lebih cepat!" Ranu memimpin pelarian menembus kota yang hancur.

Sesampainya di gerbang istana, mereka melihat pemandangan yang jauh lebih gawat. Amangkrat berdiri di atas puncak menara tertinggi, memegang sebuah tongkat yang terbuat dari tulang dewa.

Di bawahnya, ribuan dewa jatuh lainnya sedang mengepung sebuah segel cahaya yang melindungi Raja Galuh Pakuan dan keluarganya.

"Lihatlah, Wira Candra!" teriak Amangkrat dari ketinggian, suaranya bergema di seluruh penjuru kota. "Kau datang tepat waktu untuk melihat kejatuhan kerajaan manusia terakhir! Dengan Pilar Jagat ini, aku tidak lagi butuh tujuh bintangmu. Aku akan menciptakan langit baru di mana aku adalah pencipta sekaligus penghancurnya!"

Amangkrat menghentakkan tongkatnya, dan bumi Galuh Pakuan mulai terbelah. Dari dalam retakan itu muncul akar-akar hitam raksasa yang mulai membelit pilar emas yang menyangga keseimbangan dunia.

Ranu menatap kedua sahabatnya. "Lingga, Nara, aku butuh kalian untuk menahan para dewa jatuh itu. Jangan biarkan mereka mendekati pilar. Aku akan naik ke atas dan menghadapi Amangkrat sekali dan untuk selamanya."

"Hati-hati, Ranu," ucap Nara pelan sambil menyiapkan seribu anak panah cahaya di punggungnya.

"Jangan khawatir," Ranu menyeringai, namun kali ini ada kilat otoritas yang tak tergoyahkan di matanya. "Aku punya janji nasi jagung yang belum lunas, ingat? Aku tidak akan membiarkan kiamat ini menghalangi makan malamku."

Ranu melesat naik, bukan dengan tangga atau sayap, melainkan dengan menginjak udara yang mengeras di bawah kakinya. Di puncaknya, Amangkrat sudah menunggunya dengan senyum kemenangan yang menjijikkan.

Namun, Amangkrat menyadari sesuatu yang berbeda pada Ranu. Aura pemuda itu tidak lagi hanya berasal dari langit, melainkan berakar kuat pada bumi.

"Bintang Kedelapan?" Amangkrat menyipitkan mata, ada nada ketakutan dalam suaranya. "Bagaimana mungkin seorang dewa bisa membangkitkan kekuatan yang hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar fana?"

"Karena aku bukan lagi sekadar dewa yang kau khianati, Amangkrat," jawab Ranu sambil melepaskan syal birunya dan membiarkannya melayang tertiup angin kencang.

"Aku adalah anak dari Ki Garna dan Nyai Sumi. Aku adalah teman dari Lingga dan Nara. Dan aku adalah wira bagi mereka yang kau injak-injak."

Ranu merentangkan tangannya, dan untuk pertama kalinya, kedelapan bintang di punggungnya menyatu menjadi satu lingkaran cahaya besar yang menyerupai matahari di belakang kepalanya. "Sekarang, mari kita lihat apakah keabadianmu sanggup menahan beratnya kasih sayang manusia."

Pertempuran terakhir di puncak dunia pun pecah, menandai awal dari kehancuran Langit Kesepuluh atau kelahiran kembali jagat raya yang lebih baru dan lebih adil.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!