Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup Baru, Luka Lama
Tiga minggu telah berlalu sejak Bima pindah ke Universitas Sanata Dharma. Tiga minggu yang terasa seperti tiga tahun. Kos barunya di daerah Demak yang arah dekat kampus baru nya masih sama kecil dengan kos sebelumnya—kamar 2x3 meter dengan satu jendela kecil menghadap ke lorong sempit. Tapi cukup untuknya memulai hidup baru.
Pagi itu, Bima bangun pukul 5 seperti biasa. Ia memakai kemeja batik lengan panjang—pemberian Dr. Hartono—dan celana bahan hitam yang sudah mulai lusuh. Di cermin kecil di dinding, ia menatap wajahnya. Lingkaran hitam masih ada di bawah mata, tapi tidak separah dulu. Rambut ikalnya sedikit lebih panjang, menutupi mata nya.
"Kamu bisa," bisiknya pada diri sendiri.
Sanata Dharma terasa berbeda dari UGM. Lebih kecil, lebih tenang, dengan mahasiswa yang kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. Bima sering merasa jadi tontonan—mahasiswa pindahan dengan penampilan sederhana yang langsung jadi asisten penelitian dosen.
Tapi ia tidak peduli. Fokusnya hanya satu: kuliah dan bekerja.
---
Di kantin kampus, jam istirahat siang, Bima duduk sendiri di meja pojok. Ia membuka buku, makan nasi bungkus seadanya sambil membaca jurnal untuk project AI Dr. Hartono.
"Bim, boleh gabung?"
Bima mengangkat kepala. Tasya berdiri di hadapannya dengan nampan berisi makanan.
Hari ini Tasya sengaja datang dari UGM untuk menemui Bima dengan tampilan berbeda—tidak berdandan menor seperti dulu. Cukup jilbab pink pastel dan kemeja putih longgar. Wajahnya menunjukkan keraguan, seolah takut ditolak.
Bima mengangguk. "Boleh."
Tasya duduk, meletakkan nampannya. Ia tersenyum kecil. "Makasih."
Bima kembali ke bukunya. Suasana hening beberapa saat. Tasya tampak berjuang mencari kata.
"Bim, gue tahu lo mungkin masih sebel sama gue," mulai Tasya pelan. "Dulu gue suka sama lo dengan cara yang salah. Nyebar gosip, coba hancurin hubungan lo sama Kay. Itu... itu keterlaluan. Gue minta maaf."
Bima menatapnya sebentar. Ekspresinya datar. "Udah lewat."
Tasya menghela napas lega. "Makasih. Gue nggak nyangka lo mau maafin gue."
"Gue nggak maafin. Tapi gue nggak mau pikirin terus."
Tasya tersenyum pahit. "Fair enough." Ia diam sebentar, lalu melanjutkan. "Bim, lo tahu Pak Hartono itu pamanku?"
Bima mengerutkan kening. "Paman?"
"Iya. Dia adiknya mamaku. Gue yang minta dia bantu lo." Tasya menunduk.
"Gue tahu, mungkin lo pikir ini cuma cara gue buat deketin lo lagi. Tapi sumpah, Bim, kali ini gue tulus. Gue lihat lo jatuh, dan gue nggak tega. Lo nggak pantas dapat perlakuan kayak gitu."
Bima diam. Pikirannya berputar. Jadi Tasya di balik semua ini—beasiswa, pekerjaan, kesempatan baru. Tapi ia tidak tahu harus merasa apa.
"Kenapa?" tanyanya akhirnya.
"Karena gue sadar, Bim. Cara gue dulu salah. Lo sama Kay itu... nyata. Gue cuma iri. Dan rasa iri itu bikin gue jadi orang jahat."
Tasya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Gue nggak minta lo percaya sekarang. Tapi gue mau berubah. Jadi orang yang lebih baik."
Bima menatapnya lama. Ada ketulusan di mata Tasya—atau setidaknya, ia memilih untuk percaya.
"Makasih," katanya singkat.
Tasya tersenyum—bukan senyum genit, tapi senyum lega. "Sama-sama. Oh iya, om juga bilang lo pinter banget. Katanya project AI lo maju pesat."
Bima mengangkat bahu. "Masih banyak yang harus dipelajari."
Mereka makan dalam diam yang lebih nyaman. Sesekali Tasya bertanya tentang tugas, Bima menjawab singkat. Tidak ada genit-genitan, tidak ada usaha mendekat. Hanya dua orang yang makan bersama.
---
Selesai makan, mereka berjalan keluar kantin. Di depan pintu, seorang cewek berambut panjang dengan dandanan sempurna menghampiri. Laras, senior di jurusan desain, terkenal cantik dan populer.
"Bima, kan? Anak baru?" sapa Laras dengan senyum manis.
Bima menatapnya. "Iya."
"Aku Laras, senior di desain. Denger-denger lo anak baru pindahan UGM yang jago coding? Aku lagi butuh temen buat bikin website portfolio. Lo tertarik?"
Bima menjawab datar, "Sibuk."
Laras terkejut. Biasanya laki-laki langsung antusias padanya. "Ah, bentar aja. Kita bisa diskusi sambil ngopi. Aku traktir."
"Nggak bisa."
Tasya mencubit lengan Bima pelan. "Bim, orang baik-baik nawarin."
Bima menatap Tasya datar. "Gue sibuk."
Laras tersenyum canggung. "Oke... lain kali kalau lo ada waktu." Ia pergi dengan sedikit tersinggung.
Tasya menghela napas. "Bim, lo tuh cuek banget. Dia cuma mau kenalan."
"Gue nggak butuh kenalan."
"Tapi—"
"Tasya, gue di sini buat kuliah dan kerja. Bukan buat cari temen atau pacar." Bima melangkah pergi.
Tasya menatap punggungnya dengan iba. Ia tahu Bima masih terluka. Dan lukanya dalam.
---
Yang tidak diketahui Bima, di balik kepergian Laras, ada sepasang mata yang memperhatikan dengan tajam. Gerry—atlet taekwondo kampus, ngakunya pacar Laras—melihat semuanya dari kejauhan. Ia melihat Laras tersenyum pada Bima, lalu ditolak dingin. Tapi yang ia tangkap bukan penolakan, melainkan Laras yang "dihina".
Sore harinya, Bima berjalan menuju perpustakaan. Di lorong sepi dekat gedung olahraga, tiba-tiba ia dihadang tiga orang. Gerry di depan, dengan dua temannya di belakang.
"Lo Bima?" tanya Gerry dengan nada menantang.
Bima berhenti. "Iya."
"Lo yang tadi siang nolak Laras di kantin?"
Bima mengingat. Laras? Senior tadi? "Iya."
Gerry mendekat, wajahnya merah. "Lo pikir lo siapa? Nolak-nolak cewek gue? Nggak tahu diri!"
Bima tetap tenang. "Gue cuma bilang sibuk. Nggak nolak."
"Sok sibuk lo! Lo tahu Laras itu siapa? Dia cewek gue! Dan lo bikin dia malu di depan umum!"
Bima menghela napas. "Gue nggak ada niat—"
Belum sempat kalimatnya selesai, tinju Gerry melayang ke wajah Bima. Bima jatuh, tubuhnya terpental. Darah mengalir dari bibirnya.
"Jangan macam-macam sama Laras! Atau gue hajar lo tiap hari!" Gerry menendang perut Bima.
Bima meringkuk, mencoba melindungi kepala. Tendangan dan pukulan terus menghujani. Ia terlalu lemah untuk melawan—badannya belum pulih total, ditambah tenaganya terkuras seharian.
"Gerry! STOP!"
Suara Laras memecah keheningan. Ia berlari dari kejauhan, menghambur ke arah mereka. Dua teman Gerry mencoba menghalangi, tapi laras menerobos.
"Apa-apaan lo! Berhenti!" Laras mendorong Gerry.
Gerry terkejut, mundur selangkah. "Laras? Ini urusan gue!"
"Urusan apa? Mukulin orang nggak bersalah?" Laras berlutut di samping Bima. Wajahnya pucat melihat luka-luka Bima.
"Dia nolak Lo Laras! Bikin malu!"
"Dia cuma bilang sibuk! Itu bukan dosa!" Laras berteriak. "Lo pikir lo bisa main hakim sendiri? Gue lapor rektorat, lo bisa dikeluarin!"
Gerry terperanjat. "Lo—"
"Cepet pergi sebelum gue beneran lapor!"
Gerry mendengus, lalu pergi dengan kedua temannya. Laras segera membalikkan Bima, memeriksa lukanya. Wajah Bima lebam, bibir pecah, darah di mana-mana.
"Hei Bim, lo denger gue?" Laras hampir menangis.
Bima membuka mata. Sakit, tapi ia mencoba tersenyum tipis. "Lo... Ngapain dateng."
"Bodoh! Lo kenapa nggak lawan?"
"Nggak... ada tenaga."
Laras menghela napas. "Tunggu, gue panggil ambulans."
"Jangan." Bima memegang tangannya. "Nggak... usah. Gue... pulang aja."
"Bim—"
"Tolong... anter gue pulang."
Laras menatapnya ragu, lalu mengangguk. Ia membantu Bima berdiri, menyandarkannya di bahunya. Perlahan mereka berjalan keluar kampus, menuju kos Bima.
---
Di kos, Laras membersihkan luka Bima dengan hati-hati. Wajah Bima babak belur, tapi ia tidak mengeluh. Matanya kosong menatap dinding.
"Bim, lo harus lapor polisi," kata Laras sambil mengoles obat.
"Nggak."
"Tapi—"
"Gue nggak mau ribut. Udah cukup."
Laras menghela napas. “Maafin Garry, maafin gue, dia bukan pacar gue, dia cuma ngejar gue selama ini tapi gue tolakin terus.”
“Lo gak perlu jelasin apa-apa, terimakasih udah bantuin gue, besok gue akan bantuin buat website Lo, sekarang tinggalin gue sendirian”
“Tapi…”
“Lo tenang aja, gue aman”
---
Sementara di sisi lain, Kay duduk di ruang dosen pembimbing akademiknya. Wajahnya kusut, mata sembab, badan terlihat kurus. Dr. Wulan, dosen pembimbingnya, menatap dengan prihatin.
"Kay, IPK kamu semester ini turun drastis. 2.3 dari sebelumnya 3.7. Ada masalah?"
Kay menunduk. "Maaf, Bu. Saya... ada masalah pribadi."
Dr. Wulan menghela napas. "Saya tahu kamu lagi berat. Tapi kamu harus ingat, kamu punya masa depan. Jangan sampai masalah pribadi hancurin akademik kamu."
"Iya, Bu. Saya usahakan."
Setelah keluar dari ruang dosen, Kay berjalan lemas menuju kantin. Ponselnya bergetar—panggilan dari ayahnya. Ia jarang menelepon.
"Ya, Pa?"
"Kay, Papa dengar IPK kamu turun. Juga kamu perang dingin sama mama. Ada apa?" suara ayahnya berat.
Kay menarik napas. "Panjang ceritanya, Pa."
"Coba cerita. Papa di sini."
Kay duduk di taman, mulai bercerita. Tentang Bima, tentang perjuangannya, tentang ibunya yang ikut campur, tentang Bima yang pergi. Ayahnya mendengarkan tanpa memotong.
"Jadi, kamu masih sayang sama dia?" tanya ayahnya.
"Iya, Pa. Tapi dia udah pergi. Nggak tahu ke mana."
Ayahnya menghela napas. "Nak, dulu Papa juga ninggalin mama. Bukan karena nggak sayang, tapi karena Papa merasa nggak layak. Itu perasaan yang hancurin. Bima mungkin ngerasa hal yang sama."
"Tapi Pa—"
"Dia butuh waktu. Dan kamu juga butuh waktu. Tapi jangan hancurin diri kamu sendiri. IPK kamu bisa dikejar. Tapi kalo kamu sakit, nggak ada yang bisa bantu."
Kay menangis. "Aku kangen dia, Pa."
"Aku tahu, Nak. Aku tahu."
Setelah telepon selesai, Kay menatap langit. Di suatu tempat di Jogja, Bima mungkin juga melihat langit yang sama. Dan berharap, suatu hari nanti, mereka bisa bersama lagi.
---
Di kos Demak, Bima terbangun tengah malam. Wajahnya masih sakit, tapi pikirannya lebih sakit. Ia meraih dompet, mengeluarkan foto Kay yang sudah lusuh.
"Maaf," bisiknya. "Maaf gue belum bisa jadi yang layak buat lo."
Di luar, hujan turun lagi. Seperti selalu.