"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 The Rescue Mission
Malam di pinggiran Incheon tidak pernah terasa sedingin ini. Di bawah siraman lampu jalan yang remang dan rintik hujan yang mulai membasuh aspal, sebuah konvoi hitam tanpa plat nomor berhenti seratus meter dari gerbang Sektor 4. Ini bukan lagi sekadar operasi penyelamatan; ini adalah deklarasi perang dari keluarga Kim yang selama ini memilih bermain di balik layar.
Di dalam mobil komando, suasana begitu tegang hingga suara napas pun terdengar seperti beban. Keempat pria itu—Jin, Suga, RM, dan Jungkook—duduk dalam lingkaran cahaya redup dari monitor tablet yang dipegang RM. Untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, ego diletakkan di kursi belakang.
"Sektor 4 dikelilingi oleh pagar listrik tegangan tinggi dan sensor gerak inframerah," RM memulai, suaranya tenang namun tajam. "Aku sudah meretas satelit komunikasi Hansung, tapi mereka punya sistem offline cadangan. Begitu kita meledakkan gerbang, kita punya waktu tepat empat menit sebelum bala bantuan dari pusat kota tiba."
Jin mengangguk, jemarinya yang mengenakan cincin stempel keluarga Kim mengetuk meja lipat. "Dana sudah ditransfer ke tiga perusahaan keamanan swasta untuk memblokir akses jalan menuju tempat ini. Polisi tidak akan datang, dan ambulans yang siaga di sana adalah milikku. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus kukeluarkan malam ini. Ratakan tempat itu jika perlu, asal Shine kembali tanpa satu goresan pun."
Suga membuka sebuah koper logam di sampingnya. Di dalamnya berjajar suntikan berisi cairan pendar hijau dan alat pemacu saraf portabel. "Ini bukan hanya soal mengeluarkan Shine. Dia dipaksa masuk ke fase trans dengan gas bius. Sistem sarafnya mungkin sedang dalam kondisi kritis. Aku sudah menyiapkan penawar neuro-blocker. Begitu kau menemukannya, Jungkook, segera tancapkan ini di pangkal lehernya."
Jungkook tidak banyak bicara. Ia hanya menatap layar monitor yang menampilkan denah laboratorium bawah tanah. Matanya yang merah dan urat-urat yang menonjol di lengannya menceritakan kemarahan yang melampaui logika. Ia sedang memakai rompi taktis di atas kaos hitamnya, dengan berbagai pisau dan pistol Glock yang sudah siap di sarungnya.
"Aku tidak butuh rencana rumit," desis Jungkook, suaranya parau. "RM, matikan lampunya. Suga, pastikan obat itu bekerja. Jin-Hyung, pastikan tidak ada satupun dari tikus Hansung ini yang bisa melarikan diri ke luar negeri besok pagi. Sisanya... biarkan instingku yang bekerja."
"Bergerak!" perintah Jin.
Operasi Sektor 4
BUM!
Ledakan pertama menghancurkan menara pengawas. Itu adalah sinyal. RM bergerak dengan presisi seorang komandan lapangan, memimpin tim keamanan Kim yang terlatih untuk melumpuhkan penjaga luar dengan senjata berperedam. Ia bergerak seperti bayangan, memastikan rute menuju lift utama bersih dari rintangan.
"Lantai dasar bersih! Jungkook, masuk!" suara RM menggema di earpiece.
Jungkook tidak berlari; ia menerjang. Ia melewati lorong-lorong steril itu seperti badai. Saat tiga pengawal bersenjata menghadangnya di depan pintu lift, Jungkook tidak ragu. Ia merunduk di bawah rentetan peluru, menarik pisau taktisnya, dan dalam tiga gerakan efisien, ketiga pria itu tumbang tanpa sempat mengeluarkan suara tambahan.
Di dalam lift menuju bawah tanah, Jungkook bisa merasakan detak jantungnya sendiri beradu dengan frekuensi kalung "JK" yang dipakai Shine. Semakin dalam ia turun, semakin ia merasakan kepedihan yang dirasakan gadis itu.
"Suga, dia menolak penglihatannya! Aku bisa merasakannya, energinya pecah!" teriak Jungkook ke arah komunikator.
"Itu artinya dia menyiksa dirinya sendiri dengan mantra pelindung! Cepat, Jungkook! Jika otaknya mencapai titik jenuh, dia akan mengalami pendarahan hebat!" balas Suga dari mobil medis yang mulai bergerak mendekat ke pintu keluar darurat.
Pintu lift terbuka di lantai bawah tanah. Jungkook disambut oleh kabut asap dari sistem pemadam api yang bocor. Di ujung lorong, ia melihat Dr. Han yang panik mencoba menyuntikkan sesuatu ke lengan Shine yang terkulai di kursi eksperimen.
"MENJAUH DARI DIA!"
Suara Jungkook menggetarkan kaca-kaca laboratorium. Ia tidak lagi peduli pada taktik. Ia menyerbu masuk, melewati meja-meja kimia yang ia hancurkan dengan bahunya. Saat Dr. Han mengangkat pistol, Jungkook tidak menghindar. Ia menerima peluru yang menyerempet bahunya seolah itu hanya gigitan nyamuk, lalu dengan satu lompatan harimau, ia menghantam wajah dokter itu dengan popor senjatanya.
Brak!
Jungkook berlutut di depan Shine. Tangannya yang gemetar menyentuh wajah pucat gadis itu. Darah mengalir dari hidung Shine, dan matanya terpejam rapat dalam penderitaan yang bisu.
"Shine... ini aku. Jungkook di sini," bisiknya, suaranya mendadak lembut di tengah kekacauan.
Ia segera mengambil suntikan dari Suga dan menancapkannya di leher Shine. Perlahan, getaran hebat di tubuh Shine mereda. Monitor aktivitas otak yang tadinya melonjak gila kini mulai menurun perlahan, menuju garis datar yang menandakan koma dalam.
"RM, aku sudah mendapatkannya! Siapkan evakuasi!" Jungkook menggendong Shine dalam dekapan posesifnya.
Di koridor, RM dan Jin masuk dengan sisa tim keamanan. Jin tertegun melihat kondisi adiknya yang mengenaskan. Ia hendak mendekat, namun tatapan Jungkook—yang penuh dengan proteksi liar—membuatnya berhenti sejenak.
"Bawa dia ke mobil Suga. Sekarang!" perintah Jin, suaranya bergetar menahan tangis.
Jungkook berlari keluar, melewati puing-puing Sektor 4 yang kini mulai terbakar. Di luar, J-Hope dan pasukannya sudah memastikan area itu benar-benar terisolasi. Jungkook melompat ke dalam ambulans tempat Suga sudah menunggu dengan peralatan lengkap.
"Dia selamat?" tanya Jungkook, napasnya tersengal, darahnya sendiri mulai merembes ke kaos abu-abunya.
Suga memeriksa denyut nadi Shine. "Dia masuk ke fase hibernasi mental. Dia menutup dirinya sendiri untuk bertahan hidup. Dia hidup, Jungkook... tapi dia tidak akan bangun dalam waktu dekat."
Jungkook menggenggam tangan Shine, menempelkan dahi mereka satu sama lain. Ia tidak peduli pada luka tembak di bahunya atau fakta bahwa mereka baru saja menghancurkan salah satu sektor perusahaan raksasa.
"Tidurlah, Shine," bisik Jungkook. "Matahari sudah membakar semua kegelapanmu. Sekarang, biar aku yang menjagamu dalam diam."
Malam itu, Incheon menjadi saksi atas bersatunya kembali keluarga Kim yang retak demi satu tujuan. Namun bagi Jungkook, kemenangan ini terasa pahit. Ia berhasil membawa raganya kembali, tapi jiwanya—kemampuan Oracle-nya—telah mengunci diri di tempat yang bahkan tidak bisa ia jangkau.
Di kejauhan, gedung Sektor 4 meledak untuk terakhir kalinya, menghapus semua bukti eksperimen keji itu. Di dalam ambulans yang melaju kencang, Jungkook tidak melepaskan tangan Shine, bersumpah bahwa mulai hari ini, tidak akan ada lagi rencana, tidak ada lagi tugas. Hanya ada dia, dan gadis yang dunianya baru saja ia selamatkan.
...****************...