Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-22
Lalu Livia pun menceritakan tentang penyebab dirinya kehilangan keperawanan nya, bukan karena di mau tapi karena kebutuhan keluarga nya.
Setelah apa yang terjadi dua bulan yang lalu, atas kasus yang dibuat Simon, perusahaan ayahnya mengalami kerugian tak hanya akan gulung tikar melainkan ayahnya bisa saja terjerat hukuman penjara dalam kurun waktu yang sangat lama atas dugaan pengedaran obat obatan terlarang.
Sampai akhirnya entah seseorang dari mana mampu membungkam media, hingga polisi pun tak berkutik saat tengah menangani insiden uji narkoba di club malam milik keluarga nya.
Namun sayang, ternyata ayahnya memiliki kesepakatan dengan orang tersebut yakni mereka meminta dia ataupun kakaknya sebagai jamuan pesta mereka. Saat itu kakak nya kabur entah kemana dan Livia yang polos dan penyayang pergi sendiri ke tempat pesta mengganti kan kakak nya, namun sayang seribu sayang pria tersebut merupakan ketua pengedar narkoba yang memiliki sifat licik dan tanpa ia sadari saat tengah melakukan hal intim aktivitas mereka di rekam hingga pria itu menggunakan nya sebagai alat pemeras kepadanya.
"Are you okey Liv?" tanya Hajeera merasa prihatin dengan hal yang menimpa temannya.
"Maafin aku Had, aku benar benar brengsek Had, maaf maspupah aku gak tahu harus gimana lagi..." tangis Livia pun pecah seraya meminta maaf pada Hajeera dan maspupah.
"Its okey Liv..." ucap Hajeera mencoba menguatkan Livia.
"Jadi, sekarang kamu adalah alat bagi pria brengsek itu?" tanya nya
"Aku gak tahu Had, tiap kali dia mau aku harus Dateng, sampe akhirnya dia bosen sama aku dan minta kalian, terutama kamu Had,entah mereka tahu kamu dari mana seingat ku kamu tidak pernah bertemu mereka sama sekali..." ucap Livia di tengah tengah tangisnya yang terisak.
"Its okey,.. Mulai sekarang jangan temui dia lagi meskipun dia menggunakan vidio itu untuk mengancam mu..." ujar Hajeera seraya menarik nafasnya perlahan.
"Aku harus pulang, Jack bisa kamu antarkan Livia dan maspupah?" tanyanya pada Jack.
"Okey..." jawab Jack yang sedari tadi hanya diam mengamati arah pembicaraan dua anak kecil didepannya.
Sedangkan maspupah ia hanya diam saja tanpa berkomentar apapun, karena ia tahu saat vidio tarian mereka tersebar itu adalah akhir dari kesempatan nya hidup.
Jangankan vidio, jika tersebar kabar tentangnya yang ke club malam pun mungkin dirinya tidak akan pernah tahu seburuk apa masa depannya jika sekolahan sampai tahu, karena itulah maspupah lebih memilih diam, karena di sisi lain Livia adalah temannya yang selalu membantunya saat kesusahan di sisi lainnya ia juga sangat ingin memiliki masa depan yang baik untuk dirinya di masa depan.
"Semuanya baik baik ajah kos pah, kalo vidio kita bocor bukan cuman kamu yang hancur aku yang pasti lebih dulu lebur..."
"Karena itu, aku pastikan tidak ada satupun kabar burung ke luar sampai sekolahan tahu kenakalan kita, lagipula kamu di sini juga kerja, jadi jangan terlalu cemas..." ucap Hajeera pada maspupah saat berjalan menuju basement gedung tempat mobil Jack dan Demian terparkir.
Maspupah hanya tersenyum dan mengangguk ia mau tak mau harus meyakini ucapan Hajeera yang masuk akal, karena jika kabar ini tersebar keluarga Hajeera tidak akan tinggal diam.
"Antar mereka sampai rumah nya masing masing yah Jack,... Thank you..." ucap Hajeera padahal Jack masih belum bereaksi apapun.
"Ayo Dem..." ajak Hadriana yang sudah duduk lebih dulu di kursi penumpang mobil Lamborghini Demian.
Tanpa menunggu lama, Demian menyusul dan duduk di kursi pengemudi, ia memutar stir mobilnya lalu melajukan nya perlahan.
Mobil yang dikemudikan Demian pun melesat cepat membelah jalanan ibu kota yang lumayan sepi.
"Berhenti, aku ingin menikmati angin malam..." ucap jera menatap kosong ke arah samping jendela nya.
Demian yang mengerti pun menepikan mobilnya, lalu menekan tombol membuka barchetta Lamborghini miliknya.
"Apa kamu baik baik saja Had?" tanya Demian khawatir saat melihat Hadriana hanya diam mematung tanpa berbicara apapun selama perjalanan.
"Apakah ada masalah?" tanya nya lagi saat tak mendapat respon apapun dari Hadriana.
"Nothing,!" jawabnya mengedikkan bahunya dengan ekspresi yang langsung berubah mencoba untuk tetap ceria
"Menangis lah, aku tahu kamu manusia..." ucap Demian yang kaku dan tidak tahu bagaimana caranya berbicara pada seorang wanita di saat seperti ini, karena ini adalah kali pertamanya ia benar benar peduli pada wanita selain ibu nya dan adiknya.
"No! Aku tidak akan pernah menangis untuk hal yang seperti ini..."
"Apa yang harus aku tangisi? Aku tidak marah pada Livia..." ucapnya yakin.
"Lalu, apa yang membuatmu terpikiran? Apakah kamu takut dengan sesuatu yang akan terjadi?" tanya Demian memastikan.
"Tidak ada, aku tidak takut gosipku terdengar keluar, hanya saja aku tidak siap menerima kekalahan..." ucapnya melemah.
"Why? Apa yang membuatmu kalah?" tanya Demian penasaran.
"Keluarga ku kurang menyukai aku yang berada di dunia malam, apalagi jika Kakaku tahu aku keluar masuk club malam, mungkin aku akan ditendang dari rumah saat itu juga.."
"Lalu, mengapa kamu masih sering keluar masuk klub malam Had? Kamu tahu bukan itu semua memang konsekuensi nya keluar masuk club malam, lagipula apakah pemikiran kakak mu kolot, sampai sampai ke club saja di larang!" cebik Demian merasa kesal saat mendengar cerita Hadriana dengan kakaknya.
Entahlah, padahal hampir setiap hari kakak nya pergi ke sebuah club ternama meskipun ia tidak tahu club mana yang ditangi ibunya
"Entahlah mungkin karena aku adalah wanita manipulatif di mata kakak ku..." ujar Hadriana ringan lalu meminta Demian melakukan mobilnya kembali.
"Turunin aku di depan gerbang komplek xb..." pinta Hadriana.
Demian yang yang mendengar hal itu, langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
Hingga akhirnya mobilnya berhenti di depan gerbang gapura komplek.
"Thank you..." ucap Hajeera membuka pintunya lalu beranjak dari kursi dan mulai melangkah keluar.
"Semuanya baik baik saja, jadi jangan khawatir aku akan mengurus pria tadi beserta rekaman nya, dan Jack akan ikut mengurus media yang ingin publish video kalian, jadi untuk malam ini, tidur lah yang nyenyak dan akan ku pastikan kakak mu tidak akan pernah tahu kejadian ini yang akan menjadi kesalah pahaman diantara kalian..." ucap Demian tiba tiba saja yang membuat mata Hadriana berkaca kaca, ini adalah kali pertamanya seorang pria asing bertindak layaknya pahlawan untuk dirinya.
"Tidak perlu repot-repot dem, lagipula kakak ku tetap membenciku, karena aku sering menghina kekasihnya bahkan melakukan kekerasan padanya.."
"Aku tahu kamu melakukan semua itu karena ada alasannya..." jawab Demian yang membuat Hajeera cukup terpana dengan pembelaan Demian untuknya.
"Tidak akan ada yang percaya seorang pun meski kukatakan jika si miskin itu yang melenyapkan keluarga ku..."