bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.
Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02.SATU JENTIKAN TIGA MURID DI DAPAT
Debu masih mengepul saat aku berdiri dengan santai di depan Beruang Taring Besi itu. Dari sudut mataku, aku bisa melihat ketiga remaja itu mematung. Si pemuda, Kael, mulutnya menganga lebar, seolah akal sehatnya baru saja terbang keluar lewat sana.
"P-Paman? Siapa kau?!" teriak Kael dengan suara bergetar.
Aku tidak menjawab. Pandanganku fokus pada si beruang yang sekarang mendengus marah karena mangsanya dihalangi. Monster ini melihatku sebagai ancaman, atau mungkin hanya sebongkah daging yang kebetulan memakai baju besi mengkilap.
"Sabar ya, Beruang. Aku juga belum ngopi pagi ini," gumamku.
Aku hanya mengangkat tangan kanan, melipat jari tengah di atas jempol, dan melakukan satu sentilan ringan ke arah udara di depan hidung monster itu.
DUARRR!
Bukan cuma si beruang yang terpental, tapi tekanan udara yang tercipta melesat seperti meriam tak kasat mata. Gelombang kejutnya membabat habis pepohonan di belakang monster itu hingga rata dengan tanah sepanjang puluhan meter.
Beruang raksasa itu terlempar ke belakang, menghantam pohon besar hingga tumbang. Tubuhnya jatuh berdebum ke tanah dengan suara tulang yang remuk total. Monster itu tetap di sana, terkapar tak bernyawa dengan kondisi fisik yang mengenaskan. Bau darah segar mulai tercium—konsekuensi nyata dari dunia yang bukan lagi sekadar data digital.
Aku mengibaskan tangan, menatap hasil kerusakannya dengan sedikit cemas. "Waduh, masih terlalu kuat. Padahal cuma mau menyentil hidungnya sedikit agar dia pingsan."
Aku berbalik dan melihat ketiga remaja itu. Elara, si gadis berambut perak, masih terduduk di tanah dengan air mata yang menggantung di sudut matanya. Jiro berdiri mematung dengan posisi siap bertarung yang sekarang terlihat konyol.
"Kalian tidak apa-apa?" tanyaku sambil nyengir lebar, mencoba terlihat seramah mungkin meski zirah biru-emas dan jubah merahku memancarkan aura yang sulit disembunyikan.
Kael adalah yang pertama bereaksi. Dia tidak berdiri, melainkan langsung bersujud. "T-Tuan! Terima kasih telah menyelamatkan nyawa kami!"
"Santai saja," kataku sambil berkacak pinggang. "Aku Arka dan baru saja bangun dari tidur yang sangat lama dan butuh mengumpulkan banyak informasi tentang dunia sekarang. Bisakah kalian membawaku ke kota terdekat?"
"Tentu, Tuan! Kota terdekat adalah Ovelia," jawab Elara dengan semangat.
"Ovelia, ya? Kedengarannya seperti nama tempat yang punya tempat tidur empuk. Tolong antar aku ke sana ya." Elara mengangguk dengan gugup. Aku meraba-raba bagian dalam ziraku, pura-pura mencari sesuatu. Sebenarnya, aku sedang mengakses Inventory secara tersembunyi. "Nah, karena kalian mau mengantarku, aku harus memberi kalian sesuatu sebagai hadiah. Tidak enak kalau cuma terima kasih saja."
Aku terus merogoh ke balik zirah biru-emasku, mencari barang level rendah yang tidak akan merusak keseimbangan dunia. "Sebentar... sepertinya aku punya permata atau senjata cadangan di sini..."
Namun, sebelum aku sempat mengeluarkan barang apa pun, Kael mendongak dengan mata berkilat. Ia menggelengkan kepala dengan cepat.
"Tuan Arka, mohon berhenti!" seru Kael. "Kami tidak menginginkan permata atau senjata berharga!"
Aku menaikkan alisku. "Loh? Kenapa? Kalian petualang pemula, kan? Barang dari 'paman' ini bisa buat kalian kaya mendadak."
"Kami tidak butuh emas!" timpal Elara, ia ikut bersujud di samping Kael. "Kekuatan yang Tuan tunjukkan tadi... itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kami memohon, angkatlah kami sebagai murid Anda! Ajarkan kami cara menjadi kuat!"
"Tolong, Guru!" Jiro ikut bersujud mantap. "Berikan kami setetes saja dari kekuatan Anda, maka kami pasti akan naik level!"
Aku terdiam, menarik tanganku keluar dari balik zirah tanpa membawa apa pun. Wah, mereka menolak harta demi latihan? Padahal aku hanya ingin hidup santai. Tapi kalau dipikir-pikir, punya tiga pesuruh—maksudku, murid—akan sangat membantu urusanku di kota nanti.
"Baiklah," kataku sambil tersenyum tipis. "Mulai hari ini, kalian adalah muridku. Tapi jangan harap aku akan memberikan latihan yang normal."
Ketiganya bersorak kegirangan seolah baru saja memenangkan lotre. Aku kemudian berbalik, menatap bangkai beruang raksasa yang masih tergeletak mengenaskan di sana. Aku baru ingat, aku tidak punya uang sepeser pun yang berlaku di zaman ini.
Aku menoleh ke arah Kael dan bertanya dengan wajah polos, "Eh, omong-omong... apakah beruang sebesar ini bisa dijadikan uang?"