Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Aku menghempaskan tubuh di ranjang, menatap langit-langit kamar yang temaram. Kata-kata Danesha terus berputar. Dia benar, aku tidak mencintai Baskara. Bahkan sekarang pun, saat melihatnya bersama Rasya, tidak ada rasa cemburu yang membuat dadaku sesak karena ingin memilikinya.
Yang ada hanyalah rasa malu yang luar biasa.
Aku ingat bagaimana aku dulu memanfaatkannya hanya untuk mengisi waktu luang. Aku ingat bagaimana aku menjadikannya "cadangan" saat aku bosan dengan duniaku sendiri. Aku menatap ponselku, lalu membuka blokir nomor lamanya yang sudah satu tahun terkunci—bukan untuk menghubunginya, tapi untuk melihat riwayat pesan singkat kami yang terakhir.
Semuanya berisi perhatian dari Baskara, dan semuanya kubalas dengan satu kata, atau bahkan hanya sekadar dibaca.
"Na, aku sudah di depan ya." (Hanya kubaca).
"Na, semangat kuliahnya hari ini." (Hanya kubalas 'Ok').
Aku memejamkan mata erat-erat. Rasa sesak ini muncul bukan karena aku kehilangan kekasih, tapi karena aku menyadari betapa jahatnya aku telah menghancurkan mental pria sebaik dia. Aku merasa seperti pencuri yang telah merampas dua tahun waktu berharga seseorang tanpa memberikan imbalan apa pun, bahkan sekadar rasa hormat.
"Aku memang brengsek, Bas," gumamku pada kesunyian kamar.
Aku tidak ingin Baskara kembali padaku. Aku tidak ingin dia putus dengan Rasya. Aku hanya ingin gema rasa bersalah ini berhenti berisik di kepalaku. Aku ingin dia tahu bahwa aku sadar betapa buruknya perlakuanku dulu, namun aku tahu permintaan maaf saja tidak akan cukup untuk menghapus luka yang sudah mengering menjadi parut.
Besok, aku akan kembali ke kantor dengan cara yang berbeda. Aku tidak akan lagi menjadi Aruna yang menyerang Rasya untuk menutupi rasa malu, tapi aku juga tidak akan berpura-pura mencintai Baskara. Aku akan bekerja sekeras mungkin, membantu kesuksesan proyek mereka, dan setelah itu... aku akan benar-benar pergi dari hidupnya dengan cara yang lebih terhormat.
Setidaknya, jika aku tidak bisa memberinya cinta, aku bisa memberinya profesionalitas yang layak.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah setahun, aku tidak bermimpi tentang wajah Baskara yang terluka. Aku tidur dengan satu tekad: membayar hutang moral itu lewat pekerjaan, lalu membiarkan pria itu bahagia dengan dunianya yang baru.
Pagi berikutnya, aku melangkah masuk ke kantor dengan aura yang berbeda. Tidak ada lagi keraguan yang kusembunyikan di balik sikap ketus, pun tidak ada lagi tatapan menghindar. Aku memoles wajahku dengan riasan minimalis namun tajam, mengenakan kemeja putih tulang yang rapi—melambangkan lembaran baru yang ingin kutulis di proyek ini.
"Pagi, Pak Hendra. Pagi, tim," sapaku dengan nada suara yang stabil saat memasuki ruang rapat.
Aku melihat Baskara sudah duduk di sana, di samping Rasya. Baskara sempat mendongak, matanya menyipit seolah sedang menilai apakah aku akan membuat keributan lagi seperti kemarin. Namun, aku hanya mengangguk sopan padanya dan Rasya, lalu duduk di kursiku tanpa mengeluarkan suara tambahan.
"Baik, kita lanjutkan pembahasan aset visual kemarin," ujar Pak Hendra.
Rasya mulai memaparkan revisinya. Aku mendengarkan dengan saksama, mencatat poin-poin penting. Saat dia selesai, suasana mendadak hening. Semua orang menatapku, menunggu "serangan" yang mungkin akan kulontarkan seperti kemarin. Baskara bahkan sudah memajukan tubuhnya, siap memasang badan untuk kekasihnya.
"Terima kasih, Mbak Rasya," ucapku tenang, memecah keheningan. "Revisi ini jauh lebih efisien. Saya setuju dengan pemilihan warnanya. Hanya saja, di bagian layout ini, mungkin bisa digeser sedikit ke kanan agar tidak bertabrakan dengan copywriting kami. Bagaimana menurutmu?"
Rasya tampak tertegun. Ia berkedip beberapa kali, seolah tak percaya Aruna yang kemarin begitu galak hari ini berbicara dengan nada yang begitu kooperatif dan objektif. "Oh... benar juga. Itu saran yang bagus, Mbak Aruna. Terima kasih."
Aku melirik Baskara. Dia tampak bingung. Alisnya bertaut, matanya menatapku dengan penuh selidik. Dia mungkin mengira ini hanyalah taktik baruku untuk menjebak mereka, atau dia bingung melihat sosok Aruna yang begitu tenang—sosok yang tidak pernah ia temui selama dua tahun kami bersama.
Rapat berjalan dengan sangat produktif. Untuk pertama kalinya, aku memberikan kontribusi yang benar-benar membantu kelancaran pekerjaan mereka tanpa ada bumbu emosi pribadi.
Setelah rapat selesai, aku segera merapikan barang-barangku. Saat hendak keluar, aku berpapasan dengan Baskara di dekat pintu. Rasya sudah berjalan lebih dulu bersama Pak Hendra.
"Apa yang sedang kamu rencanakan, Aruna?" tanya Baskara rendah, suaranya mengandung kecurigaan yang kental.
Aku berhenti, menatapnya dengan tatapan yang paling tenang yang pernah kuberikan padanya. "Tidak ada rencana pak Baskara . Aku hanya ingin menyelesaikan hutang profesionalitasku padamu. Kamu bilang dunia ini kecil, dan aku tidak ingin namaku tercatat sebagai rekan kerja yang buruk di dunia yang kecil ini."
Baskara terdiam. Ia tampak mencari-cari celah kebohongan di mataku, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan dari rasa bersalah yang kini mulai aku tata.
"Aku minta maaf atas sikapku yang kemarin," lanjutku pelan. "Mulai sekarang, anggap saja aku tidak pernah ada di masa lalumu. Aku di sini hanya sebagai Aruna, rekan kerjamu."
Aku berjalan melewati dia tanpa menunggu jawaban. Aku tahu, perubahanku ini membuatnya merasa aneh karena dia sudah terbiasa dengan Aruna yang egois. Namun bagiku, ini adalah cara terbaik untuk membunuh gema itu—dengan menjadi orang asing yang paling berguna bagi masa depannya yang baru.