"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2. Diam-diam Dia Baik
"Maaf... aku ceroboh sekali. Jangan... jangan dilihat," bisik Hana Tanaka dengan suara yang hampir menghilang.
Dia berjongkok dengan sangat cepat di atas lantai beton atap sekolah. Tangannya yang lecet bergerak liar di atas permukaan semen yang kasar. Dia mengumpulkan struk belanja yang berserakan dengan perasaan panik yang luar biasa. Struk itu adalah bukti nyata kemiskinannya yang selama ini dia sembunyikan dengan rapat.
Dia tidak ingin Akane Sato melihat kenyataan yang sangat memalukan itu secara langsung. Air mata Hana mulai jatuh membasahi pipinya yang kusam karena debu jalanan. Dia merasa seluruh martabatnya sudah hancur di depan pintu atap sekolah sore itu.
Akane Sato tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri sekarang. Dia hanya berdiri mematung sambil menatap sahabatnya yang sedang merana di lantai. Bayangan tubuh Akane jatuh menutupi tubuh kecil Hana yang sedang meringkuk ketakutan. Cahaya matahari senja menyinari punggung Akane dengan warna jingga yang sangat pekat.
Suasana di atap sekolah itu mendadak menjadi sangat dingin dan terasa kaku. Hanya terdengar suara gesekan kertas struk yang dikumpulkan oleh tangan Hana. Hana meraup dompet tua itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas sekolahnya. Dia memeluk tas sekolahnya dengan sangat erat seolah ingin menghilang dari sana.
Lutut Hana yang terluka terasa perih karena bergesekan dengan lantai beton yang kasar. Dia tidak mempedulikan rasa sakit fisik yang dia rasakan pada tubuhnya sekarang. Rasa malu di dalam dadanya jauh lebih menyiksa daripada luka di kakinya.
Hana tetap menundukkan kepala dan tidak berani menatap wajah Akane sedikit pun. Dia takut melihat tatapan jijik atau kasihan dari gadis kaya di depannya. Hana sangat benci dikasihani oleh orang lain yang ada di sekitarnya. Dia ingin terlihat kuat meskipun perutnya sedang melilit hebat karena lapar.
Tiba-tiba Akane Sato ikut berjongkok di hadapan Hana dengan gerakan pelan. Dia tidak menjaga jarak sama sekali dengan gadis miskin yang sedang menangis itu. Akane justru mendekatkan wajahnya untuk melihat kondisi Hana dengan lebih dekat lagi.
Bau harum parfum mahal dari tubuh Akane tercium jelas oleh hidung Hana. Bau itu sangat kontras dengan bau debu dan keringat dari tubuh Hana. Akane tidak mengeluarkan kata-kata makian atau hinaan kepada Hana yang malang. Dia justru mengulurkan tangannya yang terlihat sangat bersih dan juga halus.
Akane memegang sisa sandwich premium yang tadi dia makan di pagar kawat. Roti itu masih terbungkus plastik bersih di bagian bawah kemasannya yang mahal. Akane menyodorkan roti itu tepat di depan hidung Hana yang masih memerah.
Hana tertegun dan menghentikan isak tangisnya untuk beberapa saat yang singkat. Dia melihat potongan roti yang berisi daging sapi berkualitas tinggi tersebut. Dia bisa melihat lemak daging yang mengkilap di bawah cahaya matahari senja. Perut Hana berbunyi lagi dengan suara yang sangat keras dan juga panjang.
"Makanlah. Perutmu lebih berisik daripada kereta Yamanote sore hari," kata Akane dengan nada suara yang tenang.
Hana menatap mata Akane dengan penuh keraguan yang sangat besar di hatinya. Dia melihat mata Akane yang berwarna cokelat tua dan terlihat sangat jernih. Tidak ada ejekan atau penghinaan yang tersirat di dalam mata gadis kaya itu. Akane justru terlihat sangat serius dan sedikit merasa khawatir pada kondisi Hana.
Hana merasa harga dirinya sedikit tercubit karena tawaran makanan yang tiba-tiba tersebut. Namun dia tidak bisa menahan rasa lapar yang sudah sangat menyiksa tubuhnya. Dia merasa tenaganya sudah hampir habis untuk sekadar berdiri tegak di sana.
"Eh... t-tapi... ini milikmu," jawab Hana dengan suara yang terdengar sangat gagap.
"Aku sudah kenyang. Aku tidak suka membuang makanan yang masih enak," balas Akane dengan singkat.
Hana akhirnya menerima potongan roti itu dengan tangan yang masih gemetar hebat. Dia memegang plastik pembungkusnya dengan sangat hati-hati agar tidak jatuh lagi. Dia mulai menggigit ujung roti tersebut dengan gerakan yang sangat pelan.
Rasa gurih dan manis dari saus sandwich itu langsung menyebar di lidahnya. Daging sapi itu terasa sangat lembut dan lumer di dalam mulut Hana. Hana merasa ini adalah makanan terenak yang pernah dia makan seumur hidupnya. Dia makan dengan lahap sambil terus meneteskan air mata haru yang hangat.
Akane terus memperhatikan Hana yang sedang makan dengan sedikit rakus tersebut. Dia tidak merasa terganggu dengan cara makan Hana yang terlihat berantakan. Akane justru mengambil selembar tisu dari kantong jaketnya yang terlihat sangat mahal. Dia memberikan tisu itu kepada Hana untuk mengusap air matanya yang jatuh.
Hana menerima tisu itu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun dari mulutnya. Dia merasa sedikit lebih tenang setelah beberapa gigitan roti masuk ke perutnya. Kehangatan mulai menjalar ke seluruh bagian tubuh Hana yang tadi kedinginan.
Setelah Hana selesai makan Akane berdiri dengan gerakan yang sangat perlahan. Dia berjalan menuju pagar kawat yang membatasi area atap sekolah tersebut. Dia menatap ke arah pemandangan kota Tokyo yang mulai menyalakan lampu neon. Gedung-gedung pencakar langit di daerah Ginza terlihat sangat megah dari tempat itu.
Lampu-lampu reklame raksasa menampilkan iklan barang-barang mewah terbaru musim ini. Akane mengepalkan tangannya dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih semua. Dia menatap pemandangan itu dengan tatapan mata yang penuh dengan kebencian.
"Lihat gedung-gedung itu? Para politisi tua di sana baru saja menaikkan gaji mereka sendiri," ujar Akane dengan nada suara yang sinis.
Hana ikut berdiri dan berjalan mendekati posisi Akane berdiri di pagar. Dia berdiri di samping Akane sambil tetap memeluk tas sekolahnya dengan erat. Dia melihat arah pandangan mata Akane menuju pusat kota yang gemerlap.
Hana tidak pernah pergi ke Ginza karena dia tidak punya uang sama sekali. Dia hanya tahu bahwa Ginza adalah tempat orang-orang paling kaya berkumpul. Dia tidak menyangka bahwa Akane sangat membenci tempat asalnya sendiri itu.
"Mereka hidup mewah di atas penderitaan orang-orang seperti kita," lanjut Akane lagi.
Akane berbicara tentang kebijakan pajak baru yang sangat memberatkan rakyat kecil. Dia menyebutkan tentang kenaikan harga pangan yang sudah tidak masuk akal. Akane merasa sistem pendidikan di Jepang sudah sangat rusak dan tidak adil.
Dia bercerita tentang anak-anak pejabat yang mendapatkan fasilitas istimewa di sekolah. Sementara itu siswa pintar yang miskin harus berjuang keras hanya untuk makan. Akane merasa dunia ini sudah sangat tidak seimbang bagi para remaja.
"Kita harus berhemat hanya untuk ongkos kereta atau sekadar makan siang," kata Akane sambil menoleh ke arah Hana.
Hana terdiam mendengar ucapan Akane yang sangat vokal mengenai isu sosial tersebut. Dia merasa setuju dengan semua perkataan sahabatnya itu di dalam hatinya. Namun dia merasa terlalu lemah untuk melakukan perlawanan apa pun sekarang.
Hana hanya ingin lulus sekolah dan segera mendapatkan pekerjaan yang layak saja. Dia tidak ingin terlibat dalam masalah politik yang sangat berbahaya bagi masa depannya. Hana merasa hidupnya sudah cukup berat tanpa perlu ditambah masalah lainnya lagi.
Akane Sato mengeluarkan sebuah ponsel pintar model terbaru dari saku jaketnya. Layar ponsel itu menampilkan sebuah folder rahasia yang penuh dengan data. Akane menunjukkan layar itu kepada Hana dengan gerakan yang sangat hati-hati. Dia memastikan tidak ada orang lain yang melihat apa yang dia tunjukkan itu.
Hana melihat deretan nama dan angka-angka yang sangat rumit di layar. Dia tidak mengerti maksud dari data yang ditampilkan oleh Akane tersebut.
"Ini adalah data donatur gelap sekolah yang baru saja Yuki temukan," bisik Akane dengan nada suara yang mantap.
Hana terkejut saat mendengar nama Yuki disebut oleh Akane dengan akrab. Yuki Nakamura adalah seorang siswa yang sangat tertutup dan jarang bicara. Hana tidak menyangka bahwa Yuki memiliki keahlian dalam meretas data digital.
Akane menjelaskan bahwa Yuki adalah otak teknologi di balik gerakan digitalnya. Data tersebut menunjukkan aliran dana haram dari politisi ke yayasan sekolah. Dana itu digunakan untuk menekan siswa-siswa yang tidak memiliki pengaruh politik.
"Hana... aku butuh orang dalam untuk menghancurkan sistem kemunafikan ini," kata Akane sambil menatap tajam ke arah mata Hana.
Tatapan mata Akane terasa sangat panas dan penuh dengan tekad kuat. Cahaya senja yang memerah membuat rambut Akane terlihat seperti kobaran api. Akane ingin Hana membantunya mengumpulkan bukti fisik dari dalam kantor guru.
Hana adalah asisten perpustakaan yang memiliki akses ke banyak ruangan guru. Akane merasa Hana adalah kunci utama untuk membongkar kejahatan yayasan. Dia ingin Hana menjadi mata-mata bagi gerakan rahasia yang dia bangun.
Hana merasa jantungnya berdetak dengan sangat kencang saat mendengar tawaran itu. Dia merasa takut akan risiko yang harus dia hadapi jika tertangkap nanti. Jika dia ketahuan maka beasiswanya akan langsung dicabut oleh pihak sekolah.
Dia juga bisa dikeluarkan dari sekolah dan tidak memiliki masa depan lagi. Hana tidak berani memberikan jawaban secara langsung kepada Akane sekarang. Dia merasa tubuhnya kembali gemetar karena rasa takut yang luar biasa besar.
"Aku... aku tidak tahu. Aku butuh waktu untuk berpikir dahulu," jawab Hana dengan suara pelan.
Akane mengangguk pelan sebagai tanda bahwa dia memahami kekhawatiran Hana itu. Dia tidak ingin memaksa Hana untuk mengambil keputusan secara terburu-buru. Akane tahu bahwa beban hidup yang dipikul oleh Hana sudah sangat berat.
Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya dengan gerakan tenang. Dia memberikan ruang bagi Hana untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Suasana di atap kembali menjadi sunyi untuk beberapa saat yang cukup lama.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berat dari arah balik pintu. Suara itu terdengar sangat jelas di tengah keheningan sore hari yang sepi. Hana dan Akane langsung menoleh ke arah pintu kayu tersebut dengan waspada.
Mereka berdua terkejut karena tidak menyangka akan ada orang lain datang. Suara langkah itu terdengar semakin dekat dan semakin keras di telinga. Hana merasa ketakutan jika itu adalah petugas keamanan sekolah yang patroli.
Pintu kayu itu terbuka dengan suara derit yang sangat panjang dan memilukan. Sosok seorang remaja laki-laki muncul dari balik bayangan pintu yang gelap. Remaja itu memakai seragam sekolah yang sudah agak lusuh di bagian lengan.
Wajahnya terlihat sangat dingin dan tatapan matanya terasa sangat hampa. Dia adalah Ren Ishida yang merupakan mantan atlet lari kebanggaan sekolah. Ren berdiri mematung di ambang pintu sambil menatap ke arah mereka.
Ren Ishida tidak mengucapkan sepatah kata pun saat melihat mereka di sana. Dia hanya berjalan melewati mereka menuju pagar kawat di ujung atap. Gerakan jalannya terlihat sedikit pincang di bagian kaki sebelah kanan itu.
Ren berdiri membelakangi mereka sambil menatap langit yang mulai gelap. Kehadiran Ren membuat suasana di atap menjadi semakin terasa aneh. Hana merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan tatapan mata Ren tadi.
Hana melihat perban yang melingkar di lutut Ren yang sedikit terlihat jelas. Dia ingat bahwa Ren baru saja mengalami kecelakaan parah saat latihan lari. Kecelakaan itu membuat Ren tidak bisa lagi ikut lomba lari nasional nanti.
Ren adalah sosok yang sangat pendiam sejak kejadian kecelakaan tersebut menimpanya. Dia sering menghabiskan waktu sendirian di tempat-tempat yang sangat sepi. Hana merasa memiliki kesamaan rasa sakit dengan sosok Ren yang terluka.
Akane Sato menatap punggung Ren dengan tatapan mata yang sangat penuh selidik. Dia seolah ingin tahu apakah Ren mendengar pembicaraan mereka tadi di atap. Ren tetap diam dan tidak menunjukkan reaksi apa pun terhadap mereka berdua.
Dia hanya berdiri mematung seperti sebuah patung yang tidak bernyawa. Angin malam mulai bertiup lebih kencang dan membawa aroma hujan dingin. Kota Tokyo kini sudah sepenuhnya diselimuti oleh cahaya lampu neon warna-warni.
Hana Tanaka merasa bahwa hidupnya akan segera berubah setelah hari ini. Dia merasa terjebak di antara tawaran Akane dan rasa takut akan masa depan. Dia juga merasa ada misteri besar yang tersimpan di dalam diri Ren.
Hana memeluk tas sekolahnya lebih erat sambil melangkah menuju pintu keluar. Dia ingin segera pulang ke apartemennya yang sempit untuk segera istirahat. Namun dia tahu bahwa pikirannya tidak akan bisa tenang setelah kejadian ini.
Saat Hana melewati posisi Ren berdiri dia mendengar suara bisikan pelan. Bisikan itu berasal dari mulut Ren yang tadinya terkatup sangat rapat. Hana menghentikan langkah kakinya sejenak karena merasa sangat terkejut mendengarnya.
Dia menoleh ke arah Ren namun remaja itu tetap membelakanginya kaku. Hana merasa bulu kuduknya berdiri karena isi dari bisikan Ren tersebut.
"Jangan percaya pada siapa pun di sekolah ini," bisik Ren dingin.
Hana merasa tubuhnya membeku seketika setelah mendengar kalimat peringatan tersebut. Dia melihat ke arah Akane yang masih berdiri tidak jauh dari mereka. Akane terlihat sedang sibuk dengan ponselnya kembali dan tidak mendengar.
Hana merasa ada ancaman yang tidak terlihat sedang mengintai mereka sekarang. Dia segera berlari meninggalkan atap sekolah dengan perasaan tidak karuan. Dia terus berlari menuruni tangga sekolah tanpa berani menoleh lagi.
Langkah kaki Hana bergema di koridor sekolah yang sudah mulai gelap. Dia merasa ada bayangan yang sedang mengikutinya dari balik tembok beton. Hana terus berlari hingga dia mencapai gerbang sekolah yang mulai ditutup.
Dia tidak peduli dengan rasa sakit di lututnya yang kembali berdarah sedikit. Hana hanya ingin segera sampai di rumah dan mengunci pintunya dengan rapat. Namun dia tidak sadar bahwa di dalam tasnya terselip kartu misterius.
Kartu itu berwarna hitam pekat dengan simbol mata yang sedang tertutup. Simbol itu merupakan tanda dari sebuah kelompok rahasia yang memantau mereka. Hana tidak tahu kapan kartu itu masuk ke dalam tas sekolahnya tadi.
Dia juga tidak tahu bahwa Akane sedang menatap kepergiannya dari atap. Dunia remaja di Tokyo kini bukan lagi sekadar tentang sekolah biasa. Sebuah permainan kekuasaan yang sangat berbahaya baru saja dimulai untuk mereka.
Hana sampai di depan stasiun kereta dengan napas yang terengah-engah pucat. Dia merogoh tasnya untuk mengambil kartu transportasi yang sudah habis semalam.
Saat tangannya meraba bagian dalam tas dia menyentuh permukaan kartu hitam. Hana menarik keluar kartu itu dan membacanya di bawah lampu stasiun. Ada sebuah kalimat pendek yang tertulis di bagian belakang kartu tersebut.
"Waktu kalian tidak banyak lagi."
Hana menjatuhkan kartu itu ke lantai stasiun karena merasa sangat terkejut. Dia melihat ke sekeliling stasiun namun tidak menemukan orang mencurigakan. Orang-orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing tanpa peduli pada Hana.
Hana segera naik ke dalam kereta yang baru saja datang dengan sedih. Dia tidak menyadari bahwa seseorang sedang memotret dirinya dari kejauhan. Kehidupan Hana sebagai siswi pintar kini sudah resmi berakhir secara tragis.
Malam itu Tokyo terlihat sangat indah dari balik jendela kereta api melaju. Namun bagi Hana keindahan itu hanyalah sebuah topeng dari kekejaman sistem. Dia memejamkan matanya sambil terus memikirkan bisikan dingin dari Ren tadi.
Dia juga memikirkan tawaran berbahaya dari Akane Sato di atap sekolah. Hana menyadari bahwa gacha kehidupan (penentu nasib)-nya baru saja memberikan kartu mematikan. Dia harus memilih antara menjadi korban atau ikut serta dalam permainan.
Saat kereta berhenti di stasiun tujuannya Hana melangkah keluar dengan berat. Dia berjalan menyusuri jalanan kecil menuju apartemennya di pinggiran kota. Dia melihat sekelompok remaja ‘Toho-yoko’ (istilah untuk sekelompok remaja dan anak muda di Jepang yang sering berkumpul di area Toho Cinema di kawasan Kabukicho, Shinjuku, Tokyo) mereka sedang berkumpul di sudut jalan.
Mereka tertawa dengan suara yang sangat keras seolah tanpa beban hidup. Hana merasa iri pada mereka yang bisa melepaskan diri dari sistem. Namun, dia tahu bahwa dia memiliki tanggung jawab besar terhadap ibunya.
Hana sampai di depan pintu apartemennya dan segera memasukkan kunci miliknya. Saat dia memutar kunci dia menyadari bahwa pintu itu tidak terkunci. Hana merasa sangat yakin bahwa ibunya selalu mengunci pintu sebelum kerja.
Dia mendorong pintu itu perlahan dan melihat suasana dalam ruangan berantakan. Lemari bajunya sudah terbuka dan semua pakaiannya berserakan di atas lantai. Hana menutup mulutnya dengan tangan karena rasa takut yang sangat hebat.
Dia melihat sebuah pesan yang ditulis di atas cermin kamar mandi retak. Pesan itu ditulis menggunakan lipstik merah milik ibunya yang jarang dipakai.
Hana membaca pesan itu dengan tubuh yang gemetar hebat dan air mata. Dia merasa dunianya benar-benar hancur berkeping-keping di depan matanya sendiri.
"Kembalikan data itu sekarang juga."
Hana menyadari bahwa ibunya tidak ada di dalam apartemen tersebut menyambutnya. Dia hanya menemukan sebuah ponsel tua milik ibunya tergeletak di meja. Ponsel itu tiba-tiba bergetar dan menampilkan sebuah panggilan video misterius.
Hana menerima panggilan itu dengan tangan yang sangat gemetar dan sesak. Layar ponsel itu menampilkan wajah ibunya yang sedang terikat di kursi.
Seorang pria berpakaian hitam muncul di belakang ibunya yang kurus pucat. Pria itu menaruh sebuah pisau tajam tepat di leher ibunya yang lemah. Hana hanya bisa berteriak tanpa suara karena tenggorokannya terasa sangat sakit.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍