Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.
Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.
Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Keheningan Setelah Badai
Malam turun dengan cepat di Hutan Kabut Abadi.
Lin Feng duduk di mulut gua, menatap kegelapan yang diselimuti kabut tebal. Di belakangnya, di dalam gua yang hangat oleh nyala api unggun, lima kultivator dari Kuil Cahaya Suci beristirahat dalam kelelahan.
Yue Chen, adik Yue Lian terlelap dengan napas yang kini tenang. Eliksir Air Mata Phoenix telah bekerja dengan sempurna. Luka-luka parahnya sudah menutup, meskipun ia masih membutuhkan beberapa hari untuk benar-benar pulih.
Tiga orang lainnya juga menunjukkan kondisi yang jauh lebih baik setelah Lin Feng membantu mengobati luka mereka dengan salep pemberian Yue Lian. Tidak ada yang separah Yue Chen, tetapi semuanya tetap memerlukan istirahat yang cukup.
“Kau tidak tidur?”
Lin Feng menoleh ke suara itu. Yue Lian berjalan mendekat sambil membawa dua mangkuk sup hangat yang dibuat dari ramuan.
“Seseorang harus berjaga,” jawab Lin Feng sambil menerima mangkuk itu dengan anggukan kecil. “Hutan ini jauh lebih berbahaya di malam hari.”
“Aku bisa berjaga di giliran pertama,” tawar Yue Lian sambil duduk di sampingnya. “Kau juga butuh istirahat. Luka-lukamu belum benar-benar sembuh.”
“Aku baik-baik saja.” Lin Feng menyeruput sup itu yang hangat dan cukup mengenyangkan. “Lagipula, aku tidak terlalu lelah.”
Itu kebohongan kecil. Tubuhnya masih terasa berat akibat tribulasi sebelumnya, dan perjalanan panjang di hutan hanya memperparah kondisi itu. Namun ia sudah terbiasa dengan rasa tidak nyaman.
Yue Lian menatapnya dengan ragu, tetapi tidak memaksa. Mereka makan dalam keheningan yang terasa nyaman, ditemani suara malam, dengung serangga, desiran daun, dan sesekali suara binatang buas yang berburu di kejauhan.
“Terima kasih,” ujar Yue Lian tiba-tiba. “Untuk semuanya. Menyelamatkanku. Menyelamatkan Chen-er dan Membantu kelompokku. Aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya.”
“Tidak perlu dibalas,” jawab Lin Feng tenang. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”
“Tidak semua orang akan memilih itu.” Senyum Yue Lian tampak samar. “Kebanyakan kultivator akan pergi tanpa menoleh. Tidak mau terlibat dalam masalah orang lain.”
“Mungkin aku memang bodoh.”
“Atau mungkin kau orang baik.”
Lin Feng terdiam. Ia tidak pernah menganggap dirinya orang baik. Ia hanya tidak ingin melihat orang mati jika ia masih bisa berbuat sesuatu. Baginya, itu dua hal yang berbeda.
“Ceritakan tentang kelompokmu,” katanya, mengalihkan pembicaraan. “Siapa saja mereka?”
Yue Lian mengangguk. “Chen-er sudah kau kenal dia adikku, meskipun bukan sedarah. Kami sama-sama yatim piatu yang dibesarkan di kuil. Bagiku, dia adik sungguhan.”
“Yang lain?”
“Zhou Ming, pria dengan bekas luka di pipi. Kultivator Ranah Pembentukan Fondasi Lapisan pertama, ia spesialis tombak. Serius, tapi sangat bisa dipercaya. Xu Ling, gadis berambut pendek. Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Kedelapan, ia sangat cepat dan ahli dalam teknik pergerakan. Dan Chen Hao, pria besar berjanggut lebat. Ranah Pembentukan Fondasi Lapisan Kedua. Pertahanannya luar biasa, mampu menahan serangan seperti benteng berjalan.”
Lin Feng mengingat wajah-wajah yang ia lihat di dalam gua. Zhou Ming adalah yang paling parah terluka setelah Yue Chen. Xu Ling mengalami luka bakar di lengan kanan. Chen Hao hanya mengalami luka ringan dan kelelahan berat.
“Kuat,” komentar Lin Feng. “Dua Pembentukan Fondasi dan tiga Pengumpulan Qi tingkat tinggi. Kenapa mereka bisa kalah dari Klan Langit Biru?”
Wajah Yue Lian menggelap. “Dari cerita Chen'er, mereka diserang oleh lima orang, tiga diantara nya di Ranah Pembentukan Fondasi dan dua di Ranah Pengumpulan Qi. Dan mereka menggunakan…”
Ia terdiam sejenak seolah ragu melanjutkan.
“Menggunakan apa?” tanya Lin Feng.
“Formasi Tempur Gabungan,” jawab Yue Lian pahit. “Formasi yang menyatukan kekuatan lima orang menjadi satu. Dengan itu, mereka bisa menampilkan kekuatan yang setara dengan Ranah Pembentukan Fondasi Lapisan Kedelapan atau Sembilan.”
Alis Lin Feng berkerut. Formasi semacam itu biasanya hanya dimiliki klan besar atau sekte besar. Fakta bahwa anggota Klan Langit Biru menggunakannya di hutan ini menunjukkan bahwa bagi siapa yang menghalangi rencana mereka akan dihancurkan. Jadi betapa serius tujuan mereka dalam mencari Gulungan Naga Kekacauan…
Mereka benar-benar serius.
“Bagaimana mereka bisa lolos?” tanya Lin Feng.
“Chen Hao.” Ada kekaguman jelas di mata Yue Lian. “Dia menggunakan teknik pamungkasnya, Transformasi Titan Bumi. Dia menahan mereka cukup lama agar yang lain bisa melarikan diri. Tapi teknik itu menguras seluruh Qi-nya. Setelahnya, dia pingsan.
Sementara para anggota Klan Langit Biru menyangka Chen Hao sudah mati maka mereka membiarkan Chen Hao tergeletak disana, setelah situasi aman Chen'er dan yang lainnya kembali dan membawanya pergi..”
“Berani,” ujar Lin Feng pelan. "Mengorbankan seluruh kekuatan demi melindungi rekan bukanlah keputusan yang mudah."
“Memang seperti itu dia.” Yue Lian menatap ke dalam gua, ke arah Chen Hao yang tertidur dengan dengkuran pelan. “Tanpa dia, mungkin yang lain sudah mati.”
“Lin Feng,” ujar Yue Lian setelah beberapa saat. “Bolehkah aku bertanya sesuatu yang agak pribadi?”
“Tergantung apa yang ingin kamu tanyakan.”
“Qi-mu…” Yue Lian menggigit bibirnya. “Ada sesuatu yang berbeda. Saat kau melepaskan aura untuk menolongku pada waktu itu, aku merasakan banyak elemen. Bukan satu atau dua. Tapi… jauh lebih banyak.”
“Itu hanya teknik khusus,” jawab Lin Feng. “itu aku gunakan untuk menciptakan ilusi seolah-olah aku menguasai banyak elemen. Berguna untuk mengecoh musuh.”
Yue Lian menatapnya lebih lama. “Benarkah hanya ilusi?”
“Benar.” Ia menjawab dengan mantap, meski jantungnya berdegup lebih cepat.
Yue Lian akhirnya mengangguk. “Maaf jika aku bertanya seperti itu. Aku hanya belum pernah merasakan qi seperti milikmu. Qi itu terasa selaras, seimbang, bahkan… indah.”
Indah. Kata itu terasa asing bagi Lin Feng. Namun mungkin, dari sudut pandang orang lain, sembilan elemen yang berputar dalam harmoni memang tampak seperti itu.
“Terima kasih,” ujarnya singkat.
Yue Lian tersenyum kecil, lalu berdiri. “Aku akan tidur. Bangunkan aku saat giliran jaga tengah malam.”
“Baiklah.”
Namun Lin Feng tidak berniat membangunkannya. Malam ini, ia akan berjaga sendiri.
Menjelang tengah malam, suara langkah pelan terdengar dari dalam gua. Zhou Ming keluar dengan langkah sedikit tertatih. Lukanya sudah diperban, tetapi jelas belum pulih sepenuhnya.
“Kau seharusnya beristirahat,” kata Lin Feng.
“Tidak bisa tidur,” jawab Zhou Ming sambil duduk di sampingnya.
Mereka terdiam, menatap kabut malam.
“Kau yang menyelamatkan Yue Lian” ujar Zhou Ming.
“Ya.”
“Terima kasih.” Zhou Ming membungkuk dalam dari posisi duduknya. “Kami semua berhutang nyawa padamu.”
“Tidak perlu,” Lin Feng menjawab canggung. “Kalian tidak berhutang apa pun.”
“Di dunia kultivasi, hutang nyawa adalah hutang terbesar.” Tatapan Zhou Ming serius. “Jika suatu hari kau membutuhkan bantuan, datanglah ke Kuil Cahaya Suci. Cari aku. Aku akan membantu apa pun itu.”
Lin Feng terdiam sejenak. “Terima kasih.”
Zhou Ming mengangguk, lalu kembali memandang hutan.
“Bolehkah aku bertanya?” katanya kemudian.
“Apa yang ingin kamu tanyakan?.”
“Kenapa kau membantu?” Zhou Ming menatapnya penuh ketulusan. “Kau tidak mengenal kami. Dan kau juga terluka. Namun kau tetap memilih membantu.”
Lin Feng menghela napas pelan. “Karena aku tahu rasanya tidak ada yang menolong.”
Ia menatap tangannya sendiri. “Sepuluh tahun lalu keluargaku diserang. Tidak ada yang datang. Tidak ada yang peduli. Aku hanya anak kecil yang bersembunyi… berharap seseorang akan menyelamatkan mereka.”
Ia tersenyum pahit. “Tidak ada yang datang. Jadi aku bersumpah, jika suatu hari aku punya kekuatan, aku tidak akan menjadi orang yang hanya menonton.”
Zhou Ming terdiam lama. “Kau orang yang baik,” katanya akhirnya.
“Atau hanya bodoh.”
“Mungkin keduanya.” Zhou Ming tersenyum, senyum pertama di wajahnya yang keras. “Tapi dunia butuh lebih banyak orang bodoh sepertimu.”
💪💪💪💪