NovelToon NovelToon
SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ruby Jingga

Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
​Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
​Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa-Sisa Kebanggaan yang Retak

​Malam di Jakarta selalu memiliki dua wajah, wajah yang gemerlap bagi mereka yang bertahta di puncak gedung pencakar langit, dan wajah yang bengis bagi mereka yang terbuang ke gang-gang sempit berbau pesing.

Bagi Cindy, malam ini adalah wajah yang paling mengerikan. Lampu neon berwarna fuchsia dan biru elektrik dari kelab malam X-Clusive berkedip-kedip tidak beraturan, seolah mengejek nasibnya yang sedang berada di titik nadir.

​Dahulu, Cindy adalah ratu di tempat ini. Langkah kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi merek ternama akan disambut tundukan kepala oleh para penjaga pintu.

Senyumannya adalah komoditas mahal yang bisa membuat para pengusaha hidung belang merogoh kocek dalam-dalam untuk memesan botol-botol minuman keras paling premium. Namun malam ini, riasannya yang tebal mulai luntur oleh keringat dan udara lembap Jakarta.

Maskara hitam itu membentuk garis-garis gelap di bawah matanya, membuatnya tampak seperti hantu dari masa lalu yang mencoba menagih kejayaan yang sudah mati.

​Dengan sisa-sisa keberanian yang dipaksakan, Cindy melangkah menuju pintu belakang, jalur staf yang dulu jarang ia lalui karena ia lebih suka masuk lewat lobi depan yang megah. Ia mencoba memasang wajah angkuh saat berpapasan dengan dua orang security bertubuh besar.

​"Mau ke mana, Cin? Langkahmu sudah nggak terdaftar di sistem kami lagi, kan?" tegur salah satu security, seorang pria bernama Jaka yang dulu sering menerima uang rokok darinya. Kini, nada bicaranya dingin, kering, dan penuh penghinaan.

​"Minggir, Jak. Aku mau ketemu Mas Andre. Cuma mau bicara sebentar, ada urusan mendesak," jawab Cindy ketus, mencoba menerobos masuk dengan menyentakkan bahunya.

​"Pak Andre lagi sibuk. Dan perintahnya jelas, kamu nggak boleh masuk area kerja tanpa izin. Kamu itu sudah jadi 'barang panas', Cin. Nama kamu keseret-seret kasus korupsi Indra, polisi bolak-balik ke sini nanya aliran dana, dan sekarang imbasnya kelab ini juga jadi sorotan dan dikulik terus masalah peredaran obat terlarang. Kamu cuma bakal bawa sial buat kelab ini," balas Jaka tanpa ragu, lengannya yang kekar menghalangi jalan Cindy.

​Cindy merasa dadanya sesak. "Aku butuh uang, Jak! Aku cuma mau minta shift malam atau jadi freelance juga nggak apa-apa. Tolonglah!"

​Akhirnya, setelah perdebatan panjang, ia diizinkan masuk ke ruang manajemen yang pengap oleh asap rokok dan bau kopi instan. Andre, sang manajer kelab, bahkan tidak mengangkat wajah dari tumpukan laporan di atas mejanya saat pintu terbuka dengan kasar.

​"Mas, tolong aku." Suara Cindy gemetar, kehilangan keangkuhan yang biasanya ia banggakan. "Kontrakan aku sudah nunggak dua bulan. Mobil sudah ditarik leasing. Aku butuh balik kerja di sini. Aku janji bakal bawa tamu-tamu besar lagi."

​Andre mengembuskan asap rokoknya ke udara dalam satu tarikan panjang yang lambat. Ia menatap Cindy dengan pandangan merendahkan, seolah sedang menilai sepotong daging yang sudah basi.

"Bawa tamu besar? Cin, lihat dirimu di cermin. Wajahmu sudah penuh drama. Nama kamu hancur di media sosial gara-gara istri sah si Indra itu. Kelab ini menjual fantasi, bukan menjual masalah hukum. Istri sahnya, Gendis, itu salah satu orang berpengaruh di Bank Nasional Utama. Kamu tahu kan itu bank terbesar di negeri ini? Dia punya pengaruh di mana-mana. Dia bisa menutup tempat ini dalam semalam kalau dia tahu kami masih menampung selingkuhan suaminya yang maling itu. Kami nggak mau berurusan dengan orang perbankan selevel dia."

​"Tapi, Mas, aku nggak salah! Aku cuma korban rayuan Indra!"

​"Keluar, Cindy! Sebelum aku panggil security buat seret kamu keluar dengan cara kasar. Kamu sudah nggak laku di sini. Pergilah ke kelab kelas teri di pinggiran kota, mungkin di sana mereka masih mau memakai jasamu," potong Andre tajam, lalu kembali ke tumpukan kertasnya, menganggap kehadiran Cindy tidak lebih dari gangguan lalat.

​Rasa malu yang membakar dan amarah yang meluap-luap membuat pandangan Cindy menggelap. Di kepalanya, hanya ada satu nama yang bertanggung jawab atas kehancuran total hidupnya, Gendis. Baginya, Gendis bukan sekadar korban, melainkan wanita jahat yang menggunakan kekuasaan dan harta untuk menindas rakyat kecil seperti dirinya.

Ia merasa Gendis telah merampas kebahagiaannya, merampas Indra yang akhirnya pun terbuang darinya, dan kini merampas masa depannya. ​Tanpa pikir panjang dan dengan sisa uang di dompetnya, ia memesan ojek daring menuju kantor pusat Bank Nasional Utama, sebuah institusi perbankan raksasa yang mendominasi cakrawala Sudirman.

Gedung itu menjulang tinggi, dibalut kaca gelap yang memantulkan lampu-lampu kota, memberikan kesan dingin, perkasa, dan tak tertembus. Gendis adalah salah satu orang penting muda di sana, seorang bankir handal yang mengelola aset triliunan rupiah.

​Saat Cindy sampai di pelataran parkir VIP yang dijaga ketat, ia melihat sosok yang paling ia benci keluar dari lobi utama bank yang megah. Gendis tampak luar biasa tenang. Ia mengenakan setelan blazer bermerek yang sangat rapi, memancarkan aura otoritas yang alami. Langkah kakinya stabil, membelah keheningan pelataran bank yang mulai sepi.

​"Gendis! Berhenti kamu!" teriak Cindy, suaranya melengking membelah kesunyian, mengundang perhatian beberapa petugas kebersihan dan sekuriti berseragam safari di kejauhan.

​Gendis berhenti, sedikit terkejut namun dalam sekejap ia menguasai diri. Ia berbalik perlahan, menatap Cindy yang berdiri beberapa meter darinya. Tatapan Gendis adalah jenis tatapan yang paling menyakitkan bagi Cindy, tatapan datar yang tidak mengandung kebencian, melainkan hanya kekosongan, seolah-olah Cindy hanyalah debu yang tidak sengaja tertiup angin ke arahnya.

​"Masih punya nyali kamu datang ke depan saya?" tanya Gendis, suaranya halus namun setiap katanya terasa seperti silet yang mengiris kulit.

​"Kamu puas, kan? Kamu hancurkan hidup Indra, kamu jebloskan dia ke penjara hanya karena ego pribadimu! Dan sekarang kamu tutup semua jalan rezekiku di semua kelab!" Cindy mendekat dengan mata menyalang, tangannya menunjuk-nunjuk wajah Gendis di depan gedung bank yang megah itu. "Kamu pikir kamu hebat karena jadi pejabat di bank ini? Enggak, Gendis! Biar aku kasih tahu satu rahasia. Indra selingkuh sama aku karena kamu itu cacat sebagai wanita! Kamu itu wanita mandul yang nggak bisa kasih dia keturunan. Kamu cuma mesin hitung uang di bank ini yang membosankan! Aku bisa kasih dia kehangatan, aku bisa kasih dia harapan tentang keluarga yang sebenarnya, sesuatu yang nggak akan pernah bisa kamu beli dengan seluruh aset bank ini!"

​Gendis terdiam sejenak. Ia tidak meledak, tidak juga membalas makian itu dengan kata-kata kasar. Ia justru menarik napas panjang dan menatap Cindy dengan rasa kasihan yang mendalam, rasa kasihan yang membuat Cindy merasa lebih hina daripada jika ia dipukul.

​"Hanya itu senjata yang kamu punya? Menghina rahimku di depan kantor ini?" tanya Gendis tenang, suaranya hampir menyerupai bisikan. "Kasihan sekali kamu, Cindy. Kamu menggantungkan seluruh harga dirimu pada kemampuan biologis, karena kamu memang tidak punya nilai lain sebagai manusia. Kamu merasa menang karena menjadi tempat pelarian seorang pria yang karakternya hancur? Itu bukan kemenangan, itu adalah bukti bahwa kamu serendah pria yang kamu bela."

​"Kamu! Dasar perempuan sombong!" Cindy yang sudah kehilangan akal sehatnya hendak maju untuk menjambak rambut Gendis, matanya merah penuh dendam.

​Namun, sebelum jemari Cindy yang kotor menyentuh ujung rambut Gendis, sebuah mobil SUV hitam legam dengan kaca gelap berhenti dengan suara decit ban yang halus tepat di samping mereka. Pintu mobil terbuka, dan sesosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam yang mahal turun dengan aura yang begitu mengintimidasi hingga atmosfer di tempat itu terasa membeku.

​Baskara.

Pria itu langsung berdiri di depan Gendis, menjadi tameng yang kokoh dan tak tergoyahkan. Tatapannya pada Cindy begitu dingin, seolah-olah ia sedang menatap limbah beracun.

​"Ada masalah di sini, Gendis?" suara Baskara berat, dalam, dan penuh ancaman.

​Cindy tertegun, langkahnya terhenti seketika. Ia mengenali siapa pria ini. Baskara bukan hanya sekadar pengusaha sukses, ia adalah predator di dunia bisnis yang namanya ditakuti bahkan oleh dewan komisaris bank ini sekalipun.

​"Pak Baskara, ini urusan saya sama perempuan mandul ini! Dia sudah merusak hidup orang!" seru Cindy, mencoba mencari pembelaan dengan suara yang kini mulai bergetar karena ketakutan.

​Baskara menatap Cindy dengan tatapan jijik yang tak ditutup-upi. "Seharusnya kamu punya rasa malu yang cukup untuk tidak menampakkan wajah di depan gedung bank terkemuka ini. Sudah menjadi parasit di rumah tangga orang, sekarang malah berteriak seperti orang tidak berpendidikan di depan kantor wanita hebat ini. Biar aku perjelas satu hal untukmu,"

​Baskara melangkah satu tindak lebih dekat, membuat Cindy terpaksa mundur. "Kamu sama sekali tidak sebanding dengan Gendis. Gendis adalah wanita berkelas, seorang penting di bank besar, dan seseorang yang memiliki integritas tinggi. Sementara kamu? Kamu hanyalah gangguan kecil yang seharusnya sudah dibuang ke tempat sampah sejak lama. Kamu bahkan tidak layak berada di aspal yang sama dengan bayangan sepatunya."

​Kalimat itu menghujam jantung Cindy lebih dalam daripada tuntutan hukum mana pun. Kata-kata tidak sebanding itu bergema di telinganya, meruntuhkan sisa-sisa delusi keunggulannya yang selama ini ia bangun di atas hubungan gelapnya dengan Indra.

​Baskara kemudian berbalik ke arah Gendis. Dalam sekejap, tatapan predatornya menghilang, digantikan oleh sorot mata yang lembut dan penuh perhatian. "Mobilku sudah siap, Gendis. Ayo pergi. Kita punya janji makan malam di tempat yang jauh lebih tenang, jauh dari bau sampah jalanan yang mengganggu ini."

​Gendis mengangguk pelan, memberikan satu lirikan terakhir, bukan lirikkan amarah, melainkan lirikkan perpisahan yang menandakan bahwa bagi Gendis, Cindy sudah dianggap mati. Gendis melangkah masuk ke dalam mobil mewah Baskara yang pintunya dibukakan dengan hormat oleh sopir pribadi pria itu.

​Cindy berdiri terpaku di sana, sendirian di tengah pelataran parkir Bank Nasional Utama yang luas. Ia melihat lampu belakang mobil SUV itu yang perlahan menjauh, membelah kegelapan malam Sudirman, membawa Gendis menuju kehidupan barunya yang penuh kemewahan dan perlindungan.

​Di tengah megahnya gedung bank yang menjulang tinggi, simbol kekuasaan finansial yang dikelola Gendis, Cindy merasa sangat kecil, sangat kotor, dan benar-benar tidak berarti. Ia menyadari bahwa ancamannya untuk menjatuhkan Gendis hanyalah omong kosong seorang pecundang.

Gendis adalah seorang profesional sukses di salah satu institusi keuangan terbesar di Indonesia, sementara ia hanyalah seorang LC yang baru saja ditendang dari pekerjaannya.

​Lutut Cindy melemas. Ia jatuh terduduk di atas aspal dingin di bawah bayang-bayang gedung BNU yang perkasa.

Air matanya tumpah, merusak sisa riasannya hingga wajahnya tampak menyeramkan. Ia menangis meraung-raung, memukul-mukul aspal dengan tangan kosongnya. Rasa benci, iri, dendam, dan penyesalan yang terlambat bercampur menjadi satu racun yang menyesakkan dada.

​Malam itu, Jakarta tetap bersinar terang, namun bagi Cindy, dunianya sudah benar-benar gelap gulita. Ia telah kehilangan segalanya, kekasihnya, pekerjaannya, harga dirinya, dan yang paling menyakitkan, ia menyadari bahwa musuh yang ia benci sama sekali tidak menganggapnya sebagai lawan yang seimbang. Ia hanyalah noda kecil yang baru saja dihapus oleh Gendis tanpa perlu mengotori tangannya sendiri.

​Kehancuran Cindy bukan terjadi karena palu hakim, melainkan karena kesadaran bahwa ia tetaplah bukan siapa-siapa di hadapan wanita sehebat Gendis, sementara Gendis akan terus bersinar, merdeka dari beban masa lalunya.

1
Ruby Jingga
guys aku up maleman ya hari ini banyak lembur di real life🙏
Susilawati Arum
Up lagi dong thor..maaf kemaruk thor
Susilawati Arum
Terimakasih banyak author untuk update terbarunya
july: sama² kak, bntr lagi aku up lagi ya
total 1 replies
Susilawati Arum
Baru kali ini baca novel pemeran utama wanitanya terbaik pokoknya..Ter the best lah Gendis
Susilawati Arum
Ceritanya bagus banget...msh update nggak author
Ruby Jingga: update kak sorean dikit yaaa
total 1 replies
arniya
makin seru....
arniya
tunggu tanggal mainnya indra.....
arniya
mampir kak
Ruby Jingga: makasih kakak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!