Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Undangan dari Bayangan
Surga Kedua - Dataran Karat Berbisik.
Angin di Surga Kedua tidak pernah membawa kehangatan, hanya bau tembaga dan karat yang menyengat. Tiga ratus kultivator fana berbaris membelah dataran luas yang dipenuhi pilar-pilar batu logam, mengikuti sosok berjubah hitam yang berjalan santai di depan mereka.
Di balik jubahnya, kulit Shen Yu yang kini telah disempurnakan oleh Tulang Besi Naga Bintang memancarkan keheningan yang mematikan. Tekanan gravitasi Surga Kedua yang sebelumnya memaksa pasukannya memuntahkan darah, kini terasa tidak lebih dari embusan angin sepoi-sepoi bagi tubuh barunya.
Lin Xue berjalan tepat setengah langkah di sampingnya. Pedang teratainya tersarung rapi, namun hawa Dao Waktu dan Kehidupan yang melebur di dalam Dantian-nya membuat setiap pijakannya di atas tanah baja tidak meninggalkan jejak suara sedikit pun.
"Langkahmu terlalu lambat, Mo Han," tegur Shen Yu tanpa menoleh.
Di belakang barisan, Mo Han dan sisa pasukannya terengah-engah, masih menyeret tawanan dari Klan Api Tembaga. "M-Mohon ampun, Tuan Shen! Tanah di sini menyedot Qi dari kaki kami setiap kali kami melangkah."
"Itu karena kalian melawan hukum alamnya, bukan menelannya," cemooh Shen Yu dingin. "Jika pada saat matahari kelabu itu tenggelam kalian tidak bisa menyesuaikan ritme napas kalian, aku akan meninggalkan kalian sebagai santapan monster baja."
Sebelum Mo Han sempat menjawab, Shen Yu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Mata kirinya yang bercincin perak menyipit. Ketiadaan di sekitarnya bergetar halus, merespons anomali ruang yang sangat tipis di depan mereka.
SRAAAK.
Bayangan dari sebuah pilar batu logam raksasa di depan mereka mendadak memanjang secara tidak wajar. Bayangan itu bergeliat, menebal, dan perlahan bangkit dari tanah, membentuk siluet seorang pria berjubah abu-abu tanpa wajah.
Para kultivator fana di belakang Shen Yu serentak menghunus senjata mereka, hawa membunuh seketika meledak.
"Tahan senjata kalian," perintah Shen Yu mutlak, mengangkat satu jarinya. Pasukannya langsung mematung, tak berani membantah.
Sosok bayangan itu melangkah maju. Meskipun ia tidak mengenakan topeng porselen, fluktuasi Dao Bayangan yang memotong jarak ini sangat familiar bagi Shen Yu.
"Teknik yang sama, bau kepengecutan yang sama," Shen Yu menyeringai sinis. "Paviliun Cermin Bayangan. Tuan Muda Tanpa Wajah mengirim anjing nya ke mari?"
Sosok bayangan itu membungkuk dengan sangat anggun, meletakkan tangan kanannya di dada.
"Kaisar Malam memiliki ingatan yang tajam dan lidah yang tak kalah mematikan," suara utusan bayangan itu mengalun tanpa emosi, persis seperti tuannya. "Tuan Muda menyampaikan ucapan selamat atas keberhasilan Anda menembus Surga Kedua dan memperoleh penyempurnaan tubuh dari tulang naga purba."
"Katakan pada tuanmu, matanya terlalu sering mengintip. Jika ia terus melihat apa yang bukan urusannya, aku akan membutakannya," balas Shen Yu sedingin es abadi.
Utusan bayangan itu tidak terprovokasi. Ia hanya merentangkan tangannya, dan dari dalam kabut gelap di telapak tangannya, sebuah gulungan perkamen yang memancarkan cahaya merah tembaga melayang ke arah Shen Yu.
Shen Yu tidak menangkapnya dengan tangan. Ia membiarkan gulungan itu tertahan oleh hisapan Ketiadaan tepat satu jengkal di depan wajahnya, mengikis segala bentuk formasi jebakan atau racun mematikan yang mungkin tersembunyi di dalamnya, sebelum akhirnya ia menggenggamnya.
"Apa ini?" Shen Yu bertanya.
"Sebuah hadiah kecil untuk merayakan kedatangan Anda di Surga Kedua," jawab utusan itu. "Itu adalah Peta Urat Nadi Klan Api Tembaga. Tuan Muda mengetahui bahwa Anda berniat meratakan klan tersebut. Di dalam gulungan itu, tertulis titik lemah formasi pelindung Kota Roda Besi, jalur suplai Kristal Dao mereka, dan yang terpenting... kelemahan fatal dari Pemimpin Klan mereka."
Mata Lin Xue memicing tajam. "Tuan Muda Tanpa Wajah tidak pernah memberikan sesuatu secara cuma-cuma. Di Surga Pertama, ia menukar rute pelarian dengan sebuah tugas pembunuhan. Apa harganya kali ini?"
Utusan itu menoleh pada Lin Xue, lalu menunduk hormat. "Ratu Abadi sangat bijaksana. Tuan Muda memang tidak meminta bayaran, melainkan menawarkan sebuah undangan."
Bayangan di sekitar utusan itu mulai berputar, membentuk sebuah ukiran pintu gerbang raksasa di atas tanah.
"Dominasi Pengadilan Langit dan Kaisar Langit Taiyi telah terlalu lama mencekik Tiga Puluh Tiga Surga," lanjut utusan itu. "Malam ini, di kedalaman Jurang Kabut Hitam, faksi-faksi bawah tanah terkuat di Surga Kedua akan berkumpul dalam Pertemuan Puncak Bulan Gelap. Mereka adalah para tiran lokal, penguasa pasar gelap, dan sekte-sekte pembangkang yang menunggu waktu untuk memberontak."
"Dan Tuan Muda ingin aku hadir?" Shen Yu mengangkat sebelah alisnya.
"Tuan Muda ingin Anda bergabung dalam aliansi tersebut, Kaisar Malam. Anda memiliki kekuatan memotong hukum alam, tetapi Anda tidak memiliki pijakan, wilayah, atau perisai politik. Sendirian melawan Klan Api Tembaga mungkin bisa Anda lakukan... tetapi jika Pengadilan Langit mengirim ahli Dewa Sejati lainnya, bahkan tulang naga Anda akan hancur menjadi debu."
Udara menjadi sangat hening. Pasukan fana menelan ludah, menanti reaksi junjungan mereka.
Shen Yu membuka gulungan perkamen itu. Matanya dengan cepat memindai peta rahasia tersebut, merekam setiap detail kelemahan musuhnya ke dalam ingatannya. Lalu, dengan satu remasan tangan kanannya, Api Ketiadaan membakar gulungan itu hingga tak tersisa satu abu pun.
"Aliansi," Shen Yu mengulang kata itu dengan nada mengejek. Tawanya yang pelan, rendah, dan penuh arogansi bergema di dataran karat.
"Beri tahu Tuan Muda Tanpa Wajah," kata Shen Yu, berjalan selangkah menembus bayangan utusan itu hingga hawa Ketiadaan-nya membuat sosok bayangan itu bergetar seolah hendak hancur. "Seekor naga tidak pernah beraliansi dengan sekawanan tikus selokan hanya karena mereka memiliki musuh yang sama."
Utusan bayangan itu menahan bentuknya dengan susah payah di bawah tekanan Shen Yu. "Lalu... Anda menolak undangan ini, Kaisar Malam?"
"Aku tidak bilang aku menolak," Shen Yu menyeringai, matanya memancarkan kegelapan yang tak berdasar. "Aku akan datang ke pertemuan itu. Tapi bukan untuk bergabung dalam aliansi kalian."
Shen Yu berpaling, mengibaskan jubah hitamnya.
"Aku datang untuk melihat, apakah para pembangkang Surga Kedua ini layak menjadi bidak caturku, atau hanya sekadar sampah yang harus disingkirkan sebelum aku menghadapi Pengadilan Langit."
Utusan bayangan itu terdiam sesaat, sebelum akhirnya menunduk dalam-dalam, pasrah pada kehendak sang penakluk. "Tuan Muda telah menduga jawaban ini. Jurang Kabut Hitam menanti Anda, Kaisar Malam."
Setelah berkata demikian, sosok bayangan itu meleleh kembali ke tanah dan menghilang tanpa jejak.
Shen Yu menatap titik di mana utusan itu menghilang, lalu menoleh pada Lin Xue. "Jurang Kabut Hitam. Sepertinya penaklukan Kota Roda Besi harus tertunda satu malam."
"Kumpulan faksi bawah tanah pasti dipenuhi oleh para penguasa di Tahap Puncak atau bahkan mereka yang menyembunyikan kekuatan Dewa Sejati palsu," kata Lin Xue tenang, tidak menunjukkan ketakutan, hanya kalkulasi yang mematikan. "Mereka tidak akan tunduk hanya dengan kata-kata, Guru."
"Kata-kata diciptakan untuk mereka yang mau mendengar, Xue'er," Shen Yu mengepalkan tinjunya yang sekeras baja kosmik. "Bagi mereka yang tuli oleh kesombongan, kita gunakan bahasa yang lebih sederhana. Patahan tulang."
Shen Yu berbalik menghadap Mo Han.
"Mo Han! Bawa pasukan mundur ke dalam gua-gua di tebing dataran ini. Bangun formasi penyembunyi, dan bunuh siapa saja yang lewat. Aku dan Ratu kalian akan menghadiri sebuah perjamuan."
"Sesuai perintah, Tuan Shen!" Mo Han berseru, segera mengarahkan pasukannya mencari tempat perlindungan.
💪💪💪