Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 20
Pagi ini mood Davin sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Semua itu Karena rasa kesalnya kepada Ayana. Pagi-pagi dia harus bangun dengan disiram air es oleh istrinya itu, setelahnya di kantor dia melihat ada salah satu staf yang malah memberikan makan siang kepada Ayana. Apa hubungan mereka sebenarnya? Kenapa Ayana banyak dekat sekali dengan para pria? Ada Reiner, Andri, belum lagi asistennya Cakra juga menyukai dia. Atau mungkin selama ini dia yang terlalu cuek dan tidak pernah tahu jika Ayana memang selalu tebar pesona kepada para pria di kantornya.
Karen mood Gavin yang jelek itulah, akhirnya Ayana di kantor kena imbasnya. Dia dia dikerjai habis-habisan oleh Gavin. Ayana dibuat bolak-balik lantai bawah dan atas ruangan mereka hanya diminta untuk meminta berkas dan tanda tangan yang tidak ada pentingnya sama sekali.
"Nih! Apa lagi sekrang? Apa anda tidak ada pekerjaan lain untuk saya yang lebih penting? Saya ada hanya mengerjai saya? bukannya pekerjaan ada banyak, Anda saja belum memahami isi dari draft kerjasama yang harus anda presentasikan nanti siang bersama Pak Cakra!" kesal Ayana menyimpan map di meja Gavin dengan keringat yang mulai membasahi pelipis Ayana.
Eh tunggu dulu, kenapa Ayana malah terlihat cantik dengan wajah berkeringat seperti itu. Di tambah dengan wajahnya yang di tekuk begitu membuat Gavin malah suka sekali. Rasanya senang saja membuat Ayana marah.
"Mungkin iya! Karena saya sedang kesal kepada kamu dengan membangunkan aku menggunakan air es!" jawab Gavin.
"ck! Dasar pendendam!" kesal Ayana dan melangkah pergi dari sana.
"Eh, mau kemana kamu? Tugas kamu belum selesai!" panggil Gavin membuat Ayana kembali berbalik dengan kedua tangannya terkepal di bawah sana. Jika saja bukan di kantor, maka dia akan menjadikan Gavin samsak hidupnya. Menyebalkan sekali pria itu.
"Apa lagi Pak Gavin?" tanya Ayana.
"Kamu bersiap untuk pergi meeting dengan saya!" perintah Gavin.
"Kan anda pergi meeting dengan Pak Cakra, kenapa harus saya? Bahkan saya belum mempelajarinya sama sekali!" kesal Ayana.
"Duduk dan pelajari di sini!" perintah Gavin.
Ayana terpaksa duduk di depan suaminya dan membaca berkas yang akan di gunakan sebagai bahan meeting nanti siang. Ayana melihat pergelangan tangannya waktu tersisa hanya dua jam. Dia hanya bisa mempelajari berkas ini satu jam karena setelahnya mereka harus berangkat ke restoran tempat meeting berlangsung. Gavin benar-benar membuatnya dalam masalah.
"Nggak usah sok imut begitu! Kamu fikir cantik dengan merengut begitu?" komplain Gavin padahal di dalam hati menahan tawa.
"Berisik Pak! Silahkan kerjakan tugas anda sendiri! Nggak usah ngurusi saya! Awas saja kau di rumah nanti! Besok pagi aku akan benar-benar menyirammu dengan air panas!" gerutu Ayana.
"Aku bisa mendengarnya! Kalau sampai terjadi bersiaplah kamu akan kena marah mami dan papi karena sudah membuat anak paling tampannya ini terlu-ka!" jawab Gavin membuat Ayana memilih diam dan tak meladeninya karena akan menjadi panjang kali lebar.
Ayana lebih memilih membawa berkas di tangannya dan duduk di sofa dari pada harus mendengan celetukan Gavin lagi yang akhinya akan membuat konsentrasinya buyar. Di tempat duduknya Gavin malah terus mencuri pandang ke arah istrinya.
"Astaga! Apa-apaan ini? Kenapa aku malah seperti ini kepada Ayana? haish! dia itu wanita yang paling menyebalkan dan juga jahat. Mana ada istri yang tega menyiram air es kepada suaminya saat membangunkan tidur!" batin Gavin dan kembali fokus dengan laptop di depannya.
"Pak, tolong bersiap, sebentar lagi kita akan pergi meeting!" ujar Cakra yang sedikit bingung karena ada Ayana di ruangan Gavin dan sibuk dengan berkas di tangannya.
"Aku akan pergi dengan Ayana! kamu di kantor saja," jawab Gavin membuat Cakra mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa?" tanya Gavin saat Cakra masih diam saja.
"Tapi Pak, kasihan Ayana kalau dia belum menguasai materinya. Waktunya juga sangat mepet!" jawab Cakra merasa kasihan kepada Ayana.
Namun jawaban Cakra itu malah membuat Gavin berdecak kesal karena Cakra terlalu perhatian kepada Ayana. Padahal memang sebenarnya Cakra hanya khawatir dengan Ayana yang belum menguasai Materi. Cakra tahu sepertinya Gavin sengaja memilih Ayana agar dia bisa kembali menjahili Ayana seperti tadi. Entah pasangan apa yang ada di depannya itu. Kasihan Ayana harus menjadi tempat kekesalan Gavin. Apalagi setelah dia malah menunjuk Ayana menjadi pengantin pengganti saat Vania dan kedua orang tuanya kabur.
"Resiko! Bukankah dia di bayar untuk bekerja di sini?" jawab Gavin acuh.
"Saya siap-siap dulu!" Ayana bangkit seolah tak peduli dengan perdebatan dua pria di depannya. Cakra juga ikut keluar dari ruangan Gavin.
"Ayana, harusnya kamu tolak saja permintaan gila Gavin! Dia pasti sengaja membuat kamu kesulitan agar memiliki alasan untuk menghukum kamu di kantor!" ujar Cakra saat berjalan di belakang Ayana.
"Tidak apa-apa nanti bisa aku balas di rumah! Tadi pagi baru ku siram air es, mungkin besok ku siram teh, kopi, atau bahkan air panas sekalian!" jawab Ayana santai.
Mendengar jawaban Ayana membuat Cakra melongo tak percaya. Apalagi gadis di depannya itu bicara dengan ekspresi datar dan bahkan terkesan acuh. Apa kabar dengan keadaan rumah tangga dua orang ini. Mereka malah saling balas, yang satu balas dendam di rumah, yang satu lagi membalas di kantor.
"Sudah, santai saja Pak Cakra! Aku baik-baik saja! Semuanya akan aman kok!" ujar Ayana menepuk bahu Cakra bersamaan dengan Gavin keluar dari ruangannya dan menatap tajam ke arah mereka berdua.