Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Istriku
“Nyonya Rasheed, senang bertemu denganmu. Ada yang bisa kubantu?”
Mata Hans sempat melebar saat melihat Tiffany berjalan ke arahnya, tetapi dalam sekejap tatapannya berubah dingin.
“Enggak nyangka ketemu kamu di sini.”
Tiffany menelan kembali kalimat yang sudah ia siapkan untuk menjelaskan semuanya. Ia akhirnya hanya menyapa Hans dengan kaku.
Awalnya ia tidak percaya ketika ibunya mengatakan bahwa Hans sudah punya wanita lain. Siapa sangka itu benar. Meski mereka sudah bercerai, melihat mantan suaminya berdiri bersama perempuan lain tetap membuatnya tidak nyaman. Ada rasa canggung dan ganjil yang mengganggu hatinya.
“Pak Rinaldi, dia teman Anda?” tanya Maureen sambil mengamati Tiffany dari ujung kepala sampai kaki. Naluri wanitanya langsung menangkap sedikit permusuhan dari perempuan di hadapannya.
“Dia mantan istriku,” jawab Hans.
“Oh ya?” Maureen mengangkat alis, lalu tersenyum manis pada Tiffany. “Hai, aku Maureen Wiraningrat. Senang kenal.”
Ia mengulurkan tangan. Sikapnya terlihat ramah, tetapi aura yang terpancar darinya terasa menekan.
“Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Wiraningrat,” jawab Tiffany sopan.
Biasanya ia sangat percaya diri. Namun kali ini ia harus mengakui bahwa wanita di depannya memang luar biasa. Wajah, tinggi badan, dan pembawaan mereka seimbang. Bahkan tubuh Maureen jauh lebih berisi dibanding dirinya. Pria mana pun pasti terpikat.
“Hans, sejak kapan kamu kenal nyonya Wiraningrat? Kenapa kamu enggak pernah ngenalin dia?” tanya Tiffany tanpa bisa menahan diri.
“Emang kamu pernah peduli sama teman-temanku?” balas Hans sinis.
Ucapan tajam itu membuat Tiffany terdiam. Ia tidak menyangka Hans akan seblak-blakan itu. Suasana di antara mereka bertiga langsung menegang.
“Hans, aku mau ngomong sebentar sama kamu,” ujar Tiffany setelah beberapa detik hening.
“Soal apa?” jawab Hans datar.
“Soal pribadi. Kita ngomong di tempat lain aja.”
Tiffany hendak mencari sudut yang lebih sepi, tetapi Hans tidak bergerak sedikit pun. Keningnya berkerut kesal.
“Ngomong aja di sini. Aku enggak mau ada salah paham lagi,” tegas Hans.
“Kamu harusnya enggak perlu seribet ini,” Tiffany mengerutkan dahi.
Ia sudah berusaha berdamai, tetapi Hans sama sekali tidak memberi ruang. Nada bicaranya terdengar merendahkan dan tidak bersahabat.
“Nyonya Rasheed, kita udah cerai. Status kamu sekarang tinggi. Lebih baik kita enggak kelihatan bareng. Nanti aku cuma bikin kamu malu.” Hans mendengus pelan.
“Aku enggak ngerti. Kenapa kamu jadi nyebelin banget?” Kekesalan Tiffany mulai terlihat.
“Kamu beneran nanya gitu?” Hans menatapnya tajam. “Bukannya ini pilihan kamu?”
“Aku .…” Tiffany tidak mampu membalas.
Benar, dialah yang mengajukan perceraian. Tapi bukan berarti masa lalu harus terus diungkit.
Meski berusaha menenangkan diri, ia merasakan amarah perlahan naik. Melihat Hans bersama perempuan lain memicu rasa kesal dan frustrasi. Emosi itu semakin kuat seiring pertengkaran mereka memanas.
“Hans, aku tahu kamu benci sama aku. Tapi aku enggak merasa aku salah. Lagian, aku udah berkali-kali kasih kamu kesempatan buat buktiin diri!”
Nada suara Tiffany berubah dingin. Dengan harga dirinya yang tinggi, tidak mudah baginya untuk lebih dulu mencoba berdamai. Apalagi sekarang, semua itu seperti ditamparkan kembali ke wajahnya.
“Jadi maksud kamu, tetap aku yang salah?” Hans hanya bisa tertawa.
“Aku lagi enggak mau debat soal itu. Kita udah enggak ada hubungan apa-apa. Tapi kalau kamu masih punya sedikit rasa hormat sama aku sebagai mantan istri kamu, kamu seharusnya enggak pamer pasangan baru kamu di depan aku!” ucap Tiffany tegas.
“Hormat?” Hans tertawa lebih keras. “Terus Othan gimana? Bahkan sebelum kita resmi cerai, kamu udah dekat sama dia. Masih berani ngomong soal hormat?”
“Mau kamu percaya atau enggak, aku enggak bersalah. Hati nurani aku bersih,” balas Tiffany sambil mengangkat dagu.
“Oh ya?” Hans menyeringai dan menunjuk Othan yang sedang berjalan mendekat. “Aku jadi pingin lihat sebersih apa hati nurani kamu itu.”
Mereka sudah beberapa kali bersama, bahkan sekarang datang ke jamuan amal ini berdua. Mengaku tak bersalah terasa seperti lelucon.
Tiffany mengerutkan kening, tetapi tidak memberi penjelasan. Pertama, tidak ada yang perlu dijelaskan. Kedua, Hans pasti tidak akan percaya.
“Tiffany, tadi kita lagi ngobrol. Kenapa kamu malah pergi?” tanya Othan sambil tersenyum.
Dari sudut matanya, ia melihat Maureen. Ia langsung terpukau oleh kecantikannya. Tatapannya berubah, napasnya sedikit memburu.
Wanita secantik itu belum pernah ia lihat sebelumnya. Jika Tiffany seperti air yang tenang, Maureen seperti api yang menyala. Tanpa perlu bergerak banyak, sorot matanya saja sudah cukup membangkitkan hasrat pria. Ia memang penggoda alami.
Othan sempat mencuri beberapa pandang sebelum cepat-cepat mengalihkan mata. Ia tahu, tidak pantas menunjukkan niat terlalu jelas, apalagi di depan wanita-wanita menawan seperti itu. Kesan pertama sangat penting.
“Hans, enggak nyangka kamu ada di sini,” ucap Othan sambil mengernyit.
Dalam hati, ia diliputi iri saat melihat Maureen begitu akrab dengan Hans.
Kenapa pria itu selalu dikelilingi wanita cantik?
Baru saja bercerai dari Tiffany, sekarang sudah bersama perempuan menarik lainnya. Seolah-olah keberuntungan selalu memihaknya.
“Kenapa harus kaget?” balas Hans datar.
“Aku dengar dari Tiffany, kamu cuma pesuruh di Emerald Group. Dengan status kamu, kamu enggak punya hak masuk ke Colloseum. Mau nyelinap masuk ya?” Othan menyipitkan mata.
“Enggak usah urusin aku. Itu bukan urusan kamu,” jawab Hans tenang.
“Berarti tebakan aku benar.” Othan tersenyum sinis lalu menoleh ke Maureen. “Jangan ketipu sama dia, cantik. Hans itu bukan anak orang kaya, cuma orang biasa yang enggak ada apa-apanya. Dia bahkan enggak pantas berdiri di tempat yang sama kayak kamu.”
Menurut Othan, pasti Hans sudah berbohong pada wanita itu. Kalau tidak, mana mungkin perempuan secantik itu mau bersamanya.
“Terus kenapa? Selama aku suka, itu cukup,” ujar Maureen santai.
“Cantik, dengan wajah sama penampilan kamu, kamu pasti bisa nikah sama keluarga kaya. Ngapain milih hidup susah bareng dia?” tanya Othan heran.
“Uang itu enggak terlalu berarti buat aku. Di mata aku, Hans itu pria yang luar biasa.” Maureen dengan alami menyelipkan lengannya ke lengan Hans.
“Luar biasa?” Othan tertawa mengejek. “Dia enggak punya uang, enggak punya nama, enggak punya kekuasaan. Luar biasanya di mana?”
“Minimal dia lebih ganteng dari kamu,” sahut Maureen tajam.
“Ganteng doang enggak ada gunanya. Ujung-ujungnya cuma jadi mainan!” Wajah Othan menggelap. “Aku udah ingetin, Hans itu penipu. kamu bakal nyesel nanti kalau dia manfaatin harta sama tubuh kamu!”
“Manfaatin aku?” Maureen tertawa ringan. “Justru aku berharap dia manfaatin aku, tapi kayaknya dia enggak tertarik.”
Ucapan beraninya membuat Tiffany dan Othan sama-sama mengerutkan kening. Bahkan Hans pun mulai tidak tahan. Wanita ini benar-benar tidak tahu malu.
...────୨ৎ────...
...Hi....
...Mohon bantuannya untuk beri LIKE di setiap bab yang kalian baca ya, teman-teman....
...Terima kasih....
...────୨ৎ────...