"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: DANSA MAUT DI MALAM ULANG TAHUN
Lampu kristal raksasa di aula utama Menara Adiguna berpendar mewah, memantulkan cahaya pada gaun-gaun sutra dan setelan jas mahal para tamu undangan. Musik klasik mengalun lembut, menyamarkan ketegangan yang merayap di balik dinding-dinding beton. Ini bukan sekadar pesta ulang tahun; ini adalah pernyataan perang yang dibungkus dengan kemewahan.
Gwen Adiguna berdiri di puncak tangga melingkar. Gaun merah menyalanya menyapu lantai, sementara berlian di lehernya berkilau menantang. Di sampingnya, Elang berdiri tegak dengan tuksedo hitam yang pas di tubuh tegapnya. Meski terlihat seperti pasangan bangsawan yang sempurna, di balik jas Elang terselip pisau keramik dan pistol khusus yang tidak terdeteksi sensor logam.
"Siap, Nona?" bisik Elang, matanya terus memindai kerumunan tamu.
Gwen tersenyum manis ke arah kamera wartawan, namun suaranya tetap dingin. "Aku sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini, Elang. Mari kita beri mereka pertunjukan yang tak terlupakan."
Gwen melangkah turun. Setiap pasang mata tertuju padanya. Di antara para tamu, ia melihat wajah-wajah yang ia kenali—menteri korup, pengusaha rakus, dan antek-antek The Hive yang masih tersisa. Mereka tampak gelisah, menyadari bahwa "Diana Muda" yang mereka remehkan kini telah berubah menjadi singa betina.
Di sudut ruangan yang remang, seorang pria dengan setelan abu-abu gelap berdiri sendirian. Ia tidak memegang gelas minuman, tangannya hanya terlipat di depan dada. Wajahnya biasa saja, tipe wajah yang akan segera kau lupakan di keramaian. Namun, saat mata Elang bertemu dengan mata pria itu, detak jantungnya seolah berhenti sesaat.
Tatapan itu... dingin, hampa, dan penuh dengan aroma kematian.
"Viper," desis Elang di dalam hati.
Elang menyentuh earpiece-nya. "Hendra, target utama terdeteksi di koordinat jam dua. Posisi dekat pilar utama. Jangan biarkan dia mendekati Gwen."
"Dimengerti, Tuan. Tim keamanan sedang bergerak menyamping," jawab Hendra dari ruang kendali.
Namun, Viper bukan pembunuh amatir. Begitu tim keamanan Hendra mendekat, pria itu menghilang di balik kerumunan seperti asap.
Gwen sedang berdiri di tengah aula, dikelilingi oleh beberapa kolega bisnis, ketika tiba-tiba lampu seluruh gedung padam total.
KLIK.
Keheningan sesaat berubah menjadi jeritan panik. Suara musik terhenti, digantikan oleh suara langkah kaki yang teratur.
"Gwen, jangan bergerak!" suara Elang terdengar tepat di telinganya. Elang segera menarik Gwen ke dalam pelukannya, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
Tiba-tiba, cahaya merah dari lampu darurat menyala, memberikan efek dramatis yang mencekam. Di tengah lantai dansa yang kini kosong, Viper berdiri dengan sebuah pedang pendek yang tipis dan berkilau.
"Sepuluh tahun, Elang. Kau masih saja menjadi anjing penjaga yang setia," suara Viper rendah, namun menggema di seluruh ruangan.
Elang melepaskan jasnya, menampakkan kemeja putih yang mulai menegang mengikuti ototnya. Ia menarik sepasang pisau taktis dari balik pinggangnya. "Dan kau masih saja menjadi sampah yang bersembunyi di kegelapan, Viper."
Viper bergerak lebih dulu. Gerakannya begitu cepat hingga mata manusia biasa hampir tidak bisa mengikutinya.
TRANG!
Logam beradu dengan logam, menciptakan percikan api di tengah kegelapan. Elang menahan serangan Viper, namun kekuatan pria itu luar biasa. Elang terdorong mundur, menabrak meja saji hingga gelas-gelas kristal hancur berantakan.
"Gwen, LARI KE RUANG AMAN!" teriak Elang.
Gwen tidak lari. Ia justru menarik sebuah pistol kecil dari balik pahanya—pistol yang ia sembunyikan di balik gaun mewahnya. "Aku tidak akan lari lagi, Elang!"
Gwen melepaskan tembakan ke arah Viper.
DOR!
Viper menghindar dengan gerakan akrobatik yang mustahil, peluru itu hanya mengenai pilar marmer. Namun, gangguan sesaat itu memberi celah bagi Elang. Elang menerjang maju, memberikan tendangan berputar yang mengenai dada Viper.
BRUK!
Viper terhempas ke dinding, namun ia segera bangkit seolah tidak merasakan sakit. Ia tersenyum, senyuman yang lebih mengerikan dari luka apa pun. "Menarik. Sang Ratu ternyata punya taring."
Di saat yang sama, puluhan pria berseragam hitam The Hive merangsek masuk ke dalam aula lewat jendela-jendela yang dipecahkan. Pertempuran besar pecah di tengah pesta ulang tahun yang mewah. Para tamu undangan berlarian panik, menciptakan kekacauan yang menguntungkan bagi para penyerang.
Elang dan Viper terlibat dalam dansa maut yang brutal. Setiap sayatan pisau Elang dibalas dengan tusukan pedang Viper yang mematikan. Darah mulai menetes di lantai marmer putih.
"Keluargamu mati memohon nyawa padaku, Elang. Kau ingin tahu apa kata-kata terakhir ayahmu?" provokasi Viper sambil terus menyerang.
"Diam kau!" Elang mengamuk. Pikirannya dipenuhi bayangan masa lalu yang kelam. Serangannya menjadi liar, dan itu adalah kesalahan.
Viper berhasil menyelinap di bawah pertahanan Elang dan menyayatkan pedangnya di lengan Elang. "Dia bilang... 'Selamatkan putraku'. Sayang sekali, putra yang dia selamatkan hanyalah pecundang yang mencintai majikannya sendiri."
Elang tersungkur di atas satu lutut, napasnya tersengal.
Viper mengangkat pedangnya untuk memberikan serangan terakhir. "Matilah seperti ayahmu!"
Tiba-tiba...
DOR!
Satu peluru menghantam bahu Viper. Bukan dari Gwen, melainkan dari arah pintu masuk utama.
Arthur Adiguna berdiri di sana, di atas kursi rodanya, memegang senapan laras panjang dengan tangan yang gemetar namun tatapan yang kokoh. Di belakangnya, Hendra dan tim bantuan bersenjata lengkap masuk menyerbu.
"Jangan sentuh menantuku, bajingan!" teriak Arthur.
Kata 'menantu' itu membuat Elang tertegun sejenak, namun ia segera menggunakan momen itu untuk bangkit. Elang menerjang Viper, menanamkan pisaunya tepat di bahu Viper yang terluka.
"Ini untuk ayahku!" Elang memutar pisaunya di dalam luka tersebut.
Viper meraung kesakitan. Sadar bahwa situasi sudah berbalik, Viper melempar bom asap ke lantai.
BOOM!
Asap abu-abu pekat memenuhi ruangan. Saat asap menipis, Viper sudah menghilang, meninggalkan jejak darah yang panjang menuju balkon.
Gwen segera berlari ke arah Elang yang bersimbah darah. "Elang! Oh Tuhan, Elang!"
Elang terjatuh ke pelukan Gwen. Ia tersenyum tipis, meski wajahnya pucat karena kehilangan darah. "Dia... dia menyebutku menantu... apakah itu artinya aku diterima?"
Gwen menangis sambil tertawa. "Jangan bicara bodoh! Bertahanlah!"
Hendra dan tim medis segera mendekat. Sementara itu, Arthur Adiguna mendekati putrinya. Ia melihat ke sekeliling aula yang hancur—simbol kekuasaan keluarga Adiguna yang kini menjadi puing.
"Gwen, kau benar-benar memancing monster itu keluar," ucap Arthur dengan nada bangga sekaligus cemas.
"Aku melakukannya, Ayah. Dan sekarang mereka tahu, kita bukan lagi mangsa," jawab Gwen sambil menatap tajam ke arah kegelapan malam di luar jendela.
Di tangan Gwen, ia menggenggam sebuah chip yang terjatuh dari saku Viper saat pertempuran tadi. Chip itu berwarna merah—warna yang berbeda dari Proyek Gerhana miliknya.
"Apa itu, Nona?" tanya Hendra.
Gwen menyipitkan mata, membaca kode yang tertulis di permukaan chip tersebut. "Project Nemesis. Sepertinya Kakek punya rencana cadangan yang jauh lebih gila dari sekadar kontrol finansial."
Di kejauhan, di atas gedung seberang, Maximilian Adiguna menatap Menara Adiguna melalui teropongnya. Ia melihat helikopter medis membawa Elang pergi.
"Nikmatilah kemenangan kecilmu, Gwen," bisik Maximilian dingin. "Karena saat Proyek Nemesis aktif, kau tidak akan punya air mata lagi untuk ditangisi."
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia