NovelToon NovelToon
Tumbal Pinjol Di Kerajaan Ghaib

Tumbal Pinjol Di Kerajaan Ghaib

Status: tamat
Genre:Dunia Lain / Fantasi / Hantu / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Slamet, seorang pengangguran yang hobi main game dan punya utang pinjol (pinjaman online) di 12 aplikasi berbeda, saking frustasinya, dia mencoba melakukan ritual pesugihan yang dia temukan di grup Facebook "Cepat Kaya Tanpa Kerja".

Bukannya dapat emas setumpuk, Slamet malah salah kirim sesajen. Dia malah melakukan kontrak kerja dengan Koperasi Makhluk Halus Nasional. Ternyata, dunia ghaib sedang mengalami krisis eksistensi karena manusia zaman sekarang sudah tidak takut setan (lebih takut tagihan cicilan).Slamet tidak jadi tumbal, tapi dipekerjakan sebagai "Manager Citra & Viralitas" untuk hantu-hantu lokal supaya mereka bisa eksis lagi di TikTok dan menakuti manusia modern. Komedinya muncul dari Slamet yang harus mengajari Kuntilanak cara skincare-an biar nggak kusam saat live streaming, atau Pocong yang minta dicarikan jasa lari maraton karena bosan lompat terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang Di pengadilan alam Barzah

Slamet tidak pernah menyangka bahwa pengadilan alam ghaib lokasinya berada di ruang bawah tanah sebuah gedung asuransi di kawasan Kuningan. Kontras sekali; di atas orang-orang sibuk bahas klaim kecelakaan, di bawah orang sibuk bahas klaim nyawa.

Ruang sidang itu dinginnya bukan main. Bukan dingin AC, tapi dingin yang bikin dosa-dosa masa kecil Slamet mendadak terbayang kembali, termasuk saat dia nyolong mangga tetangga kelas 4 SD dulu.

Di depan, duduk seorang Hakim Ghaib bertubuh tinggi besar dengan jubah hitam yang tampak terbuat dari asap. Namanya Hakim Arwah. Di sisi kanan, berdiri si Jaksa Klimis dari Firma Hukum 'Lembah Hitam' yang tadi menjemputnya.

"Saudara Slamet," suara Hakim Arwah menggema, membuat kaca meja di depannya bergetar. "Anda didakwa melakukan sabotase ekonomi ghaib, penyebaran konten yang menurunkan wibawa makhluk halus, dan penggunaan jalur internet ilegal milik satelit yang belum lunas cicilannya."

Jaksa Klimis itu maju, membetulkan letak kacamatanya yang berkilat. "Izin, Yang Mulia. Terdakwa juga menghasut para 'nasabah' Serikat Pinjol untuk berhenti membayar utang melalui kampanye #Lunas.Jalur.Ghaib. Ini adalah pelanggaran berat terhadap hukum kontrak supranatural Pasal 666."

Slamet menoleh ke samping. Di sana ada Adit, sang auditor dari K.MN yang diutus Nyi Blorong untuk mendampinginya. Tapi Adit cuma diam, mukanya pucat.

"Woi, Dit! Bantuin kek! Katanya auditor!" bisik Slamet panik.

"Maaf, Met. Gue auditor keuangan, bukan pengacara. Di depan hukum ghaib, biasanya manusia kalah 99 persen," jawab Adit pesimistis.

Slamet menarik napas panjang. Dia menatap Jaksa Klimis itu dengan tatapan berani yang dipaksakan. "Interupsi, Yang Mulia!"

Hakim Arwah mengangkat alisnya yang setebal ulat bulu. "Bicara, Manusia."

"Tadi Pak Jaksa bilang saya melanggar hukum kontrak. Tapi, apakah kontrak yang dibuat di bawah ancaman itu sah?" tanya Slamet.

Jaksa Klimis tersenyum sinis. "Semua nasabah menandatangani secara sadar, saudara Slamet. Pakai materai sepuluh ribu, pula."

"Nah! Itu dia masalahnya!" Slamet mengeluarkan 'Flashdisk Tulang Jari' dari sakunya. "Saya punya bukti digital hasil temuan hacker saya. Serikat Pinjol Ghaib menggunakan algoritma 'Bisikan Keputusasaan'. Kalian nggak cuma nagih duit, kalian nagih energi kehidupan. Menurut Undang-Undang Kerajaan Ghaib yang saya baca di perpustakaan Nyi Blorong semalam oke, saya cuma baca ringkasannya di Google Ghaib kontrak yang mengambil energi kehidupan tanpa izin Dewan Pimpinan Hantu adalah ilegal!"

Jaksa Klimis mulai berkeringat dingin (yang warnanya hijau). "Itu... itu cuma strategi marketing!"

"Strategi marketing mata lo peyang!" bentak Slamet, lupa kalau dia lagi di pengadilan. "Kalian bikin orang mau bunuh diri biar kalian dapet arwah baru buat jadi budak kalian. Itu namanya monopoli tenaga kerja ghaib! Nyai Blorong saja yang Direktur K.MN nggak sejahat itu!"

Suasana sidang riuh. Para penonton yang isinya arwah-arwah penasaran mulai berbisik-bisik.

"Lagipula," Slamet melanjutkan dengan nada lebih tenang tapi mematikan. "Soal tuduhan saya menurunkan wibawa hantu... Coba lihat video Kuntilanak Sari yang saya buat. Sekarang dia punya 2 juta followers. Dia nggak perlu lagi nongkrong di gudang rongsokan. Dia sekarang jadi brand ambassador produk kecantikan ghaib. Wibawa hantu naik, Yang Mulia! Manusia sekarang menghargai hantu sebagai 'konten kreator', bukan cuma sebagai pengganggu!"

Hakim Arwah terdiam cukup lama. Dia membolak-balik berkas hologram di depannya. "Argumen Anda menarik, Slamet. Tapi bagaimana dengan tuduhan penggunaan satelit ilegal?"

Slamet tersenyum. "Itu bukan ilegal, Yang Mulia. Itu namanya 'Pemanfaatan Aset yang Terabaikan'. Satelit itu sudah diputus langganannya oleh manusia. Daripada jadi sampah luar angkasa, lebih baik dipakai buat edukasi finansial lewat hantu, kan? Itu namanya mendukung program Sustainable Development Goals (SDG) versi Akhirat."

Jaksa Klimis memukul meja. "Yang Mulia! Manusia ini hanya memutarbalikkan fakta!"

"Cukup!" bentak Hakim Arwah. "Sidang diskors sepuluh menit untuk konsultasi dengan pimpinan pusat."

Slamet terduduk lemas di kursinya. Adit menepuk bahunya. "Gila, Met. Gue nggak nyangka lo bisa bawa-bawa SDG ke pengadilan setan."

"Gue juga nggak nyangka, Dit. Gue cuma ngasal inget-inget omongan bos gue dulu pas masih kerja di startup," bisik Slamet sambil menyeka keringat di dahinya.

Sepuluh menit kemudian, Hakim Arwah kembali. Wajahnya terlihat lebih santai atau setidaknya tidak seseram tadi.

"Keputusan Pengadilan," suara Hakim Arwah menggelegar. "Tuduhan terhadap saudara Slamet dibatalkan karena kurangnya bukti sah mengenai kerugian material ghaib. Namun, saudara Slamet wajib menyerahkan 10 persen dari setiap komisi yang didapat dari konten hantu kepada Kas Kerajaan Ghaib sebagai pajak hiburan."

Slamet bersorak dalam hati. "Alhamdulillah!"

"Dan untuk Serikat Pinjol," Hakim menatap Jaksa Klimis dengan tajam. "Praktik 'Bisikan Keputusasaan' akan diaudit ulang oleh tim Nyi Blorong. Jika terbukti melampaui batas, izin operasional kalian di bumi akan dicabut."

Jaksa Klimis itu langsung menghilang dalam kepulan asap, saking malunya (atau takut diaudit).

Slamet keluar dari gedung asuransi itu dengan perasaan menang. Di luar, Sugeng si Pocong dan Kunti Sari sudah menunggu dengan banner bertuliskan: HIDUP SLAMET, MANAJER KAMI!

"Kita berhasil, Met!" seru Kunti Sari yang sekarang pakai kacamata hitam branded (hasil endorse). "Sekarang kita lanjutin rencana #Lunas.Jalur.Ghaib?"

Slamet menatap layar HP-nya yang sudah nyala lagi berkat bantuan Bang Omen. "Bukan cuma itu, Sari. Kita bakal bikin 'Ghaib Academy'. Kita ajarin semua setan di Indonesia cara cari cuan halal lewat konten, biar nggak ada lagi yang mau disuruh jadi tumbal pinjol atau pesugihan gelap."

Slamet tersenyum. Ternyata, musuh terbesar manusia bukan setan, tapi sistem yang menjepit mereka sampai mereka merasa tidak punya pilihan selain lari ke setan. Dan hari ini, Slamet baru saja meretas sistem itu.

Tapi, saat Slamet hendak pulang, pergelangan tangannya bergetar lagi. Bukan dari Pak Gendut atau Nyi Blorong, tapi sebuah notifikasi dari aplikasi baru yang tiba-tiba terinstal di HP-nya.

Nama aplikasinya Malaikat-Care.

[Notifikasi: Saudara Slamet, atas keberhasilan Anda membela keadilan, Anda mendapatkan poin pahala tambahan. Namun, harap lapor ke bagian 'Divisi Takdir' karena ada revisi jadwal jodoh Anda yang tertunda akibat terlalu sibuk sama setan.]

Slamet melongo. "Busyet... Urusan jodoh pun ada aplikasinya sekarang?"

1
Yeni Yeni
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣kok geli jadinya ya, ceritanya lucu
Wayan Surya Mahardani
😁😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!