Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guncangan High School
Saat jam menunjukkan pukul tujuh, Juliatte harus segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Meskipun hatinya masih ingin berlama-lama di meja makan yang hangat itu, realitas Jude’s High School sudah menanti.
Eleanor mengantar mereka sampai ke pintu depan, memegang tangan Juliatte dengan erat seolah berat untuk melepasnya.
"Terima kasih atas tumpangannya semalam, Nyonya Wilson. Saya sangat menghargai kebaikan Anda," ucap Juliatte dengan nada sopan yang sudah menjadi insting alaminya.
Eleanor tertawa kecil, lalu menggelengkan kepala. Ia menarik Juliatte ke dalam pelukan singkat yang hangat. "Nyonya? Oh, sayang, panggilan itu terlalu kaku untuk rumah ini. Panggil aku Mommy, oke? Kau selalu punya tempat di sini kapan pun kau merasa duniamu terlalu dingin."
Juliatte terpaku sejenak, tenggorokannya terasa hangat. "Terima kasih... Mommy."
William yang sudah memanaskan mesin motornya di pelataran hanya bersiul jahil. "Lihat itu, baru semalam menginap sudah mencuri ibuku. Ayo, Fontaine, kita bisa terlambat!"
Deru mesin Triumph hitam William membelah kerumunan siswa di depan gerbang. William berhenti tepat di lobi utama, tempat yang paling mencolok.
Sonia, yang sedang berdiri di dekat tangga sambil menyesap jus kotaknya, nyaris tersedak saat melihat siapa yang turun dari jok belakang motor sang pemimpin The Ravens.
"DEMI APA?!" pekik Sonia hingga suaranya menggema di koridor. Ia berlari menghampiri mereka dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya. "Jules! Kau berangkat dengan William? Dan itu... itu jaket William yang kau pakai?!"
Juliatte baru saja melepas helm dan mencoba merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin. Sebelum ia sempat menjawab dengan alasan dinginnya yang biasa, William mematikan mesin motor dan turun.
William melangkah mendekati Juliatte, mengabaikan tatapan syok dari ratusan pasang mata siswa lainnya. Ia mengulurkan tangan, merapikan anak rambut yang menutupi kening Juliatte dengan gerakan yang sangat posesif namun lembut.
"Belajar yang rajin, Sayang. Jangan terlalu banyak melamunkan ciuman semalam sampai kau lupa mengerjakan soal ujianmu," ucap William dengan suara yang cukup lantang hingga terdengar oleh Sonia dan beberapa siswa di sekitar mereka.
Hening seketika. Sonia membeku di tempatnya, jus kotaknya teremas hingga tumpah sedikit.
"Apa katanya tadi? Sayang? WILLIAM WILSON MEMANGGIL JULIATTE FONTAINE SAYANG?!" Sonia berteriak histeris, melompat-lompat di samping Jax yang baru saja datang dengan wajah datarnya.
"Jaxie! Kau dengar itu?! Dunia kita sudah kiamat! Kulkas dan Kompor sudah bersatu!"
Juliatte merasa wajahnya meledak karena malu. Ia memukul lengan William dengan buku catatannya. "William! Tutup mulutmu atau aku akan..."
"Atau apa?" tantang William dengan seringai menggoda. Ia mengecup kening Juliatte sekilas. "Sampai jumpa di kelas, Sayang."
William melesat pergi, meninggalkan Juliatte yang berdiri mematung di tengah kepungan pertanyaan Sonia yang memberondong seperti peluru kendali.
Sementara itu, di lantai dua, dari balik jendela kantor guru, mata tajam seseorang sedang memperhatikan mereka, dan itu bukan tatapan yang ramah.
Sebastian menyaksikan seluruh pemandangan di lobi sekolah itu dengan rahang yang mengeras. Ia melihat bagaimana tangan kasar William merapikan rambut Juliatte, dan bagaimana gadis itu tersenyum malu-malu, sebuah ekspresi yang tidak diberikan Juliatte padanya saat makan malam semalam.
Obsesi Sebastian pada Juliatte bukanlah tentang cinta, melainkan tentang penguasaan.
Sejak pandangan pertama, ia sudah terobsesi pada kesempurnaan fisik Juliatte, tubuh rampingnya yang terjaga ketat, kulitnya yang pualam, dan aura mahal yang memancar dari setiap gerakannya. Melihat Juliatte dibonceng oleh seorang pria berandalan bermotor justru memicu sisi gelap di dalam dirinya.
Pikiran Sebastian mulai berkelana liar. Ia tidak merasa cemburu, melainkan merasa tertantang.
Baginya, Juliatte adalah piala yang sedang dikotori oleh orang lain, dan ia tidak sabar untuk membersihkannya dengan caranya sendiri. Bayangan tentang bagaimana ia akan menundukkan kesombongan Juliatte, menghancurkan pertahanan dingin gadis itu, hingga membuat sang Putri Fontaine mendesah nikmat di bawah kungkungannya, membuat obsesinya meledak hingga ke titik puncak.
"Nikmati waktumu dengan berandalan itu, Sayang," desis Sebastian dengan suara serak yang mengerikan. Ia memberikan satu tatapan terakhir pada punggung Juliatte yang sedang ditarik oleh Sonia masuk ke gedung sekolah.
Ia tidak butuh waktu lama di sana. Pemandangan pagi ini sudah cukup menjadi bahan bakar untuk rencana jahatnya.
Di kepalanya, ia sudah menyusun skenario untuk menekan Arthur Fontaine lebih keras lagi. Ia akan menggunakan utang bisnis dan pengaruhnya untuk memastikan bahwa apa pun yang terjadi, Juliatte akan jatuh ke tangannya, baik gadis itu mau atau tidak.
Sambil menyetir, Sebastian mulai membayangkan momen saat Juliatte menangis memohon ampun padanya, dan saat itulah ia akan membuktikan bahwa kemewahan dan perlindungan pria brandalan itu tidak akan cukup untuk menyelamatkannya dari cengkeraman Sebastian.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍