NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Nadir Terendah

...Haawwwoooo....

...Author mw minta satuuuu haalll....

...Dengarin bab ini sambil dengerin lagu Locked Away yaaa...

...Arigatou gozaimasu...

***

Kehangatan malam sebelumnya seolah menguap begitu saja ketika fajar menyapa. Saat dokter melakukan pemeriksaan rutin di pagi hari, suasana Kamar 304 mendadak tegang. Wajah Kara yang semula mulai memerah kini kembali sepucat kertas, dan keringat dingin membanjiri keningnya.

"Suhu tubuhnya meningkat drastis, dan ada tanda-tanda inflamasi pada sistem saraf pusatnya," ujar dokter dengan nada bicara yang cepat dan serius.

Komplikasi yang ditakutkan pun tiba. Penyakit degeneratif itu tidak hanya menyerang saraf tepi, tapi mulai memicu reaksi berantai pada organ tubuh Kara yang lain. Tekanan darahnya turun tidak stabil, dan kesadaran Kara mulai meredup, tenggelam dalam igauan yang tak menentu.

"Kara! Kara, dengar aku!" jerit Aira tertahan saat melihat tubuh Kara mendadak kejang kecil.

Tim medis segera berdatangan. Alat pacu jantung dan berbagai mesin tambahan didorong masuk dengan terburu-buru. Ibu Kara hampir jatuh pingsan jika tidak ditahan oleh Ayah Kara, sementara Kakek Kara terus merapal doa dengan suara bergetar di sudut ruangan.

"Kalian harus keluar sekarang! Pasien harus segera dibawa ke ruang ICU!" perintah seorang perawat dengan tegas.

Aira berdiri mematung di koridor, menatap pintu kaca ICU yang tertutup rapat. Lampu merah di atas pintu menyala—tanda bahwa di dalam sana, perjuangan antara hidup dan mati sedang berlangsung.

Rasa bersalah yang sudah mulai hilang itu sempat mencoba mengetuk kembali hati Aira. Apakah ini puncaknya? Apakah benar duniaku hanya akan membawa Kara pada akhir yang tragis?

Namun, kali ini Aira tidak lari. Ia menggenggam kalung matahari dari Mbah Isah yang sempat ia kalungkan di lehernya saat prosedur medis dimulai. Ia teringat kata-kata Kiai Mansur: Jangan menuduh Tuhan tidak mampu menjaganya.

"Kamu kuat, Kara... Kamu matahari. Kamu tidak boleh padam di sini," bisik Aira pada pintu yang dingin itu.

Genta datang berlari menyusuri koridor, napasnya memburu. "Ra! Apa yang terjadi? Tadi gue dapet kabar Kara kritis?"

Aira menatap Genta dengan mata yang sembab namun penuh ketegaran yang baru. "Komplikasi sarafnya menyerang sistem pernapasan, Gen. Dia lagi di dalem. Tapi dia nggak sendiri. Kita semua di sini."

Berjam-jam berlalu dalam ketidakpastian. Ayah Kara duduk bersandar di dinding, menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Ibu Kara hanya bisa terisak di bahu suaminya. Mereka semua berada di titik nadir terendah—titik di mana harta, logika, dan jabatan tidak lagi memiliki arti. Hanya ada harapan yang menggantung pada seutas benang takdir.

Aira tidak duduk. Ia terus berdiri di depan pintu ICU, seolah-olah energinya bisa menembus dinding itu untuk menguatkan jantung Kara. Ia menyadari bahwa mencintai seseorang berarti bersedia menemani mereka hingga ke gerbang paling gelap sekalipun, tanpa pernah melepaskan genggaman doa.

***

Suasana di depan ruang ICU terasa begitu mencekam. Bunyi tit... tit... tit... dari mesin-mesin di dalam sana terdengar samar hingga ke luar, memecah kesunyian koridor yang sepi. Setiap kali pintu geser otomatis itu terbuka dan seorang perawat keluar dengan wajah tegang, jantung Aira serasa berhenti berdetak.

"Keluarga Abyasa?" suara dokter memecah keheningan.

Ayah dan Ibu Kara langsung berdiri serentak. Aira ikut melangkah maju, tangannya dingin seperti es.

"Kondisinya belum stabil," dokter itu menghela napas, guratan kelelahan tampak jelas di wajahnya. "Ada kegagalan respons pada sistem saraf otonomnya yang memengaruhi ritme jantung. Saat ini kami memberikan dosis maksimal untuk menopang fungsinya. Dia sedang dalam masa kritis. Jika dalam dua jam ke depan tidak ada perbaikan, kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."

Ibu Kara merosot ke lantai, tangisnya pecah tanpa suara. Ayah Kara mencoba tegar, namun tangannya yang memegang bahu istrinya tampak gemetar hebat.

Aira merasa dunianya seolah runtuh untuk kesekian kalinya. Namun, di tengah keputusasaan itu, ia teringat pesan dari Kiai Mansur dan Mbah Isah. Ia bukan lagi gadis lemah yang akan lari saat badai datang.

"Dokter," suara Aira terdengar tenang meski serak. "Bolehkah saya masuk? Sebentar saja. Saya hanya ingin membisikkan sesuatu padanya."

Dokter itu menatap Aira, lalu menatap orang tua Kara seolah meminta izin. Ayah Kara mengangguk pelan, memberikan kepercayaan penuh pada gadis itu.

"Hanya satu orang, dan harus memakai baju steril. Jangan terlalu lama," ujar dokter akhirnya.

Aira melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna putih dan perak itu. Di sana, di tengah tumpukan selang dan kabel, Kara terbaring diam. Wajahnya yang biasa penuh ekspresi kini tampak sangat kuyu, matanya terpejam rapat, dan dadanya naik turun dengan bantuan ventilator.

Aira mendekat, berdiri di sisi kepala Kara. Ia tidak berani memegang tangan Kara yang penuh jarum infus, jadi ia hanya mendekatkan wajahnya ke telinga laki-laki itu.

"Kara..." bisik Aira. Air matanya jatuh mengenai bantal Kara. "Ini aku, Samuderamu."

Ia menarik napas panjang, mencoba menahan isakannya agar suaranya tetap terdengar jelas.

"Kara, dengar aku. Kamu bilang kamu ingin belajar membaca namaku lewat titik-titik kertas itu, kan? Kamu bilang kamu ingin belajar piano untukku. Jangan ingkar janji, Kara. Kamu adalah Matahari. Tugasmu adalah terbit, bukan tenggelam di sini."

Aira menyentuh kalung matahari yang kini melingkar di pergelangan tangan Kara. "Mbah Isah bilang, cahaya itu tidak pernah hilang. Aku di sini, Kara. Orang tuamu di sini. Genta di sini. Kami semua menunggumu di sisi terang. Jangan pergi terlalu jauh ke dalam gelap... kembalilah."

Tepat saat Aira membisikkan kata-kata itu, monitor jantung di samping ranjang mengeluarkan bunyi yang berbeda. Garis yang tadinya naik turun tak beraturan, perlahan mulai membentuk pola yang lebih stabil, meski masih sangat lemah.

Jari telunjuk Kara yang melingkar di kalung matahari itu bergerak sedikit. Sangat tipis, namun Aira merasakannya.

"Dokter!" seru Aira pelan namun mendesak.

Para medis segera merapat. Aira dipandu keluar dari ruangan, namun ia sempat menoleh ke belakang sekali lagi. Ia melihat harapan itu masih ada. Di nadir terendah ini, jiwa Kara seolah mendengar panggilannya dan memilih untuk berbalik arah, melawan arus kematian yang mencoba menyeretnya pergi.

Kara masih berjuang di dalam sana. Akankah ia berhasil melewati masa kritisnya?

1
nini
suka banget novel ini. Pilhan kata2nya unik tapi menarik dan biqin penasaran. Novel yg beda dgn yg lain. semoga ada karya baru lagi. semangat kakak 😊
𝓝𝓲𝔃𝓪𝓻𝓪𝓪: terimakasii, sehat-sehat yaaa 🤗🤗
total 1 replies
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!