Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Kehilangan Kendali
Aroma parfum Zelia yang lembut, sedikit floral, terlalu dekat. Terlalu nyata. Napasnya menyentuh sisi lehernya. Tawa Zelia masih terdengar ringan di telinganya.
Zelia sama sekali tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan. Ia hanya bahagia.
Sementara itu, dinding yang selama ini Are bangun dengan disiplin, lagi dan lagi makin retak.
"Aku pria normal," katanya dalam hati. "Dan posisi ini, terlalu intim."
Tangannya yang menahan tubuh Zelia terasa jauh lebih sadar dari seharusnya. Ia bisa merasakan hangat tubuhnya dan detak jantungnya sendiri mulai tidak stabil.
"Tenang. Tenang," batinnya.
Ia menarik napas perlahan, berusaha menjaga suaranya tetap datar.
“Zelia," gumam Are rendah, berusaha menjaga nadanya tetap datar meski jarak mereka nyaris tidak ada. "Tidakkah kau merasa sikapmu ini kekanakan?”
Zelia langsung berhenti tertawa. “Are, kau selalu merusak kebahagiaanku.”
Pelan-pelan ia menurunkan kakinya, tapi tetap memeluk leher Are beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, seolah belum benar-benar ingin melepas. Bibirnya mengerucut tipis.
Dan entah kenapa, itu justru membuat dada Are terasa lebih tidak nyaman.
"Gadis ini…"
Ia mendapati dirinya kesulitan mengalihkan pandangan dari bibir itu. Terlalu dekat. Terlalu nyata.
“Kamu hampir tidak pernah kehilangan kendali ya?” tanya Zelia lagi. Kali ini pipinya sedikit mengembung, setengah kesal, setengah manja.
Are menatapnya.
Tatapannya berbeda. Lebih dalam. Lebih gelap. Sesuatu yang biasanya ia sembunyikan kini muncul sepersekian detik terlalu lama.
“Kehilangan kendali bukan opsi yang aman,” jawabnya pelan.
Wajahnya tetap datar. Suaranya tetap stabil. Tapi tangannya yang tadi menopang pinggang Zelia perlahan mengeras. Bukan karena ingin melepaskan… melainkan karena menahan diri.
Ada dorongan refleks yang nyaris ia ikuti. Menariknya sedikit lebih dekat. Menutup jarak itu. Ia bahkan harus mengalihkan fokus pikirannya dengan paksa.
Zelia tidak melihat apa-apa.
Ia hanya melihat Are seperti biasa, tenang, rasional, sedikit menyebalkan.
Ia menyeringai kecil. “Pokoknya,” katanya ringan, akhirnya melepaskan pelukannya, mundur satu langkah, “aku bangga.”
Are merapikan posisi jasnya yang sedikit bergeser. Jarak kembali normal.
Udara terasa lebih mudah dihirup. Namun bagi Are, itu justru lebih berbahaya.
Karena yang barusan hampir terjadi bukan sekadar kehilangan keseimbangan, melainkan kehilangan batas.
Dan Are tahu satu hal dengan sangat jelas, jika Zelia terus meluapkan kebahagiaannya seperti itu tanpa sadar…
Suatu hari nanti, ia mungkin benar-benar kehilangan kendali.
***
Atyasa berdiri di podium dengan latar logo perusahaan. Wajahnya tenang dan terukur seperti biasa.
“Saya ingin menegaskan,” katanya, “bahwa video yang beredar adalah potongan percakapan yang tidak merepresentasikan keseluruhan konteks.”
Nada stabil.
“Pasal yang dipermasalahkan telah direvisi secara internal untuk memperjelas mekanisme pengelolaan sementara aset. Tidak ada niat pengambilalihan, dan tidak pernah ada konflik kepentingan.”
Ia berhenti sejenak.
“Manajemen operasional tetap menjadi tanggung jawab CEO.”
Kalimat itu terdengar netral. Profesional. Tapi bagi telinga yang peka, itu terdengar seperti garis pembatas.
“Keluarga kami solid,” lanjutnya, “dan perusahaan tetap berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik.”
Pernyataan selesai. Profesional. Bersih. Rapi.
Di kantor pusat, Zelia menonton layar tanpa ekspresi. Are berdiri di belakangnya.
Notifikasi pertama muncul.
“Presiden Komisaris Akui Ada Revisi Pasal Pengelolaan Aset.”
Lalu yang kedua.
“Jika Tidak Bermasalah, Mengapa Direvisi?”
Yang ketiga.
“Krisis Tata Kelola atau Konflik Keluarga?”
Are menatap layar dengan tenang. “Beliau terlalu cepat menyebut revisi,” gumamnya. “Dan terlalu cepat menarik garis batas.”
Zelia menoleh. “Artinya?”
“Artinya publik baru saja diberi bukti bahwa pasal itu memang bermasalah.”
Grafik sentimen bergerak. Bukan turun. Tapi bergeser. Narasi kini bukan lagi tentang Are. Melainkan tentang tata kelola internal. Dan itu jauh lebih sensitif di mata investor.
Di ruangannya sendiri, Atyasa membaca laporan awal. Ia terdiam cukup lama. Perlahan, tangannya di atas meja terkepal.
“Aku baru saja menggeser sorotan dari menantuku… ke diriku sendiri.”
Dan itu bukan langkah yang ia rencanakan.
Di ruang monitoring media, layar besar menampilkan ulang konferensi pers.
Bukan keseluruhan. Hanya tujuh detik. Saat Atyasa mengatakan:
“Manajemen operasional tetap menjadi tanggung jawab CEO.”
Video diperlambat. Zoom pada wajahnya. Genggaman tangannya pada podium sedikit mengeras. Tatapannya bergeser sepersekian detik dari kamera saat menyebut kata CEO.
Itu cukup. Dan media sosial mulai berbicara.
“Kenapa beliau terlihat menahan sesuatu waktu ngomong CEO?”
“Bahasa tubuhnya defensif banget.”
“Coba lihat detik 00:17, rahangnya kaku.”
“Kalau memang solid, kenapa perlu bilang ‘tanggung jawab CEO’?”
“Ini kayak cuci tangan halus.”
Seorang analis pasar membuat utas panjang.
“Perhatikan jeda sebelum menyebut CEO. Itu bukan spontan. Itu distancing.”
Dalam satu jam, utas itu dibagikan ribuan kali.
Tagar naik.
#KonflikInternal
#TataKelola
#PowerStruggle
Di kantornya, Zelia membaca timeline tanpa ekspresi. Are berdiri di belakangnya.
“Publik terlalu banyak waktu luang,” gumam Zelia pelan.
“Bukan,” jawab Are tenang. “Publik membaca celah.”
Zelia menatap video lain.
Perbandingan dua potongan. Saat berbicara tentang stabilitas, tatapannya lurus. Tapi ketika menyebut CEO, matanya bergeser tipis.
Narasi di bawahnya: Mata tidak pernah bohong.
Zelia menghela napas. “Ini makin melebar.”
Are mengangguk tipis. “Beliau terlalu terbiasa mengendalikan ruangan,” katanya pelan. “Tapi kamera tidak bisa dikendalikan.”
Di dalam mobilnya, Atyasa menatap layar ponselnya.
Wajahnya tetap tenang. Namun jempolnya berhenti lebih lama pada satu video analisis bahasa tubuh. Akhirnya ia mematikan layar.
Ia menghela napas berat. "Sekarang aku tidak sedang menghadapi satu lawan. Aku sedang menghadapi ribuan interpretasi."
Dan persepsi publik tidak pernah bisa diarahkan sepenuhnya.
***
Di rumah, Dian melempar ponselnya ke sofa sedikit lebih keras dari biasanya.
“Kenapa harus klarifikasi?” gumamnya geram. “Harusnya diam saja.”
Desti yang baru masuk, tasnya masih di bahu, menatap heran. “Ada apa, Ma? Kenapa kesal begitu?”
Dian menoleh cepat. “Kau sudah lihat video klarifikasi papamu?”
“Belum.”
“Tadinya posisi papamu bersih,” lanjut Dian dengan napas masih naik turun. “Sekarang komentar penuh kecurigaan.”
“Klarifikasi?” Desti langsung duduk di sofa, membuka ponselnya. “Papa bikin pernyataan?”
Ia memutar videonya. Menonton tanpa suara beberapa detik. Lalu dengan suara, Desti membaca komentar. Menonton ulang bagian yang sudah diberi zoom pada gestur tubuh Atyasa.
Video slow motion.
Jeda sebelum menyebut kata CEO. Tatapan yang bergeser.
Desti terdiam. “Kenapa Papa melakukan ini?” gumamnya pelan.
Dian menyilangkan tangan. “Mama juga tidak tahu. Harusnya dia tahu kapan harus diam.”
Desti tidak langsung menjawab. Ia menggulir layar lagi.
“Netizen fokus ke kata ‘revisi’,” katanya pelan. “Dan ke kalimat tentang tanggung jawab CEO.”
Dian mendengus. “Itu cuma kalimat formal.”
“Di media sosial tidak ada yang benar-benar cuma formal, Ma,” jawab Desti datar.
Dian menatap putrinya. “Apa maksudmu?”
“Kalimat itu terdengar seperti Papa sedang menjaga jarak.” Desti berhenti sejenak. “Dan orang-orang menangkap itu.”
Beberapa detik hening.
Dian akhirnya duduk perlahan. Emosinya belum hilang, tapi kini mulai bercampur cemas.
“Sampai sekarang papamu belum pulang,” katanya lebih pelan. “Mama ingin tanya langsung. Kenapa dia mengambil keputusan sendiri.”
Desti mematikan layar ponselnya. “Atau,” katanya hati-hati, “mungkin Papa tidak punya pilihan.”
Dian menoleh tajam. “Pilihan selalu ada.”
Desti tidak membantah.
Tapi kini ia menyadari sesuatu:
"Papa bukan lagi orang yang mengendalikan narasi. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar komentar netizen."
***
Di apartemen, suasana jauh lebih sunyi daripada biasanya.
Zelia keluar dari dapur kecil membawa dua gelas susu. Ia meletakkannya perlahan di meja rendah di depan sofa, lalu duduk di sebelah Are.
Are masih menatap layar laptopnya. Cahaya dari monitor memantul di wajahnya yang tenang.
Zelia melirik layar sekilas, grafik sentimen, beberapa headline terbaru, laporan pergerakan saham. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada pria di sampingnya. Pria yang diam-diam ia inginkan tinggal di sisinya. Selamanya.
“Menurutmu,” tanyanya pelan, “apa yang akan terjadi pada Papa… dan perusahaan setelah klarifikasi tadi?”
-
...✨“Ia menggeser sorotan dari menantunya ke dirinya sendiri....
...Tanpa sadar, yang benar-benar bergeser adalah keseimbangan.”...
...“Ia terbiasa mengendalikan ruangan....
...Tapi ia lupa, kamera tidak pernah tunduk.”...
...“Di ruang rapat, fakta bisa dirapikan. Di depan kamera, jeda sekecil apa pun bisa menjadi pengakuan.”...
...“Kebenaran mungkin utuh....
...Tapi persepsi selalu lebih cepat sampai.”...
...“Strategi bisa dihitung. Detak jantung tidak.”...
...“Batas bukan sesuatu yang runtuh tiba-tiba. Ia retak perlahan, lalu suatu hari menghilang.”...
...“Kehilangan kendali bukan peristiwa....
...Ia adalah akumulasi.”...
...“Sebagian orang kehilangan kendali di depan kamera. Sebagian lain hampir kehilangannya dalam diam.”✨...
.
To be continued
Veyron tetap berjalan dengan ekspresi dingin. Tak peduli dengan beberapa orang yang memperhatikan.
Desti dan Dian mengikuti dari kejauhan. Mereka melihat Veyron memasuki kamar hotel.
Mereka kembali ke ballroom mencari Fero setelah memastikan nomor kamar Veyron yang membawa Zelia ke dalam.
Dian bersandiwara memainkan perannya sebagai Ibu yang putrinya dibawa pria itu ke kamar hotel.
Mendengar Dian bicara dengan nada cemas - rombongan orang bergerak menuju lantai kamar hotel.
Bisik-bisik membicarakan Veyron.
Weleeeehh Dian mimpi Desti disuruh mendekati Veyron.
Waduh Zelia menerima minuman yang diberikan oleh pramusaji dan menyesapnya.
Beberapa tamu ternyata sejak tadi memperhatikan, melihat dengan jelas. Beberapa kali wanita itu mendekat terlalu agresif. Mereka jadi tertawa tertahan ketika melihat wanita itu justru terjatuh sendiri.
Bisikan-bisikan terdengar - kata-kata miring tentang wanita itu
.
Zelia makin suka sama Are, untungnya sadar tidak langsung ngamplok nubruk tubuh Are 😄.
Are ke toilet.
Cara bergeraknya luar biasa seperti profesional - itu penilaian bisik-bisik dari tamu.
Fero, Desti, dan Dian barisan manusia sakit hati - iri pastinya.
Wanita itu semakin mendekat tidak sabar.
Langkahnya diarahkan mendekati Zelia.Tujuannya mau menginjak gaun Zelia.
Are memutar Zelia dengan gerakan tajam. Are menggeser langkahnya setengah putaran.