Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Pagi itu terasa normal.
Terlalu normal.
Arcelia bangun seperti biasa, mandi, merapikan rambutnya di depan cermin, lalu turun ke bawah. Mama Mirella sedang menggoreng telur. Papa Alveron membaca berita di tablet. Bang Kaiven mengaduk kopi.
Elvarin menguap lebar sambil duduk. “Aku mimpi aneh semalam,” katanya polos.
Arcelia tersenyum. “Mimpi apa Dek?”
“Ada orang pakai jas hitam kejar-kejaran sama Papa.”
Sendok Mama Mirella berhenti sesaat.
Bang Kaiven menatap adiknya.
Arcelia tertawa kecil untuk mencairkan suasana. “Kebanyakan nonton film, ya.”
Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa tidak enak. Seolah-olah ketenangan ini hanya jeda sebelum sesuatu terjadi.
Dan benar saja.
Saat di sekolah,
Saat Arcelia baru saja selesai pelajaran kedua, ponselnya bergetar keras di dalam tas.
Panggilan dari Bang Kaiven.
Ia keluar kelas dengan izin cepat.
“Ada apa, Bang?”
Suara Bang Kaiven terdengar lebih tegang dari biasanya.
“Ada laporan anonim masuk ke regulator bisnis.”
Jantung Arcelia berdetak lebih cepat.
“Laporan apa?”
“Tuduhan penggelapan dana proyek.”
Arcelia terdiam beberapa detik.
“Itu tidak benar kan Bang.”
“Aku tahu. Tapi laporan seperti ini otomatis memicu investigasi Dek.”
Tangannya terasa dingin.
“Papa?”
“Sedang ke kantor pusat. Kita harus hadapi pemeriksaan.”
Setelah telepon ditutup, Arcelia bersandar pada dinding lorong sekolah. Ini bukan lagi soal opini publik. Ini sudah masuk ranah hukum.
Langkah kaki mendekat.
Kaelion berdiri di depannya.
“Kau sudah dengar.”
Arcelia mengangguk pelan.
“Dia menyerang dari dua sisi,” kata Kaelion. “Reputasi dan legalitas.”
“Kenapa dia nekat sejauh ini?”
Kaelion menatap lurus ke depan.
“Karena dia ingin memastikan Virellia benar-benar jatuh. Bukan sekadar goyah.”
Sore hari,
Arcelia pulang lebih cepat. Rumah tidak lagi terasa hangat seperti biasanya. Suasana terasa berat. Beberapa dokumen terbuka di meja ruang keluarga. Laptop menyala. Telepon rumah berdering beberapa kali.
Papa Alveron berdiri tegak, tapi wajahnya menunjukkan kelelahan yang nyata.
“Ini akan panjang,” katanya singkat ketika melihat Arcelia masuk.
Mama Mirella duduk di sofa, mencoba tetap tenang.
Bang Kaiven berjalan mondar-mandir.
“Kita punya laporan keuangan bersih. Tidak ada dana yang hilang,” katanya tegas.
“Tapi investigasi tetap berjalan,” balas Papa Alveron.
Arcelia berdiri di tengah ruangan.
Selena tidak peduli benar atau salah. Dia hanya ingin menciptakan keraguan.
“Papa,” ucap Arcelia perlahan, “kalau kita balas?”
Semua menoleh padanya.
“Balas bagaimana?” tanya Bang Kaiven.
“Kita juga punya bukti keterlibatan perusahaan cangkang itu.”
Papa Alveron menggeleng pelan.
“Menyerang tanpa waktu yang tepat hanya akan memperkeruh situasi.”
Arcelia menggigit bibirnya. Rasanya ingin melakukan sesuatu. Apa saja. Tapi ia tahu papanya benar. Ini bukan permainan emosional.
Ini strategi.
Malamnya,
Arcelia duduk di balkon kamarnya lagi. Angin malam lebih dingin dari biasanya. Ia memandangi jalanan Lumin yang lengang.
Suara hatinya berbicara pelan.
Kalau ini terus berlanjut… bukan cuma bisnis yang hancur. Nama keluarga kami juga.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk.
Dari Selena.
Kali ini bukan anonim.
Selena Ravert:
Capek, ya? Baru segini saja sudah terasa berat?
Napas Arcelia tertahan. Tangannya gemetar sedikit, tapi ia tetap membalas.
Arcelia Virellia:
Kau terlalu percaya diri.
Balasan datang cepat.
Percaya diri lahir dari kendali.
Arcelia menatap layar itu lama.
Lalu ia mengetik lagi.
Hati-hati. Kadang orang yang merasa mengendalikan segalanya… justru sedang berdiri di tepi jurang.
Titik tiga muncul. Lalu hilang. Tidak ada balasan lagi.
Arcelia meletakkan ponselnya di meja. Ia berdiri. Menatap bayangannya sendiri di kaca jendela. Matanya tidak lagi hanya berisi kecemasan. Ada api kecil di sana.
Selena mungkin memulai perang ini. Tapi Arcelia mulai memahami satu hal, bertahan saja tidak cukup. Dan kalau serangan berikutnya datang lebih dekat… Ia sudah siap berdiri di garis paling depan.
Malam itu Arcelia sulit tidur.
Ia sudah mematikan lampu kamar, tapi matanya tetap terbuka menatap langit-langit. Suara AC berdengung pelan. Sesekali terdengar kendaraan lewat di jalan depan rumah.
Ponselnya tergeletak di meja.
Pesan terakhir dari Selena masih terbayang di pikirannya.
Percaya diri lahir dari kendali.
Arcelia membalikkan badan, memeluk bantal. Kalau dia merasa memegang kendali… berarti dia sudah menyiapkan langkah berikutnya.
Tok.
Tok.
Pintu kamarnya diketuk pelan.
“Kak?” suara Elvarin terdengar ragu.
Arcelia langsung bangun dan membuka pintu. Elvarin berdiri dengan wajah sedikit pucat.
“Aku nggak bisa tidur Kak…”
Arcelia tersenyum lembut. “Ayo masuk sini Dek.”
Elvarin naik ke tempat tidur kakaknya tanpa banyak bicara. Ia memeluk lengan Arcelia.
“Di sekolah tadi ada yang bilang Papa lagi diperiksa polisi,” gumamnya pelan.
Jantung Arcelia terasa seperti ditarik.
“Siapa yang bilang?”
“Teman sekelasku dengar dari kakaknya.”
Arcelia mengusap rambut adiknya.
“Itu cuma investigasi biasa. Papa nggak salah apa-apa.”
Elvarin mengangguk kecil, tapi pelukannya makin erat.
“Rumah kita nggak akan kenapa-kenapa, kan?”
Arcelia menahan napas sebentar. Lalu menjawab dengan suara mantap.
“Nggak akan Dek.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa jelas tentang satu hal, ini bukan cuma soal bisnis lagi. Ini sudah menyentuh adiknya.
Keesokan harinya, berita makin meluas.
Beberapa media mulai menyebut nama Virellia secara langsung. Kata-kata seperti “dugaan pelanggaran etika” dan “audit darurat” bermunculan.
Di sekolah, suasana lebih panas dari kemarin.
Beberapa siswa menatap Arcelia dengan tatapan berbeda.
Ada yang penasaran.
Ada yang meremehkan.
Ada yang terang-terangan berbisik.
Saat Arcelia membuka loker, dua siswi di dekatnya tertawa kecil.
“Kayaknya bentar lagi bangkrut deh.”
“Kasihan juga ya… padahal kelihatan sempurna.”
Arcelia menutup pintu lokernya pelan. Ia menoleh.
“Kalian tahu perbedaan rumor dan fakta?” tanyanya tenang.
Dua siswi itu terdiam.
“Rumor cepat menyebar. Fakta butuh waktu.”
Ia lalu berjalan pergi tanpa menunggu jawaban. Jantungnya memang berdetak cepat. Tapi langkahnya tetap stabil.
Kaelion menyusulnya di ujung lorong.
“Kau dengar?”
“Semua orang dengar.”
“Keluargaku juga mulai disorot karena dikaitkan dengan perusahaan cangkang itu.”
Arcelia menatapnya.
“Selena nggak peduli kalau kau ikut terseret.”
“Aku sudah tahu itu sejak lama.”
Mereka berjalan berdampingan. Untuk sesaat, keheningan terasa lebih berat dari biasanya.
Sore itu, di kantor Virellia, audit resmi dimulai.
Beberapa orang dengan map dan tablet berjalan keluar masuk ruangan. Arcelia duduk di ruang tunggu bersama Mama Mirella.
Ia menggenggam tangan Mamanya.
“Ma…”
“Iya Sayang?”
“Kalau misalnya… ini makin besar… Mama takut nggak?”
Mama Mirella tersenyum lembut.
“Tentu takut. Tapi takut bukan berarti kita menyerah.”
Arcelia menelan ludah.
Di dalam ruang rapat,
Suara diskusi terdengar samar. Beberapa kali nada suara meninggi, lalu kembali mereda.bSetelah hampir dua jam, Papa Alveron dan Bang Kaiven keluar.
Wajah mereka lelah, tapi tidak hancur.
“Untuk sementara, tidak ditemukan pelanggaran,” kata Papa Alveron.
Arcelia menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.
“Tapi?” tanya Mama Mirella pelan.
“Mereka tetap lanjutkan pemeriksaan dokumen tambahan.”
Artinya belum selesai. Tapi juga belum kalah.
Malam itu,
Saat keluarga Virellia makan bersama, suasana sedikit lebih ringan. Elvarin bercerita tentang tugas kelompoknya. Bang Kaiven sesekali menggoda adiknya. Mama Mirella tertawa kecil. Papa Alveron menatap keluarganya satu per satu.
“Kita mungkin akan kehilangan beberapa kontrak,” katanya pelan. “Tapi kita tidak akan kehilangan nama kita.”
Arcelia mengangguk. Dan kita tidak akan kehilangan satu sama lain.
Di sisi lain kota,
Selena Ravert duduk di ruang kerjanya. Ia membaca laporan audit awal. Alisnya sedikit terangkat.
“Tidak ada pelanggaran signifikan?” gumamnya.
Ia mengetuk meja dengan ujung jarinya.
“Baiklah.”
Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat.
Masuk tahap kedua.
Senyumnya tipis.
Permainan belum selesai. Dan kali ini… Serangan tidak hanya akan mengenai perusahaan. Tapi juga sesuatu yang lebih pribadi.
Sementara itu, di balkon kamarnya, Arcelia berdiri menatap langit malam. Ia belum tahu apa yang sedang disiapkan. Tapi ia bisa merasakannya. Badai berikutnya.... Akan datang lebih keras.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....